Mencintai Rasulullah Saw

Renungan Maulid

Ma’ruf al-Karkhi, seorang ulama sufi terkenal, mengatakan:

من هيء لأجل قراءة مولد الرسول طعاما وجمع إخوانا وأوقد سراجا ولبس جديدا وتعطر وتجمل تعظيما لمولده حشره الله تعالى يوم القيامة مع الفرقة الأولى من النبيين وكان فى أعلى عليين (إعانة الطالبين, ج 3: 363-366)

“Barangsiapa yang mempersiapkan makananuntuk pembacaan maulid Nabi dan mengumpulkan banyak handai taulan, menghidupkan pelita-pelita, memakai pakaian yang baru, menggunakan wewangian, serta memperbagus diri, karena mengagungkan hari kelahiran Rasulullah Saw, maka ia akan dikumpulkan pada hari kiamat bersama kelompok pertama dari para nabi dan ia berada pada surga yang tertinggi” (I’anah al-Talibin, Juz 3, h. 363-366)

Mengapa kita perlu  merayakan maulid Nabi Muhammad Saw?
Yang pertama, tentu saja untuk mengungkapkan kecintaan kita kepada Rasulullah Saw. Nabi mengatakan, “Barangsiapa yang mencintaiku, maka ia bersamaku di surga.” Syaikh Abdurahman al-Diba’i, penulis Maulid Diba’, pernah bercerita. Ketika beliau sedang berkumpul dengan orang-orang di kota Zabid (ujung kota Yaman) untuk berziarah ke makam nabi di kota Madinah yang jarak perjalanan memakan waktu 2 minggu, tiba-tiba datang anak berusia 8 tahun minta ikut. Tetapi syaikh menolak, dan bertanya mengapa ia ingin ikut. Anak itu menjawab, “Aku sangat rindu kepada Rasulullah.” “Sudahlah kau tidak boleh ikut,” kata Syaikh.

Ketika rombongan tiba di Madinah, tepatnya di makam Nabi, tiba-tiba anak itu sudah berada di depan sang syaikh. Syaikh bertanya, “Bagaimana engkau bisa ikut?” Anak itu menjawab, “Aku masuk ke dalam peti pada saat rombongan berangkat.” Syaikh itu berkata, “Saya tidak heran jika engkau masuk ke dalam peti. Tetapi selama 2 minggu, engkan makan dan minum dari mana?” “Wahai syaikh, sungguh aku dilupakan dari makan dan minum karena sangat rindu kepada Rasulullah Saw.”

Anak kecil itu bertanya, “Wahai syaikh, apakah benar tanah ini pernah dipijak Rasul?” “Ya,” jawab syaikh. Kemudian anak itu mengambil tanah itu lalu diciumnya, tiba-tiba anak itu roboh, pingsan, kemudian wafat. Anak itu dikuburkan di luar kota Madinah, karena dia orang luar. Setelah itu, syaikh bersama rombongan  melakukan umrah. Saat pulang syaikh teringat kepada anak tadi, lalu menziarahinya. Tapi syaikh bingung, karena kuburannya yang berada di luar Madinah, tiba-tiba berangsur-angsur bergeser masuk kota Madinah mendekati makam Rasul.

Syaikh itu menangis. “Wahai anak kecil, betapa hebat dan mulianya engkau. Saat masih hidup engkau rindu ziarah makam Nabi, dan sewaktu kau wafat pun engkau rindu kepada Rasulullah.”

Bagaimana caranya kita mencintai Nabi?
Pertama, memperbanyak salawat kepada Nabi. Satu amalan yang jika kita lakukan akan diterima oleh Allah adalah bersalawat kepada Nabi. Suka atau tidak suka, terpaksa atau tidak, tulus atau tidak tulis, jika kita bersalawat kepada Nabi, pasti akan diterima oleh Allah, karena yang Allah lihat bukan pada siapa yang bersalawat, tetapi kepada siapa yang diberikan salawat.

Nabi pada dasarnya tidak membutuhkan salawat atau “doa” kita, karena beliau sudah diampuni segala dosanya. Tetapi, salawat yang kita berikan kepada Nabi akan sampai kembali lagi kepada kita. Nabi seperti sebuah bejana yang penuh berisi air. Jika kita masukkan air ke dalam bejana tersebut, tentu kita akan terciprat air tersebut. Inilah mungkin maksud hadis Nabi:

من صلى علي صلاة صلى الله عليه بها عشرا

“Barangsiapa yang bersalawat kepadaku sekali, Allah bersalawat kepadanya 10 kali.”

Banyak manfaat dari bersalawat. Salawat kepada Nabi dapat mengundang pertolongan dari Allah Swt. Pada masa Nabi, ada seorang muslim yang dituduh mencuri unta oleh seorang munafik, dan mereka menghadirkan saksi-saksi palsu untuk menuduh orang tersebut. Lalu diputuskanlah orang itu bersalah, dan hukumannya adalah dipotong tangannya. Lalu orang ini berdoa, “Ya Allah, engkau maha kuasa atas segala sesuatu. Mereka telah memfitnahku. Aku tidak mencuri unta itu. Engkau maha tahu, selamatkanlah aku dari kehinaan ini, karena aku telah bersalawat kepada Nabi yang paling mulia. Engkau maha kuasa, izinkanlah unta itu berbicara. Jadikanlah ia sebagai saksiku.” Hewan itu pun berkata dengan kuasa Allah. “Ya Rasulullah, orang-orang itu adalah saksi palsu, dan pemfitnah telah membuat tuduhan palsu terhadap orang mukmin ini.”

Terkuaklah kebohongan saksi palsu tersebut. Mereka tidak berkutik. Nabi bertanya kepada orang mukmin tersebut, “Bagaimana engkau dapat memperoleh keajaiban itu? Orang mukmin itu menjawab, “Ya Rasul, saya selalu bersalawat kepadamu sepuluh kali sebelum tidur.” Nabi berkata, “Karena salawatmu itu, bukan hanya Allah menyelamatkan engkau dari hukuman potong tangan itu, tetapi juga engkau akan diselamatkan dari siksaan api neraka.”

Kedua, menghidupkan sunnah Nabi Muhammad Saw. Kata Nabi,

من أحيا سنتي فقد أحبني ومن أحبني كان معي فى الجنة

“Barangsiapa yang menghidupkan sunnah-ku, maka ia telah mencintaiku. Barangsiapa mencintaiku, maka ia bersamaku di dalam surga.”

Salah satu satu ajaran Rasulullah Saw adalah seorang isteri menaati suaminya. Nabi pernah mengatakan:

أيما امرأة ماتت وزوجها عنها راض دخلت الجنة

“Siapa pun wanita yang meninggal dunia, lalu suaminya rida kepadanya, maka akan masuk surga.”

Di zaman Nabi, ada seorang sahabat yang ingin berperang, dan berpesan kepada isterinya untuk tidak meninggalkan rumah selama dia tidak ada. Isteri sahabat tersebut berjanji patuh. Namun nasib memang susah diduga.

Berselang sehari, datang seorang dari keluarganya  mengabarkan jika ibunya sedang sakit keras, dia mengharapkan kedatangannya. Si isteri ini, dengan meminta maaf, berkata tidak dapat hadir. Suaminya tidak ada di rumah, dan dia berjanji untuk patuh pada pesan suami, tak akan meninggalkan rumah. Utusan tersebut kemudian pulang.

Selang sehari kemudian, utusan tersebut datang lagi, memberitahukan jika ibunya sudah meninggal, dan dia mengharapkan kedatangannya untuk penghormatan terakhir. Isteri itu menangis, ia tidak berani menghadiri pemakaman tersebut. Dia harus patuh pada suaminya. Dengan kesal, utusan tersebut kemudian menghadap Rasul menanyakan hal tersebut.  Nabi menjawab, “Karena kepatuhan anaknya terhadap suaminya, maka ibunya kini sudah berada di dalam surga.”

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button