Ikhlas dan Signifikansi Niat

Kajian Kitab Riyad al-Salihin (1)

Kitab hadis Riyād al-Sālihīn diawali dengan pembahasan tentang “Ikhlas dan Menghadirkan Niat” yang memberikan isyarat bahwa tema ini adalah tema yang sangat penting, yang perlu dibahas dan dikaji terlebih dahulu, sebelum mengkaji tema-tema lainnya. Dalam pembahasan ini, Imam Nawawi menghadirkan 3 ayat Alquran (al-Bayyinah: 5; al-Hajj: 37; Āli ‘Imrān: 29) dan 13 hadis. 

Hadis pertama dari 13 hadis yang dipaparkan oleh Imam al-Nawawi yang terkait dengan tema ikhlas dan pentingnya menghadirkan niat dalam setiap perbuatan dan perkataaan adalah hadis yang diriwayatkan oleh ‘Umar ibn al-Khattāb. Redaksi hadisnya adalah sebagai berikut:

وعن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب بن نفيل بن عبد العزى بن رياح بن قرط بن رزاح بن عدى بن لؤى ابن غالب القرشى العدوى رضي الله عنه قال : سمعت رسول الله ﷺ يقول : ” إنما الأعمال بالنيات ، وإنما لكل امرىء ما نوى فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله ، ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها ، أو امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه” ((متفق على صحته , رواه إماما المحدثين : أبو الحسين مسلم بن الحجاج بن مسلم القشيرى النيسابورى رضي الله عنهما في صحيحهما اللذين هما أصح الكتب المصنفة))

Biografi Perawi
Hadis ini diriwayatkan oleh ‘Umar bin al-Khattāb. Umar diberikan beberapa gelar (laqab); Pertama, Amīr al-Mu’minīn yang berarti “pemimpin orang beriman”. Gelar ini adalah gelar pertama yang dinisbatkan kepada beliau, setelah sebelumnya Abū Bakar al-Siddīq diberi gelar Khalifah, mengantikan Rasulullah dalam memimpin umat Islam. Gelar tersebut pertama kali diberikan oleh ‘Adī bin Hātim dan Lubayd bin Rabī’ah tatkala mereka menjadi utusan ke Iraq. Ada juga yang mengatakan bahwa gelar tersebut diberikan oleh Mughīrah bin Shu’bah. Kedua, beliau juga dijuluki sebagai Abū Hafs. Kata hafs berarti “singa” (asad), karena sifat keras dan sangat kuatnya ‘Umar. Bahkan, sebelum masuk Islam, Umar adalah orang yang keras terhadap orang-orang Islam di Mekkah. Rasul memberikan julukan ini karena Umar adalah seorang yang sangat kuat. Ketiga, gelar al-Fārūq, yang berarti “pembeda”. Gelar ini muncul karena perkataan Rasulullah Saw, “Sesungguhnya Allah menjadikan kebenaran di atas lidah Umar dan hatinya, yakni al-Faruq, pembeda antara yang haq dan batil.”

Sebelum Islam, Umar adalah orang keras terhadap orang Islam, dan merupakan bangsawan Quraisy dalam masyarakat Arab Mekkah saat itu. Posisi beliau saat itu adalah negosiator atau mediator, seperti kedudukan menteri luar negeri saat ini. Rasul bermohon kepada Allah agar memperkuat Islam dengan salah satu Umar di kota Mekkah. Ternyata Allah menghendaki ‘Umar bin Khattāb masuk Islam pada tahun ke-6 kenabian. Masuknya Umar ke dalam Islam menjadi anugerah dan pembuka bagi umat Islam, karena mereka dapat melaksanakan salat di sisi Ka’bah secara terang-terangan.

Beliau hijrah ke Madinah, dan menyaksikan banyak peristiwa bersama Nabi. Beliau termasuk sahabat yang banyak dipuji oleh Nabi. Kata Nabi, “Seandainya ada nabi setelah aku, tentu ‘Umar adalah orangnya”. Rasul pun menjuluki ‘Umar dengan gelar al-Fārūq yang berarti “pembeda antara kebenaran dan kebatilan”. 

Pada saat Abū Bakr menjadi khalifah, beliau diangkat sebagai pembantu dan menterinya yang pertama. Lalu, setelah itu beliau diangkap sebagai khalifah pada tahun 13 H. Pada masa beliau berkuasa, banyak prestasi yang diberikan, seperti ekspansi wilayah dengan melakukan berbagai penaklukan Syam, Mesir dan Persia. Beliau juga membangun kota-kota, di antaranya Kufah dan Basrah. Membentuk kantor-kantor administrasi (dawāwīn), Baitul Mal, dan membuat penanggalan hijriyah. Dalam bidang hadis, ‘Umar meriwayatkan hadis dari Rasulullah sebanyak 537 hadis. Beliau meninggal pada saat salat Subuh tahun 23 H, karena dibunuh oleh budaknya al-Mughīrah bin Shu’bah, yang bernama Abū Lu’luah (Fayrūz) dari Persia.

Sebab Turunnya Hadis
Al-Tabrānī, melalui sanad dari Ibn Mas’ūd, menyebutkan bahwa di kalangan kami ada seorang pemuda yang ingin melamar seorang perempuan, yang bermana Umm Qays. Perempuan itu menolak, kecuali jika pemuda itu ikut juga hijrah. Lalu orang itu pun hijrah, dan menikahi perempuan tersebut. Oleh karena itu, kami menamainya sebagai muhājir Umm Qasy (orang yang hijrah karena Umm Qays).

Kandungan Hadis
Ada beberapa kesan yang dapat disematkan terhadap hadis ini. Hadis ini menetapkan satu metode (manhaj) yang benar dalam kehidupan umat Islam, baik yang terkait dengan perilaku, perkataan maupun perbuatan. Hadis ini juga menjadi dasar bagi satu kaidah induk dalam fikih “segala sesuatu harus berdasarkan pada maksud dan tujuannya” [الأمور بمقاصدها]. Lebih lanjut lagi, Hadis ini juga, seperti dikatakan oleh al-Qādī ‘Iyād, merupakan “sepertiga dari ajaran Islam” (thuluth al-islām). Ada yang mengatakannya “seperempat”.

Dalam hadis ini, ada tiga istilah kunci atau pesan moral yang mungkin penting untuk dijelaskan.

Pertama, ikhlas. Hampir semua definisi yang diberikan untuk menjelaskan konsep ini mempunyai kesamaan, yaitu “mengkhususkan semua perbuatan untuk mencari keridaan Allah”. Ikhlas ini tentu merupakan konsep yang penting, karena ia menjadi syarat diterimanya setiap perbuatan dan perkataan oleh Allah. Dalam sebuah hadis, Nabi pernah menegaskan: “Allah tidak akan menerima amal seseorang kecuali jika dilakukan karena ikhlas dan mencari keridaan Allah”.

Indikator ikhlas itu dapat dijelaskan dari beberapa ciri berikut: pertama, melakukan sesuatu tanpa pamrih . Apakah orang melihat, memuji atau tidak, ia akan tetap melakukan perbuatan tersebut. Selain itu, ikhlas itu tidak membeda-bedakan apakah perbuatan itu kecil atau besar. Jika itu kebaikan, maka ia akan melakukannya. Pernah diceritakan bahwa Imam al-Gazzālī mendengar suara dalam mimpinya, yang mengatakan bahwa ia masuk ke dalam surga. Sang imam ini bertanya, apakah ia masuk surga karena salat, puasa, atau menulis karya-karyanya. Jawaban tersebut mengatakan tidak. Lalu, suara itu mengatakan bahwa ingatkah engkau di saat kamu menulis, tiba-tiba ada seekor jatuh ke tintamu. Lalu engkau mengambil dan memindahkan lalat tersebut, sehingga ia dapat terbang. Perbuatan itu yang memasukkan engkau ke dalam surga. Kedua, ikhlas itu tidak pernah bergantung pada makhluk. Sehingga orangyang ikhlas tidak pernah kecewa dalam kehidupannya, karena semua yang dilakukannya adalah bukan mencari kesenangan dari makhluk, tetapi keridaan dari Allah Swt.

Kedua, signifikansi niat. Kata niat, secara kebahasaan, berarti “keinginan yang disertai dengan perbuatan”. Dalam Islam, niat mempunyai kedudukan yang tinggi dalam setiap kebaikan yang dilakukan oleh seorang Muslim, untuk meraih keridaan Allah Swt. Kata innamā yang ada dalam awal hadis ini, merupakan kata penguat dan pembatas (adāt hasr wa tawkīd), yang menyiratkan satu makna bahwa perbuatan hanya dianggap bermakna jika disertai dengan niat. Oleh karena itu, niat mempunyai fungsi sebagai “pembeda antara amalan ibadah dan amalan kebiasaaan” atau “pembeda antara amalan sunnah dan amalan wajib”.

Kasus 1: Para ulama sepakat bahwa niat adalah sebuah keharusan dalam melakukan perbuatan agar mendapatkan pahala dalam mengerjakannya. Tetapi mereka berbeda dalam hal apakah niat itu syarat dalam keabsahan sebuah perbuatan. Mazhab Syafi’i berpendapaat bahwa ia merupakan syarat baik dalam kaitan perbuatan itu sebagai wasilah atau tujuan. Oleh karena itu, menurut mereka niat itu wajib pada saat melakukan wudhu (wasilah) dan salat (tujuan). Sementara itu, mazhab Hanafi berpendapat bahwa niat itu hanya pada perbuatan yang posisinya sebagai tujuan. 

Kasus 2: niat itu adalah tempatnya di dalam hati. Dan ini disepakati oleh para ulama. Namun, perbedaan terjadi dalam kasus jika niat diucapkan dalam perkataan (al-talaffuz bi al-niyyah). Mazhab Syafi’i mengatakan bahwa al-talaffuz bi al-niyyah adalah sunnah, yang implikasi hukumnya adalah melakukannya mendapatkan pahala, sementara meninggalkannya tidak berimplikasi dosa. Sementara itu, Mazhab Maliki berpendapat hal itu adalah makruh, yang implikasi hukumnya kebalikan dari yang pertama.

Ketiga, hijrah. Konsep ini, yang berarti “pindah”, mempunyai muatan historis, spiritual dan sosiologis yang mendalam. Secara historis, hijrah adalah peristiwa penting yang menandai perubahan besar bagi umat Islam periode awal, Hijrah adalah bukti keimanan seseorang dan ketaatan kepada Nabi. Setelah hijrah ke Madinah, terjadi perubahan besar, yaitu komunitas Islam yang dipimpin oleh Nabi mulai terbentu. Pada saat yang sama turun syariat-syariat yang mengatur persoalan masyarakat tersebut, dari persoalan hubungan dengan Tuhan, masyarakat, dan lingkungan.

Saat ini, hijrah mungkin perlu dipahami dalam pengertian yang lebih luas, tidak hanya perpindahan geografis, tetapi juga spiritual dan sosiologis. Secara spiritual dan sosiologis, seorang harus berubah menjadi lebih baik. Mempunyai karakter yang lebih baik. Karena banyak bukti yang memperkuat bahwa seorang yang berkarakter baik mempunyai peluang sukses lebih besar ketimbang yang berkarakter buruk. Dan jika umat Islam benar-benar hijrah menjadi lebih baik dalam kaitan dengan pikiran, hati, dan perbuatan, maka secara tidak langsung berkontribusi bagi pembangunan masyarakat yang lebih baik dan harmonis.***

Sumber
1. Muhyiddīn Yahyā bin Sharaf al-Nawawī, Riyād al-Sālihīn (Kairo: Dār al-Hadīth, 2004)
2. Dr. Hamad bin Nāsir bin ‘Abd al-Rahmān al-‘Ammār, Kunūz Riyād al-Sālihīn, Jilid 1 (Riyād: Dār Kunūz Isbiliyā, 1430 H)
3. Mustafā Sa’īd al-Khin et.al, Nuzhat al-Muttaqīn Sharh Riyād al-Sālihīn (Beirut: Mu’assasah al-Risālah, 1987)

Palu, 25 Juli 2021

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button