Makna Kematian (1): Pulang Kepada Allah

Salah satu istilah yang digunakan Allah dalam Alquran untuk menggambarkan kematian adalah kata raji’un, yang diambil dari ungkapan inna lillahi wa inna ilayhi raji’un. Kata raji’un adalah bentuk plural dari kata raji’ yang diambil dari kata raja’a yang berarti “pulang”. Maksudnya, pada saat seorang meninggal, maka ia pulang dan kembali kepada Allah Swt, yang digambarkan sebagai Yang maha pengasih dan penyayang.

Agar pulang itu tepat arah dan bermakna, maka ada beberapa hal yang harus dipenuhi.
Pertama, mengetahui arah pulang secara baik. Kita bisa membayangkan, bagaimana susahnya seorang yang akan pulang, tapi ia tidak tahu alamat tempat ia akan kembali, atau ia tidak mengetahui arah jalan pulang. Ketika pulang kepada Allah, maka tentu kita harus tahu arah pulang dengan tepat, agar tepat sasaran.

Allah Swt telah memberikan informasi kepada umat Islam, untuk kembali kepada-Nya, maka perlu membersihkan hati. Dalam Surat al-Syuara’ ayat 87-88, Allah menginformasikan “Pada hari kiamat, harta dan anak tidak akan memberikan manfaat sedikit pun, kecuali yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih (qalb salim).”

Apa itu qalb salim? Secara kebahasaan, artinya “hati yang selamat, bersih”. Bersih dari penyakit-penyakit hati. Dalam bahasa kenabian, “Dalam tubuh kita itu ada segumpal daging, yang jika bagus, maka seluruh anggota tubuh lainnya akan bagus. Sebaliknya, jika buruk, maka yang lainnya akan menjadi buruk. Segumpal daging itu adalah hati.”

Imam Al-Ghazali menggambarkan hati itu seperti cermin. Kita mudah melihat wajah kita dengan cermin, jika cermin itu bersih. Karena cermin dapat menerima cahaya dan memantulkan cahaya kepada yang lain. Tetapi, jika cermin penuh dengan debu, maka sulit untuk menerima cahaya apalagi memantulkan cahaya kepada yang lain. Hati yang bersih akan mudah menerima kebaikan dan memantulkan kebaikan kepada yang lain, sementara hati yang berdebu, penuh dengan penyakit hati, akan sulit menerima kebaikan dan memantulkan kebaikan kepada yang lain.

Bagaimana membuat hati menjadi  qalb salim?
Langkah pertama, mengosongkan hati dari penyakit-penyakit hati. Tahapan ini disebut takhalli. Kata Ibn al-Qayyim, ada tiga penyakit hati yang dapat menyebabkan berbagai kejahatan di muka bumi, yaitu hasad, sombong dan tamak. Jika hati sudah kosong dari penyakit-penyakit hati, maka diisi dengan sifat-sfat terpuji. Tahapan ini disebut tahalli. Apabila, hati sudah kosong dari penyakit hati, dan terisi dengan sifat-sifat terpuji, maka akan masuk pada tahapan ketiga, yaitu tajalli, yaitu orang itu dekat dengan Allah, dan tidak ada tabir antara ia dengan Allah Swt.

Kedua, setiap pulang membutuhkan bekal. Bekal terbaik dalam perspektif Alquran adalah takwa (QS. Al-Baqarah: 197). Takwa ini, jika kita lihat dari ciri-ciri yang melekat pada orangnya, adalah puncak kebaikan seorang. Dalam takwa terkumpul sifat-sifat yang baik, yang jika dipetakan, akhlak kepada Allah, manusia, dan juga lingkungan di sekitarnya.

Sebagai kesimpulan, pulang kepada Allah yang sebenarnya adalah menghadap kepada-Nya dengan hati yang bersih dan dengan bekal takwa dan budi pekerti yang agung. Ketika ditanya apa yang membuat seorang masuk ke dalam surga Allah, Nabi menjawab, “Takwa dan budi pekerti yang luhur.” Semoga***

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button