Filosofi Ta’ziyyah

Ta’ziyah adalah kata populer dalam masyarakat Muslim, dan merupakan praktik sosial-keagamaan yang dilakukan oleh masyarakat Muslim untuk menghadiri kematian saudaranya. Dalam masyarakat Muslim, secara teologis-spiritual, diyakini ta’ziyyah memberikan manfaat ukhrawi yang sangat kuat, yaitu “mereka yang berta’ziyyah akan dipakaikan pakaian kemuliaan pada hari kiamat” dan “mendapatkan pahala sama dengan pahala yang diterima orang yang mendapatkan musibah”. Secara sosial, ta’ziyyah dapat memperkuat ikatan solidaritas di kalangan muslim, karena umat Islam itu  bersaudara dan digambarkan sebagai “satu tubuh”, yang jika salah satu anggota badan yang lain sakit, maka akan mempengaruhi anggota badan yang lain. Jika seorang Muslim tertimpa musibah, maka rasa sakit itu juga dirasakan oleh saudaranya yang lain yang seagama. Oleh karena itu, ta’ziyyah mempunyai dimensi sosial yang sangat kuat.

Dalam masyarakat kita, durasi waktu ta’ziyyah itu berbeda-beda. Ada yang melaksanakannya selama 3 hari, adapula yang menjalankannya selama 7 hari. Masing-masing ada dasar keagamaan yang kuat dari berbagai mazhab. Mereka yang mengatakan tiga hari ini ada dasarnya dari pandangan keagamaan. Di kalangan ulama Syafi’i, batas waktu ta’ziyah adalah 3 hari, seperti disebutkan dalam kitab al-Majmu’ Sharh al-Muhadhdhab, yang ditulis oleh Imam al-Nawawi. Bahkan, dalam mazhab Syafi’i, ada pandangan bahwa ta’ziyah tidak dibatasi, seperti pandangan al-Juwayni.

Sebagai sebuah syariat, apa sebenarnya makna ta’ziyyah itu? Kata ini sebenarnya merupakan serapan dari bahasa Arab, yang berarti “menguatkan”. Dalam pengertian istilah, seperti dikatakan oleh ulama Hanafi, “menenangkan keluarga duka untuk bersabar dan sekaligus mendoakan mereka” (tasbir ahl a-mayyit wa targibuhum fi al-sabr wa al-du’a’ lahum bihi). Dalam makna sosial-keagamaan, ta’ziyyah adalah konsep sosial-keagamaan yang didukung oleh tiga sub-konsep, yang jika salah satunya tidak ada, maka konsep ini akan mengalami ketimpangan.

Pertama, tasliyyah ahl a-masa’ib (menghibur keluarga yang terkena musibah). Ada banyak cara yang dilakukan untuk menghibur keluarga duka.

Pertama, dengan menghadiri prosesi mayit, dari pemandian, pengkafanan, penyolatan dan penguburan. Salah satu bentuk apresiasi Nabi terhadap mereka yang menghadiri proses jenazah, adalah mereka mendapatkan pahala seperti satu atau dua gunung yang besar. Istilah seperti ini sebenarnya sebuah kiasan, untuk mengilustrasikan pahala yang besar terhadap amalan ini. Sehingga umat Islam dihimbau untuk melakukannya demi menghibur saudaranya yang berduka. Ini menggambarkan dimensi sosial dari ajaran Islam.

Kedua, meringankan beban mereka, dengan membawa makanan, minuman, atau uang untuk digunakan menjamu tamu-tamu yang hadir. Dalam tradisi masyarakat Muslim Indonesia, ada satu kebiasaan jika ada saudaranya meninggal, maka mereka dengan sukarela memberikan bantuan untuk meringankan, baik dalam bentuk makanan maupun uang. Praktik ini sebenarnya membantah asumsi sebagian umat Islam yang melarang keluarga duka untuk menjamu para tamu yang datang ta’ziyyah karena dianggap memberatkan keluarga duka, padahal dalam realitasnya, banyak jamuan yang diberikan kepada para tamu berasal dari bantuan tetangga atau saudara-saudaranya yang muslim.  

Kedua, al-dua’ li al-mayyit (mendoakan mayit). Yang dibutuhkan oleh orang yang meninggal adalah doa dari orang-orang yang masih hidup. Sedekah dari orang yang masih hidup, yang dihadiahkan kepada mereka. Mayoritas para ulama mengatakan bahwa bacaan-bacaan tasbih, tahlil, tahmid, dan Alquran, yang dibaca oleh orang yang masih hidup, dan dihadiahkan kepada yang sudah meninggal akan sampai kepadanya. Ibnu Taymiyyah dalam Majmu’ Fatawa-nya, ketika ditanya tentang sampai tidaknya bacaan tasbih, tahlil dan tahmid, serta Alquran, yang dibacakan oleh orang yang masih hidup, dan dihadiahkan kepada orang yang sudah meninggal, ia menjawab bahwa amalan tersebut sampai kepada orang yang sudah meninggal.

Ketiga, tadhkirah (nasehat tentang kematian). Nasehat bahwa umur kita singkat dan bahwa manusia pada dasarnya sedang berada dalam antrian menunggu panggilan Allah Swt. Prediksi Nabi terhadap umur manusia adalah berkisar antara 60 dan 70 tahun, dan jarang ada yang melampaui umur tersebut. Untuk itu, persiapan diperlukan semenjak dini, dengan melakukan berbagai kebajikan dan amal saleh serta berakhlak yang baik. Dalam bahasa kenabian, yang memasukkan seorang ke dalam surga Allah adalah takwa dan budi pekerti yang luhur***

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca juga
Close
Back to top button