Kitab al-Nasa’ih al-Diniyyah Karya Sayyid Abdullah al-Haddad

Sebuah Pengantar

Siapa yang tidak mengenal Habib Abdullah Al-Haddad? Nama ini tidak asing di telinga umat Islam Indonesia, terutama di kalangan komunitas santri dan pesantren. Ratib Al-Haddad, kumpulan dzikir populer yang sering dibaca oleh umat Islam di Indonesia, dinisbatkan kepada nama ini. Beliau juga dikenal sebagai seorang penulis yang produktif, terutama tentang isu-isu adab dan etika dalam hubungannya dengan Allah dan sesama manusia. Salah satu kitabnya yang masyhur adalah kitab al-Našā’ih al-Dīniyyah wa al-Wašāyā al-Īmāniyyah, yang akan menjadi pembahasan kita. 

al-Našā’ih al-Dīniyyah adalah sebuah kitab yang berisi tentang persoalan akidah, hukum dan adab (etika) yang ditulis untuk dijadikan rujukan oleh umat Islam. Rujuk dari etika yang terdapat dalam kitab ini adalah Alquran dan hadis-hadis Nabi Muhammad Saw, selain tentunya kitab Ihyā’ yang ditulis oleh Imam al-Ghazālī. Dalam kitab ini terdapat 16 tema pembahasan, yaitu: (1) takwa; (2) hati; (3) panjang angan-angan; (4) ilmu; (5) salat; (6) zakat; (7) puasa; (8) haji; (9) membaca al-Quran; (10) dzikir; (11) perintah yang makruf dan larangan yang munkar; (12) jihad; (13) perwaliyan dan hak-hak kewajiban; (14) hal-hal yang merusak jiwa manusia; (15) mengawasi hati; (16) hal-hal yang menyucikan/menyelamatkan jiwa manusia.

Dalam menulis kitab ini, pendekatan yang diambil oleh Sayyid Abdullah al-Haddad adalah tasawwuf akhlāqī, yaitu lebih mengedepankan aspek-aspek penyucian hati dan etika. Meskipun tema-tema fikih yang dibahas, tetapi titik tekannya tetap pada dimensi etis. Sebagai contoh, 

ثم إن للصلاة صورة ظاهرة، وحقيقة باطنة لا كمال للصلاة ولا تمام لها إلا بإقامتهما جميعاً. فأما صورتها الظاهرة: فهي القيام، والقراءة، والركوع، والسجود، ونحو ذلك من وظائف الصلاة الظاهرة

وأما حقيقتها الباطنة: فمثل الخشوع، وحضور القلب، وكمال الإخلاص، والتدبر والتفهم لمعاني القراءة، والتسبيح، ونحو ذلك من وظائف الصلاة الباطنة. فظاهر الصلاة : حظ البدن والجوارح  باطن الصلاة: حظ القلب والسر، بذلك محل نظر الحق من العبد – أعني قلبه وسره

“Salat mempunyai bentuk lahir dan hakikat batin, yang salat tidak akan sempurna tanpa menegakkan keduanya. Bentuk lahirnya mencakup berdiri, membaca, ruku’, sujud, dan tugas-tugas salat lainnya yang bersifat lahiriah. Sementara itu, hakikat batin seperti khusyu’, menghadirkan hati, ikhlas yang sempurna, memahami dan merenungi makna-mana bacaan, tasbih, dan lainnya. Bentuk lahir dari salat adalah tugas anggota badan, sementara bentuk batin dari salat adalah tugasnya hati …”

Apa yang dilakukan oleh Abdullāh al-Haddād ini sejalan dengan konsep yang pernah dikembangkan oleh Imam Mālik bahwa fikih dan tasawuf harus sejalan, tidak boleh terpisah. Kata beliau:

من تصوف ولم يتفقه فقد تزندق ، ومن تفقه ولم يتصوف فقد تفسق، ومن جمع بينهما فقد تحقق

“Siapa pun yang menjalankan tasawuf, namun tidak berpijak pada fikih, maka ia telah sesat. Siapa pun yang menjalankan fikih, tanpa tasawuf, maka ia telah menjadi fasik. Dan siapa pun yang menggabungkan keduanya, maka ia telah mencapai hakikat sejati”

Senada dengan itu, Imam al-Shāfi’ī dalam sebuah syairnya mengatakan:

فقيهاً وصوفياً فكن ليس واحداً *** فإني وحق الله إياك أنصح
فذلك قاسٍ لم يذق قلبه تقى     *** وهذا جهول كيف ذو الجهل يصلح

“Jadilah kamu seorang ahli fiqih yang sufi, jangan jadi salah satunya, sungguh dengan haq Allah aku menasehatimu. Jika kamu menjadi ahli fiqih saja, maka hatimu akan keras tak akan merasakan nikmatnya taqwa. Dan jka kamu menjadi yang kedua saja, maka sungguh dia orang teramat bodoh, maka orang bodoh tak akan menjadi baik”.

Wallāhu a’lam bis šawāb

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca juga
Close
Back to top button