Makna Zakat dan Korelasinya dengan Kesuksesan

Salah satu syariat yang begitu penting dan masuk ke dalam fondasi agama Islam adalah zakat. Zakat disyariatkan pada tahun ke-2 hijrah di Madinah pada bulan Syawal, setelah Allah mewajibkan sebulan sebelumnya zakat fitrah di bulan Ramadhan. Pada periode Mekkah sebenarnya zakat sudah diwajibkan, namun dalam pengertian umum, dan bersifat individual. Target dari implementasi zakat pada periode Mekkah adalah lebih kepada pemberian makan kepada orang miskin. Salah satu surat yang berbicara tentang persoalan ini, yang diturunkan di Mekkah, adalah surat al-Ma’un. Dalam surat ini, Allah menisbatkan orang-orang yang tidak memberikan makan kepada orang miskin, dan juga tidak memberikan perlindungan kepada anak-anak yatim, disebut sebagai “pendusta agama” (alladhī yukadhdhib bi al-dīn). Bahkan, yang lebih menarik, ada satu dialog penduduk surga kepada penduduk neraka, yang direkam dalam surat al-Mudatsir:42-47, “Apa yang membuat kalian masuk ke dalam neraka Saqar?” Mereka menjawab, “Kami dulu tidak pernah melakukan salat, Kami juga tidak memberikan makan kepada orang miskin. Dan kami bahkan kami biasa membicarakan hal-hal yang batil bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan kami mendustakan hari pembalasan, sampai datang kepada kami kematian”. Dari dialog ini, salah satu yang menjadi faktor penyebab masuknya seseorang ke dalam neraka Saqar adalah “tidak memberikan makan kepada orang-orang miskin”.

Makna Zakat
Secara bahasa, zakat adalah kosa kata dalam bahasa Arab, yang mengandung dua makna: pertama, bertambah dan berkembang (zāda wa namā). Ini mengisyaratkan bahwa harta yang dikeluarkan pada hakikatnya tidak berkurang, tapi bertambah dan berkembang. “Tidak akan berkurang harta karena sedekah,” demikian kata Nabi Muhammad Saw. Pemahaman bahwa zakat menyebabkan pelakunya semakin bertambah hartanya telah terbukti dalam sejarah.

Pernah diceritakan oleh Prof Didin Hafidhuddin, mantan Ketua Umum Baznas, bahwa ada seorang pembantu rumah tangga, yang terbiasa mengeluarkan infaknya setiap bulan sebanyak 60 ribu rupiah. Perempuan itu ditanya tentang pekerjaan suami dan penghasilannya setiap bulan. Perempuan itu menjawab bahwa sebulan ia dan suaminya mempunyai penghasilan total 600 ribu rupiah perbulan. Artinya, perempuan itu setiap bulan mengeluarkan sebanyak 10% dari penghasilannya tersebut. Perempuan itu ditanya tentang jumlah anaknya, yang dijawab sebanyak 5 orang, yang semuanya kuliah di perguruan-perguruan tinggi terkemuka di Jawa Timur, yaitu Universitas Airlangga dan Institut Teknologi Surabaya. Ketika ditanya tentang bagaimana membiayai mereka kuliah, ibu itu menjawab bahwa mereka selalu juara umum , sehingga mendapatkan beasiswa dari SD sampai kuliah.

Dari cerita ini, kita dapat menyimpulkan bahwa membuktikan bahwa orang yang rajin mengeluarkan zakat, infak dan sedekah (ZIS), Allah akan menjamin rezekinya, dan rezekinya tidak akan berkurang. Bahkan sebaliknya, rezekinya semakin bertambah berlipat-lipat. Ini memperkuat firman Allah dalam Surat Ar-Rum ayat 39, bahwa orang yang mengeluarkan zakat, infak dan sedekah, maka hartanya dilipatgandakan oleh Allah, baik jumlahnya maupun keberkahannya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa zakat, infak dan sedekah itu menjadi “penambah dan pengembang harta”.

Makna kedua adalah “bersih” (țahārah). Zakat berfungsi untuk membersihkan harta dan juga hati. Dalam realitas kehidupan kita, mungkin saja bergabung dalam harta kita dari sesuatu dari yang halal dan haram, atau mungkin syubhat. Oleh karena itu, kita perlu memberishkannya dengan mengeluarkan zakatnya terhadap orang-orang yang membutuhkan, karena dalam harta kita juga terdapat hak orang lain baik yang meminta-minta ataupun tidak (li al-sā’il wa al-marhūm). Jika tidak dikeluarkan, biasanya dalam pengalaman harta yang tidak dikeluarkan zakatnya tersebut akan mencari cara dan jalan sendiri untuk keluar. 

Zakat sebagai pembersih hati dari sikap bakhil. Bakhil ini ditegaskan oleh Nabi sebagai penyebab kehancuran seorang individu. Cerita yang mungkin perlu kita ambil pelajaran, baik dari Alquran maupun Sunnah, adalah kisah tentang Qarun dan Tsa’labah. Qarun diceritakan oleh Allah, sebagai seorang yang dulunya pengikut Nabi Musa, kemudian ingkar kepadanya. Ia seorang yang miskin dan saleh, dan meminta kepada Nabi Musa untuk mendoakannya agar dirinya memiliki sejumlah harta. Dan, doa itu dikabulkan, hingga dirinya menjadi kaya raya. Kekayaannya begitu banyak, bahkan anak kunci untuk menyimpan harta kekayaannya harus dipikul oleh 10 atau 40 orang-orang yang kuat (Al-Qashash [28]: 76). Dengan kekayaannya, Qarun tidak mau bersyukur dalam malah menyombongkan diri. Ia juga tak mau menyedekahkan dan mengeluarkan zakat untuk membantu orang-orang yang miskin yang ada di sekitarnya. Kesombongan Qarun itu tampak ketika ia mengatakan bahwa harta yang diperolehnya karena ilmu yang dimilikinya (QS al-Qasas: 78). Karena kesombongannya, Allah menenggelamkan Qarun ke dalam perut bumi (QS al-Qasas: 81).

Kisah lain, pada masa Nabi ada seorang yang bernama Tsa’labah. Berkali-kali ia datang menghadap Rasulullah, bermohon kepadanya untuk berdoa kepada Allah agar ia diberikan rezeki. Namun, Rasulullah berkali-kali menolak permintaan tersebut. Ia pun meluruhkan hati Nabi dengan bersumpah, “Demi Zat yang telah mengutusmu dengan hak. Jika engkau memohon kepada Allah, lalu Dia memberiku harta kekayaan, niscaya aku akan memberikan hak kepada setiap orang yang berhak menerimanya,” Rasullulah pun memegang janji Tsa’labah dan mendoakannya. Singkat cerita, akhirnya Tsa’labah menjadi orang yang kaya. Namun ia menjadi kikir dan tidak mau membayar zakat, ketika datang utusan Rasulullah meminta zakat kepadanya. Kabar ini sampai ke telinga Nabi dan membuatnya gusar. Maka, Allah kembali menurunkan firmannya dalam surah at-Taubah ayat 75-77 yang berisi sindiran kepada orang-orang yang sebelumnya berikrar akan menyedekahkan sebagian hartanya jika dikaruniai oleh Allah berupa kekayaan, tetapi setelah diberi kekayaan mereka justru menjadi kikir dan berpaling. Karena sikap seperti itu, Allah kemudian menanamkan kemunafikan pada hati mereka sampai tiba ajal mereka. Na’ūdzu billāh.

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca juga
Close
Back to top button