Sayyid Abdullah bin ‘Alawi al-Haddad

Sketsa Biografi

Abdullah bin ‘Alawi bin Ahmad al-Muhajir bin ‘Isa bin Muhammad bin ‘Ali al-Tarimi al-Haddad al-Husayni al-Yamani dilahirkan di kota Tarim, kota para wali, pada malam Senin, 5 Safar 1044 H, bertepatan dengan tahun 1634 M. Abdullah tumbuh besar di Tarim. Pada usia 4 tahun, beliau ditimpa suatu penyakit cacar yang membuat matanya buta. Meskipun demikian, ia tetap semangat belajar dengan sejumlah ulama sehingga ia menjadi seorang ulama besar. Beliau sangat senang mengisi majelisnya dengan membaca buku-buku yang bermanfaat dan berdiskusi tentang ilmu-ilmu agama. Dalam majelisnya, ia menjaga diri dari berbicara hal-hal yang diharamkan Allah, seperti ghibah, dan namimah, serta perkataan-perkataan mubah namun yang tidak bermanfaat. Ketika ia berbicara, itu pun dalam konteks diskusi ilmu agama atau nasehat kepada kaum muslim.

Selain itu, semenjak kecil Abdullah termasuk seorang yang sangat giat dalam beribadah. Ia mengerjakan salat sunnah seratus rakaat setiap harinya setelah pulang dari rumah gurunya di waktu Dhuha. Ia biasa mengerjakan salat Awwabin sebanyak duapuluh rakaat. Ia pernah menceritakan, “Di masa kecilku, aku sangat gemar dan bersungguh-sungguh dalam ibadah dan mujahadah, sampai nenekku seorang wanita shalihah yang bernama Syarifah Salma binti al-Habib Umar bin Ahmad al-Manfar Ba’alawi berkata, ‘Wahai anak kasihanilah dirimu,’ Ia mengucapkan kalimat itu, karena merasa kasihan kepadaku ketika melihat kesungguhanku dalam ibadah dan bermujahadah.”

Abdullah sering berpuasa sunnah, khususnya pada hari-hari yang dianjurkan, seperti  Senin dan Kamis, hari-hari putih (ayyāmul bīdh), hari Asyura, hari Arafah, enam hari di bulan Syawal, sampai di masa senjanya. Meskipun begitu, ia selalu menyembunyikan  ibadah dan mujahadahnya, karena tidak ingin memperlihatkannya kepada orang lain, kecuali untuk memberikan contoh kepada orang lain. Karena kesungguhan dan istiqamahnya dalam beribadah, maka tidak heran beliau mendapatkan gelar waliy al-qutb semenjak remaja.

Disebutkan bahwa ia mendapat kedudukan waliy al-qutb lebih dari 60 tahun. Ia menerima pakaian kewalian dari al-Habib Muhammad bin Alawi (Sahib Makkah). Beliau menerima pakaian tersebut tepat ketika Habib Muhammad bin Alawi wafat di kota Makkah pada tahun 1070 H. Pada waktu itu, Habib Abdullah berusia 26 tahun. Kedudukan tersebut beliau sandang hingga beliau wafat pada tahun 1132 H.

Akhlak dan Budi Pekerti
Habib Abdullah seorang yang berperawakan tinggi, bahunya bidang, serta kulitnya berwarna putih. Ia terlihat begitu berwibawa, tidak terlihat adanya tanda-tanda penyakit cacar yang pernah menghilangkan penglihatannya. Ia selalu tersenyum dan merasa bahagia. Kegembiraannya tersebut menular pula kepada teman-teman majelisnya. Ketika ia tertawa, ia tersenyum. Apabila.ia bergembira, maka wajahnya bersinar seperti bulan. Cara duduknya pun tenang, sehingga hampir tidak ada seorang pun dari teman-temannya yang berbicara atau bergerak seakan ada burung di atas kepala-kepala mereka. Setiap orang yang menghadiri majelis beliau seolah lupa terhadap dunia dan beserta isinya. Yang lapar melupakan rasa laparnya. Yang bersedih melupakan kesedihannya. Ketika ia berbicara dengan orang, ia berbicara sesuai dengan kadar kemampuan orang tersebut.

Dalam bermuamalah, ia mengikuti sunnah Nabi, mengambil dan memberi dengan dasar ilmu disertai sifat wara’ dan menjaga diri dari hal-hal yang syubhat. Apabila ia mempekerjakan seorang, ia akan melipatgandakan upahnya dan menambahnya melebihi harapannya. Ia suka membangun masjid. Sebagai contoh, ia membangun masjid al-Awwabin di al-Nuwaydrah, masjid Ba ‘Alawi di Basayun, Masjid Al-Abrar di Sabir, Masjid al-Fath dan Masjid al-Tawwabin di Al-Hawi, Masjid Al-Abdal di Syibam, Masjid al-Asrar di Madudah, dan di tempat-tempat lainnya. 

Karya Ilmiah
Habib Abdullah bin ‘Alawi al-Haddad mulai menulis ketika berumar 25 tahun, dan karya terakhir yang ditulis adalah ketika beliau berusia 86 tahun. Beberapa karya yang tersebar di kalangan umat Islam adalah:

  1. رسالة المذاكرة مع الإخوان المحبين من أهل الخير والدين . Kitab ini selesai ditulis pada hari Ahad sebelum waktu Zuhur, akhir bulan Jumadilawwal 1069H.
  2. رسالة المعاونة والمظاهرة والمؤازرة للراغبين من المؤمنين في سلوك طريق الأخرة – Kitab ini selesai ditulis pada tahun 1069 H, sewaktu beliau berusia 26 tahun. Dan ditulis atas permintaan Habib Ahmad bin Hāsyim al-Habsyī.
  3. رسالة آداب سلوك المريد – Kitab ini selesai ditulis pada tanggal 7 atau 8 Ramadhan1071 H.
  4. إتحاف السائل بجواب المسائل – Kitab ini merupakan kumpulan jawaban atas berbagai persoalan yang diajukan kepada beliau oleh Syaikh ‘Abd al-Rahmān Ba’Abbad al-Syibāmi. Kitab ini ditulis saat Imam al-Haddad berkunjung ke Dau’an pada tahun 1072 H. Kitab ini mencakup 15 pertanyaan beserta jawaban dan penjelasan yang mendalam yang diberikan oleh Imam al-Haddad. Kitab ini selesai ditulis pada hari Jumat, 15 Muharram 1072 H.
  5. النصائح الدينية والوصايا الإيمانية – Kitab ini beliau tulis pada usia 45 tahun, dan selesai pada hari Ahad, 22 Sya’ban 1089H. Kitab ini mendapat pujian dari para ulama karena merupakan suatu ringkasan dari kitab Ihyā’. Kitab ini mudah dipahami, ulasannya sederhana disertai dengan dalil yang kukuh, sehingga mudah dibaca oleh semua tingkatan orang.
  6. سبيل الإدكار والا عتبار بما يمر بالإنسان وينقضي له من الأعمار Ada yang mengatakan bahwa kitab ini ditulis pada saat beliau berusia 60 (1104 H) atau 63 tahun (1107 H). 
  7. الدعوة التامة و التذكرة العامة – Kitab ini diselesaikan oleh Imam al-Haddad pada usia beliau 70 tahun, yaitu pada hari Jum’at 27 atau 28 Muharram 1114 H.
  8. النفائس العلوية في المسائل الصوفية – Kitab, yang membahas tentang isu-isu yang terkait dengan sufi, ini selesai ditulis pada hari Kamis, bulan Zulqaidah 1125 H, ketika ia berusia 81 tahun. 
  9. الفصول العلمية والأصول الحكمية – Kitab ini selesai ditulis pada 12 Shafar 1130 H, ketika Imam al-Haddad berusia 86 tahun atau 2 tahun sebelum beliau wafat.
  10. كتاب الحكم
  11. مكاتبات و وصايا 
  12. وسيلة العباد إلى زاد المعاد
  13. الدر المنظوم لذوي العقول والفهوم
  14. تثبيت الفؤاد yang dikumpulkan oleh murid beliau Syaikh Ahmad bin Abd al-Karīm al-Hasawī al-Shajjār.

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca juga
Close
Back to top button