Penerapan Moderasi Islam di IAIN Palu

MUKADIMAH
Salah satu visi IAIN Palu adalah “mengembangkan kajian Islam moderat yang berbasis pada integrasi ilmu, spritualitas, dan kearifan lokal.” Yang menarik dari visi ini adalah empat konsep penting yang saling berkaitan dan mendukung, yaitu Islam moderat, integrasi ilmu, spiritualitas, dan kearifan lokal. Konsep yang pertama “Islam moderat” ditopang oleh tiga konsep otentik berikutnya, “integrasi ilmu”, “spiritualitas”, dan “kearifan lokal”. Pemilihan keempat konsep di atas tentu bukan tanpa alasan. Alasan-alasan boleh jadi mencakup alasan teologis, sosiologis, dan alasan lainnya.

Secara teologis, Islam adalah agama moral dan kemanusiaan, yang merupakan esensi dari moderasi. Semua syariat yang diturunkan oleh Allah dan disampaikan oleh Nabi Muhammad Saw adalah bermuara pada pembentukan karakter dan moralitas yang baik, dari persoalan salat, puasa, zakat, haji, dan ibadah-ibadah lainnya. Karakter moderasi dalam sikap beragama dan keberagamaan pada dasarnya bermuara pada penjagaan terhadap hak asasi manusia. Manusia secara alami mempunyai hak-hak dasar yang perlu dihargai dan diberikan perlindungan. Seperti dikatakan Abraham Maslow,[1] ada berbagai kebutuhan mendasar yang dibutuhkan manusia, yang mencakup kebutuhan fisik, psikis, kebutuhan terhadap rasa aman, cinta, dan aktualisasi diri. Kebutuhan-kebutuhan ini jika tidak dipenuhi dengan baik akan memunculkan kekacauan (chaos), konflik dan ketegangan di dalam masyarakat. Dalam Islam, segala sesuatu yang berpotensi menyebabkan kemunculan chaos ini perlu ditutup dan dihindari; sebaliknya, segala sesuatu sesuatu yang mendorong terpenuhinya kebutuhan dasar ini tentu perlu dibuka luas dan difasilitasi.

Sementara itu, alasan sosiologis adalah bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang multikultur, yaitu masyarakat yang beragam dan berbeda, dalam kaitan dengan agama, kelompok etnik, budaya, politik, ideologi, organisasi, dan lainnya, yang semuanya secara sosiologis berpotensi memunculkan ketegangan dan konflik dalam masyarakat. Untuk mencegah terjadinya ketegangan dan konflik tersebut, maka perlu muncul sikap saling menghargai dan menghormati terhadap setiap perbedaan. Sikap menghargai dan menghormati setiap perbedaan ini adalah salaah satu ciri yang melekat pada moderasi.

Lalu seperti apa pemahaman tentang Islam moderat dan strategi penerapannya dalam konteks akademik IAIN Palu? Tulisan ini pertama kali akan menguraikan tentang moderasi sebagai sebuah konsep yang dapat diterapkan di IAIN Palu, dan kemudian mencari  kemungkinan penerapan dalam konteks IAIN Palu, terutama dalam kaitan dengan pembelajaran di IAIN Palu.

MODERASI ISLAM DALAM LINTASAN SEJARAH
Moderasi adalah salah kata yang merupakan serapan dari bahasa Inggris moderation, yang berarti “pertengahan”. Dalam bahasa Arab, ada banyak kata yang digunakan untuk mengilustrasikan kecenderungan ini, seperti tawassuṭ, wasaṭiyyah, i’tidāl, iqtisāḍ, dan tawāzun. Islam moderat mengambil tempat di tengah, tidak condong ke kanan dan tidak pula condong ke kiri. Apabila menggunakan trialektika Hegelian, jika Islam kanan adalah tesis, dan antitesisnya adalah Islam kiri, maka Islam moderat adalah sebuah gerakan Islamisme yang memposisikan dirinya sebagai sebuah sintesa. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa Islam moderat adalah wujud mediasi antar dua aliran Islam ekstrim, yakni Islam kanan dan Islam kiri. Tidak saling menyalahkan, tidak menyatakan paling benar sendiri, dan bersedia berdialog, sehingga tercermin bahwa perbedaan itu benar-benar rahmat. Jika ini yang dijadikan pijakan dalam beramal dan beragama, maka inilah sebenarnya makna konsep Islam moderat.[2]

Secara substansi, moderasi adalah satu atribut yang melekat pada Islam dan umat Islam itu sendiri. Jika ditelusuri lebih dalam, Islam moderat dapat merujuk, jika di wilayah tempat turunnya Islam, kepada praktek Islam yang dilakukan Nabi Muhammad dan para sahabatnya, khususnya al-Khulafa al-Rashidin, dan juga generasi para Salafus Salih masa klasik. Sumber pengetahuan Islam, yaitu Alquran, surat Al-Baqarah: 143, yang menjadi rujukan dalam memahami moderasi ini, mengilustrasikan keunggulan umat Islam sebagai umat pertengahan, terutama dalam hal keseimbangan antara kebutuhan spiritual manusia dan kebutuhan materi-keduniawian. Ada sebuah riwayat yang mempertegas persoalan ini, bahwa ada sekelompok orang mendatangi Nabi Muhammad untuk menunjukkan bahwa mereka adalah orang kuat beribadah, sampai tidak menikah. Nabi menjawab, yang benar adalah keseimbangan antara ibadah dan pemenuhan materi. Itulah sunnah beliau.

Dalam konteks Indonesia, Islam moderat dapat merujuk kepada para penyebar Islam yang terkenal dengan sebutan Walisongo. Sejak kedatangan Islam di bumi Indonesia, sepanjang menyangkut proses penyebarannya sebagai agama dan kekuatan kultur, sebenarnya ia telah menampakkan keramahannya. Dalam konteks ini, Islam disebarkan dengan cara damai, tidak memaksa pemeluk lain untuk masuk agama Islam, menghargai budaya yang tengah berjalan, dan bahkan mengakomodasikannya ke dalam kebudayaan lokal tanpa kehilangan identitasnya. Sikap toleran inilah yang banyak menarik simpatik masyarakat Indonesia pada saat itu untuk mengikuti ajaran Islam. Sementara itu, Walisongo adalah arsitek yang handal dalam pembumian Islam di Indonesia.

Seperti yang dijelaskan oleh Mas’ud,[3] Walisongo dapat dianggap sebagai tokoh-tokoh unik di Tanah Jawa pada abad ke-15-16 yang berhasil memadukan aspek-aspek spiritual dan keduniawian dalam menyebarluaskan Islam. Dalam kehidupan sosio-kultural dan keagamaan di Jawa, mereka begitu memikat hingga bisa dikatakan bahwa Islam tidak akan pernah menjadi the religion of Java jika sufisme yang dikembangkan oleh Walisongo tidak mengakar dalam masyarakat. Rujukan ciri-ciri ini menunjukkan ajaran Islam yang diperkenalkan Walisongo di Tanah Jawa hadir dengan penuh kedamaian, walaupun terkesan lamban tetapi meyakinkan. Berdasarkan fakta sejarah, bahwa dengan cara menoleransi tradisi lokal serta memodifikasinya ke dalam ajaran Islam dan tetap bersandar pada prinsip-prinsip Islam, agama baru ini dipeluk oleh bangsawanbangsawan serta mayoritas masyarakat Jawa di pesisir utara. Transmisi Islam yang dipelopori Walisongo merupakan perjuangan brilian yang diimplementasikan dengan cara sederhana, yaitu menunjukkan jalan dan alternatif baru yang tidak mengusik tradisi dan kebiasaan lokal, serta mudah ditangkap oleh orang awam dikarenakan pendekatan-pendekatannya konkrit dan realistis, tidak njelimet, dan menyatu dengan kehidupan masyarakat. Model ini menunjukkan keunikan sufi Jawa yang mampu menyerap elemen-elemen budaya lokal dan asing, tetapi dalam waktu yang sama masih berdiri tegar di atas prinsip-prinsip Islam.[4]

Dalam konteks Islam lokal di Palu, dakwah yang dilakukan oleh Syekh Abdul Raqi, yang oleh masyarakat Palu dikenal dengan sebutan Datokarama, dan Sayyid Idrus bin Salim Aljufri, pendiri Alkhairaat, yang terkenal dengan sebutan “Guru Tua”, memberikan satu contoh yang kuat bagaimana kedua ulama-mubalig ini menggabungkan pendekatan Islam dan kebudayaan lokal dalam menyebarkan Islam dalam masyarakat Kaili di Palu dan sekitarnya. Sehingga Islam mudah diterima oleh masyarakat, yang memang masih kuat memegang tradisi lokal dalam menyelesaikan persoalan kehidupannya.[5]

Dalam perkembangannya, istilah Islam moderat menjadi sebuah istilah yang merupakan anti tesis terhadap istilah “Islam puritan”[6] yang muncul sebagai counter-hegemony terhadap konsep dan gerakan Islam radikal atau yang sejenis, yang tidak menghargai perbedaan dan kerapkali menggunakan kekerasan dalam mencapai tujuan politis-ideologinya.[7] Kata “moderat” ini merupakan sebuah atribut yang berfungsi untuk memperjelas dan menegaskan kembali watak Islam. Islam itu sendiri secara substansi dan praktik di masa-masa Islam awal adalah agama yang moderat. Dan itu bisa dilihat dari ajaran itu sendiri, serta praktik dan tradisi nabi dalam menjelaskan Islam kepada Sahabat.

Sebagai contoh, Alquran menegaskan sekaligus memberikan ciri umat Islam itu sebagai “umat pertengahan” (ummah wasaṭa). Kata wasata dalam bahasa Arab berarti “menengah”. Dari kata ini muncul kata wasit, yang berarti “seorang yang menengahi”. Jika dipahami lebih jauh, kata ini mencakup pula makna “sinergi antara keadilan dan kebaikan”. Inti pesan ini ditarik dari penjelasan para penafsir Alquran terhadap ungkapan ummah wasaṭa. Menurut mereka, maksud ungkapan ini adalah bahwa umat Islam adalah orang-orang yang mampu berlaku adil dan orang-orang baik (al-‘udūl wa al-khiyār). Makna lain dari ummah wasaṭa adalah suatu komunitas yang mempunyai sikap tidak berlebihan dalam menghadapi persoalan kemajemukan. Sikap itu tidak boleh dipahami secara pasif dan statis, dengan hanya mengendalikan kemajemukan agar tidak berujung kepada perpecahan dan keretakan. Namun lebih dari itu, ia bersifat aktif dan dinamis, yaitu melakukan perubahan sosial ke arah yang positif dan ke arah yang lebih baik, sehingga terwujud masyarakat yang damai dan harmonis. Sehingga dari beberapa makna di atas, jika kita buat kesimpulan secara umum, Islam moderat ditandai dengan beberapa ciri berikut, yaitu sikap terbuka dan toleran dalam perbedaan, bersikap adil, tidak menggunakan kekerasan dalam perilaku keberagamaan.

Letak moderasi tersebut kemudian diperkuat, baik dari aspek metodologi pemahaman maupun pendekatan dalam menafsirkan realitas. Secara umum, terdapat beberapa metode dan pendekatan yang digunakan, yang jika diringkas adalah sebagai berikut; pertama, memahami realitas; kedua, memahami prioritas; ketiga, memahami prinsip gradualitas (sunnah al-tadarruj) dalam segala hal; keempat, memudahkan dalam beragama, dan tidak ketat dan kaku dalam beragama dan keberagamaan; kelima, mengedepankan dialog, dan mendengar argumen kelompok lain dan tidak menganggap semua yang berbeda dengan pendapatnya pasti salah; dan keenam, bersikap terbuka terhadap dunia luar dan juga toleran dalam menghadapi perbedaan.

EPISTEMOLOGI MODERASI ISLAM DI IAIN PALU
Moderasi Islam dalam konteks IAIN Palu dikonstruk dari tiga konsep penting, yaitu Islam, spiritualitas dan kearifan lokal. Meskipun sumber dari ketiga konsep ini berbeda, namun ketiga konsep ini mempunyai nilai-nilai moral kemanusiaan universal yang dapat diimplementasikan dalam konteks perdamaian dan perlindungan terhadap hak asasi manusia.

Spiritualitas
Spiritualitas berbeda dari keagamaan (religiosity). Keagamaan adalah “partisipasi dalam keyakinan, ritual dan aktivitas dari agama-agama tradisional”[8] dan dapat berperan sebagai “pemupuk dan saluran ekspresi bagi spiritualitas” (nurturer and channel of expression for spirituality).[9] Spiritualitas, bagaimana pun juga, “lebih mendasar” daripada religiusitas.[10] Spiritualitas secara umum merupakan “sebuah cara yang orang memahami dan menjalani kehidupan mereka menurut makna dan nilai dasarnya” (the way in which people understand and live their lives in view of their ultimate meaning and value).[11] Namun demikian, di kalangan para teolog dan praktisi agama, ada kecenderungan untuk membuat garis yang kurang tegas antara agama dan spiritualitas. Dalam pandangan mereka, spiritualitas adalah realitas yang hidup dari agama seperti yang dialami oleh para pengikut sebuah tradisi.[12]

Menurut Roof,[13] spiritualitas mempunyai empat tema, yaitu (1) sumber nilai dan makna atau tujuan mendasar yang melampaui diri seseorang (the self), yang mencakup rasa misteri dan transenden-diri; (2) cara memahami; (3) kesadaran batini; dan (4) integrasi personal. Karakteristik yang terakhir ini, kata James,[14] adalah sangat penting. Spiritualitas mempunyai fungsi integrasi dan harmonisasi yang mencakup (a) kesatuan batini dan (b) hubungan dan keterkaitan dengan orang lain dan keterhubungan dengan realitas yang lebih luas yang menggerakkan kemampuan kita untuk transenden.

Masing-masing agama, termasuk Islam, mempunyai nilai-nilai spiritual yang baik dan universal, yang mengatur hubungan antara manusia dan Pencipta, manusia yang lain, serta lingkungan di sekitar manusia. Sehingga dengan mengimplementasi nilai-nilai spiritual tersebut akan terjalin hubungan yang harmonis antara manusia dan Tuhan, manusia dan juga alam.

Kearifan lokal
Kearifan lokal adalah pandangan hidup dan ilmu pengetahuan serta berbagai strategi kehidupan yang berwujud aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat lokal dalam menjawab berbagai masalah dalam pemenuhan kebutuhan mereka. Dalam bahasa asing sering juga dikonsepsikan sebagai “local wisdom” (kearifan setempat), “local knowledge” (pengetahuan setempat), atau “local genious” (kecerdasan setempat).[15] Kearifan lokal merupakan konstruksi pengalaman oleh masyarakat dalam menjalani kehidupan mereka, dan tentunya masing-masing masyarakat berbeda dalam konstruksi kearifan lokal tersebut. Nilai-nilai kearifan dalam masyarakat lokal tersebut melekat sangat kuat pada masyarakat tertentu, dan mengakar melalui perjalanan waktu yang panjang, sepanjang keberadaan masyarakat tersebut.

Dalam masyarakat Sulawesi Tengah yang multikultur, yang terdiri dari banyak kelompok etnik, yang tersebar di 13 kabupaten/kota, terdapat banyak pengetahuan dan kearifan lokal, yang telah mengakar dalam masyarakat, dan dijadikan pedoman dalam kehidupan masyarakat adat setempat. Di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Dalam masyarakat Kaili di Palu dan sekitarnya, terdapat beberapa pengetahuan lokal yang dikenal dengan semboyan Kitorang bersaudara (persaudaraan); Toraranga (saling mengingatkan), Rasa Risi Roso Nosimpotobe (sehati, sealur pikir, setopangan, sesongsongan). Semboyan-semboyan ini pada dasarnya mengajak untuk saling membangun masyarakat yang damai dan harmonis, dengan prinsip saling menghargai, menghormati, dan bekerjasama dalam mencapai peradaban manusia yang penuh dengan kasih saying.
  2. Dalam masyarakat Parigi-Moutong, terdapat satu kearifan lokal yang dikenal dengan sebutan Songu Lara Mombangu. Istilah ini diambil dari Bahasa Kaili, yang terdiri  atas tiga suku kata ,yaitu songu yang artinya  “satu”, lara artinya “hati”, dan mombangu yang berarti “membangun”. Maka, songu lara mombangu berarti “satu hati  dalam membangun”.  Dalam pengertian sosial, songu lara mombangu dipahami sebagai keinginan bersama dari dalam hati yang dimiliki oleh masyarakat Parigi Moutong untuk membangun daerah Kabupaten Parigi Moutong. Masyarakat menyikapi semboyan ini dengan  terus  menjaga  keharmonisan  hubungan  kekeluargaan  antar  sesama, dengan menghormati perbedaan-perbedaan agama dan kelompok etnik.[16]
  3. Di Poso dikenal dengan semboyan Sintuwu Maroso (persatuan yang kuat). Sintuwu Maroso dalam bahasa Poso mengandung dua makna yaitu Sintuwu yang berarti “bersatu atau persatuan”, sedangkan maroso berarti kuat sehingga apabila digabungkan berarti persatuan yang kuat. Konflik yang berkepanjangan menyebabkan kearifan lokal Sintuvu Maroso memiliki pemaknaan yang lebih kuat. Sintuvu Maroso juga bermakna persaudaraan, solidaritas, kebersamaan dengan tiga dimensi, yakni: hidup saling menghargai (tuwu mombetuwunaka), hidup saling menghidupi (tuwu mombepatuwu), dan hidup saling menolong (tuwu mombesungko). Keanekaragaman kelompok etnik dan agama menjadi terjembatani dalam proses interaksi dalam masyarakat. Saling menghargai dan saling menghormati menjadi perilaku yang terobjektifikasi dalam proses konstruksi sosial masyarakat Muslim Poso dan masyarakat agama lain. Menempatkan tokoh masyarakat Muslim dengan tokoh masyarakat agama lain pada posisi di pemerintah dan keterlibatan dalam proses deradikalisasi menjadi objektivasi saling menghargai.[17]
  4. Di Morowali dikenal dengan istilah Tepe Asa Moroso (bersatu kita teguh), yang merupakan satu strategi dalam mengurangi konflik dengan usaha-usaha mengurangi perbedaan antara orang- orang atau kelompok masyarakat satu dengan yang lainya. Mereka tidak lagi merasa kelompok yang berbeda sebab mereka mengutamakan kepentingan dan tujuan yang dicapai bersama yakni hidup dengan aman dalam suatu masyarakat. Semboyan ini mempunyai arti penting bagi masyarakat Morowali, dalam memperkokoh tali persaudaraan agar tidak terjadi pengkotak-kotakan yang menjadikan masyarakat Morowali hidup dengan harmonis dan serasi. Selain itu, Tepe Asa Maroso yang sangat dijunjung tinggi dapat terlihat dari prilaku-prilaku sosial yang menjadikan masyarakat dapat hidup saling menghargai, bekerjasama, dan saling menghormati. Semboyan ini mempererat hubungan persaudaraan antara masyarakat yang berbeda suku dan agama yang mendiami kabupaten Morowali.[18]

IMPLEMENTASI MODERASI ISLAM DI IAIN PALU
Perlu dipertegas kembali bahwa yang dimaksud dengan moderasi Islam di sini adalah nilai-nilai seperti keadilan, persamaan, keterbukaan, toleransi, dan anti-kekerasan, yang kesemuanya terdapat dalam ajaran Islam, spiritualitas agama, dan juga kearifan lokal masyarakat di Sulawesi Tengah. Nilai-nilai universal ini perlu diterapkan dalam konteks IAIN Palu. Pertanyaan yang mungkin muncul adalah bagaimana mengimplementasikan dan menginternalisasikannya dalam pembelajaran di IAIN Palu?

Setidaknya, secara umum, ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk menerapkan nilai-nilai Islam moderat ke dalam pembelajaran; Pertama, menggunakan metode kontekstualisasi. Dalam kontekstualisasi, seseorang dituntut untuk menghadapi persoalan secara komprehensif. Sehingga dengan sendirinya terbuka terhadap konteks yang  ada,  termasuk di  dalamnya ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), sosial, budaya. Di sini merupakan letak muatan Islam moderat. Berbagai isu yang terkait dengan moderasi Islam dapat dimasukkan dalam materi yang dikaji dan didiskusikan di dalam kelas.

Kedua, dengan menggunakan metode integrasi. Setiap pembelajaran harus memasukkan isu-isu terkini seperti toleransi, kemanusiaan, hak asasi manusia, demokrasi dalam setiap bahan pembelajaran. Model integrasi tersebut dapat mencakup, nilai-nilai moderasi dalam disisipkan dalam setiap materi yang diajarkan dan didiskusikan di dalam kelas, atau dipersiapkan sebagai materi khusus yang dimasukkan ke dalam mata kuliah.

CATATAN KAKI
[1] Lihat A.H. Maslow, “A Theory of Human Motivation,” Psychological review 50, no. 4 (1943): 370-396.
[2] Asep Abdurrohman Abdurrohman, “Eksistensi Islam Moderat Dalam Perspektif Islam,” Rausyan Fikr: Jurnal Pemikiran dan Pencerahan 14, no. 1 (2018): 29–41.
[3] Abdurahman Mas’ud, Dari Haramain Ke Nusantara: Jejak Intelektual Arsitek Pesantren (Jakarta: Kencana, 2006), 54–58.
[4] Ibid., 67.
[5] Lihat Rusli Rusli, “The Strengthening of Hadrami Ulama Network in Kaili Land Central Sulawesi,” Dialogia: Jurnal Studi Islam dan Sosial 18, no. 1 (2020): 1–18.; Rusli Rusli, “Hadrami Ulama Network and the Strengthening of A Shafi’ite Fiqh in Central Sulawesi Indonesia,” in Berislam Di Jalur Tengah: Dinamika Pemikiran Keislaman Dan Keindonesiaan Kontemporer, ed. Aksin Wijaya, 1st ed. (Yogyakarta: Ircisod, 2020), 45–63.
[6] Untuk lebih jelasnya, lihat Rusli Rusli, “Gagasan Khaled Abu Fadl Tentang “Islam Moderat Versus Islam Puritan (Perspektif Sosiologi Pengetahuan),” Jurnal Ilmiah Ilmu Ushuluddin 8, no. 1 (2009): 99–123.
[7] Lihat Masdar Hilmy, “Quo-Vadis Islam Moderat Indonesia? Menimbang Kembali Modernisme Nahdlatul Ulama Dan Muhammadiyah,” Miqot: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman 36, no. 2 (2012): 262–281.
[8] David N. Elkins et al., “Toward a Humanistic-Phenomenological Spirituality: Definition, Description, and Measurement,” Journal of Humanistic Psychology 28, no. 4 (1988): 5–18.
[9] Ibid., 6.
[10] Ibid.
[11] Maureen Muldoon and Norman King, “Spirituality, Health Care, and Bioethics,” Journal of Religion and Health 34, no. 4 (1995): 336.
[12] James M. Nelson, Psychology, Religion, and Spirituality (New York: Springer, 2009), 8.
[13] Dikutip dalam ibid.
[14] Ibid.
[15] Ulfah Fajarini, “Peranan Kearifan Lokal Dalam Pendidikan Karakter,” SOSIO DIDAKTIKA: Social Science Education Journal 1, no. 2 (2014): 123–124.
[16] Lihat Rikiyanto, “Kearifan Lokal Songu Lara Mombangu Masyarakat Parigi-Moutong (Studi Di Kecamatan Bolano Lambunu)” (Skripsi, Universitas Negeri Gorontalo, 2015).
[17] Lihat Nanang Wijaya, “Resolusi Konflik Berbasis Budaya Oleh Masyarakat Kabupaten Poso,” Jurnal Kolaborasi Resolusi Konflik 2, no. 1 (2020): 60–61.
[18] Lihat Ismail P. Dehi, “Tepe Asa Moroso (Studi Di Kecamatan Bumi Raya Kabupaten Morowali Provinsi Sulawesi Tengah)” (Skripsi, Universitas Negeri Gorontalo, 2014).

Rusli Muchtar Azhari
1 Agustus 2021

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button