Makna Kematian (2): Kesempurnaan

Salah satu istilah yang digunakan oleh Alquran untuk menggambarkan kematian adalah kata wafat. Kata ini terambil dari kata wafiya, yang berarti “sempurna”. Dalam Surat Ali Imran 185: “Setiap jiwa pasti mengalami kematian. Kalian akan disempurnakan (tuwaffawna) upah-upah (pahala) kalian pada hari kiamat.”

Kematian berarti “kesempurnaan”, karena ketika seorang meninggal, maka selesailah apa yang sudah dikerjakan saat ketika ia hidup di dunia. Untuk itu, agama mengajarkan kepada kita untuk tidak lagi mengungkit keburukan-keburukan seorang yang sudah meninggal, karena urusan orang tersebut sudah selesai di dunia. Kata Nabi, “Janganlah kalian mencela orang yang sudah meninggal” (wa lã tasubbū al-amwāt). Bahkan, sebaliknya, kita malah diperintahkan oleh Nabi untuk menyebutkan kebaikan-kebaikan orang yang sudah meninggal (wadhkurū mahāsina mawtãkum wa kuffū ‘an masāwīhim). Ada satu hadis yang diriwayatkan dalam kitab Sahih Bukhari (hadis no.1367) dan Sahih Muslim (hadis no. 949) yang menjelaskan tentang pentingnya menyebutkan kebaikan, ketimbang keburukan.

Suatu hari para sahābat melewati suatu jenazah, maka para sahābat memuji jenazah tersebut. Maka Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata, “Wajabat (wajib jenazah ini).” Kemudian mereka melewati jenazah yang lain lalu mereka menyebutkan keburukan jenazah ini. Maka Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata, “Fa wajabat (wajib juga jenazah ini).” Mendengar hal ini, maka ‘Umar berkata, “Apa yang wajib, wahai Rasūlullāh, terhadap jenazah ini?” Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata” “Jenazah yang pertama, yang kalian menyebutkan kebaikannya, maka wajib bagi dia masuk surga. Adapun jenazah kedua yang kalian menyebutkan keburukan-keburukannya maka wajib bagi jenazah ini untuk masuk neraka jahannam. Kalian adalah saksi-saksi Allāh di atas muka bumi.”

Setelah itu, semua perbuatannya akan “disempurnakan” pembayaran atau upahnya di akhirat. Jika ketika hidup, ia banyak menabur kejahatan, yang mungkin kejahatan tersebut belum mendapatkan balasannya di dunia, maka akan disempurnakan pembayarannya di akhirat. Begitu pula, ketika semasa hidup, ia banyak menabur kebaikan kepada orang lain, maka ia akan disempurnakan upah dan balasannya di akhirat. Oleh karena itu, tepat apa yang dikatakan oleh Allah dalam Alquran, ”Barangsiapa yang melakukan kejahatan, akan dibalas” (QS. Al-Nisa: 123). Begitu pula, “Yang melakukan kebaikan, baik laki-laki maupun perempuan, mereka akan mendapatkan surga dan tidak dikurangi sedikit pun” (QS al-Nisa: 124).

Oleh karena itu, hidup kita ini harus kita isi dengan banyak melakukan kebaikan, sekecil apa pun kebaikan itu. Mengucapkan hal-hal yang baik. Memikirkan konsep-konsep yang baik. Mengapa?

Pertama, karena semua pikiran, perkataan dan perbuatan yang kita lakukan itu akan terekam dalam diri kita dengan baik, dan direkam oleh tubuh kita. Tidak ada satu pun rekaman yang hilang. Dan nanti akan terbuka catatannya di depan pengadilan Allah Swt. Ada satu penelitian dalam bidang Neuroscience (sains tentang otak), bahwa semua perbuatan kita direkam oleh anggota tubuh dan tidak ada satupun rekaman yang hilang. Bahkan, seluruh benda di sekitar kita juga akan merekam apa yang kita pikirkan, ucapkan, dan lakukan. Coba kita lihat penelitian yang dilakukan oleh Masaru Emoto tentang respons air terhadap perkataan seseorang. Apa pun yang dikatakan oleh manusia direspons oleh air. Jika perkataan itu baik, maka akan direspons secara positif oleh air. Begitupun sebaliknya. Oleh karena itu, kita dianjurkan untuk banyak melakukan kebaikan, baik dengan pikiran, perkataan, maupun perbuatan, dan pada saat melakukan kebaikan selalu mengawali dengan ucapan bismillahirrahmanirahim.

Kedua, semua yang kita lakukan akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah Swt. Tidak mungkin kita berbohong dan tidak mungkin kita mengelak dan menyangkalnya. Mulut kita akan terkunci, dan yang bicara adalah anggota tubuh yang lainnya.Ada yang menarik dalam ayat Alquran, Surat Yasin 65, disebutkan bahwa Allah akan mengunci mulut-mulut mereka pada saat hari persaksian di hari kiamat, tetapi yang bersaksi dan berbicara adalah tangan dan kaki mereka. Tangan merekam apa yang dilakukan sang pemilik tangan saat hidup di dunia, begitu pula dengan kaki kita. Tangan menjadi simbol alat yang digunakan untuk melakukan suatu perbuatan—baik atau buruk, dan kaki menjadi simbol alat yang kita gunakan untuk menuju suatu tempat kita melakukan perbuatan—baik atau buruk. Anggota-anggota tubuh ini tidak akan berbohong, dan mereka tidak mungkin dapat mengelak dari apa yang telah mereka lakukan.

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca juga
Close
Back to top button