Tema 3: Sabar

Kajian Kitab Riyad al-Salihin 3

Pembahasan ketiga dalam kitab Riyãd al-Sālihīn adalah tentang topik Sabar. Sabar, sebagaimana ikhlas dan taubat, adalah kalimat dalam bahasa Arab yang sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia. Terkait dengan kata sabr, ada beberapa pendapat.

Pertama, al-sabr adalah pohon yang mempunyai kemampuan bertahan (nabāt al-sabbār), yang tumbuh di iklim yang sangat panas dan lingkungan padang pasir yang tandus. Oleh karena itu, sabar dianalogikan dengan tanaman ini, karena kemampuannya untuk tidak meminum air dan bertahan di iklim kering yang berlangsung bertahun-tahun. Sebagian dari pohon ini memiliki buat seperti buah tin berduri, dan sebagian lainnya mempunyai bunga.

Kedua, sebagian mengatakan ia berasal dari al-sibr (kasrah) yang berarti “obat yang terkenal sangat pahit dan sangat tidak menyenangkan.” Dan memang fakta membuktikan bahwa berlaku sabar itu terasa pahit, karena ia adalah sesuatu yang sangat berat untuk dilakukan.

Ketiga, pendapat lain mengatakan bahwa sabr dari kata al-subr (dommah) yang berarti “tanah yang subur karena kerasnya”.

Keempat, sebagian berpendapat, sabar diambil dari kata “mengumpulkan, memeluk, atau merangkul,” karena orang yang sabar itu yang merangkul atau memeluk dirinya dari keluh-kesah. Pada dasarnya, dalam sabar itu ada tiga arti, “menahan, keras, mengumpulkan, atau merangkul,” sedangkan lawan sabar adalah keluh-kesah.

Dari pengertian kebahasaan ini, dapat disimpulkan bahwa sabar menuntut ketabahan dalam menghadapi sesuatu yang sulit, berat, dan pahit, yang harus diterima dan dihadapi dengan penuh tanggung jawab. Sementara itu, dalam terminologi keislaman, seperti dikatakan Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, sabar mengandung makna “menahan diri dari rasa gelisah, cemas dan amarah; menahan lidah dari keluh kesah; menahan anggota tubuh dari kekacauan.”

Sabar dalam Riyãd al-Sālihīn
Imam al-Nawawi memulai pembahasan sabar dengan menghadirkan 6 ayat yang berbicara tentang perintah Allah kepada umat Islam untuk bersikap sabar. Ayat tersebut adalah  Āli Imrān 200; Al-Baqarah 155; al-Zumar 10; al-Shūrā 43; al-Baqarah 153; Muhammad 31.

1. Sabar adalah cahaya (الصبر ضياء)
Hadis ini menggunakan kata diyā’, bukan nūr, yang dalam bahasa Arab, meskipun maknanya sama dalam bahasa Indonesia, yaitu “cahaya”, tetapi muatan maknanya berbeda. Kata diyā’ berarti “sinar cahaya yang memiliki unsur panas dan membakar.” Sinar cahaya matahari dinamakan juga ضِيَاءٌ  karena memiliki sifat panas dan membakar (QS. Yūnus: 5). Ketika manusia dihadapkan oleh keadaan hati yang membuatnya susah dan gelisah, lalu ia bersabar dan mampu mengelola keadaan hatinya, maka sabar itu menjadi cahaya penerang yang dapat menyelamatkan orang tersebut. Sabar akan menjadi penerang bagi kehidupannya, sehingga ia tidak akan kehilangan arah dan kehilangan akal sehat. Namun, untuk mencapainya harus ada perjuangan untuk melawan berbagai keinginan nafsu dan ambisi-ambisi dunia yang rendah dan hina. Mempraktikan kesabaran memberikan rasa lelah fisik maupun batin. Rasa lelah ini adalah hal yang tak dapat dihindarkan. Tetapi barang siapa yang dapat menahan lelah tersebut, maka ia akan senantiasa ditemani oleh pelita kehidupan, menuju jalan yang dituju walaupun ditengah kegelapan. Terlebih, pelita kehidupan ini senantiasa menjadi salah satu sumber pahala orang mukmin yang sabar

2. Sabar adalah kenikmatan
Abu Sa’id, Sa’d bin Sinan Al-Khudri ra berkata bahwa beberapa orang Anshar meminta sesuatu kepada Rasulullah SAW. Rasulullah memberinya, hingga apa yang ada padanya habis. Lalu beliau bersabda kepada mereka ketika beliau menginfakkan semua yang ada di tangannya. “Aku tidak akan menyimpan harta yang ada padaku. Barangsiapa yang menjaga dirinya dengan tidak meminta-minta, maka Allah akan menjaganya. Siapapun dari kalian yang merasa cukup maka Allah akan mencukupinya. Barangsiapa yang berlatih untuk bersabar, niscaya Allah memberikan kesabaran kepadanya. “Dan tidak ada nikmat yang lebih baik dan lebih luas yang diberikan kepada seseorang, selain kesabaran” (Muttafaq ‘alaih).

3. Kesabaran adalah kebaikan
Nabi mengekspresikan kekagumannya ketika menggambarkan keadaan seorang mukmin. Apa pun yang terjadi kepadanya, baik itu musibah maupun kenikmatan, pada dasarnya semuanya adalah kebaikan jika direspons dan disikapi dengan baik. JIka diberikan nikmat, lalu ia bersyukur, maka itu adalah kebaikan. Begitu pula, jika diberikan musibah, lalu ia bersabar, maka itu adalah kebaikan. Buah kebaikan adalah surga. Karena itu, Allah memberikan kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.
Menurut Atha Ibnu Rabbah, Ibnu Abbas bertanya kepadanya. “Maukah aku tunjukkan kepadamu seorang wanita penghuni surga?” Atha menjawab, “Ya. Saya mau.” Ibnu Abbas menjelaskan, “Dia adalah wanita kulit hitam yang datang kepada Nabi SAW dan berkata, ‘Wahai Nabi. Saya menderita penyakit ayan/epilepsi dan (kala penyakit saya kambuh) auratku tersingkap. Berdoalah untuk saya agar Allah menyembuhkan penyakit saya’.
Nabi Muhammad SAW bersabda, “Jika engkau mau, bersabarlah dan bagimu surga. Tetapi jika engkau mau, aku akan mendoakanmu agar Allah menyembuhkanmu”. Luar biasa. Wanita kulit hitam itu rupanya memilih bersabar. “Saya memilih bersabar, wahai Nabi.” Kemudian dia melanjutkan kata-katanya, “Kala penyakit ayan/epilepsi menimpa saya, aurat saya tersingkap. Berdoalah kepada Allah untuk saya agar aurat saya tidak tersingkap. Nabi SAW kemudian mendoakannya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Wallãhu a’lam bi al-šawāb

 

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button