Dahsyatnya Sholawat kepada Nabi (1)

Setiap perbuatan kita berada dalam posisi antara diterima atau ditolak. Salat, puasa, zakat, dan ibadah-ibadah lainnya, belum pasti diterima dan belum tentu mendapatkan pahala dari Allah. Namun, ada satu bentuk ibadah yang pasti diterima oleh Allah, yaitu bersholawat kepada Rasulullah Saw. Mengapa? Tentu dalam ibadah ini, yang dilihat adalah bukan pada siapa yang bersholawat, tetapi siapa yang diberikan sholawat,yaitu makhluk agung yang dicintai oleh Allah. Nabi Muhammad Saw.

Beliau adalah awal penciptaan Allah. Nabi pernah ditanya oleh Jabir tentang siapa makhluk pertama yang diciptakan, Nabi menjawab, “Makhluk pertama yang diciptakan oleh Allah adalah Nur Muhammad.” Nabi juga pernah mengatakan dalam kesempatan yang lain, “Akulah nabi pertama yang diciptakan dan nabi terakhir yang diutus.” Satu isyarat yang mungkin bisa disimpulkan adalah bahwa Nabi Muhammad sudah diciptakan sebelum dunia ini diciptakan. “Seandainya tidak ada engkau yang Muhammad,” kata Allah, “tidak akan diciptakan alam semesta ini.”

Menarik diceritakan bahwa Nabi Adam ketika tinggal di surga melihat nama Nabi Muhammad selalu berdampingan dengan asma Allah tertulis meliputi Arasy, di seluruh tempat di langit, di kamar-kamar surga, di leher para bidadari, di dedaunan pepohonan Thuba, di seluruh dedaunan pohon sidratul muntaha, di seluruh sudut benteng, dan di setiap dahi antara kedua mata malaikat. Sehingga Nabi Adam berwasiat kepada Nabi Syith agar setiap berzikir menyebut nama Allah menyertakan pula nama Nabi Muhammad. 

Saat ketika Adam menikahi Hawa, Hawa tidak mau disentuh oleh Adam jika ia tidak memberikan kepadanya mahar. Adam bingung, mahar apa yang diinginkan oleh Hawa, saat ketika intan permata dan perhiasan-perhiasan dunia diberikan Adam ditolak oleh Hawa. Ternyata Hawa tidak tertarik dengan perhiasan dunia. Ada sesuatu yang spiritual yang diinginkan oleh Hawa. Mengadulah Adam kepada Allah perihal ini. Allah pun menjawab dan memberitahukan bahwa mahar yang diinginkan oleh Hawa adalah “bersholawat kepada Nabi Muhammad Saw.” Subhanallah. Belum mewujud sebagai manusia makhluk yang bernama Muhammad, tetapi penghargaan Allah kepadanya begitu besar.

Dari ini, muncullah syariat sholawat kepada Nabi Muhammad Saw. Tidak tanggung-tanggung, turun ayat tersendiri yang sangat jelas yang tegas, yang berisi perintah kepada umat Islam untuk menyenandungkan sholawat kepada Nabi Muhammad Saw. Bahkan Allah dengan tegas menyatakan bahwa Ia bersholawat kepada Nabi Muhammad Saw, begitu pula dengan para malaikat. Inna Allah wa malaikatahu yusholluna ‘ala al-nabi. Bentuk keseriusan tersebut dapat dilihat pada kalimat inna, yang disebutkan di awal pernyataan. Dalam bahasa Arab, inna adalah huruf penguat (tawkid), yang berfungsi memperkuat dan menegaskan sebuah pernyataan. Setelah itu, Allah perintahkan hambanya, khusus yang beriman, untuk bersholawat kepada nabi. Kata kerja perintah (fil al-‘amr) yang digunakan dalam ayat ini menunjukkan kepada kewajiban. Ya ayyuhan al-ladhina amanu sallu ‘alayh wa salimu taslima.

Dan kemudian sholawat menjadi sebuah syariat. Saking pentingnya syariat ini, melaksanakan salat tanpa ada sholawat kepada Nabi, maka salatnya tidak diterima; dalam salat jenazah, setelah takbir kedua, rukunnya adalah membaca sholawat kepada Nabi; ketika berdoa kepada Allah hendaknya dibuka dan ditutup dengan sholawat untuk dikabulkannya doa tersebut; ketika membaca doa qunut, disertai dengan sholawat kepada Nabi, karena ia bagian dari qunut; dan banyak ibadah lain yang perlaksanaannya perlu disertai dengan sholawat kepada Rasulullah Saw. Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ali Muhammad.

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca juga
Close
Back to top button