Tema 4: Kejujuran (al-Sidq)

Riyad al-Salihin

Kejujuran adalah salah satu karakter yang mesti bersemayam dalam hati, kesadaran, sikap dan perilaku umat Islam. Hal ini karena kejujuran mengantarkan seseorang kepada kesuksesan. Oleh karena itu, kejujuran menjadi bagian dari ajaran dan nilai moral yang disampaikan baik dalam Alquran, Hadis, dan praktik-praktik kenabian. Imam al-Nawawi, ketika memulai pembahasan tentang karakter penting ini, menghadirkan tiga ayat Alquran, yang secara umum mengandung ajaran tentang: perintah menjadi orang yang jujur (al-Tawbah 119), kejujuran adalah suatu yang lebih baik dilakukan (Muhammad 21), serta ampunan dan pahala besar bagi orang jujur (al-Ahzab 35). Setelah itu, untuk memperkuat karakter ini Imam al-Nawawi menghadirkan 6 hadis, yang menekankan pada signifikansi karakter ini dikaitkan dengan kesuksesan dunia dan akhirat. Artinya, jika karakter ini menjadi bagian dari diri dan kehidupan kita, maka kesuksesan yang pasti akan diraih dan dicapai oleh orang tersebut. 
Jika disimpulkan secara umum dari hadis-hadis tersebut, maka dapat ditarik beberapa nilai moral sebagai berikut

Pertama, Korelasi antara kejujuran (al-sidq) dan surga
Surga adalah tujuan setiap orang beriman, yang setiap selesai salat wajib selalu diminta oleh seorang yang beriman. Ia meminta dengan “doa sapu jagad” yang berisi permohonan kepada Allah agar diberikan kebahagiaan dunia dan akhirat, serta dijauhkan dari api neraka. Ini berarti yang diminta kepada Allah adalah surga-Nya, yang dalam bahasa hadis, tidak bisa dibayangkan oleh mata, telinga dan pikiran, tentang bentuk dan kenikmatannya. Dalam hadis pertama, dalam bab Jujur, disebutkan bahwa “kejujuran mengantarkan kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan kepada surga”. Artinya, kejujuran merupakan jalan menuju surga.

Kebalikannya, berdusta adalah sesuatu yang harus dihindarkan karena merupakan maksiat, dan hukum asalnya adalah haram. Setiap yang haram dan maksiat tentu akan memunculkan mudarat, baik kepada dirinya sendiri maupun orang lain. Tapi dalam pembahasan fikih, dalam konteks-konteks tertentu, ada dusta yang dibolehkan dan diwajibkan. Misalnya, dalam konteks ketika seorang Muslim bersembunyi dari seorang zalim yang ingin membunuhnya atau merampas hartanya, lalu orang zalim tersebut bertanya tentang posisi orang tersebut, maka “wajib” bagi kita berdusta untuk menyembunyikannya. Begitu pula, dalam konteks ketika dalam mendamaikan kedua pihak atau suami isteri yang berseteru, kita “boleh” berdusta agar keduanya bisa berdamai dengan menceritakan sisi-sisi yang baik dari kedua belah pihak.

Kedua, Korelasi kejujuran dengan ketenangan
Dalam hadis disebutkan al-sidq tuma’nīnah, yang berarti “kejujuran adalah sebuah ketenangan”. Maka, kebalikannya adalah kebohongan merupakan sebuah keraguan. Sesuatu yang meragukan tentu tidak jelas. Ketidakjelasan dan keraguan memunculkan kekacauan hati yang, jika ditinggalkan, maka akan menjaga kehormatan agama dan dirinya. Dikhawatirkan pula, keraguan dapat membuat seorang terjatuh pada sesuatu yang diharamkan, seperti penggembala yang menggembalakan ternaknya di di sekitar tanah terlarang, dikhawatirkan ternak masuk ke dalam tanah haram tersebut.

Menarik, para cerdik cendekia pada masa Nabi apabila mereka mendengar perkataan Nabi dan seruan-seruannya, mereka langsung tahu bahwa ia adalah seorang yang jujur atau benar (sādiq), dan ia datang membawa kebenaran. Namun, ketika mereka mendengar perkataan Musaylamah, mereka tahu bahwa ia adalah pendusta, dan datang membawa kebohongan. Amr bin al-Ash, sebelum keislamannya, mendengar perkataan Musaylamah tentang “wahyu” yang diturunkan kepadanya, ia langsung berkata, “Demi Tuhan, engkau adalah seorang pendusta”. Oleh karena itu, seorang jangan bersandar kepada perkataan setiap orang, tetapi ia harus berpijak pada perkataan seorang yang jujur. Tanda kejujuran adalah ketika hati menjadi tenang; sebaliknya, tanda kebohongan adalah ketika hati tidak tenang, malah membuatnya gelisah.

Wallāhu a’lam bi al-šawāb

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button