Etika terhadap Ulama

Saat ini kita sering melihat kurangnya penghargaan dan penghormatan masyarakat Muslim terhadap para ulama. Bahkan, mereka menganggap ulama sebagai orang yang tidak tahu realitas sosial. Padahal ulama ini adalah mercusuar umat dalam kehidupan. Jika ulama tidak ada, bagaimana kita dapat mengetahui persoalan-persoalan hukum syariah. Bahkan, diangkatnya ilmu syariah itu melalui matinya para ulama.

Siapakah para ulama? Ulama adalah orang yang menguasai ilmu syariah (Alquran, Sunnah, perkataan Sahabat, pandangan para ulama), mengamalkannya, dan menumbuhkan rasa takut kepada Allah. Rabi’ bin Anas menyatakan “Barangsiapa tidak takut kepada Allah bukanlah seorang ulama.” Dalam firman Allah juga dengan tegas dijelaskan:

 إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah dari hamba-hamba-Nya adalah para ulama. Sesungguhnya Allah maha perkasa lagi maha pengampun.” (QS. Fathir: 28)

Jadi, kesimpulannya, orang-orang yang pantas menjadi rujukan dalam masalah ini adalah yang mempunyai ilmu tentang kitab Allah, Sunnah Rasul-Nya, dan perkataan Sahabat. Bukan cuma sekedar pemikir harakah, orator, mubaligh, penceramah, aktivis gerakan dakwah, atau qari. Oleh karena itu, kita diperintahkan untuk bertanya kepada ulama tentang hal-hal yang terkait dengan agama kita. Dalam Alquran Allah memerintahkan kita:

فاسألوا أهل الذكر إن كنتم لا تعلمون
“Bertanyalah kepada ulama jika kalian tidak mengetahuinya”

Dalam kisah diceritakan ada seorang yang membunuh 99 jiwa, lalu ingin bertaubat disebut di sana: Maka ia ditunjukkan kepada seorang ahli ibadah, lalu ia mendatanginya dan menyatakan bahwa telah membunuh 99 jiwa, bisakah bertaubat? Jawabnya: “Tidak.” Maka dibunuhnya sekalian sehingga genap menjadi 100. Kemudian ia mencari orang yang paling alim dimuka bumi ini, maka ditunjukkanlah dia kepada seorang ulama lalu ia katakan kepadanya bahwa telah membunuh 100 jiwa apakah bisa bertaubat? Jawabnya: “Ya, apa yang menghalangi antara kamu dengan taubat?” (HR. Muslim dari Abu Sa’id Al-Khudri)

Bagaimana adab kita terhadap ulama?

Pertama, موالاة العلماء ومحبتهم (mencintai ulama), tidak boleh kita menyakiti dan menghinanya. Dalam sebuah hadis disebutkan:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : إِنَّ اللهَ تَعَالَى قَالَ : مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ  _ رواه البخاري

Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah berfirman, ‘Barangsiapa memusuhi wali-Ku maka aku umumkan perang kepada mereka.’” Yang dimaksud dengan wali Allah di sini adalah ulama yang selalu taat dan ikhlas dalam beribadah. Imam Syafii menjelaskan, jika para ulama itu bukanlah wali-wali Allah, maka tidak ada wali Allah di muka bumi ini.

Seorang tabi’in, yang bernama Ikrimah, mengatakan, “Janganlah kamu menyakiti seorang ulama karena barangsiapa menyakitinya, berarti dia telah menyakiti Rasulullah. Sebab, kedudukan ulama se bagai pewaris ilmu para nabi untuk disampaikan kepada umat hingga hari kiamat nanti. Etika yang baik dalam mendebat ulama adalah mendebat dengan retorika yang diajarkan Allah.”

Kedua, احترام العلماء وتقديرهم (menghormati dan menghargai ulama). Salah satu pengagungan terhadap Allah adalah dengan mengagungkan para ulama). Suatu hari ketika sedang mengendarai seekor hewan, Zaid bin Thabit kesulitan mengendalikan hewan itu. Ibnu Abbas yang kebetulan melintas di depannya, membantu Zaid mengendalikan hewannya. Lalu Zaid berkata, “Biarkan saja hewan itu wahai anak paman Rasulullah,” katanya. Ibnu Abbas menjawab, “Beginilah kami diperintahkan oleh Rasulullah menghormati ulama kami.”

Beberapa sikap yang menunjukkan bahwa kita menghormati mereka adalah tidak berjalan di depan mereka, tidak duduk di tempat yang diduduki mereka, tidak memulai pembicaraan kecuali sudah diizinkan, dan memandang penuh perhatian kepadanya saat diberi arahan (taushiyah).

Dalam kitab ta’lim muta’allim dicantumkan secara lebih luas bentuk-bentuk penghormatan kita kepada ulama, di antaranya tidak terlalu banyak bicara di hadapan guru, tidak menanyainya dalam keadaan yang lelah atau bosan, memerhatikan waktu bertanya, tidak menyakiti hatinya karena itu dapat menyebabkan ilmu tidak berkah, dan lain sebagainya***

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button