Makna Kehidupan

Salah satu tanda kekuasaan Allah adalah menciptakan kehidupan, yang tujuannya adalah sebagai bentuk ujian kepada manusia,siapa yang paling berkualitas amalnya. Kata “kehidupan” dalam bahasa Arab disebut  hayat, yang berarti “kehidupan yang tidak abadi,” sementara “kehidupan yang abadi dan sempurna” disebut hayawan. Kata Allah dalam surat Al-Ankabut: 34, “Rumah akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya.”

وَمَا هَٰذِهِ ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ ۚ وَإِنَّ ٱلدَّارَ ٱلْءَاخِرَةَ لَهِىَ ٱلْحَيَوَانُ ۚ لَوْ كَانُواْ يَعْلَمُونَ

Dari kata حياة, muncul kata حية, yang berarti “ular”. Mengapa ular disebut hayyat, karena ular suka bergerak-gerak atau dinamis. Untuk itu, kehidupan yang kita lalui seharusnya dinamis dan bergerak. Maksudnya apa? Diisi dengan melakukan aktivitas dan pekerjaan yang bermanfaat. Siapa pun yang diberikan kehidupan, tetapi tidak mengisinya dengan aktivitas dan pekerjaan, maka dianggap tidak mensyukuri semua nikmat angggota badan yang diberikan Allah. Oleh karena itu, Allah memuji orang yang bekerja. Ada banyak hadis yang berbicara tentang keutamaan orang yang bekerja.

Pertama, kecintaan Allah dan Rasulnya terhadap orang yang bekerja dengan tuntas. Kata Nabi, “Allah sungguh mencintai seorang hambanya yang bekerja”( إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُؤْمِنَ الْمُحْتَرِفَ), dalam hadis lain, “Allah mencintai jika seorang bekerja, ia memperbagus pekerjaannya” (إن الله يحب إذا عمل أحدكم عملا أن يتقنه). Kalau kita lihat para nabi dan rasul, mereka adalah para pekerja yang sangat professional dalam pekerjaannya. Nabi Ibrahim sebagai  tukang bangunan; Nabi Yusuf menjadi seorang ahli ekonomi; Nabi Daud seorang pandai besi; dan Nabi Muhammad adalah seorang pedagang yang ulung, yang tidak pernah mengalami kerugian dalam perdagangannya.

Ada seorang sufi yang bernama Syaqiiq al-Balkhi. Beliau adalah teman Ibrahim bin Adham yang dikenal ahli ibadah, zuhud dan tinggi tawakalnya kepada Allah. Hingga pernah sampai pada tataran enggan untuk bekerja. Penasaran dengan keadaan temannya, Ibrahim bin Adham bertanya,  “Apa sebenamya yang menyebabkan Anda bisa seperti ini?” Syaqiiq menjawab, “Ketika saya sedang dalam perjalanan di padang yang tandus, saya melihat seekor burung yang patah kedua sayapnya.  Lalu saya berkata dalam hati, aku ingin tahu, dari mana burung itu mendapatkan rizki. Maka aku duduk memperhatikannya dari jarak yang dekat. Tiba-tiba datanglah seekor burung yang membawa makanan di paruhnya. Burung itu mendekatkan makanan ke paruh burung yang patah kedua sayapnya untuk menyuapinya.  Maka saya berkata dalam hati, ; “Dzat yang mengilhami burung sehat untuk menyantuni burung yang patah kedua sayapnya di tempat yang sepi ini, pastilah berkuasa untuk memberiku rejeki di manapun aku berada.” Maka sejak itu, aku putuskan untuk berhenti bekerja dan aku menyibukkan diriku dengan ibadah kepada Allah. Mendengar penuturan Syaqiiq tersebut Ibrahim berkata, “Wahai Syaqiiq, mengapa kamu serupakan dirimu dengan burung yang cacat itu?. Mengapa Anda tidak berusaha menjadi burung sehat yang memberi makan burung yang sakit itu? Bukankah itu lebih utama? Bukankah Nabi bersabda, “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah?”

Kedua, ampunan Allah bagi orang yang bekerja untuk menafkahi keluarganya. Dalam hadis disebutkan, “Barang siapa yang sorenya dalam keadaan lelah karena bekerja, maka ia diampuni oleh Allah” (من أمسى كالاً من عمل يده أمسى مغفوراً له ).

Dari kata حياة, muncul kata حياء yang berarti “malu”. Kehidupan yang kita jalani harus disertai sifat malu. Bisa kita bayangkan seorang yang tidak mempunyai rasa malu dalam dirinya. Maka, ia akan seperti binatang, melakukan apa pun yang diinginkan dengan menabrak rambu-rambu yang sudah ditetapkan. Malu harus ada dalam diri kita seorang Muslim, bahkan termasuk “sebagian dari iman”. Maksudnya, seorang muslim harus mempunyai budi pekerti ini, karena ia bisa menjadi tameng bagi kita untuk menghindari dan meninggalkan hal-hal yang buruk dan tidak pantas.

Contoh yang bisa kita tiru adalah kisah ketika Nabi mengundang Sahabat untuk menghadiri walimah istri beliau Zainab. Acara sudah selesai, namun sebagian mereka tidak langsung bergegas pulang. Nabi tidak enak menyuruh sejumlah shahabat yang duduk berlama-lama di kediaman beliau agar beranjak pergi. Beliau sengaja mondar-mandir keluar masuk rumah sendiri untuk memberi sinyal kepada mereka agar mereka cepat meninggalkan rumah beliau. Namun isyarat tersebut belum terpahami. Maka turunlah ayat 53 dari surat al Ahzāb. Wallāhu a’lam bi al-sawāb

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca juga
Close
Back to top button