Mengenal Kitab Riyad al-Salihin

Mukadimah Kajian

Kitab Riyād al-Sālihīn adalah kitab hadis populer dalam kalangan masyarakat Islam di dunia, terutama di Indonesia. Hampir sebagian besar pesantren di Indonesia menjadikan kitab ini sebagai kitab yang layak dikaji oleh para santri. Yang menjadi alasan penyebab menyebarnya kitab ini di dunia Muslim adalah biografi hidup penulisnya yang menggabungkan ilmu dan amal, mempraktikkan hidup zuhud dan wara, serta rutin menjalankan sunah dan adab syariah. Dan itu disaksikan oleh banyak orang yang hidup semasanya, yang diceritakan oleh dua orang muridnya, Alā’ al-Dīn ibn al-Attār dan Shams al-Dīn al-Sakhāwī.

Penyebaran kitab ini belahan dunia Muslim menandai bahwa kitab ini adalah kitab yang memberikan kemanfaatan, atau dalam bahasa keagamaan disebut “berkah”. Keberkahan dan popularitas kitab ini, selain penyebarannya yang masif, dapat dilihat dari banyaknya karya yang ditulis untuk mengomentasi kitab ini. Di antara kitab pertama yang memberikan komentar (syarah) terhadap kitab ini adalah kitab Dalīl al-Fālihīn li Turuq Riyād al-Sālihīn (4 jilid) yang ditulis oleh Muhammad bin ‘Alān al-Siddīqī al-Makkī (w. 1057 H). Pada perkembangan selanjutnya, muncul kitab-kitab komentar seperti Nuzhat al-Muttaqīn karya Mustafā Sa’īd al-Khin et.al (2 jilid), Manhal al-Wāridīn karya Subhī Sālih, Bahjat al-Nāzirīn karya Sulaym bin ‘Id al-Hilālī (3 jilid), Tatrīz Riyād al-Salihīn karya Faisal bin ‘Abd al-‘Azīz Al al-Mubārak, Dalīl al-Rāghibīn karya Faruq Hamādah, dan Sharh Riyād al-Sālihīn karya Muhammad Sālih al-Uthaymīn (4 jilid). Namun demikian, karya yang paling komprehensif dan panjang yang memberikan komentar terhadap kitab ini adalah Kunūz Riyād al-Sālihīn, yang ditulis oleh Hamād bin Nāsir bin ‘Abd al-Rahmān al-‘Ammār (22 jilid).

Kitab Riyād al-Sālihīn ini ditulis oleh Imam al-Nawawī. Nama lengkap beliau adalah Shaykh al-Islām Muhy al-Dīn Abū Zakariyā Yahyā bin Sharaf al-Nawawī al-Shāfi’ī al-Dimashqī. Ulama ini dilahirkan pada tahun 631 H/1234 M di desa Nawa, Damaskus, dan meninggal pada tahun 676 H/1279 M. Oleh karena itu, beliau disebut Nawawī. Sebutan Abū Zakariyā tidaklah berarti bahwa ia mempunyai anak bernama Zakariyā. Ia adalah seorang ulama yang tidak menikah sampai meninggalnya di usia 45 tahun. Beliau diberi gelar Muhy al-Dīn, yang berarti “orang yang menghidupkan agama”, karena sifat tawadunya yang begitu tinggi, meskipun beliau sendiri tidak suka dengan penyematan gelar ini terhadap dirinya. 

Imam Nawawī adalah seorang yang ahli dalam berbagai bidang ilmu keagamaan dan banyak menulis buku, yang karyanya mencapai tidak kurang dari 36 buku. Kepakarannya dalam bidang hadis dapat dilihat dari beberapa kitab yang disusunnya, seperti al-Arba’īn al-Nawawiyyah, Riyād al-Sālihīn, yaikh” dalam komunitas ini. Jika disebutkan kata shaykhāni (dua orang syaikh), maka yang dimaksud salah satunya adalah Imam Nawawī, selain Imam Rāfi’ī. Beberapa karyanya dalam bidang fikih adalah Rawdat al-Tālibin wa ‘Umdat al-Muftiyyin, Minhāj al-Talibīn, al-Majmu’ Sharh al-Muhadhdhab, dan al-Idāh fī Manāsik al-Hajj. Ia juga merupakan seorang sufi, dan banyak karya yang ditulis mengenai adab, seperti kitab al-Adhkār, Riyād al-Sālihīn, Bustān al-‘Arifīn. Dan tentu saja masih banyak karyanya yang lain yang tidak disebutkan dalam tulisan yang singkatini. Dari fakta ini dapat dikatakan bahwa Imam al-Nawawī adalah ulama ensikplodis, yang menguasai banyak keilmuan Islam.

Kitab Riyād al-Sālihīn

Latarbelakang Historis
Pada saat kehidupan al-Nawawī, Damaskus, ibu kota Syiria, dibawah kekuasaan Sultan Baybars dari Dinasti Mamluk (1260-1277). Sultan ini membentengi Syiria dari serangan musuh dan para asasin Syiria, yang berafiliasi dengan sekte Syiah Ismailiyah. Sekte ini didirikan oleh Hasan Sabāh, yang bergerak atas nama Dinasti Fatimiyah di Mesir. Tugasnya adalah menghancurkan legitimasi kekuasaan dengan menggunakan racun dan pisau. Mereka beroperasi di Jabal, Kuhistan dan Syiria. Bahkan Nizām al-Mulk dibunuh oleh para asasin ini. Orang-orang Mongol dimusnahkan, dan orang-orang Romawi, yang mempertahankan eksistensinya selama perang Salib, diusir dari wilayah ini oleh Sultan Imād al-Dīn Zangi (w. 1146). 

Pertanian dikembangkan di sepanjang wilayah ini, sehingga memunculkan surplus. Produksi dan perdagangan meningkat. Serangan-serangan militer Dinasti Ayyubi dan Baybars terhadap tentara Salib dan Tartar mengalami kesuksesan, sehingga memunculkan stabilitas dan kedamaian. Di periode ini, Imam al-Nawawī menulis kitab Riyād al-Sālihīn, yang membahas tentang pola kehidupan Islami, yang mencegah umat Islam dari pengaruh-pengaruh asing melalui interaksi mereka dengan orang-orang yang berasal dari latarbelakang budaya yang berbeda.

Pemilihan hadis-hadis yang relevan terhadap topik-topik yang terdapat dalam kitabnya tersebut mempelihatkan perhatiannya yang besar terhadap reformasi sosial dan spiritual. Kitab ini menjadi pembuka mata terhadap kehidupan dunia yang tidak kekal. Dan karya ini diselesaikan pada tanggal 14 Ramadhan 670 H/1272 M, enam tahun sebelum Imam Nawawi wafat. Perhatian dan kepedulian Imam al-Nawawī adalah membawa masyarakat kepada jalurnya yang tepat sehingga mereka dapat mengalami peningkatan spiritual. Karena pencarian manusia terhadap materi, tujuan utama seorang Muslim, yaitu mencari keridaan Allah, menjadi terlupakan. Vitalitas spiritual hanya dapat diperoleh melalui petunjuk Nabi.

Struktur
Dalam menyusun kitab ini, Imam al-Nawawī banyak bersandar pada dua sumber penting, seperti al-Jam’ bayn al-Sahīhayn karya al-Hāfiz Muhammad bin Futūh al-Humaydī (w. 488 H) dan al-Targhīb wa al-Tarhīb karya al-Hāfiz Abd al-‘Azīm bin ‘Abd al-Qawiyy al-Mundhirī (w. 656 H). Apa yang dilakukan oleh Imam al-Nawawī bukan sesuatu yang aneh, karena hampir sebagian besar ulama setelahnya dalam upaya menghapal hadis Sahīh al-Bukhārī dan Muslim bersandar kepada kitab hadis al-Jam’ bayn al-Sahīhayn. Sementara itu, untuk memahami kalimat-kalimat yang asing (al-kalimāt al-gharībah), ia bersandar pada kitab al-Targhīb wa al-Tarhīb. Selain  koleksi hadis Imam al-Bukharī dan Imam Muslim, kitab al-Muwatta’ Imam Mālik, dan koleksi hadis lain yang masuk kategori al-kutub al-sittah juga digunakan.

Penulisan kitab ini dengan menggunakan model penulisan tematik. Ia menjelaskan tema pembahasan yang dimulai dari persoalan ikhlas hingga persoalan istigfār (minta ampun). Kitab ini terdiri dari 17 pembahasan (kitāb), 357 bab, dan 1894 hadis. Untuk memberikan kesan kepada pembaca bahwa Alquran dan Hadis adalah sumber asli Islam, Imam al-Nawawī mengawali pembahasannya dengan mengutip ayat-ayat Alquran. Ini dimaksudkan untuk memberikan penekanan bahwa Alquran tidak dapat dipisahkan dari Hadis, dan bahwa ayat Alquran atau Hadis itu sendiri tidak dapat membantu menjelaskan tentang aturan-aturan syariat Islam.

Materi  yang dibahas dalam kitab ini mencakup aspek-aspek spiritual, moral, dan sosial dari  kehidupan seorang Muslim. Topik tersebut mencakup isu-isu penting, seperti akhlak (ikhlas, sabar, takwa, tawakal, hubungan sosial, dst.); adab sopan santun (malu, menjaga rahasia, menepati janji, menghormati tamu, tata tertib makan, adab berpakaian, mengucapkan salam); adab terkait orang sakit dan orang yang meninggal; keutamaan membaca Alquran; keutamaan-keutamaan terkait berbagai macam salat dan puasa; jihad; dzikir dan doa; serta larangan-larangan terkait ibadah, muamalah, dan kebiasaan-kebiasaan hidup yang tertentu.

Penutup
Para ulama mendapati kitab ini sangat berguna karena watak kitab yang ringkas dan banyak topik yang dicakup. Satu jilid kitab ini dapat memberikan kepada mereka akses yang cepat terhadap hadis-hadis yang otentik, sehingga merekatidak perlu menelusuri hadis-hadis sahih dalam 6 kitab hadis yang mu’tabar. Dan topik tersebut mencakup sesuatu yang menjadi persoalan kehidupan sehari-hari seorang Muslim dari persoalan ibadah, muamalah, dan akhlak.***

Sumber
1. Dr. Hamād bin Nāsir bin ‘Abd al-Rahmān al-‘Ammār, Kunūz Riyād al-Sālihīn (Riyad: Dār Kunūz Isbiliyā, 1430 H)
2. Abbad Khan, Riyād al-Sālihīn As A Standard Textbook of Hadith (MA Thesis, University of Durban-Westville, 1999)

Palu, 24 Juli 2021

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button