Filosofi Qurban

Ringkasan Kajian S-Booster MTTG Telkom Sulteng

Agama Islam adalah agama akhlak. Maka, setiap syariat atau aturan-aturan hukum yang diturunkan oleh Allah buat manusia, muaranya adalah pada pembentukan karakter (akhlak). Karakter tertinggi dalam Islam, yang menjadi tujuan syariat ini, adalah “muttaqīn“.
Syariat dalam realitanya ada yang bersifat kontekstual, ada pula yang eternal, yang selalu ada di setiap zaman. Seperti halnya salat, puasa, zakat, ibadah qurban juga termasuk syariat eternal-universal (sharī’ah khālidah). Sehingga dari zaman Adam hingga zaman Nabi Muhammad Saw syariat qurban tetap ada, dengan rincian-rinciannya yang berbeda, sesuai dengan perkembangan zaman dalam masyarakat tersebut.
Qurban, sesuai dengan makna katanya, adalah satu upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah, untuk menjadi hamba yang bertakwa. Ini dinyatakan secara tegas, jelas dan lugas oleh Allah, “daging dan darah dari hewan sembelihanmu tidak sampai kepada Allah, yang hanya sampai kepada-Nya hanyalah takwa kalian” (Al-Hajj: 37). Sehingga dapat kita katakan bahwa qurban adalah wasilah untuk mencapai tujuan “takwa”. Karena predikat takwa (tujuan) ini penting, maka wasilah (qurban) untuk meraihnya juga menjadi penting.
Makna takwa, dalam syariat qurban ini, bisa dipahami dalam 2 pengertian, yaitu kesalehan spiritual dan kesalehan sosial. Kedua hal merupakan prinsip dasar bagi umat Islam dalam kehidupan mereka. “Dimana pun mereka berada, kehinaan akan menimpa mereka, kecuali jika mereka berpegang teguh pada habl min Allāh dan habl min al-nās,” demikian kata Allah (QS Āli ‘Imrān: 112). Artinya, kunci kesuksesan manusia dalam kehidupan dunia dan akhirat ini adalah kesalehan spiritual dan kesalehan sosial.
Kesalehan spiritual dalam ritual qurban adalah ketaatan kepada Allah dalam setiap perintah-perintah-Nya. Seperti yang kita ketahui, tujuan penciptaan manusia adalah ibadah, dan jantung dari ibadah adalah ketaatan kepada Allah. Secara historis, ini diperlihatkan secara indah oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ketika keduanya terlibat dalam perintah qurban. Tanpa ragu, Nabi Ibrahim menaati perintah Allah ini. Meskipun berat, karena yang disembelih adalah putera terkasihnya, yang dinanti-nantikan begitu lama, namun karena ketaatan yang berbasis cinta kepada Allah begitu dalam, maka ia melaksanakannya. Begitu pula, Ismail karena keimanan dan ketaatan kepada Allah, maka tanpa ragu ia menerima apa yang menjadi perintah Allah kepada ayahandanya. Akhirnya begitu dahsyat, melahirkan suatu peradaban besar “qurban”, yang memberikan manfaat secara psikologis, yaitu mengikis kebakhilan, dan sosial, memberikan bantuan kepada yang membutuhkan.
Sementara itu, kesalehan sosial dalam ritual qurban berdasar pada perintah Allah, “Makanlah (daging kurban tersebut) dan berikanlah kepada orang-orang miskin dan fakir” (QS Al-Hajj: 28). Dari sini akan terbentuk kedermawanan, yang dalam konsep Islam, merupakan sifat yang mengantarkan seseorang kepada kesuksesan. Kata Allah, “Barangsiapa yang terpeliharan dari sifat kikir, maka ia adalah orang yang sukses,” (QS al-Hasyr 9; al-Taghābun 16)
Mari berkurban, mumpung masih ada waktu dan keluasan rezeki yang diberikan kepada kita.
مَنْ وَجَد سَعَةً فلم يُضَحِّ فلا يَقْرَبَنَّ مُصَلاَّنا
 
“Barangsiapa yang mempunyai keluasan rezeki dan tidak berkurban, maka jangan pernah mendekati tempat salat kami”. (HR. Ibn Mājah: 3123).
Wallāhu a’lam bi al-šawāb.
 
Palu, 30 Juni 2022

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca juga
Close
Back to top button