Peta Dakwah Islam Morowali Utara

Pendahuluan
Dakwah Islam merupakan salah satu kewajiban yang harus dijalankan oleh seorang Muslim. Berbagai teks keagamaan, baik Alquran maupun Hadis, menekankan tentang kewajiban ini, dan mendorong seorang dan kelompok muslim untuk menyebarkan pesan dakwah. Yang menarik, Alquran menyebut umat Islam sebagai “umat terbaik”(khayr ummah), yang karakteristiknya adalah “memerintahkan kebaikan, mencegah kejahatan, dan beriman kepada Allah” (QS Ali Imran: 110).

Namun, untuk mengefektikan kegiatan dakwah Islam ini perlu dilakukan banyak pembenahan, yang biasa disebut “manajemen dakwah”. Salah satu bentuk pembenahan atau manajemen dakwah adalah melakukan pemetaan dakwah. Pemetaan ini menjadi penting karena beberapa alasan, di antaranya adalah untuk mengetahui potensi kekuatan dan peluang dakwah sehingga mudah untuk membuat strategi, pendekatan, dan metode dakwah. Tulisan ini bertujuan untuk membuat peta dakwah di Morowali Utara, kabupaten termuda di Sulawesi Tengah.

Sejarah Singkat Morowali Utara
Kabupaten Morowali Utara adalah salah satu daerah otonomi baru di Provinsi Sulawesi Tengah, yang merupakan kabupaten pemekaran dari Kabupaten Morowali yang terbentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2013 tentang Pembentukan Kabupaten Morowali Utara Di Provinsi Sulawesi Tengah. Pembentukan kabupaten ini berawal dari pemekaran Kabupaten Morowali dari Kabupaten Poso. Undang-Undang (UU) Nomor 51 Tahun 1999 tentang Pembentukan Kabupaten Morowali menyebutkan, ibu kota kabupaten baru itu di Kolonodale. Lima tahun kemudian, ibu kota bakal dipindahkan ke Bungku. Saat itu Kolonodale dipilih sebagai ibu kota karena cukup memadai. Sementara persiapan infrastruktur di Bungku butuh waktu lama. Kerancuan lokasi ibu kota inilah yang menjadi pangkal masalahnya. Saat pemindahan ibu kota tahun 2007, warga Kolonodale sontak protes. Bergabung pula sejumlah kecamatan tetangga, seperti Mori, Mori Atas, Mori Utara, Wita Ponda, Bintang Jaya, dan Mamosalato. Mereka menuntut wilayahnya dijadikan kabupaten terpisah, yaitu Kabupaten Morowali Utara dengan ibu kota Kolonodale. Selain ada perkantoran pemerintahan tadi, Kolonodale memang juga punya beberapa fasilitas, seperti pelabuhan, pasar, dan Depot Pertamina. Alasan lain adalah bahwa Bungku, yang berjarak sekitar 115 kilometer dari Kolonodale, dianggap terlalu jauh. 

Ibu Kota dari Kabupaten Morowali Utara berkedudukan di Kolonodale. Ia mempunyai 10 kecamatan, 122 desa, dan 3 (tiga) kelurahan. Kecamatan tersebut mencakup Petasia, Petasia Timur, Petasia Barat, Lembo Raya, Lembo, Mori Atas, Mori Utara, Soyo Jaya, Bungku Utara, dan Mamosalato. Kabupaten Morowali Utara memiliki luas wilayah keseluruhan ±10.004,28 km persegi dan terdiri atas 125 (seratus dua puluh lima) desa/kelurahan.

Secara geografis Kabupaten Morowali Utara terletak antara 01O31’12” Lintang Selatan dan 03O46’48” Lintang Selatan serta antara 121O02’24” Bujur Timur dan 123O15’36” Bujur Timur, memiliki luas wilayah daratan 10.018,12 Km2 dan wilayah Lautan seluas 8.344,27 Km² sehingga total luas wilayah Kabupaten Morowali Utara adalah 18.362,39 Km². Berdasarkan luas wilayah daratan tersebut maka Kabupaten Morowali Utara merupakan 1 (satu) dari 13 Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Tengah yang memiliki luas wilayah daratan terbesar yakni sekitar 14,72 persen dari luas daratan Provinsi Sulawesi Tengah.

Berdasarkan data luas kecamatan dari 10 kecamatan di Kabupaten Morowali Utara, Kecamatan terluas adalah Kecamatan Bungku Utara seluas 2.406,79 Km² atau 24,02 persen dari luas Kabupaten Morowali Utara, sedangkan Kecamatan terkecil adalah Kecamatan Petasia Barat seluas 480,30 Km² atau sebesar 4,79 persen dari luas Kabupaten Morowali Utara.

Tabel 1 Luas Wilayah Kabupaten Morowali Utara Menurut Kecamatan, Tahun 2015

No

Kecamatan

Ibukota Kecamatan

Luas (km)

Persentase

1

Mori Atas

Tomata

1.508,81

15,06

2

Lembo

Beteleme

675,23

6,74

3

Lembo Raya

Petumbea

657,61

6,56

4

Petasia Timur

Bungintimbe

523,61

5,23

5

Petasia

Kolonodale

646,34

6,45

6

Petasia Barat

Tiu

480,30

4,79

7

Mori Utara

Mayumba

1.048,93

10,47

8

Soyo Jaya

Lembah Sumara

605,51

6,04

9

Bungku Utara

Baturube

2.406,79

24,02

10

Mamosalato

Tanasumpu

1.464,99

14,62

 

Morowali Utara

10.018,12

100

Batas wilayah Kabupaten Morowali Utara di Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Buyuntaripa, Desa Korondoda, Desa Bugi Kecamatan Tojo dan Desa Rompi Kecamatan Ulubongka Kabupaten Tojo Una-Una. Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Rata, Desa Gunung Kramat, Desa Matawa, Desa Mangkapa Kecamatan Toili Barat Kabupaten Banggai dan Laut Banda; Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Solonsa Kecamatan Wita Ponda Kabupaten Morowali dan Desa Nuha, Desa Matano, dan Desa Sorowako Kecamatan Nuha Kabupaten Luwu Timur Provinsi Sulawesi Selatan; dan Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Uelene, Desa Mayasari Kecamatan Pamona Selatan dan Desa Pancasila, Desa Kamba, Desa Matialemba, Desa Kancu’u dan Desa Masewe Kecamatan Pamona Timur Kabupaten Poso.

Sebagaimana dijelaskan di atas, Kabupaten Morowali Utara merupakan salah satu dari 13 (tigabelas) Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Tengah dan merupakan Kabupaten/Kota yang memiliki luas wilayah terbesar di Sulawesi Tengah dengan luas wilayah kurang lebih 10.018,12 Km2 atau sekitar 14,72 persen dari luas daratan Provinsi Sulawesi Tengah dengan batas-batas wilayah; sebelah utara, berbatasan dengan Kabupaten Tojouna-una; sebelah selatan Kabupaten Luwu Timur Provinsi Sulawesi Selatan dan Kabupaten Morowali; sebelah barat, Kabupaten Poso; dan sebelah timur, Kabupaten Banggai dan Teluk Tolo.

Kondisi Demografis
Secara demografis, berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kabupaten Morowali Utara 2020, penduduk Kabupaten Morowali Utara berjumlah 128.323 jiwa, dengan kepadatan 12,83 jiwa/km². Penduduk tersebut terdiri dari bermacam suku bangsa, sehingga termasuk sebagai kabupaten yang multikultural. Dalam masyarakat ini, mayoritas suku yang mendiami wilayah Morowali Utara adalah  Suku Mori atau penduduk Kerajaan Mori. Wilayah otoritas suku ini adalah wilayah Kabupaten Morowali bagian utara. Beberapa nama kota dan kelurahan yang termasuk dalam wilayah suku Mori adalah Kolonodale, Beteleme, Tiu, Lembobelala, Lembobaru, Tingkea’o, Wawopada, Tomata, Taliwan, Ensa, dan Tompira. Bahasa komunikasi suku Mori adalah bahasa Mori, yang masih digunakan oleh masyarakat suku ini, terutama yang masih tinggal di pedalaman.

Menurut Tim Adat Suku Mori, Suku Mori dalam kehidupannya sehari-hari mengenal dua jenis adat-istiadat yang disebut ‘GAU’ yaitu (1) Gau yang merupakan hukum adat yang mengatur sangsi/denda terhadap suatu pelanggaran yang selanjutnya disebut dengan Hukum Adat; (2) Gau yang merupakan adat-istiadat yang mengatur tata kehidupan bermasyarakat. Untuk menegakan hukum adat dan adat-istiadat dibentuklah lembaga peradilan yang disebut ‘Pu’u Mpobitara’ atau Kelompok Majelis Adat. Lembaga ini dipimpin oleh yang tertua atau dituakan, biasanya sesepuh desa.

Selain suku Mori, ada juga beberapa kelompok etnik yang menetap di wilayah Morowali Utara, seperti Bungku, Bugis, Kaili, Jawa, Wana, dan Bali. Suku yang dominan yang kedua setelah suku Mori adalah suku Bungku, yang menyebar di wilayah Morowali dan Bungku Utara, salah satu kecamatan di Morowali Utara. Suku ini hampir sebagian besar beragama Islam.  Beberapa tradisi adat dan kesenian banyak mengandung unsur Islami. Pengaruh animisme pada suku Bungku saat sebelum masuknya Islam masih dapat terlihat, seperti praktek perdukunan yang dalam bahasa bungku disebut Sando. Setelah itu, baru suku Bugis yang merupakan pendatang dari Sulawesi Selatan. Bahkan, di wilayah Kolonodale, terdapat satu perkampungan yang disebut Kampung Bugis.

Kondisi Ekonomi
Menurut data dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Morowali Utara, penduduk miskin di Morowali Utara pada tahun 2019 mencapai 15,08 persen. Jumlah menurun dibandingkan pada dua tahun sebelumnya, yaitu 2018 mencapai 15,53 persen dan 15,73 persen pada tahun 2017.[1] Jumlah penduduk miskin cukup signifikan, yang jika tidak ditangani cepat dikhawatirkan akan menimbulkan berbagai persoalan sosial dalam masyarakat. Secara sosiologis, fakta menunjukkan bahwa kemiskinan dan pengangguran yang mempersulit kehidupan masyarakat menjadi faktor pemicu terjadinya konflik sosial, seperti yang pernah terjadi di Ambon dan Poso. Oleh karena itu, salah satu cara untuk mencegah konflik ini adalah dengan menciptakan kesejahteraan yang berkeadilan dan menurunkan tingkat kemiskinan.

Masyarakat Morowali Utara menyandarkan kehidupannya pada beberapa sektor ekonomi, yaitu pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, pertambangan, industri, pariwisata, dan perdagangan. Dalam kaitan dengan sektor pertanian, produksi tanaman padi di Morowali Utara mengalami peningkatan. Selain padi, mereka juga menanam tanaman palawija, seperti jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang hijau, kacang kedelai, dan kacang tanah.

Komoditi tanaman perkebunan sebagai tanaman perdagangan di Kabupaten Morowali Utara memiliki peranan yang sangat penting tidak hanya merupakan sumber penghasilan devisa, tetapi juga dapat menciptakan lapangan kerja yang banyak menyerap tenaga kerja bagi masyarakat. Kawasan peruntukan perkebunan di Kabupaten Morowali Utara dengan luas sebesar 86,645.09 Ha. Komoditas utama perkebunan dan sebarannya terdiri atas:

  1. Kakao, terdapat di Kecamatan Mamosalato, Kecamatan Bungku Utara, Kecamatan Soyo Jaya, Kecamatan Petasia.
  2. Cengkeh, terdapat di Kecamatan Lembo, dan Kecamatan Bungku Utara.
  3. Kelapa, terdapat di Kecamatan Bungku Utara
  4. Jambu mete, terdapat di Kecamatan Bungku Utara;
  5. Vanili, terdapat di Kecamatan Soyo Jaya;
  6. Sagu, terdapat di Kecamatan Petasia dan Kecamatan Soyo Jaya;
  7. Karet, terdapat di Kecamatan Lembo;
  8. Sawit, terdapat di Kecamatan Mori Atas, Kecamatan Mori Utara, Kecamatan Lembo, Kecamatan Lembo Raya, Kecamatan Petasia, Kecamatan Petasia Barat, Kecamatan Bungku Utara dan Kecamatan Mamosalato.

Sementara itu, dalam bidang peternakan, masyarakat Morowali Utara sebagian besar berternak sapi, terutama di Kecamatan Mori Atas, Kecamatan Lembo, Kecamatan Petasia, Kecamatan Soyo Jaya, dan Kecamatan Bungku Utara; kerbau umumnya di Kecamatan Petasia Barat dan Kecamatan Soyo Jaya; babi, terutama di Kecamatan Bungku Utara, Kecamatan Lembo dan Kecamatan Mori Atas; dan kambing, yang terdapat di Kecamatan Lembo, Kecamatan Petasia, dan Kecamatan Bungku Utara. Dalam kaitan dengan hewan unggas, masyarakat berternak ayam kampung, yang terdapat di Kecamatan Mori Atas, Kecamatan Lembo, Kecamatan Petasia, dan Kecamatan Bungku Utara; dan itik, yang terdapat di Kecamatan Bungku Utara, Kecamatan Petasia, dan Kecamatan Lembo.

Singkatnya, jenis-jenis ternak yang diusahakan di Kabupaten Morowali Utara tahun 2014 di klasifikasikan kedalam tiga bagian yaitu; a) Ternak besar yang meliputi: Sapi dan kerbau b) Ternak kecil antara lain: Kambing dan babi; dan c) Ternak unggas yang meliputi: Ayam kampung, ayam ras dan itik. Jenis Sapi merupakan jenis ternak besar yang mendominasi di Kabupaten Morowali Utara, dengan jumlah ternak sebanyak 16.347 ekor pada tahun 2014 dan ternak Kerbau sebanyak 426 ekor. Populasi ternak kecil (kambing dan babi) di Kabupaten Morowali Utara cenderung mengalami penurunan.

Untuk sektor perikanan, Pemerintah Daerah Kabupaten Morowali Utara telah melakukan berbagai usaha untuk meningkatkan produksi perikanan tangkap dan perikanan budidaya. Upaya tersebut ditempuh melalui penangkapan maupun budidaya perikanan darat guna meningkatkan pendapatan masyarakat di Sub-sektor Perikanan.

Kabupaten Morowali Utara memiliki potensi sumberdaya bahan galian yang sangat variatif dan potensial untuk dikembangkan, potensi sumberdaya yang ada dapat dikelompokkan kedalam jenis bahan galian strategis (golongan A) yaitu; Minyak bumi dan gas, batubara dan nikel, bahan galian vital (bahan galian golongan B) yaitu; Chromit serta bahan galian non strategis dan vital yaitu; lempung, marmer, onyx dan kaolin

Karakteristik Keberagamaan
Dari perspektif keagamaan, penduduk Morowali Utara adalah cukup beragam. Menurut data dari Kementerian Agama tahun 2020, sekitar 52,82% (66.981 jiwa) memeluk agama Islam. Pemeluk agama Kristen juga cukup signifikan yakni 44,77% (56.771 jiwa), dimana Protestan 39,62% (50.239 jiwa) dan Katolik 5,15% (6.532 jiwa). Kemudian Hindu 2,23% (2.825 jiwa) dan sebagian kecil beragama Budha yakni 0,18% (222 jiwa).

Penduduk yang beragama Islam, yang merupakan agama mayoritas di wilayah ini adalah berasal dari suku Bungku, Bugis, Kaili dan Jawa. Orang Mori yang menjadi penduduk asli masyarakat Morowali Utara sebagian besar menganut  agama Kristen Protestan. Bahkan, agama ini sudah dianggap sebagai bagian dari agama rakyat. Sementara yang beragama Hindu pada dasarnya adalah masyarakat yang merupakan transmigran atau pendatang dari daerah Bali, yang memang agama Hindu menjadi agama nenek moyang mereka, yang kemudian agama dan tradisi keberagamaan ini tetap dibawa ke wilayah baru yang didiaminya.

Selain kelima agama ini juga ada keyakinan lokal lain yang umumnya dianut oleh masyarakat pedalaman di Morowali Utara, seperti di antaranya adalah Suku Tau Taa Wana Posangke atau biasa di sebut Wana Posangke. Suku Wana Posangke adalah komunitas yang berada dibagian selatan semenanjung timur pulau Sulawesi yang mendiami lembah dan bukit-bukit disepanjang aliran Sungai Salato bagian Timur Laut Cagar Alam Morowali Sulawesi Tengah. Suku ini melabelkan diri dan identitasnya sebagai “Orang/Suku Taa”. Namun kalangan luar terbiasa menyebut “orang Wana”. Suku Wana atau suku To Wana ini termasuk suku tertua di Sulawesi, dan diduga termasuk salah satu suku pertama yang menghuni daratan Sulawesi, yang telah ada di Sulawesi sejak 8000 tahun yang lalu pada zaman Mezolithicum. Sebelum sekarang mendiami kawasan Pegunungan Tokala, nenek moyang orang Wana berasal dari sekitar Teluk Bone. Prinsip hidup Suku Taa adalah menyetarakan diri dengan alam. Mereka memandang bahwa alam tercipta bukan untuk dirusak demi kepentingan manusia, namun sebagai unsur yang hanya memenuhi kebutuhan manusia secara bijak sehingga harus diperlakukan secara bijak pula.[2]

Menarik untuk dicatat bahwa pada di tahun 2020 ini, banyak masyarakat dari suku Wana ini memeluk agama Islam. Seperti dilansir oleh media, pada tanggal 14 Februari 2020, hari Jumat, sebanyak tiga ratus (300) orang dari suku Tau Taa (Wana) di kecamatan Mamosalo Kabupaten Morowali utara resmi memeluk agama Islam. Sebelumnya juga, beberapa orang dari suku Wana telah memeluk Islam, terutama yang bermukim di Desa Ngoyo dan Desa Selabiro (daerah pedalaman suku wana).[3]

Dalam masyarakat Muslim itu sendiri, terdapat berbagai varian keislaman yang disebabkan karena perbedaan dalam pemahaman terhadap Islam dan juga afiliasi terhadap organisasi keagamaan dan juga mazhab. Umumnya di Morowali, masyarakat Islam berafiliasi dengan berbagai organisasi keagamaan seperti Alkhairaat, Darud Da’wah wal Irsyad (DDI), Nahdlatul Wathan, Jamaat Tabligh, dan organisasi lainnya. Organisasi-organisasi ini pada gilirannya mempengaruhi ideologi pembentukan dan penyelenggaraan madrasah dan pesantren di wilayah ini.

Di Morowali Utara, hingga saat ini, terdapat sekitar 18 madrasah yang terdata di repository EMIS,[4] dan terdapat sekitar 4 pondok pesantren yang berdiri dan menyelenggarakan pendidikan keislaman, yang semuanya berdiri pada tahun 2000-an. Ini yang terdata di kementerian, meskipun jumlahnya mungkin lebih dari iut, karena ada juga pesantren yang belum melaporkan atau terdata di data kementerian agama. Menurut data dari Kementerian Agama, 4 pondok pesantren tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Pondok Pesantren Raudhatul Fitrah

Pondok pesantren ini terletak di Dusun Lambolo, Ganda-Ganda, di Kecamatan Petasia, yang didirikan pada tahun 2001 oleh Drs. Darwis Sahako. Awalnya Yayasan Raudhatul Fitrah ini hanya mendirikan Panti Asuhan, tetapi kemudian beralih menjadi Pondok Pesantren Raudhatul Fitrah hingga sekarang. Pondok pesantren ini menyelenggarakan pendidikan dari tingkat Salafiyah Ula, Salafiyah Wustha, Ibtidaiyah, Tsanawiyah, dan program Tahfiz Alquran.

Jumlah santri yang mondok dan belajar di pondok pesantren ini, menruut data EMIS tahun 2019-2020, berjumlah 60 santri, dengan dibantu oleh 10 orang guru/ustadz. Pimpinan pondoknya saat ini adalah Aras Wiayana. Namun, figur sentral yang dijadikan sebagai kiai di pondok pesantren ini adalah Dr. Muh. Widus Sempo, MA, namun kiprahnya di pondok pesantren tidak begitu maksimal karena ia sekarang berada di Malaysia.

Jika dilihat dari beberapa kitab yang digunakan dalam pembelajaran, maka dapat diduga bahwa pondok pesantren ini masuk dalam kategori Ahlus Sunnah wal Jama’ah (Aswaja). Teologi atau akidah yang dianut oleh Aswaja adalah teologi Asy’ariyah atau Maturidiyah, sedangkan dalam bidang tasawuf atau akhlak berpedoman pada tasawuf Al-Ghazali atau Junayd al-Baghdadi. Sementara itu, dalam bidang fikih berkiblat pada salah satu dari empat mazhab fikih yang menyebar di dunia Islam, seperti Hanafi, Maliki, Syafi’i,dan Hanbali. Salah satu ciri dari keberagamaan Aswaja adalah bersikap moderat dalam sikap keberagamaan dan toleran dalam perbedaan.

  1. Pondok Pesantren Thariqul Jannah

Penanggungjawab: Ahrun Ihsan Makuasa, 55 santri 8 guru, Desa Tokala Atas Tokala Atas Bungku Utara. Pondok Pesantren ini dirikan pada tanggal 19 Nopember 2013, dengan Akta Notaris No. 46 tanggal 19 Nopember 2013. Pondok ini diasuk oleh Ust. Arsun Ihwan M, yang dibantu oleh 21 orang guru.

Pondok ini menyelenggarakan pendidikan dari madrasah diniyah Ula dengan jumlah santri sebanyak 104 orang (64 laki-laki dan 40 perempuan), dan Wustha dengan jumlah santri sebanyak 44 orang (24 laki-laki dan 20 perempuan). Selain itu, menyelenggarakan pendidikan Madrasah Tsanawiyah dengan jumlah siswa sebanyak 32 orang. Jumlah siswa/santri formal secara keseluruhan 180 siswa/santri. Selain pendidikan formal, pondok ini juga menyelenggarakan pendidikan non-formal, dalam bentuk pengajian,yang pesertanya mencapai 134 orang.

Secara ideologi keagamaan, pondok pesantren ini berafiliasi dengan organisasi keagamaan terbesar di Sulawesi Tengah, yaitu Alkhairaat. Dan organisasi secara ideologi berpedoman pada prinsip Aswaja, yang moderat dalam keberagamaan, yang sudah dijelaskan secara singkat di atas.

  1. Pondok Pesantrren Baitul Muttaqin

Pondok pesantren ini didirikan pada tanggal 16 Oktober 2006 dengan akta notaris No.17 tanggal 15 Nopember 2016. Pondok ini termasuk ke dalam pondok pesantren salafiyah, yang menyelenggarakan pendidikan tingkat tsanawiyyah, ula dan wustha, Pesantren salafiyah adalah bentuk pesantren yang menekankan pada pengajaran kitab-kitab keislaman klasik, dari tatabahasa Arab (nahwu saraf), tauhid, fikih, tafsir, hadis, dan juga menekankan pada program Tahfiz Alquran. Pimpinan pondok pesantren saat ini adalah Nurdin Sa’ara, S.Pd.I. Jumlah santrinya, menurut data dari EMIS, mencapai 200 santri dengan 14 orang guru/ustadz.[5] Data terbaru menjelaskan bahwa saat ini jumlah pengajar bertambah menjadi 23 orang (6 laki-laki dan 17 perempuan).

Secara keorganisasian, pondok pesantren ini berafiliasi dengan organisasi Islam terbesar di Lombok dan Nusa Tenggara Barat, yaitu Nahdatul Wathan. Organisasi ini didirikan di Pancor, Kabupaten Lombok Timur oleh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid yang dijuluki Tuan Guru Pancor serta Abul Masajid wal Madaris Organisasi ini mengelola sejumlah Lembaga Pendidikan dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Ideologi dari organisasi ini lebih dekat kepada Nahdlatul Ulama, yang bercorak Aswaja. Dalam bidang akidah, menganut Asy’ariyah dan Maturidiyah, sementara dalam bidang fikih, pesantren ini menganut mazhab Syafi’i.

  1. Ponpes Darul Hikmah Al-Khairaat

Pesantren ini didirikan pada tahun 2007 di Baturube, yang beralamat di Jln. Manggis Lorong Siswa No. 04 Baturube, Kecamatan Bungku Utara, Kabupaten Morowali Utara, Provinsi Sulawesi Tengah.  Saifullah M.Ag. Pondok pesantren ini berafiliasi dengan organisasi Islam Alkhairaat, yang mendominasi di Sulawesi Tengah, termasuk di Morowali Utara.[6] Pesantren dibawah naungan yayasan Al Khairaat yang berlokasi di desa Baturube kecamatan Bungku Utara kabupaten Morowali Utara Sulawesi Tengah.

Potensi Kerawanan Kehidupan Keagamaan
Masyarakat Morowali Utara, dengan latar belakang daerah asal, kelompok etnis dan agama yang berbeda, merefleksikan tingkat heterogenitas yang tinggi. Dari perspektif teori konflik, sumber-sumber konflik justru dapat muncul dari perbedaan-perbedaan tersebut, khususnya perbedaan nilai budaya, ideologi, termasuk perbedaan agama, seperti yang diuraikan sebelumnya. Namun demikian, ada beberapa potensi kerawanan dalam kehidupan agama yang mungkin perlu diperhatikan.

  1. Penyebaran Isu SARA

Masyarakat Morowali adalah masyarakat yang sudah terjalin jiwa toleransi sejak lama, meskipun banyak terdapat perbedaan agama dan kelompok etnik di antara mereka. Ikatan kekerabatan masyarakat Morowali sejak dahulu sangat erat dan merupakan satu-satunya sumber perdamaian dan kerukunan, sehingga masuknya pengaruh dari luar (agama Islam dan Kristen) tidak mengubah toleransi di antara mereka.[7] Indikasi toleransi dan kerukunan masyarakat dalam masyarakat Morowali, berdasarkan tinggalan sumber daya arkeologi, yaitu tidak ditemukan bangunan pertahanan di sekitar permukiman masyarakat Morowali. Adanya bangunan pertahanan dapat digambarkan bahwa daerah tersebut tidak aman dan mendapat ancaman dari luar. Berdasarkan pengamatan di lapangan, bangunan pertahanan yang ada, yaitu Benteng Kota Bajo, kemungkinan dipergunakan sebagai pengintaian musuh yang datang dari arah laut, bukan bangunan pertahanan dari serangan musuh. Hal ini dikarenakan posisi benteng yang sangat strategis, yaitu di puncak bukit yang jauh dari permukiman atau pusat kerajaan.[8]

Peristiwa konflik agama di Poso tahun 1998 tidak banyak berpengaruh terhadap toleransi masyarakat Morowali. Konflik justru terjadi setelah era pemekaran kabupaten yang diawali dengan konflik elit politik lokal, lalu merambah ke masyarakat bawah.[9] Elit politik lokal dan massa telah terbentuk hubungan emosional secara kultural yang demikian kuat. Mereka saling membangun kekuatan baik bersifat individual maupun kelompok (kubu). Bahkan, mereka saling menopang dalam perjuangan merebut ibukota definitif Kabupaten Morowali. Perjuangan kedua kubu dalam merebut ibukota kerap diwarnai dengan pergerakan massa besar-besaran, terkadang bersifat anarkis. Benturan kedua kubu yang melibatkan massa secara kolosal dapat dikategorikan sebagai indikasi konflik sosial yang bernuansa SARA, karena mereka memiliki perbedaan etnis dan agama.

Meskipun saat ini belum ada konflik yang digerakkan oleh isu SARA, tetapi boleh jadi, karena masyarakat Morowali Utara adalah masyarakat yang multikultural, maka isu-isu perbedaan ini, terutama perbedaan agama, dapat dijadikan kendaraan untuk menciptakan konflik dan ketegangan dalam masyarakat, terutama dalam momen pemilihan kepala daerah.

  1. Radikalisme Pemahaman Keagamaan

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “radikal” mempunyai banyak makna; pertama, bermakna “secara mendasar (sampai kepada hal yang prinsip)”; kedua, dalam istilah politik bermakna “amat keras menuntut perubahan (undang-undang, pemerintahan)”; ketiga, radikal juga berarti “maju dalam berpikir atau bertindak”[10] Dalam KBBI online dibedakan kata “radikal” dari “radikalisme”. Radikalisme punya tiga arti, pertama, “paham atau aliran yang radikal dalam politik”. Kedua, “paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastic”. Ketiga, “sikap ekstrem dalam aliran politik”.[11]

Jika dihubungkan dengan pemahaman keagamaan, maka radikalisme pemahaman keagamaan dapat dipahami sebagai satu bentuk pemahaman terhadap keagamaan yang bersifat ekstrim, yang mempunyai ciri-ciri, di antaranya adalah mengklaim bahwa agamanya adalah yang paling benar, dan kemudian melakukan kekerasan, baik secara verbal maupun non-verbal, terhadap seorang atau kelompok yang berbeda dengannya. Atau, melakukan penyebaran hoaks yang bermotif ideologis, yang marak terjadi saat ini. Hoaks berkembang akibat revolusi digital yang membuat setiap orang dapat sekaligus menjadi produsen dan konsumen berita. Perangkat modern teknologi tanpa kultur literasi membuat orang mudah membagikan berita bahkan tanpa membaca isinya.

Radikalisme dapat dikatakan ada dalam semua agama di dunia. Sebagai contoh, dalam agama Hindu ada kelompok radikal Rashtriya Swayamsevak Sangh (RSS), yang menyerang pertemuan ibadah Minggu di Karnataka, India pada 3 Maret 2012. Pada 2014, mereka melakukan pemaksaan kepada ratusan penganut Kristen dan Islam di Agra untuk pindah ke agama Hindu. Ada pula kelompok Kristen Radikal Amerika Serikat Timothy Veigh yang melakukan pengeboman di Oklahoma City pada 19 April 1995. Bom yang terdiri dari 2300 kilogram bahan peledak itu menewaskan 168 orang. Demikian pula, ada gerakan Yahudi radikal yang melakukan penyerangan terhadap warga Palestina, dengan dalih untuk kepentingan Israel, yang membuat jutaan warga Palestina terusir dari tanah airnya dan banyaknya korban yang meninggal semenjak Zionis melakukan teror sejak 1948. Dalam agama Budha, ada radikalisme Buddha yang dipimpin oleh Biksu Aishin Wirathu, yang memutilasi 20 juta pelajar muslim, dan membuat ribuan kaum Rohingya terusir dari Myanmar dan melakukan eksodus.

Dari fakta-fakta ini, dapat dikatakan bahwa radikalisme pemahaman keagamaan dapat berbahaya bagi kemanusiaan, hak asasi manusia, dan ketentraman dunia. Untuk itu, diperlukan berbagai langkah antisipatif agar  radikalisme agama tidak muncul ke permukaan. Dalam konteks Indonesia, radikalisme dalam pemahaman keagamaan, terutama Islam, terjadi di kalangan pemuda dan merebak di kampus-kampus besar.

Dalam konteks lokal, radikalisasi pemahaman keagamaan itu kerapkali terjadi pada saat berlangsung pemilihan kepala daerah, biasanya isu-isu agama dimunculkan sebagai simbol politik identitas. Menurut laporan sebuah media, Morowali Utara termasuk dari lima kabupaten yang terindikasi atau terpapar radikalisme. Bahkan, seperti dikatakan oleh Musda Guntur, Sekretaris Daerah Kabupaten Morowali Utara, dalam sebuah seminar yang bertema “Membangun Sinergitas Seluruh Stakeholder Guna Menangkal Paham Radikalisme dan Isu Sara di Kabupaten Morowali Utara,” bahwa Kabupaten Morut rentan terhadap pertumbuhan paham radikal dan isu-isu SARA, sehingga perlu dilakukan pemantauan dan antisipasi semenjak dini.[12]

Di Morowali Utara terdapat satu pesantren yang pernah diduga terpapar virus radikalisme agama, yaitu Pondok Pesantren Darul Anshor Putra, yang terletak di Desa Panca Makmur, Kecamatan Soyojaya Malino. Pesantren ini diduga menjadi basis pergerakan kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT).[13]  Dugaan dan kecurigaan ini muncul karena pada pertangahan tahun 2015 di pondok pesantren ini ditangkap salah satu tokoh yang berperan dalam membantu pergerakan MIT yang saat itu dipimpin oleh Santoso.[14] MIT adalah sebuah organisasi yang didirikan oleh Santoso, yang berafiliasi dengan Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS). Fokus dari doktrin ISIS ini adalah menyerang “musuh dekat” (near enemy) dan “pemerintahan murtad” (apostate government), dan pendirian wilayah negara Islam di Sulawesi Tengah adalah sangat kuat. Oleh karena itu, narasi menyerang pemerintah murtad sebagai “musuh dekat” menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari gerakan MIT ini. Begitu pula, aspirasi Santoso untuk mendirikan kekhalifahan Indonesia yang berpusat di Poso dan menyerang “musuh jauh”, yaitu Barat, juga dibuktikan dengan mem-framing upaya-upaya kontra terorisisme yang dilakukan oleh Densus 88 sebagai agen-agen atau boneka-boneka kekuatan Barat.[15]

Kesimpulan
Dari beberapa uraian di atas, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: Pertama, Morowali Utara sebagai kabupaten termuda di Sulawesi Tengah merupakan masyarakat yang multikultural, yang mempunyai keragaman agama, kelompok etnik,budaya, dan lainnya. Ini menjadi peluang bagi kemunculan ketegangan dan konflik berbasis pada perbedaan-perbedaan tersebut. Untuk itu, dakwah Islam perlu mengambil pendekatan yang persuasif yang melibatkan berbagai perspektif keilmuan, seperti sosiologi, antropologi, dan psikologi, dalam melakukan penyebaran nilai-nilai moral keislaman.

Kedua, dari aspek keberagamaan, meskipun Islam masih tetap menjadi agama mayoritas, namun kerawanan ketegangan berbasis agama ini boleh jadi dapat muncul, jika ada faktor yang mempercepatnya, diantaranya adalah penyebaran hoaks dan isu-isu SARA dan radikalisasi pemahaman keislaman, yang biasanya muncul pada saat pemilihan kepala daerah dan kemiskinan merata di dalam masyarakat. Untuk itu, dakwah Islam perlu melibatkan pemerintah daerah dan masyarakat untuk menyebarkan pesan Islam yang damai dan toleran dalam upaya melakukan deradikalisasi pemahaman keagamaan yang ekstrim.

Daftar Pustaka
Amiruddin. “Pemetaan Kapasitas Pondok Pesantren Di Kabupaten Morowali Dan Morowali Utara.” Educandum 5, no. 1 (2019): 17–39.
Henley, David. Fertility, Food, and Fever: Population, Economy, and Environment in North and Central Sulawesi, 1600-1930. Leiden: KITLV Press, 2005.
Henshaw, Andrew D. “Transnational Macro-Narrative Descendancy in Violent Conflict:A Case Study of the Mujahidin Indonesia Timur in Central Sulawesi.” Thesis, Macquarie University Australia, 2015.
Irfanuddin W. Marzuki. “Sebaran Sumber Daya Arkeologi Di Kabupaten Morowali: Gambaran Toleransi Masyarakat Masa Lalu.” Forum Arkeologi 29, no. 2 (2016): 81–92.
Nutfa, Moh. “Tau Taa Wana, Dari Alam Untuk Alam: Filosofi Dan Praktik Bijaksana Menata Relasi Manusia Dan Alam.” Sosioreligius IV, no. 2 (2019): 61–68.
Penyusun, Tim. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa, 2008.
Robi Sugara. “Santoso: The Terrorist Leader From Nowhere.” Counter Terrorist Trends and Analyses 6, no. 10 (2014): 23–26.

Catatan kaki
[1] BPS Kabupaten Morowali Utara, Persentase Penduduk Miskin di Kabupaten Morowali Utara dalam https://morowaliutarakab.bps.go.id/indicator/23/45/1/persentase-penduduk-miskin-di-kabupaten-morowali-utara.html. Diakses 27 Desember 2020.
[2] Moh. Nutfa, “Tau Taa Wana, Dari Alam Untuk Alam: Filosofi Dan Praktik Bijaksana Menata Relasi Manusia Dan Alam,” Sosioreligius IV, no. 2 (2019): 65–66.
[3]Abd Rahman Tanra, “300 Orang Suku Wana Berbondong- Bondong Masuk Islam,” dalam https://www.iglobalnews.co.id/2020/02/300-orang-suku-wana-berbondong-bondong-masuk-islam/ Accessed: 24 Desember 2020.
[4] Lihat data madrasah di EMIS, http://emispendis.kemenag.go.id/dashboard/?content=data-statistik&action=prov&prov=72. Accessed 25 Desember 2020.
[5] Dirjen Pendis Kemenag RI, “Data Lembaga Pondok Pesantren Tahun 2020 Morowali Utara Provinsi Sulawesi tengah,” http://emispendis.kemenag.go.id/dashboard/?content=data-pontren&action=list_pontren&prop=72&k=12&id=51. Accessed: 24 Desember 2020.
[6] Lihat Amiruddin, “Pemetaan Kapasitas Pondok Pesantren Di Kabupaten Morowali Dan Morowali Utara,” Educandum 5, no. 1 (2019): 24–25.
[7] David Henley, Fertility, Food, and Fever: Population, Economy, and Environment in North and Central Sulawesi, 1600-1930 (Leiden: KITLV Press, 2005), 28.
[8] Irfanuddin W. Marzuki, “Sebaran Sumber Daya Arkeologi Di Kabupaten Morowali: Gambaran Toleransi Masyarakat Masa Lalu,” Forum Arkeologi 29, no. 2 (2016): 90.
[9] Ibid., 89–90.
[10] Tim Penyusun, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Pusat Bahasa, 2008), 1246.
[11] KBBI Daring, https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/radikalisme Akses: 26 Desember 2020.
[12] Redaksi, “Musda Guntur: Morut Rentan Radikalisme dan Isu SARA,” dalam https://brita.id/utama/musda-guntur-morut-rentan-radikalisme-dan-isu-sara/ Akses:26 Desember 2020.
[13] Redaksi Radar Sulteng,” Tim Satgas Baintelkam Polri: Aktivitas Ponpes di Morut Kurang Perhatian Pemda,” dalam https://radarsulteng.id/tim-satgas-baintelkam-polri-aktivitas-ponpes-di-morut-kurang-perhatian-pemda/ Diakses: 27 Desember 2020.
[14] Untuk lebih jelasnya, lihat Robi Sugara, “Santoso: The Terrorist Leader From Nowhere,” Counter Terrorist Trends and Analyses 6, no. 10 (2014): 23–26.
[15] Andrew D. Henshaw, “Transnational Macro-Narrative Descendancy in Violent Conflict:A Case Study of the Mujahidin Indonesia Timur in Central Sulawesi” (Thesis, Macquarie University Australia, 2015), 41.

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button