Membangun Lingkungan Kerja yang Kondusif Bagi Keberagaman

Ringkasan Kajian S-Booster Telkom (16 Juni 2022)

Membangun lingkungan kerja yang kondusif adalah sesuatu yang sangat penting bagi sebuah perusahaan ketika ingin mendapatkan profit yang besar. Namun, untuk melakukan hal ini diperlukan berbagai prayarat, diantaranya yang terkait dengan sumber daya manusia seperti karyawan dan atasan. Ada korelasi yang sangat kuat antara suksesnya sebuah perusahaan dan kinerja karyawan yang baik. Kinerja karyawan yang baik dapat terbentuk, setidaknya, jika lingkungan kerja yang sangat beragam itu kondusif. 

Pertanyaan yang muncul adalah bagaimana caranya? Yang pertama, tentu dengan membentuk karakter open mind pada setiap diri karyawan. Karakter ini dicirikan dengan sikap selalu menghargai perbedaan yang ada di lingkungan kerja, baik dalam kaitannya dengan agama, pemahaman keagamaan, praktik keagamaan, kelompok etnik, dan lain-lain. Menghargai perbedaan ini merupakan ajaran yang melekat dalam Islam (QS Al-Hujurat 13), yang dipraktikkan oleh Nabi dan para sahabat di Madinah. Salah satu bentuk realisasi dari konsep ini adalah Piagam Madinah.

Ciri kedua dari orang yang open mind adalah ketika membuat suatu keputusan, ia bersandar pada berbagai informasi yang disampaikan oleh berbagai sumber yang berbeda, dan kemudian melakukan verifikasi terhadap berbagai aspirasi dan pendapat tersebut dengan berkonsultasi dengan orang-orang yang dianggap mempunyai pengetahuan, pengalaman dan kebijaksanaan. Setelah itu, dengan berbasis pada logika yang sehat (kemaslahatan publik) dan bukti-bukti yang relevan,  suatu keputusan ditetapkan. Sehingga tidak memberikan mudarat bagi yang menerima keputusan tersebut.

Sikap memverifikasi terhadap setiap informasi yang disampaikan adalah ajaran Islam yang sangat penting dan merupakan kebiasaan para Nabi. Di antaranya, seperti yang diceritakan oleh Allah dalam Alquran, adalah kisah Nabi Sulaiman, ketika menerima informasi dari burung Hud Hud. Suatu ketika, burung hud hud terbang melintasi negeri Saba’. Di dalamnya ia melihat sebuah kerajaan yang sangat besar dengan istana megah di dalamnya. Kerajaan itu dipimpin oleh seorang ratu yang sangat cantik, yang bernama Balqis. Namun yang aneh, katanya, mereka bukannya menyembah Allah, malah menyembah matahari. Melihat keanehan ini, burung Hud Hud pun berniat memberikan informasinya kepada Nabi Sulaiman.

Burung Hud Hud kembali ke kerajaan Sulaiman dan segera menyampaikan pesan tersebut kepada rajanya. Nabi Sulaiman tersenyum dan berkata, “Kita lihat saja, apakah kamu benar atau kamu termasuk orang-orang yang berdusta”. Kemudian Nabi Sulaiman menuliskan surat kepada Ratu Balqis, yang disampaikan oleh burung Hud Hud, yang berisi ajakan kepada Ratu Balqis dan seluruh rakyatnya untuk meninggalkan sembahan matahari dan beralih menyembah Allah Swt. 
 

Yang kedua adalah menanamkan kepada setiap karyawan budaya silaturahmi di perusahaan. Caranya dapat dalam bentuk good communication dimana setiap karyawan  di antara mereka tidak boleh saling berkomunikasi dengan perkataan dan sikap yang dapat menyakitkan, termasuk juga terhadap atasan. Begitupula, atasan tidak sepantasnya berkomunikasi dengan para karyawan dengan perkataan dan sikap yang merendahkan bawahannya. Wallāhu a’lam.

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca juga
Close
Back to top button