Makna Istita’ah dalam Haji

Haji adalah ibadah klasik (qadīmah) dan kekal (khālidah), yang sudah ada sebelum Nabi Muhammad Saw. Ibadah ini sudah dimulai sejak zaman Nabi Ibrahim (QS al-Hajj: 26-27). Namun dalam perkembangannya, ritual ini mengalami perubahan-perubahan, ternodai dengan praktik-praktik yang menyimpang. Disusupi praktik-praktik yang mengandung kesyirikan, seperti yang terjadi di zaman Jahiliyah. Sebagai contoh, kaum Musyrik Mekkah ketika melakukan tawaf (mengelilingi Ka’bah), mereka melakukannya sambil telanjang, dan menganggap ini adalah perbuatan baik dan merupakan kesucian. Alasan mereka  menanggalkan baju-baju mereka saat tawaf mengelilingi Ka’bah adalah karena menganggap najis baju-baju mereka karena dibeli dari uang-uang yang tidak baik. Alasan ini sekilas terlihat logis.
Selain itu, ketika mereka mengelilingi Ka’bah, mereka menyebut-nyebut dan membangga-banggakan nenek moyang mereka. Pada saat Islam datang, haji ini diadopsi dan dimodifikasi. Yang berbau syirik dihilangkan, digantikan dengan ritual yang mengandung tauhid, pujian dan dzikir terhadap Allah.
Tidak seperti ibadah-ibadah  lainnya, ibadah haji melibatkan aspek hati, fisik, finansial, dan keamanan. Oleh karena itu, hanya orang-orang yang mempunyai “kemampuan” yang diperintahkan untuk melakukan perjalanan dan ritual ibadah haji. Disebutkan dalam Surat Ali Imran ayat 97:
ولله علي الناس حج البيت من استطاع اليه سبيلا
 
“… Diwajibkan kepada manusia untuk melaksanakan haji ke Baitullah bagi yang mempunyai kemampuan untuk melakukan perjalanan ke sana …”
 
Dari ayat ini, dapat disimpulkan bahwa istitā’ah menjadi syarat wajib haji. Namun, para ulama berbeda pendapat tentang tafsir kata istitā’ah. Imam Syafii memaknainya sebagai “kemampuan harta”. Oleh karena itu, ia mewajibkan orang yang lumpuh mencari orang yang menggantikannya untuk berhaji jika ia mempunyai biaya untuk mengupahnya. Imam Malik berpendapat bahwa istitā’ah adalah (kemampuan badaniyah atau kesehatan badan). Orang yang mampu berjalan dan berusaha (mencari bekal) dalam perjalanan wajib menunaikan haji. Abu Hanifah berpendapat bahwa istitāah meliputi keduanya, kemampuan harta dan badan.
Jika digabungkan, istitā’ah pada umumnya mencakup istitā’ah badaniyyah, istitā’ah māliyyah, dan disertai keamanan. JIka dua syarat terpenuhi, tapi yang ketiga tidak terpenuhi, seperti tidak adanya keamanan, seperti pandemik Covid 19 yang terjadi semenjak dua tahun yang lalu, maka kewajibah menjadi gugur. Namun, jika semua syarat ini terpenuhi, maka seorang Muslim wajib melakukan haji. Jika tidak melaksanakan haji, maka ia berdosa. Kata Nabi,
 
عَنْ عَلِيٍّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ مَلَكَ زَادًا وَرَاحِلَةً يَبْلُغُ بِهِ إِلَى بَيْتِ اللهِ فَلَمْ يَحُجَّ فَلَا عَلَيْهِ أَنْ يَمُوتَ يَهُودِيًّا أَوْ نَصْرَانِيًّا، وَذَلِكَ أَنَّ اللهَ قَالَ وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حَجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا
 
“Siapa pun yang mempunyai bekal dan kendaraan yang mengantarkannya ke Baitullah, namun tidak berhaji, maka janganlah menyesal jika ia mati dalam keadaan Yahudi atau Nasrani …”
 
Maksud dan Tujuan Syariat Haji
Selain sebagai bentuk ibadah, ketakwaan, dan syukur terhadap nikmat Allah Swt yang begitu besar dilimpahkan kepada kita, haji juga mempunyai tujuan yang bersifat psikologis dan sosiologis. Di antaranya adalah:
  1. Mendidik seorang muslim untuk mempunyai ketahanan mental dalam menanggung berbagai kesulitan dalam kehidupan ini. Ini, misalnya, ditandai dengan perjalanannya ke tanah suci dengan meninggalkan tanah air dan keluarganya, dalam durasi waktu yang cukup lama, dan biaya yang lumayan besar yang harus dikeluarkannya.
  2. Mewujudkan ta’āruf (perkenalan), karena umat Islam dari berbagai wilayah dan negara berkumpul dengan berbagai budaya yang berbeda. Dengan perkenalan tersebut, maka memunculkan sikap simpati dan empati untuk selalu memberikan bantuan kepada saudara seiman yang membutuhkan bantuan dan pertolongan. Ini sejalan dengan pernyataan Nabi, bahwa umat Islam itu bersaudara, dan ibarat sebuah badan yang sama, yang ketika salah satu anggota badan tersebut sakit, maka yang lainnya pun akan merasakan sakit.
Wallāhu a’lam
Sabtu, 18 Juni 2022

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button