Etika Ta’ziyah

Ada dua hadis populer yang seringkali dibacakan oleh seorang mubalig ketika menyampaikan ceramah ta’ziyah. Hadis pertama adalah:

ما من مؤمن يعزي أخاه بمصيبة إلا كساه الله من حلل الكرامة يوم القيامة

“Jika seorang mukmin bertakziyah kepada saudaranya yang terkena musibah, maka Allah akan memakaikan kepadanya pakaian kemuliaan pada hari kiamat.”

Dan hadis kedua adalah

من عزى مصابا فله مثل أجره

“Barangsiapa yang bertakziyah kepada orang yang ditimpa musibah, maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala yang terkena musibah.”

Nabi juga mengajarkan kepada dalam bertakziyah ada beberapa etika yang harus diperhatikan:
Pertama, memberikan doa kepada si mayit. Membaca tahlil, tahmid, tasbih, yang pahalanya dikirim kepada si mayit. Ada sebagian umat Islam yang beranggapan bahwa hal itu tidak sampai kepada si mayit. Padahal seorang ulama, yang seringkali dijadikan rujukan oleh mereka, yaitu Ibn Taimiyah, dalam kitabnya Majmu’ al-Fatawa, Jilid 24, h. 180, ditanya tentang bacaan Alquran, tahlil, tasbih, tahmid yang disampaikan kepada si mayit apakah sampai pahalanya? Ia menjawab, “Bacaan tersebut akan sampai kepadanya.” Dalam doa tahlil kita mendengar:

اللهم ربنا تقبل وأوصل ثواب ما قرأناه من القرأن العظيم وما هللناه من لاإله إلا الله وما سبحناه من سبحان الله وبحمده ….

Kedua, menghibur keluarga duka untuk bersikap sabar. Jangan terlalu larut dalam kesedihan yang mendalam, atau tidak meratapi. Pernah suatu ketika Nabi sedang berjalan di sebuah pekuburan, nabi melihat ada seorang perempuan menangis tersedu-sedu sambil meratap. Lalu, nabi berkata, “Wahai ibu, bersabarlah!” Ibu itu menjawab, “Pergilah kamu dari sisiku, sungguh engkau tidak tahu apa yang aku alami.” Perempuan itu diberitahu bahwa yang berbicara tadi adalah nabi. Lalu, ia menemui nabi dan meminta maaf kepadanya. Nabi berkata, “Sabar itu sesunggunya pada saat awal terjadinya musibah.” (إنما الصبر عند الصدمة الأولى).

Kenapa kita disuruh bersabar? Karena dengan sabar, seorang akan diangkat derajatnya oleh Allah Swt. Para nabi seperti, Nuh, Ibrahim, Ismail, Ayyub, dan lainnya, diangkat oleh Allah karena kesabarannya. Karena musibah yang terjadi itu pada hakikatnya sudah ditetapkan oleh Allah.

كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

Dalam surat al-Hadid ayat 22-23, Allah berfirman:

ما أصاب من مصيبة فى الأرض ولا فى أنفسكم إلا فى كتاب من قبل أن نبرأها إن ذلك على الله يسير

Diceritakan bahwa Malaikat Maut menemui Nabi Sulaiman. Malaikat Maut melihat dengan tajam dalam waktu yang lama kepada salah seorang pembantu Nabi Sulaiman. Ketika Malaikat Maut keluar, laki-laki itu bertanya, “Wahai Nabi Allah, siapakah orang yang masuk tadi?” Nabi Sulaiman menjawab, “Malaikat Maut”. Laki-laki itu berkata lagi, “Aku takut Malaikat Maut hendak mencabut nyawaku. Oleh karena itu, aku akan menghindar darinya”. Nabi Sulaiman berkata, “Bagaimana caramu menghindar darinya?” Laki-laki itu menjawab, “Suruhlah angin membawaku ke negeri India saat ini juga. Mudah-mudahan Malaikat Maut terkecoh dan tidak dapat menemukanku”. Nabi Sulaiman as menyuruh angin untuk membawa laki-laki itu ke tempat yang dituju. Malaikat Maut kembali dan menemui Nabi Sulaiman. Kemudian Nabi Sulaiman bertanya kepada Malaikat Maut, “Mengapa engkau melihat kepada laki-laki itu lama sekali?” Malaikat Maut berkata, “Aku sungguh merasa heran terhadapnya. Aku diperintahkan untuk mencabut nyawanya di negeri India padahal negeri itu sangat jauh. Tetapi ternyata angin telah membawanya ke sana. Itulah takdir Allah Swt.” (Al-Ghazali)

Nabi pernah mengatakan: “Cukuplah kematian sebagai peringatan buat kita.” Kita pasti akan mengalami kematian. Tetapi kita tidak tahu kapan kita mati. Dimana? Pada saat apa? Karenanya, kematian itu misteri. Dan kita disuruh oleh Nabi untuk mempersiapkan diri. Pernah suatu ketika nabi ditanya oleh Sahabat, “Siapa orang yang paling cerdas dan cerdik ya Rasul?” Nabi menjawab “

Salah satu cara persiapan tersebut adalah kita menjadikan semua aktifitas kita dan desahan napas kita untuk beribadah kepada Allah Swt. Mengapakita perlu beribadah?

Suatu ketika, ada seseorang yang menjumpai Ibrāhīm ibn Adham. Ia berkata kepadanya, “Wahai Abu Ishaq, aku ini gemar sekali berbuat maksiat. Aku ingin berhenti, tetapi sering tidak bisa. Karena itu, tolonglah aku. Berilah aku nasihat agar aku tidak bermaksiat lagi.”

Ibrahim bin Adham menjawab, “Bagiku, tak masalah engkau gemar berbuat maksiat, asalkan engkau memenuhi dulu lima syarat.” Heran campur bingung, lelaki itu bertanya, “Apa saja lima syarat itu, wahai Abu Ishaq, sehingga saya dapat bebas berbuat maksiat?”

“Syarat pertama,” kata Ibrahim bin Adham, “Jika engkau ingin bermaksiat kepada Allah, janganlah engkau makan dari rezeki-Nya.” “Lalu, saya mau makan apa? Semua yang saya makan adalah rezeki dari Allah.” “Kalau begitu, pantaskah engkau memakan rezeki dari Allah, sedangkan engkau suka melanggar perintah-Nya?” jawab Ibrahim.

“Baiklah. Apa syarat yang kedua?” “Kalau engkau ingin bermaksiat kepada Allah, janganlah engkau tinggal di bumi-Nya.” “Kalau bukan di bumi milik Allah, aku harus tinggal di mana? Bumi dan langit ini semuanya milik Allah.” “Kalau begitu, layakkah engkau makan dari rezeki Allah dan tinggal di bumi-Nya, sedangkan engkau gemar menentang aturan-Nya?”

Orang itu terdiam. Namun, ia kemudian bertanya lagi, “Baiklah. Terus, apa syarat yang ketiga?” “Jika engkau ingin tetap makan dari rezeki Allah dan tetap tinggal di bumi milik-Nya, namun engkau pun tetap ingin bermaksiat kepada-Nya, silakan saja, asal engkau lakukan itu di tempat yang tidak dilihat oleh-Nya.”

“Wahai, Abu Ishaq,” kata lelaki itu, “Mana mungkin saya bersembunyi di tempat yang tidak dilihat-Nya, sementara Dia adalah Zat Yang Maha Awas?” “Jika demikian, lalu mengapa engkau tetap bermaksiat kepada-Nya?” tegas Ibrahim lagi. “Baiklah. Sekarang, apa syarat yang keempat?” “Kalau Malaikat Maut datang menjemputmu, sedangkan engkau dalam keadaan bermaksiat kepada Allah, katakan saja kepadanya, ‘Nanti saja, jangan cabut nyawaku dulu. Beri dulu aku kesempatan untuk bertobat dan beramal salih.’” “Wahai Abu Ishaq, mana mungkin?” “Kalau engkau sadar bahwa kematian tidak bisa ditunda, lalu mengapa engkau tetap tak mengindahkan perintah dan larangan-Nya?”

“Baiklah. Sekarang, apa syarat yang kelima.” “Apakah engkau sudah tahu nasibmu nanti di akhirat, apakah masuk surga atau masuk neraka?” tanya Ibrahim balik bertanya. “Tentu saja saya tidak tahu.” “Kalau engkau tidak tahu nasibmu nanti di akhirat, apakah masuk surga atau masuk neraka, hal itu seharusnya sudah cukup untuk menghentikan dirimu dari kegemaranmu berbuat maksiat kepada-Nya.”

Orang itu pun menangis. Ia kemudian berkata, “Wahai Abu Ishaq, cukup. Jangan Anda teruskan lagi. Mulai hari ini, aku akan bertobat dengan sebenar-benarnya kepada Allah. Aku berjanji, mulai hari ini aku tidak akan bermaksiat lagi.” Demikianlah, sejak nasihat itu, lelaki itu berubah menjadi orang yang shalih dan berusaha menjauhi segala kemaksiatan kepada Allah.

Terakhir, seorang yang masih hidup di dunia hendaknya sering mengirimkan fatihah kepada keluarganya yang telah meninggal. Ada sebuah cerita dalam kitab Irsyadul Ibad ila Sabilir Rasyad. Diceritakan oleh para ulama bahwa ada seorang yang bermimpi melihat para penghuni kubur keluar dari kubur mereka menuju permukaan kubur. Kata orang itu, “Mereka berebut memungut sesuatu yang tidak diketahui aku ketahui. Aku pun takjub. Tiba-tiba aku melihat seorang sedang duduk tidak berebutan bersama mereka memungut sesuatu.  Aku pun mendekati orang itu dan bertanya, “Apa yang mereka pungut itu?” orang itu menjawab, “Bacaan Alquran, sedekah, dan doa yang dikirimkan kaum muslimin.” Aku pun bertanya, “Mengapa engkau tidak memungut bersama mereka?” Orang itu berkata, “Saya sudah cukup, dengan khatam Alquran yang dibacakan dan dihadiahkan kepadaku oleh anakku yang berjualan Jalabiah di pasar.” Setelah aku terbangun dari tidur, aku pun ke pasar untuk mencari orang yang disebutkan dan ketemu dengan orang tersebut. Aku pun bertanya, “Apa yang kamu baca?” “Aku membaca Alquran dan aku hadiahkan buat bapakku yang sudah meninggal.” Tidak lama setelah itu, tiba-tiba aku bermimpi lagi. Aku melihat orang tua tadi berebutan bersama yang lain memungut sesuatu. Keesokan harinya aku ke pasar untuk mencari berita anaknya, ternyata anaknya sudah meninggal.  

Kedua, bersedekah buat si mayit sebagai bentuk bakti orang tua.
Di masa Nabi, ada seorang pemuda bernama ‘Alqamah, seorang yang sungguh-sungguh dalam taat kepada Allah. Kemudian ia sakit dan sakarat, lalu isterinya datang menemui Rasul dan memberitahukan perihal suaminya. Rasul pun mengutus Ammar, Suhayb, dan Bilal untuk mentalqin ‘Alqamah, namun lidahnya kelu, tidak bisa mengucapkannya. Mereka pun datang menemui Rasul dan memberitahukan keadaannya tersebut. Lalu, Rasul bertanya, “Apakah orang tuanya masih ada yang hidup?” Dijawab, “Ada, ibunya yang sudah tua renta.” Lalu, ibunya diminta datang untuk menemui Rasul, dan dia berkata, “Saya marah kepadanya. Anakku lebih mengutamakan isterinya ketimbang diriku.” Rasul berkata, “Wahai Bilal, pergilah dan kumpulkan kayu yang banyak.” Ibu ‘Alqamah bertanya, “Apa yang ingin Anda lakukan?” “Saya akan membakarnya di hadapanmu. “Wahai Ibu ‘Alqamah, azab Allah itu sangat pedih, jika kamu ingin Allah mengampuninya, maka ridhailah dia! Demi Allah, salat, puasa, dan sedekahnya ‘Alqamah tidak memberikan manfaat sama sekali selama Anda masih marah kepadanya.” Akhirnya ibunya meridhainya, dan wafatlah ‘Alqamah dengan mengucapkan kalimat syahadat.

 

 

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca juga
Close
Back to top button