Taubat

Kajian Kitab Riyad al-Salihin 2

Persoalan taubat dibahas oleh Imam al-Nawawī dalam bab ke-2 di dalam kitab Riyād al-Sālihīn. Ini memberikan isyarat bahwa persoalan taubat adalah konsep yang sangat penting setelah konsep ikhlas, yang diharus dipahami dan diimplementasikan oleh seorang yang ingin menuju kepada jalan Allah Swt. Ikhlas menjadi fondasi dasar konsep taubat, karena taubat tidak akan bermakna kecuali jika dilakukan karena Allah. Dalam bab taubat ini, Imam al-Nawawī memasukkan tiga ayat, yang mencakup surat al-Nūr 31, Hūd 3, dan al-Tahrīm 8, dan 12 hadis yang saling memperkuat pembahasan taubat. 

Dalam bahasa Arab, ada beberapa kata yang digunakan untuk menjelaskan “tindakan seorang yang ingin kembali Allah, dan tidak lagi melakukan kemaksiatan kepada Allah” ini, yang masing-masing mempunyai perbedaan. Pada tingkatan yang pertama disebut tawbah, yang ini hanya berlaku kepada semua orang beriman secara umum (wa tūbū ilā Allāh ayyuhā al-mu’minūn); tingkatan kedua disebut inābah, yang dinisbatkan kepada para waliyullah dan orang-orang saleh (wa jā’a bi qalb munīb); tingkatan ketiga adalah awbah, yang dinisbatkan kepada para nabi dan rasul (ni’ma al-‘abd innahu awwāb). Selain itu, ada juga kalimat istigfār, yang berarti “mencari ampunan kepada Allah Swt”.

Kata tawbah berasal dari akar kata tāba-yatūb-tawbah yang, secara kebahasaan, berarti “kembali” (raja’a). Dalam terminologi keislaman, ia berarti “kembali dari maksiat kepada Allah menuju ketaatan kepada-Nya” (al-rujū’ min ma’siyyat Allāh ilã tā’atihi). Menurut Imam al-Nawawī, para ulama sepakat taubat adalah wajib. Mereka membagi taubat ke dalam dua kategori. Kategori pertama, jika maksiat tersebut terjadi antara manusia terhadap Allah, yang tidak berhubungan dengan hak manusia, maka ada tiga persyaratan yang perlu dipenuhi: (1) meninggalkan maksiat; (2) adanya penyesalan karena melakukannya; (3) adanya tekad untuk tidak kembali lagi melakukan perbuatan maksiat. Jika salah satu dari ketiga syarat ini tidak dipenuhi, maka taubatnya dianggap tidak sah. Sementara itu, kategori kedua adalah jika maksiat terjadi antara manusia dengan manusia yang lain. Dalam kasus ini, taubatnya adalah melakukan tiga pertama yang telah disebutkan sebelumnya, disertai dengan meminta maaf kepada manusia, dapat dalam bentuk mengembalikan barang yang mungkin dicurinya atau meminta kehalalan kepadanya jika pernah menggunjing, memfitnah, atau memakinya.

Mengapa perlu taubat?
Pertama, manusia disebut al-insān (dalam bahasa Arab) karena sifat pelupanya (nisyān). Lupa terhadap Dzat yang menciptakannya sehingga sering melakukan perbuatan-perbuatan yang mengundang murka Allah. Perbuatan ini dalam bahasa Arab disebut ma’siyyah, yang diserap oleh bahasa Indonesia menjadi maksiat. Dalam interaksinya dengan Pencipta-nya, seringkali manusia bermaksiat dengan melanggar segala perintah-nya atau terkadang melakukan ritual ibadah tidak sejalan dengan apa yang diarahkan oleh Nabi. Dalam kaitan dengan interaksi dengan yang lainnya, manusia, baik melalui pikirannya yang tertuang dalam bentuk konsep-konsep dan kebijakan-kebijakan yang dilahirkannya, atau perkataan-perkataan yang keluar dari mulutnya, atau perilaku dan perbuatan-perbuatannya, seringkali tanpa disadari telah menzalimi manusia yang lainnya. Oleh karena itu, manusia perlu meminta ampun kepada Allah Dzat yang menciptakannya, dan juga meminta maaf kepada manusia yang telah dizaliminya.

Perlu dipahami juga bahwa maksiat itu memberikan pengaruh yang buruk terhadap manusia, baik sikap maupun perbuatan. Maksiat itu ibarat noda yang mengganggu. Seorang yang terus menerus melakukan maksiat kepada Allah, tanpa bertaubat, maka hatinya akan membatu dan tertutup, sehingga sulit membedakan mana yang benar (haqq) dan mana yang salah (bātil). Begitu pula ketika maksiat yang dilakukan itu terus menerus dan sudah melampaui batas kenormalan, maka akan mengundang murka Allah, seperti azab yang ditimpakan kepada kaum Nabi Luth, kaum Saba, Firaun dan balatentaranya, dan kisah-kisah lainnya yang disebutkan dalam Alquran. Yang tidak disebutkan boleh jadi tidak terhitung jumlahnya.

Kedua, taubat adalah suatu syariat yang sangat dicintai dan disukai Allah Sw. Dalam Alquran dengan tegas dan jelas disebutkan bahwa Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan membersihkan diri dari dosa (inna Allāh yuhibb al-tawwābīn wa yuhibb al-mutatahhirīn). Dalam hadis no 15 disebutkan bahwa Allah lebih gembira dan bahagia dengan taubatnya hamba melebihi dari gembiranya seorang yang menemukan ontanya yang hilang, yang di atas onta itu ada makanan dan minuman yang dibutuhkan. Hadis ini memberikan satu isyarat, bukan karena Allah butuh kepada taubat manusia, melainkan karena kecintaan-Nya kepada taubat, dan itu memberikan kemaslahatan kepada manusia.

PESAN MORAL HADIS

1. Pentingnya istigfar dan taubat
Istighfar adalah manhaj nabi yang perlu kita teladani ketika kita ingin mengikuti jalan beliau. Nabi sendiri seperti dijelaskan oleh hadis no. 14 dan 15 merutinkan istighfar sebanyak 70 atau 100 kali dalam sehari. Ini tidak berarti bahwa Nabi mempunyai dosa, karena beliau adalah ma’shum, dan sudah diampuni semua dosanya baik yang terdahulu maupun sesudahnya. Penyebutan jumlah ini adalah sebagai motivasi untuk mendorong umat Islam meneladani dan meniru Nabi, bahwa beliau sendiri yang ma’shum saja masih meminta ampun dan bertaubat kepada Allah Swt. Tentu saja, istighfar Nabi itu bukanlah meminta ampun dari dosa karena Nabi itu maksum, tetapi dari perasaan dan keyakinan beliau atas  keterbatasannya dalam beribadah kepada Allah. Istigfar adalah muatan dakwah Nabi Nuh ketika ia memerintahkan kaumnya yang telah banyak melakukan dosa untuk meminta ampun kepada Allah Swt (QS Nūh 10-12) dan juga Nabi Hud (QS Hūd 52).

Alquran menyebut sebagai “orang bertakwa” mereka yang melakukan maksiat, kemudian meminta ampun dengan segera kepada Allah (QS. Āli Imrān: 135). Sebaliknya, Alquran menyebutnya “munafik” seorang yang berdosa dan berbuat maksiat, ketika diajak untuk beristighfar, tapi enggan untuk melakukannya (QS. Al-Munāfiqūn: 5).

Sebagai syariat, taubat tentu banyak memberikan manfaat. Seperti diinformasikan oleh Alquran, bahwa taubat dan istighfar dapat menghapus segala dosa. Dalam kaitan ini, Imam al-Nawawī memasukkan dalam kitabnya satu hadis tentang taubatnya seorang yang telah membunuh 99 orang, Suatu ketika, terbersit di hati pria tersebut akan azab Sang Pencipta. Dia berpikir, alangkah baiknya bila dia memohon ampunan-Nya sebelum ajal tiba. Namun, apakah taubat orang yang telah membunuh puluhan nyawa tak bersalah akan diterima? Pertanyaan itu sungguh-sungguh membebaninya. “Dia kemudian menanyakan kepada orang-orang tentang siapa (di antara mereka) yang paling berilmu. Kemudian, dia diarahkan kepada seorang rahib. Dia pun mendatangi (rumah) rahib itu, untuk kemudian bertanya kepadanya. Dia telah membunuh 99 orang, apakah masih terbuka (pintu) taubat baginya? Rahib itu pun menjawab, ‘Tidak ada.” Seketika, pria itu membunuh rahib tersebut, sehingga genap jumlah korbannya seratus orang,” sabda Nabi SAW.

Kisahnya tidak berhenti sampai di situ. Sang pembunuh lantas menemui tokoh lain. Kali ini, dia diterima serorang alim ulama. Setelah menceritakan keadaannya, dia pun bertanya, “Apakah masih tersedia taubat baginya?” Orang alim itu menjawab, ‘Ya. Siapa pula yang menghalang-halangi untuk bertaubat!? Pergilah dari kota ini dan (bergegaslah menuju) kota itu. Karena di sana ada kaum yang taat beribadah kepada Allah. Beribadahlah bersama mereka, jangan kembali ke negerimu. Sebab, negerimu itu telah menjadi negeri yang buruk,” Nabi SAW melanjutkan sabdanya. Atas saran orang alim itu, sang pembunuh segera hijrah dari negeri asalnya. Pria yang telah menewaskan seratus nyawa itu ingin memulai babak baru kehidupan, di negeri tujuan yang berisi banyak orang salih. Dia (sang pembunuh 100 jiwa) pun berangkat. Saat tiba di persimpangan jalan, ajal datang menjemputnya. Lalu (datanglah) Malaikat Rahmat dan Malaikat Azab; (keduanya) memperebutkannya. Malaikat Rahmat berkata, ‘Dia datang dalam keadaan bertaubat dan menghadapkan hatinya kepada Allah.’ Sementara, Malaikat Azab berkata, ‘Dia belum melakukan satu kebaikan pun.’ Akhirnya, turun sesosok malaikat yang berwujud manusia. Kemudian, keduanya (Malaikat Rahmat dan Malaikat Azab) sepakat untuk menjadikannya penengah. Dia berkata, ‘Ukurlah jarak di antara tanah (tempat kematian sang pembunuh). Lalu perhatikan, ke arah mana dia lebih dekat. Maka berarti dia termasuk penghuni tempat itu.’ Masing-masing pun mengukurnya. Ternyata, pria tersebut lebih dekat ke arah (negeri) yang hendak dia tuju. Maka Malaikat Rahmat kemudian menemani jiwanya.”

2. Taubat sebelum nyawa berada di tenggorokan dan sebelum matahari terbit dari Barat 
Allah menerima taubat siapa pun dari hamba-Nya yang ingin bertaubat, sebesar apa pun dosa dan kesalahannya. Namun, perlu dipahami oleh muslim bahwa ada waktu dimana pintu taubat tidak akan lagi terbuka bagi seseorang.
Pertama, selama ruh belum sampai ke tenggorokannya. Dalam sebuah hadis no 19 disebutkan  إن الله يقبل توبة العبد ما لم يغرغر (Sesungguhnya Allah akan menerima taubat hambanya selama nyawa belum berada di tenggorokan).
Kedua, sebelum matahari terbit dari barat. Dalam hadis no. 18 disebutkan: من تاب قبل أن تطلع الشمس من مغربها تاب الله عليه. Terbitnya matahari dari Barat, menurut informasi Nabi, adalah tanda datang kiamat, yang pada saat tersebut, taubat seseorang tidak lagi diterima oleh Allah.

DAFTAR PUSTAKA
1. Muhyiddīn Yahyā bin Sharaf al-Nawawī, Riyād al-Sālihīn (Kairo: Dār al-Hadīth, 2004)
2. Dr. Hamad bin Nāsir bin ‘Abd al-Rahmān al-‘Ammār, Kunūz Riyād al-Sālihīn, Jilid 1(Riyād: Dār Kunūz Isbiliyā, 1430 H)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button