Bertanggungjawab dalam Pengambilan Keputusan

Ringakasan Kajian S-Booster Telkom

Salah satu ciri dari orang yang mempunyai amanah adalah adanya sifat tanggung jawab dalam dirinya, terutama dalam kaitannya dengan proses pengambilan keputusan (decision making). Pengambilan keputusan ini adalah unsur yang penting dalam manajemen sebuah organisasi, baik itu sosial, politik, ekonomi budaya, maupun lainnya.
Islam memberikan arahan yang rinci terkait dengan proses pengambilan keputusan ini. Salah satu dari arahan tersebut adalah bahwa pengambilan keputusan harus berbasis pada musyawarah. Musyawarah adalah praktik yang sangat penting yang sudah ada pada masyarakat Arab sebelum Islam. Ketika Islam datang, konsep dan praktik ini, diadopsi oleh Islam sebagai suatu yang baik. Dan bahkan, Alquran menegaskan “dalam urusan mereka, mereka selalu bermusyawarah” [wa amruhum shūrā baynahum] (QS al-Shūrā: 38).
Mengapa musyawarah menjadi penting dilakukan? Tentu, secara logis, pengambilan keputusan membutuhkan masukan atau pandangan dari banyak orang, terutama mereka yang mempunyai pengetahuan dan pengalaman, dan mempertimbangkan berbagai aspek, sehingga keputusan yang diambil dapat memberikan kemaslahatan publik dan diterima sebagian besar orang. Dan ini dapat diperoleh melalui musyawarah.
Selain itu, secara teologis, Nabi sendiri menganjurkan musyawarah perlu dilakukan dalam menghadapi setiap persoalan dan dalam setiap pengambilan keputusan. Satu hadis yang populer, “Barangsiapa ingin mengerjakan sesuatu, lalu ia bermusyawarah dengan seorang Muslim, maka Allah akan memberikan taufik kepadanya untuk memilih yang paling baik baginya.” 

رَوَى عِكْرِمَةُ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ أَرَادَ أَمْرًا فَشَاوَرَ فِيهِ امْرَأً مُسْلِمًا وَفَّقَهُ اللَّهُ لِأَرْشَدَ أُمُورِهِ

Bahkan, Abu Hurairah sendiri pernah mengatakan bahwa, “Aku tidak pernah melihat seorang yang lebih banyak bermusyawarah kepada para sahabatnya selain Nabi Muhammad Saw” [ما رأيت أحدا أكثر مشورة لأصحابه من رسول الله صلى الله عليه وسلم]

Prinsip kedua yang diajarkan Islam adalah bahwa dalam melakukan pengambilan keputusan, sebelumnya perlu melakukan identifikasi atau pemetaan masalah. Seperti yang dilakukan oleh Nabi, ketika beliau hijrah ke Madinah, beliau melakukan pemetaan (mapping) terhadap potensi umat Islam di Madinah serta masyarakat yang hidup di sana dari berbagai kelompok etnik dan agama, kemudian membuat satu keputusan yang menguntungkan bersama, seperti Piagam Madinah (wathīqah Madīnah), yang oleh Robert N Bellah, dalam bukunya Beyond Belief, dianggap sebagai konstitusi paling modern saat itu dan yang pernah ada di dunia hingga sekarang.
Prinsip ketiga dalam pengambilan keputusan adalah bahwa setiap keputusan harus diambil, menurut ajaran Islam, dari data-data dan informasi-informasi yang akurat, bukan asumsi atau berita-berita bohong (data driven). Cerita Nabi Sulaiman dan burung Hud Hud dalam surat al-Naml (20-44) memberikan ilustrasi yang menarik bagaimana Nabi Sulaiman tidak langsung percaya saja dengan berita yang dibawa oleh burung Hud Hud ketika mendengar informasi bahwa ada kerajaan besar yang dipimpin oleh seorang ratu yang menyembah matahari, bukan Tuhan yang menciptakan matahari. Sebelum mengambil keputusan untuk bertindak, Nabi Sulaiman membentuk dan mengirim tim khusus untuk informasi tersebut. Setelah data-datanya akurat, baru mengambil keputusan. 
Yang terakhir, setiap pengambilan keputusan harus memperhatikan dampak-dampak yang ditimbulkan kepada stakeholders. Jika, berdasarkan analisis, keputusan tersebut memberikan dampak yang negatif, maka perlu ditinjau ulang. Namun, jika ternyata banyak kemaslahatan yang mungkin muncul dari keputusan tersebut, maka keputusan tersebut baru dimunculkan.
Wa-Allāhu a’lam bi al-shawāb

Kajian Spiritual Booster, PT Telkom Sulawesi Tengah
Kamis, 24 Maret 2022

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button