Metode Pendidikan Nabi

Merosotnya moralitas kebanyakan manusia saat ini, yang ditandai dengan berbagai fenomena kekerasan, menunjukkan tentang gagalnya sebagian model pendidikan kita. Banyak teori dan pendekatan yang digunakan dan diusung untuk merespons persoalan pendidikan ini, seperti pendekatan behavioristik, konstruktifistik, dan pendekatan-pendekatan belajar lain, yang secara epistemologis berangkat dari pemikiran manusia, yang mungkin bisa benar bisa juga keliru. Bahkan, di negara-negara yang menciptakan teori pendidikan ini, fenomena rusaknya moralitas menjadi fakta yang tidak dapat disangkal.

Mengapa kita tidak menengok kembali kepada metode pendidikan Nabi, yang gurunya langsung adalah Allah, yang tidak pernah dan tidak akan keliru, dan dalam sejarah metode pendidikan Nabi telah terbukti keberhasilannya. Apa indikatornya? Indikatornya adalah bahwa dari madrasah Nabi, banyak muncul lulusan terbaik, yaitu para Sahabat agung yang cemerlang, baik dari segi intelektualnya, iman dan ibadahnya, serta akhlak dan moralitasnya, yang menjadi fondasi masyarakat Nabi, yang menurut pengakuan Robert N. Bellah, seorang sosiolog Barat, adalah masyarakat yang sangat modern. Bagaimana Nabi mengajarkan kepada para Sahabat, sehingga hampir sebagian besar dari mereka adalah orang-orang yang berpikiran dan berperilaku luhur.

Dalam kitab al-Sunnah al-Nabawiyyah: Ru’yah Tarbawiyyah yang ditulis oleh Dr. Sa‘id Isma‘il ‘Ali dan juga dalam kitab Manhaj al-Tarbiyyah al-Nabawiyyah li al-Tifl karya Dr. Muhammad Nur Suwayd, disebutkan ada beberapa metode yang digunakan Nabi dalam mendidik umatnya.

Yang pertama adalah dengan kisah (al-riwayah bi al-qissah). Mengapa? Karena kisah, menurut penelitian, memberikan manfaat luar biasa bagi kecerdasan anak secara intelektual (kognitif), emosional (afektif), dan spiritual. Secara kognitif, kisah mempermudah proses pembelajaran pada anak, karena kemampuan berpikir otak lebih mudah menyerap nilai yang terkandung dalam cerita. Secara afektif, cerita akan mempengaruhi suasana hati dan menumbuhkan perasaan-perasaan empati dan positif pada anak. Secara spiritual, cerita juga bisa menggugah kesadaran ruhani, menyentuh bagian terdalam diri anak-anak kita, serta melatih kemampuan, kemauan dan kecerdasan mereka akan keberadaan Tuhan dalam hidup mereka. Hal ini secara psikomotorik akan menuntun mereka untuk bisa mengaplikasikan apa yang mereka dengar dari cerita melalui bentuk-bentuk ibadah.

Bahkan Alquran sendiri menunjukkan pentingnya kisah yang positif dan pengaruhnya pada jiwa dan moralitas seseorang dalam proses pendidikan dan pembinaan jiwa. Di dalam Alquran (Yusuf [12]: 3), Allah Swt berfirman:

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ أَحْسَنَ ٱلْقَصَصِ بِمَآ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ هَٰذَا ٱلْقُرْءَانَ وَإِن كُنتَ مِن قَبْلِهِۦ لَمِنَ ٱلْغَٰفِلِينَ

Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Quran ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan)nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui.

Dalam Alquran, banyak ragam kisah yang Allah ceritakan untuk memberikan pelajaran moral kepada hamba-hamba-Nya, seperti kisah Nabi Ibrahim, Ismail, Musa, kisah tentang Qabil dan Habil, Qarun dan Firaun, kisah Dzulqarnain, dan lain-lain.

Metode Alquran tentang pemberian kisah digunakan oleh Nabi dalam mendidik dan membina moralitas umat, dan diteruskan pula oleh Sahabat. Nabi-lah orang pertama yang menggunakan metode kisah ini dan menjadikannya sebagai cara untuk menanamkan prinsip-prinsip Islam dalam jiwa. Kisah-kisah yang disampaikan Nabi mencakup kisah-kisah tentang dirinya—sebelum dan sesudah diutus sebagai rasul, kisah yang berisi perumpamaan, kisah tentang hal-hal gaib, dan juga kisah tentang sejarah masa lalu.

Misalnya, ketika Nabi ingin menekankan bahwa di dalam harta kita ada hak orang lain yang harus kita berikan, dan bahwa Allah akan selalu menerima taubat hambanya jika dilakukan dengan sungguh-sungguh, Nabi salah satunya menyampaikan dengan metode kisah. Seperti diriwayatkan oleh al-Turmudhi, ‘Abd Allah ibn ‘Umar pernah mendengar Rasulullah Saw bercerita,

Dahulu terdapat seorang bernama Kifl yang berasal dari bani Israil. Kifl ternyata adalah seorang yang sering kali berbuat maksiat. Dia sering kali membawa seorang wanita ke rumahnya dan melewatkan malam bersamanya. Orang-orang sekeliling Kifl pun selalu membicarakan perilaku Kifl tersebut. Mereka jengah akan itu hingga berucap “Jikalau Kifl mati, kami tak ingin memandikan jenazahnya, melihat banyaknya dosa yang Kifl lakukan.”

Suatu malam, Kifl membawa seorang wanita. Di dalam kamar, wanita tersebut menangis dan Kifl pun bertanya, “Hai, kenapa kau menangis? Bukankah kau datang kesini atas dasar ikhlas dan tak ada paksaan dariku.” Wanita itu menjawab, “Iya, tapi saya menangisi keadaan saya. Saya hanyalah seorang yang datang dari keluarga miskin, tidak ada kekuatan ekonomi dalam keluarga kami, hingga aku terpaksa melakukan hal ini.”

Melihat pernyataan wanita itu, Kifl merasa tersentuh, dan berkata, “Hai Fulanah, ambillah hartaku ini untukmu, berikan kepada keluargamu, dan manfaatkan sebaik-baiknya.” Seketika itu pun Kifl bertaubat dan meminta ampunan kepada Allah Swt, hingga Allah Swt menerima taubat Kifl itu.

Tak lama, Kifl menemui ajalnya dan terdengarlah berita ini keseluruh desa. Dahulu, Allah Swt pernah memerintakan malaikat untuk menulis di depan pintu setiap rumah, bagi siapa saja yang berbuat maksiat. Seluruh penghuni desa pun selalu tahu tentang perbuatan yang Kifl lakukan setiap malam, karena selalu tertulis di depan pintu seperti “Kifl telah melakukan maksiat” pagi harinya.

Namun, pagi itu malaikat menulis kata yang berbeda “Kifl telah dimandikan oleh malaikat karena taubatnya”. Allah Swt menjawab doa seluruh penghuni desa itu untuk tidak memberikan kesempatan memandikan jenazah Kifl, karena telah dimandikan oleh malaikat. Allah (swt) pun telah menerima taubat seorang Kifl pada malam sebelum ajalnya, walaupun sehari-hari Kifl selalu bergelimang dosa.

Kedua, mengajarkan dengan metode keteladanan (al-tarbiyyah bi al-qudwah). Pengajaran dengan keteladanan inilah yang jarang kita temukan lagi dalam masyarakat kita. Orang tua jarang yang menjadi contoh buat anak-anaknya. Pendidik juga jarang yang menjadi teladan buat anak didiknya. Nabi, dalam mendidik para Sahabat dan menanamkan nilai-nilai Islam ke dalam jiwa mereka, adalah dengan menjadi contoh bagi mereka dalam segala aspek kehidupan. Dalam segala aspek kehidupan, Nabi adalah seorang sukses. Sebagai seorang suami, ia sukses. Sebagai kepala rumah tangga, ia sukses. Sebagai pimpinan politik, ia sukses. Sebagai kepala negara dan pemerintahan, ia pun sukses. Oleh karena itu, pantas jika seorang penulis buku 100 Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia, Michael Hart, menempatkan Nabi dalam posisi yang pertama. Tidak heran, jika Allah Swt berfirman: Laqad kana lakum fi rasulillah uswah hasanah. Mengapa? Karena akhlak Nabi adalah Alquran. Ketika Aisyah ditanya bagaimana akhlak Nabi, ia menjawab; “Akhlaknya adalah Alquran.” Artinya, ketika Nabi mengajarkan nilai-nilai Islam kepada Sahabat kala itu, beliau sudah mengerjakannya terlebih dahulu. Dan ini terbukti efektif untuk mengubah perilaku Sahabat menjadi lebih baik. Karena menyampaikan sesuatu yang sudah dikerjakan itu lebih mengena, ketimbang belum melakukannya.

Sebagai contoh, ketika Nabi mengajarkan kepada para Sahabat untuk bersikap zuhud, beliau sudah melakukannya. Kehidupan Nabi adalah begitu miskin. Bahkan, ketika Nabi ditawarkan oleh Allah untuk mengubah bukit-bukit di Mekah menjadi emas, tetapi beliau menengadahkan tangan kepada-Nya sambil berkata:

 يا رب، أجوع يوما، وأشبع يوما، فأما اليوم الذي أجوع فيه فأتضرع إليك وأدعوك، وأما اليوم الذي أشبع فيه فأحمدك وأثني عليك.

“Ya Allah, aku lebih suka sehari kenyang dan lapar pada hari berikutnya agar aku dapat mengingat-Mu tatkala sedang lapar dan memuji-Mu serta mensyukuri nikmat-Mu tatkala sedang kenyang” (HR. Tirmidhi).

Ketiga, mengajarkan dengan metode pembiasaan (al-tarbiyyah bi al-‘adah). Ada sebuah pepatah,  من شبّ على شيء شاب عليه(Barangsiapa yang masih mudanya membiasakan sesuatu, maka masa tuanya ia akan terbiasa). Pembiasaan terhadap perbuatan baik ini menjadi penting. Oleh karena itu, tidak heran jika Nabi memerintahkan kepada orang tua untuk mengajarkan salat kepada anak-anaknya semenjak dini.

مروا أولادكم بالصلوة وهم أبناء سبع سنين واضربوهم عليها وهم أبناء عشر سنين وفرقوا بينهم فى المضاجع (رواه أبو داود والحاكم)

“Perintahkan anak-anakmu untuk melaksanakan salat saat mereka berusia 7 tahun, dan pukul (tanpa kekerasan) jika berusia sepuluh tahun (namun belum melaksanakannya), dan pisahkan tempat tidur mereka.”

Usia tujuh tahun, dalam fikih Islam, bukanlah usia mukallaf. Seorang yang bukan mukallaf belum dibebankan kewajiban-kewajiban huku. Jika mereka melaksanakan kebaikan, tidak mendapatkan pahala atas kebaikannya. Begitu pula, jika melakukan keburukan dan kejahatan belum mendapatkan sangsi dan dosa. Perintah Nabi kepada orang tua untuk mengajarkan anak-anaknya melaksanakan salat di usia tujuh tahun adalah untuk pembiasaan semenjak dini, sehingga ia akan terbiasa di masa depannya.

Jika tiga metode ini dilakukan, insya Allah pendidikan akan efektif dan dapat mencegah timbulnya perilaku buruk pada diri seseorang. Semoga []

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca juga
Close
Back to top button