Takhrij al-Furu’ ‘ala al-Usul: Studi Analitis Historis

This paper deals with one of the schools in the principles of Islamic jurisprudence (usul al-fiqh); that is, takhrij al-furu’ ‘ala al-usul, which seems to be little paid intensive attention, since its existence is known late if compared to other previous schools such as the Mutakallimun (Shafi’iyyah), the Hanafiyyah (tariqah al-fuqaha’), the convergence (tariqah al-jam’), and the Shatibiyyah (tariqah al-maqasid). This paper concludes that the goal of the method of takhrij al-furu’ ‘ala al-usul is to explain the relationship between legal theoretical principles (usul) and legal practical issues (furu’). Among the books which tend to employ this method in writing are Dabbusi’s Ta’sis al-Nazar, Zanjani’s Takhrij al-Furu’ ‘ala al-Usul, Isnawi’s al-Tamhid fi Takhrij al-Furu’ ‘ala al-Usul written by Tilimsani’s Miftah al-Wusul ila Bina’ al-Furu’ ‘ala al-Usul, and Ibn al-Lahham’s al-Qawa’id wa al-Fawa’id al-Usuliyyah.    

Kata kunci: takhrij, furu’, usul, qawa’id

Pendahuluan
Usul al-fiqh sebagai sebuah disiplin keilmuan dalam Islam ternyata mengalami pergerakan yang begitu dinamis, tidak hanya terkait dengan tema-tema yang dikembangkannya, tetapi juga dengan model dan corak metodologis pengembangan tema yang begitu berwarna. Semenjak periode awal pembentukan Islam, benih-benih usul al-fiqh sudah ada, yang kemudian memuncak pada kemunculan perumusannya secara sistematis oleh al-Shafi‘i dalam kitabnya al-Risalah.[1] Di sini, sebenarnya Al-Shafi‘i telah melakukan sintesa antara tradisionalisme dan rasionalisme, yang kemudian dikembangkan secara matang oleh Ibn Surayj, seorang ahli fikih Shafi‘i di Baghdad. Setelah itu, usul al-fiqh mengambil banyak corak yang beragam.

Dalam perkembangannya, kecenderungan dalam pengembangan tema-tema usul al-fiqh bisa dibedakan ke lima kelompok: Mutakallimin (Shafi‘iyyah), Fuqaha’ (Hanafiyyah), Konvergensi, Shatibiyyah, dan Takhrij al-Furu‘ ‘ala al- Usul. Beberapa kitab usul al-fiqh telah membuat secara garis besar lima aliran ini, seperti kitab al-Kafi al-Wafi fi Usul al-Fiqh dan Dirasah Tarikhiyyah li al-Fiqh wa Usulihi wa al-Ittijahat allati Zahara fihima, yang keduanya ditulis oleh Mustafa Sa‘id al-Khin.[2] Buku lainnya yang juga membahas tentang ini adalah Murtaqa al-Usul ila Tarikh ‘Ilm al- Usul karya Musa b. Muhammad b. Yahya al-Qarni[3] dan Usul al-Fiqh: Tarikhuhu wa Rijaluhu karya Sha‘ban Muhammad Isma‘il.[4]

Tulisan ini memfokuskan pada sebuah “aliran” atau kecenderungan metodologis yang belum banyak disentuh dalam tradisi pemikiran usul al-fiqh, yaitu Takhrij al-Furu‘ ‘ala al-Usul. Pembahasan dan kajian terhadap masalah ini menjadi begitu penting lantaran aliran ini merupakan alternatif aliran yang menjembatani antara tradisi mutakallimin dan fuqaha’. Perputaran aliran dalam usul al-fiqh tidak berada dalam konsep shifting paradigm, seperti yang dikemukakan Khun.[5] Namun, ia merupakan sebuah kreasi yang keberadaannya saling melengkapi sebagai bentuk dinamika pergulatan pemikiran dalam bidang ilmu ini.

Takhrij al-Furu’ ‘ala al’ al-Usul : Sebuah Kerangka Epistemologis
Dalam terminologi fikih dan usul al-fiqh, istilah takhrij, yang merupakan bentuk masdar (kata benda verbal) dari kata kharraja, mengandung pengertian “membuat sesuatu itu keluar”. Dalam pengertian ulama usul al-fiqh, kata takhrij mengandung makna “menjelaskan tempat keluarnya sesuatu; atau  menampakkan sesuatu dari sesuatu yang lain; “ (bayan makhraj al-shay’, wa ibraz al-shay’ min shay’ akhar, wa tafri’uhu minhu mu’taliyan ‘alayh).[6] Dalam pengertian terminologisnya, kata ini tidak hanya digunakan dalam satu pengertian saja, namun mencakup berbagai makna. Al-Bahsin dengan baik menguraikan beberapa pengertian tersebut dalam karyanya sebagai berikut:[7]

  1. Mengetahui prinsip-prinsip dasar dan kaidah-kaidah para imam yang dijadikan dasar untuk membangun hukum-hukum yang mereka ketahui dalam masalah-masalah fikih yang diriwayatkan darinya. Hal itu dilakukan dengan melacak masalah-masalah fikih cabang dan menelitinya secara komprehensif sehingga si mukharrij menjadi lebih puas dan nyaman dengan hasil tersebut.
  2. Mengembalikan perbedaan-perbedaan fikih kepada kaidah-kaidah usul.
  3. Istinbat muqayyad, yaitu menjelaskan pendapat seorang imam dalam masalah-masalah fikih partikular yang tidak ada ketentuan nass-nya melalui penganalogian masalah-masalah tersebut dengan masalah-masalah yang diriwayatkan para imam, atau pencakupannya di dalam kaidah-kaidahnya.
  4. Ta’lil, yaitu mengarahkan pandangan-pandangan yang diriwayatkan para imam dan menjelaskan sumber-sumber pengambilannya melalui pencarian ‘illah (alasan hukum) dan penyandaran hukum kepadanya.

Dari berbagai pengertian yang saling berdekatan maknanya itu, muncul pengertian takhrij al-furu’ ‘ala al-usul yang diberikan para ulama usul al-fiqh, seperti Al-Zanjani, Al-Isnawi, dan lainnya. Di antara berbagai pengertian tersebut, Al-Bahsin mengkombinasikannya dalam pengertian sebagai berikut:

“Ilmu yang membahas ‘illah (alasan hukum; ratio legis) dan sumber-sumber pengambilan hukum syara’ untuk mengembalikan furu’ kepada sumber-sumber tersebut karena adanya sebab-sebab perbedaan pendapat, atau menjelaskan hukum terhadap masalah yang belum ada ketentuan nass-nya dari para imam dengan memasukkannya ke dalam kaidah-kaidah dan prinsip-prinsip dasarnya.”[8]

Dari pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa yang menjadi objek kajian atau dasar epistemologis dari takhrij al-furu’ ‘ala al-usul adalah dua hal, yaitu prinsip-prinsip hukum teoritis (usul) yang telah dirumuskan oleh para imam dan masalah-masalah hukum praktis (furu’) yang dicoba untuk dinisbatkan atau disandarkan kepadanya. Dalam proses penisbatan ini, keterikatan terhadap mazhab tertentu menjadi begitu kuat, sehingga kecenderungan untuk memperkuat atau membela mazhabnya menjadi begitu dominan.

Takhrij al-Furu’ ‘ala al-Usul : Kemunculan dan Perkembangan
Istilah takhrij dalam makna-makna sebelumnnya pada dasarnya sudah muncul pada saat pertumbuhan mazhab-mazhab fikih, dan juga ketika ittiba’ dan taqlid menjadi fenomena yang muncul saat itu. Namun, istilah takhrij al-furu’ ‘ala al-usul dalam pengertian metode pertama kali dikembangkan oleh Al-Dabbusi. Metode yang dikembangkan tersebut terkait pada pemaparan perbedaan para ulama fikih tentang berbagai isu tertentu disertai dengan pemaparan sumber peng­-istinbat-an hukum mereka. Jadi, takhrij al-furu’ ‘ala al-usul terkait dengan ikhtilaf al-fuqaha’, seperti yang dapat ditemukan pada kitab yang dikarang oleh Al-Zanjani dan Al-Isnawi.

Metode ini diperkirakan muncul pertama kali pada pertengahan abad ke-4 hijriyah, atau pada fase kelima dalam sejarah hukum Islam. Para ulama dalam fase ini dan setelahnya mengumpulkan berbagai athar, men-tarjih riwayat-riwayat, mengeluarkan berbagai ‘illah  hukum, dan mengeluarkan prinsip-prinsip hukum teoritis (usul) dan kaidah-kaidah hukum (qawa’id) dari para imam yang menjadi sandaran fatwa mereka dari berbagai macam masalah fikih.[9] Pada masa ini dapat dikatakan bahwa ada tiga aktivitas yang dilakukan, yaitu ta’lil al-ahkam (pencarian dasar alasan hukum), al-tarjih (pencarian riwayat yang lebih kuat) dan al-intisar li al-madhhab (pembelaan terhadap mazhab). Tiga aktivitas ini diperkuat pertumbuhannya oleh berbagai diskusi dan perdebatan yang terjadi di antara mereka. Inilah yang mendorong banyak ulama untuk melakukan kajian dan penelitian terhadap berbagai ‘illah dan dalil yang mendorong para imam mengeluarkan pendapat-pendapat hukumnya tentang sekumpulan masalah. Ini pada gilirannya menyebabkan terjadinya perbedaan pendapat dalam hukum-hukum fikih.

Di antara ulama yang menonjol dalam bidang ikhtilaf al-fuqaha’ adalah Abu Zayd ‘Abd Allah b. ‘Umar al-Dabbusi (w. 430 H) dalam kitab al-Ta’liqah, Ibn al-Qussar al-Maliki (w. 398 H) dalam ‘Uyun al-Adillah, Abu Hamid al-Ghazzali (w. 505 H) dalam al-Ma’akhidh. Ibn al-Sa’ati (w. 694 H) telah mengumpulkan dalam kitab usul al-fiqh-nya semua dasar bangunan fikih khilafiyyat. Namun, di antara berbagai kitab yang mengulas persoalan tersebut, kitab Ta’sis al-Naza’ir karya Abu al-Layth al-Samarqandi (w. 373 H) mungkin merupakan kitab paling awal yang membahas persoalan ini. Kitab ini merupakan contoh yang paling baik untuk ilmu takhrij al-furu’ ‘ala al-usul, namun ia memperluas ruang lingkup usul sehingga mencakup kaidah-kaidah dan dawabit fiqhiyyah, sedangkan kaidah-kaidah usul al-fiqh yang dicakupnya hanya sedikit. Yang mendasari penulisan kitab ini, menurut Migha,[10] adalah konteks pada masa itu yang pesat dengan perkembangan semua ilmu pengetahuan riwayat dan rasio. Namun, fanatisme mazhab dan semangat taklid merasuki para ulama dan ahli fikih. Selain itu, gerakan meringkas karya fikih dan usul al-fiqh menjamur melalui cara pemisahannya dari berbagai sanad dan dalil.

Setelah itu, baru muncul kitab yang judulnya menyerupai kitab Abu al-Layth, yaitu Ta’sis al-Nazar karya Al-Dabbusi, yang masanya dekat dengan Abu al-Layth. Menurut Al-Bahsin,[11] kitab itu sendiri sebenarnya seperti kitab Abu al-Layth, namun ada penambahan prinsip hukum teoritis (asl) pada akhir kitab yang mencakup sebagian kecil prinsip hukum (usul), disertai perbedaan-perbedaan dalam formulasi dan sebagian prinsip hukum praktis (furu’). Setelah dua abad baru muncul kitab Takhrij al-Furu’ ‘ala al-Usul karya Al-Zanjani, yang merupakan kitab paling matang dalam bidang ini.

Kemudian, pada abad ke-8 hijriyah, muncul sejumlah ulama yang menyusun kitab dalam corak ini, seperti Al-Isnawi dengan kitabnya al-Tamhid fi Takhrij al-Furu’ ‘ala’ al-Usul. Akan tetapi, ia hanya membatasi pembicaraan pada perbedaan-perbedaan pendapat dalam mazhab Shafi’i, dan sedikit sekali membahas perbedaan-perbedaan dalam mazhab lainnya. Al-Isnawi juga mempunyai buku lain yang disusun dalam corak ini, yaitu al-Kawkab al-Durriyy fima Yatakharraj ‘ala al-Usul al-Nahwiyyah min al-Furu’al-Fiqhiyyah. Pada masa ini, Ibn al-Lahham al-Hanbali (w. 803 H) juga menulis kitab dalam corak ini, yaitu al-Qawa’id wa al-Fawa’id al-Usuliyyah wa ma Yata’allaq biha min al-Furu’ al-Fiqhiyyah. Namun, sebagian besar prinsip-prinsip hukum praktis yang dibangunnya didasarkan pada fikih Ahmad b. Hanbal dan para pengikutnya. Kemudian terdapat kitab al-Wusul ila Qawa’id al-Usul karya al-Timurtashi (w. 1004 H) dari kalangan mazhab Hanafi, yang menulis dengan corak al-Isnawi.

Di era sekarang ini, beberapa kitab yang mengikuti kecenderungan ini, seperti dikatakan Al-Bahsin,[12] adalah Athar al-Ikhtilaf fi al-Qawa’id al-Usuliyyah fi Ikhtilaf al-Fuqaha’ karya Dr. Mustafa Sa’id al-Khin dan Athar al-Adillah al-Mukhtalaf fiha fi al-Fiqh al-Islami karya Dr. Mustafa Dib al-Bigha. Kedua kitab ini adalah disertasi doktoral di Universitas Islam Al-Azhar, Mesir.

Kitab Bercorak Takhrij al-Furu’ ‘ala al-Usul : Sebuah Deskripsi
Karya-karya usul al-fiqh yang ditulis dengan kecenderungan ini berjumlah 6 buah. Masing-masing kitab tersebut ditulis pada era yang berbeda, yaitu dalam periode enam abad oleh para fuqaha’ dengan afiliasi-afiliasi mazhab yang berbeda. Masing-masing kitab usul al-fiqh tersebut ditulis dengan berbagai motif dan tujuan. Dan, masing-masing penulis mengekspresikan tujuan-tujuan tersebut dalam ungkapan-ungkapan yang berbeda. Ahmad meringkas tujuan-tujuan tersebut ke dalam tiga kategori:[13]

  1. Memperlihatkan bagaimana perbedaan hukum tentang masalah-masalah hukum praktis dapat diterapkan dalam perbedaan tentang prinsip-prinsip hukum teoritis. Inilah tujuan yang dinyatakan oleh Al-Dabbusi dalam kitabnya Ta’sis al-Nazar.
  2. Menjelaskan hubungan antara prinsip-prinsip hukum teoritis (usul) yang telah ada dengan putusan-putusan hukum praktis (furu’). Inilah yang dinyatakan oleh Al-Zanjani, Al-Tilimsani, dan Ibn al-Lahham.
  3. Memperlihatkan bagaimana prinsip-prinsip hermeneutika hukum dan prinsip-prinsip penalaran hukum lainnya (usul) dapat diterapkan pada persoalan-persoalan kehidupan nyata yang aktual dan juga masalah-masalah hipotetis lainnya (furu’). Inilah suatu upaya yang ingin dicapai oleh al-Isnawi dalam kitabnya, dan juga diikuti oleh al-Timurtashi.

Bahasan berikut akan mengulas kitab-kitab yang memiliki kecenderungan penulisan berdasarkan metode takhrij al-furu’ ‘ala al-usul ini.

1.  Ta’sis al-Nazar [14]
Kitab ini ditulis oleh seorang fakih Hanafi, Abu Zayd al-Dabbusi (w. 430 H). Sekilas kitab ini diyakini sebagai kitab yang memuat perbedaan para fuqaha’ (ikhtilaf al-fuqaha’). Namun ketika ditelaah lebih mendalam, pengarang kitab tersebut hanya membatasi pada penjelasan tentang sebab-sebab perbedaan dalam dawabit fiqhiyyah, sebagian qawa’id fiqhiyyah dan qawa’id usuliyyah. Namun, dalam kitabnya penulis tidak menggunakan kata-kata dawabit dan qawa’id, tetapi kata asl, yang dimaknai seperti kata-kata di atas. Yang diinginkan oleh Al-Dabbusi dalam penulisan kitabnya ini adalah menjelaskan perbedaan pendapat dalam prinsip-prinsip hukum teoritis (al-dawabit wa al-qawa’id al-fiqhiyyah wa al-usuliyyah) terhadap perbedaan fuqaha’ dalam perumusan masalah-masalah hukum teoritis khususnya, dan perbedaan fikih pada umumnya.

Dalam catatan biografis, Al-Dabbusi ini merupakan seorang ahli hukum yang paling terkenal di Bukhara dan Samarqand pada masanya. Beberapa buku biografi membuat mata rantai gurunya yang menghubungkan Al-Dabbusi hingga kepada pendiri aliran Hanafi, yaitu Abu Hanifah.[15]

Dabbusi (w. 430 H/ 1036 M)) 4  Abu Ja’far al-Usrushani 4  Abu Bakr Muhammad b. al-Fadl al-Kamari (w. 381 H/ 992 M) 4  ‘Abd Allah b. Muhammad b. Ya’qub al-Subadhmuni (w. 340 H/ 952 M) 4  Abu Hafs al-Saghir, Muhammad b. Ahmad Ibn Hafs (w. 264 H/ 880 M) 4  Ahmad Ibn Hafs al-Kabir (w. 217 H/ 830 M) 4  Muhammad b. al-Hasan al-Shaybani (w. 189 H/805 M) 4  Abu Hanifah (w. 150 H/767 M)

Dari segi isi, kitab ini terdiri dari 86 kaidah yang diperselisihkan, yang dimasukkan ke dalam delapan bagian. Lima di antaranya merupakan perbedaan pendapat di antara ulama-ulama mazhab, yang mencakup 41 kaidah. Bagian lainnya merupakan perbedaan pendapat antara ulama Hanafiyyah dan ulama lainnya. Satu bagian yang lain mencakup prinsip-prinsip hukum teoritis yang menjadi dasar bagi masalah-masalah yang diperselisihkan. Untuk lebih jelasnya, lihat bagan berikut:

Bagan 1. Muatan Kitab Ta’sis al-Nazar karya Al-Dabbusi

No

Isi Kitab

Jumlah Kaidah

1.

Perbedaan pendapat antara Abu Hanifah dan dua koleganya Muhammad b. al-Hasan al-Shaybani dan Abu Yusuf b. Ibrahi al-Ansari

22

2.

Perbedaan pendapat antara Abu Hanifah dan Abu Yusuf dan antara Muhammad

4

3.

Perbedaan pendapat antara Abu Hanifah dan Muhammad dan antara Abu Yusuf

3

4.

Perbedaan pendapat antara Abu Yusuf dan Muhammad

4

5.

Perbedaan pendapat antara tiga fuqaha’ Hanafiyyah: Abu Hanifah, Muhammad dan Abu Yusuf, dan antara Zufar.

8

6.

Perbedaan pendapat antara tiga fuqaha’ Hanafiyyah dan antara Imam Malik

2

7.

Perbedaan pendapat antara fuqaha’ Hanafiyyah dan antara Ibn Abi Layla

5

8.

Perbedaan pendapat antara ulama Hanafiyyah dan Imam al-Shafi’i

26

9.

Kaidah yang mencakup prinsip-prinsip hukum teoritis yang menjadi dasar bagi masalah-masalah yang diperselisihkan

12

Masalah-masalah hukum praktis yang disebutkan dalam kitab ini tidak di-takhrij dari penulis atau fuqaha’ pada masanya, namun dinukil dari para imam. Oleh karena itu, istilah takhrij  di sini adalah menjelaskan sebab-sebab perbedaan pendapat dan pencarian illat hukum (ta’lil al-ahkam) yang dinukil dari para imam.

2. Takhrij al-Furu’ ‘ala al-Usul [16]
Kitab ini ditulis oleh Shihab al-Din Ahmad b. Muhammad al-Zanjani (w. 656 H). Al-Zanjani hidup pada masa-masa akhir dari fase kelima pembentukan hukum Islam (dari abad ke-4 H hingga jatuhnya Baghdad pada paruh kedua abad ke-7 H tahun 656 di tangan bangsa Tatar). Fase ini juga secara umum dicirikan sebagai fase pertumbuhan taklid, yaitu penerimaan terhadap satu imam tertentu dan anggapan bahwa perkataan-perkataan imam laksana teks-teks keagamaan. Al-Zanjani termasuk ulama Shafi’i yang mencoba membuka jalan ijtihad untuk para fuqaha’, dan ia termasuk seorang mujtahid takhriji. Bahkan, ia dianggap sebagai orang pertama yang memunculkan nama ini.  

Kitab ini dianggap sebagai kitab yang mendalam dalam kaitan dengan tema-tema yang dikembangkannya. Ia ditulis untuk menjelaskan sumber-sumber perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan para imam, yang perbedaan tersebut berasal dari perbedaan dalam prinsip-prinsip hukum teoritis (usul) yang menjadi dasar bagi bangunan-bangunan hukum. Metode Al-Zanjani dalam penulisan kitabnya adalah menyebutkan permasalahan-permasalahan usul dan fikih, pandangan-pandangan para ulama yang berbeda dalam masalah tersebut, dan menjelaskan perbedaan fuqaha’ tersebut. Namun, dalam pemaparan pandangan tentang kaidah yang ia sebutkan, ia tidak memperluas cara-cara pengambilan dalilnya, namun hanya menyebutkan yang paling penting saja, berdasarkan apa yang tampak kepadanya.

Penyusunan masalah dalam kitab ini adalah berdasarkan bahasan-bahasan fikih, yang dimulai dari bahasan taharah (bersuci) dan diakhiri dengan bahasan kitabah (budak yang dijanjikan kebebasannya). Dan dari segi isi, kitab ini terdiri dari 31 tema dan 95 prinsip hukum teoritis dan permasalahannya. Dari setiap prinsip hukum dan permasalahan ditarik sejumlah prinsip hukum praktis yang diperselisihkan karena perbedaan dalam prinsip hukum teoritisnya. Untuk lebih jelasnya, lihat bagan berikut:

Bagan 2: Muatan Kitab Takhrij al-Furu’ ‘ala al-Usul karya Al-Zanjani

No

Bahasan

Jumlah Kaidah

No

Bahasan

Jumlah Kaidah

1

Taharah dan tayammum

10

17

Nikah

7

2

Salat

7

18

Masalah mahar

1

3

Zakat

2

19

Masalah ikhtilaf al-darayn

1

4

Puasa

6

20

Masalah talak

6

5

Haji

1

21

Masalah rujuk

1

6

Jual beli

3

22

Masalah nafkah

2

7

Masalah riba

11

23

Masalah jirah

10

8

Masalah gadai

1

24

Hudud dan masalah-masalah zina

4

9

Masalah wakalah

1

25

Masalah pencurian

2

10

Masalah iqrar

1

26

Sayr

3

11

Masalah rampasan (ghasab)

3

27

Masalah sumpah

2

12

Masalah ijarah

1

28

Masalah peradilan

1

13

Masalah shuf’ah

1

29

Masalah persaksian

2

14

Masalah ma’dhun

1

30

Masalah budak

1

15

Masalah nazar dan ahliyyah

1

31

Masalah budak yang dijanjikan kebebasannya

1

16

Kaidah umum

 

 

 

 

3. Miftah al-Wusul ila Bina’ al-Furu’ ‘ala al-Usul [17]
Kitab ini ditulis oleh Abu ‘Abd Allah Muhammad b. Ahmad al-Maliki al-Sharif al-Tilimsani (w. 771 H). Dalam penyusunan kitab dan pemaparan tema-temanya, Al-Tilimsani mengikuti disain yang unik dan metode khusus yang tidak populer di kalangan mayoritas usuliyyin. Dalam penyusunan bahasan, Al-Tilimsani mengikuti metode ulama Maghrib, atau sebagian dari mereka. Kitab ini banyak mencakup tema-tema usul, namun tidak termasuk ke dalam kitab takhrij berdasarkan kaidah-kaidah yang umum. Ia adalah kitab usul al-fiqh yang ringkas dan jelas ungkapannya lantaran Al-Tilimsani menghubungkan penetapan masalah-masalah usul dengan masalah-masalah hukum praktis yang diperselisihkan berdasarkan pada perbedaan dalam kaidah-kaidah usul. Ia banyak menyebutkan banyak masalah-masalah hukum praktis di banyak tempat.

Dalam metodenya, Al-Tilimsani menjauhi penggunaan metode atau gaya bahasa debat (al-uslub al-jadali) dan argumentasi-argumentasi logika. Ia tidak memberikan banyak definisi, namun cukup hanya memaparkan satu definisi yang dapat menjelaskan maksudnya, tanpa mendiskusikannya. Terkadang ia berbicara tentang satu tema tanpa memberikan definisi atau penjelasan sedikit pun terhadapnya, seperti dalam tema istishab, ‘illah, istidlal, ijma’, dan lainnya. Terkadang ia juga tidak menyebutkan sumber perselisihan tersebut seperti dalam isu qawl al-sahabi (perkataan Sahabat Nabi) dan sebagian besar pembahasan lafaz. Dalam pencarian dalil terhadap berbagai pendapat, Al-Tilimsani sedikit sekali melakukannya. Jika pun ada, ia melakukannya dengan ringkas, tanpa memberikan rincian atau bantahan, atau melakukan perluasan.

4. Al-Tamhid fi Takhrij al-Furu’ ‘ala al-Usul[18]
Kitab ini ditulis oleh Jamal al-Din Abu Muhammad ‘Abd al-Rahim b. al-Hasan al-Isnawi (w. 772 H), seorang ahli fikih Shafi’i. Terkait dengan karakteristik kitabnya, Al-Isnawi, setelah menulis pendahuluan terhadap kitabnya, menyebutkan dua bab: pertama tentang hukum syariat (19 masalah), dan kedua tentang fondasi hukum syariat (6 masalah). Setelah itu, kitab tersebut terdiri dari 7 bahasan: Alquran (125 masalah), Sunnah (7 masalah), Ijma’ (4 masalah), Qiyas (9 masalah), dalil-dalil yang diperselisihkan (3 masalah), ta’adul dan tarajih (6 masalah), dan ijtihad dan ifta’ (9 masalah). Total bahasan mengandung 188 masalah.

Metode penulisannya mengikuti penulisan kitab-kitab usul, bukan berdasarkan bahasan-bahasan fikih, seperti yang dilakukan Al-Zanjani. Pertama kali al-Isnawi memulai dengan bahasan tentang hukum, lalu dalil dan hal-hal yang terkait dengannya. Kemudian, ia mengulas tentang ta’arud dan tarajih, lalu tentang ijtihad dan ifta’. Setelah itu, ia merinci masalah-masalah fikih praktis, namun tidak menyusunnya dalam urutan bab-bab fikih. Ia membahas induk-induk persoalan usul, namun tidak mencakup semuanya.

5.  Al-Fawa’id wa al-Qawa’id al-Usuliyyah
Kitab ini disusun oleh Abu al-Hasan ‘Ala’ al-Din b. Muhammad b. ‘Abbas al-Ba’li, yang dikenal sebagai Ibn al-Lahham. Kitab ini merupakan salah satu kitab yang terpenting dalam bidang ilmu ini secara umum, dan khususnya dalam mazhab Hanbali, karena perhatiannya yang sangat besar dalam masalah-masalah fikih praktis mazhab Hanbali. Kitab ini memiliki keunikan karena ia mencampur kaidah-kaidah usul dengan persoalan-persoalan hukum praktis (furu’). Ia adalah kitab yang banyak memberikan perhatian pada aspek praktis. Dan ini dinyatakan sendiri oleh Ibn al-Lahham dalam pendahuluan kitabnya, “Saya ber-istikharah kepada Allah dalam penyusunan kitab ini. Di dalamnya saya menyebutkan kaidah-kaidah dan manfaat-manfaat usul, serta melengkapi setiap kaidah dengan masalah-masalah yang terkait dengan hukum-hukum cabang.”[19]

Kitab ini memuat 66 kaidah usul, dan masing-masing kaidah memuat masalah-masalah hukum praktis yang dibangun pada kaidah tersebut. Ibn al-Lahham menulis kaidah tersebut dan menjelaskan maksudnya, dan sedikit menyebutkan pandangan-pandangan para fuqaha’. Meskipun begitu, terkadang ia memutuskan mana pandangan yang benar. Setelah itu, ia menyebutkan masalah-masalah hukum praktis. Kaidah-kaidah yang terdapat dalam kitab ini tidak disusun berdasarkan urutan bab fikih, namun berdasarkan urutan usul al-fiqh.

Metode yang digunakan Ibn al-Lahham dalam penyusunan kitabnya adalah sebagai berikut:

  1. Menyusun kitabnya berdasarkan pada kaidah-kaidah usul sesuai dengan susunan tema-temanya dalam kitab usul. Ia menyebutkan kaidah, kemudian men­-takhrij sejumlah masalah-masalah hukum praktis.
  2. Menyebut masalah usul dengan lafaz kaidah (qa’idah).
  3. Banyak mengutip pandangan-pandangan usuliyyin dari berbagai mazhab fikih yang berbeda mengenai kaidah.
  4. Di banyak tempat, Ibn al-Lahham berusaha menampakkan mazhab Ahmad b. Hanbal dalam kaidah usul melalui sebagian masalah-masalah fikih yang diriwayatkan darinya.
  5. Sebagian besar masalah fikih yang dipaparkan oleh Ibn al-Lahham dinisbatkan kepada mazhab Hanbali, dan jarang ia menyebutkan mazhab-mazhab lainnya.
  6. Ibn al-Lahham menghadirkan berbagai pendapat yang berbeda dari mazhab Hanbali. Di antaranya adalah pendapat yang dinyatakan dengan jelas oleh Ahmad itu sendiri, atau yang diisyaratkan darinya; salah satu dari dua riwayat darinya; satu pendapat dalam mazhab; dan seterusnya.
  7. Ibn al-Lahham memberikan pengertian terhadap sejumlah istilah usul dengan mengutip pengertian-pengertian yang diberikan sebagian usuliyyin tanpa memberikan penjelasan atau pembahasan.
  8. Ibn al-Lahham tidak memperhatikan kesatuan tematis dari masalah-masalah fikih praktis yang di-takhrij-nya terhadap kaidah-kaidah usul.
  9. Ibn al-Lahham dalam melakukan takhrij menggunakan ungkapan: “إذا تقرر هذا فمن فروع هذه القاعدة …” (Apabila masalah ini sudah pasti, maka di antara masalah-masalah hukum praktis dari kaidah ini adalah …).
  10. Terkadang Ibn al-Lahham mengkritik masalah-masalah fikih yang merupakan hasil takhrij sebagian ulama berdasarkan prinsip-prinsip hukum teoritis tertentu, dengan mengatakan valid tidaknya suatu pandangan, dan terkadang disertai dengan isyarat pencarian illat terhadapnya.[20]

Kesimpulan
Takhrij al-furu’ ‘ala al-usul menjadikan objek kajiannya pada dua hal, yaitu prinsip-prinsip hukum teoritis (usul) dan masalah-masalah hukum praktis (furu’). Relasi antara keduanya adalah bahwa perbedaan hukum tentang masalah-masalah hukum praktis (furu’) dapat diterapkan dalam perbedaan dalam prinsip-prinsip hukum teoritis (usul), atau prinsip-prinsip hermeneutika hukum dan prinsip-prinsip penalaran hukum lainnya (usul) dapat diterapkan pada persoalan-persoalan kehidupan nyata yang aktual dan juga masalah-masalah hipotetis lainnya (furu’).

Untuk itu, takhrij al-furu’ ‘ala al-usul cenderung dapat dikatakan sebagai sebuah metode dalam penaralan hukum Islam untuk menjelaskan sumber-sumber terjadinya perbedaan pendapat dalam masalah-masalah hukum praktis dan menisbatkannya pada kaidah-kaidah usul yang telah dirumuskan para imam mazhab. Cara itu sudah dilakukan pada masa-masa awal pematangan hukum Islam, meskipun nama itu baru muncul ketika Al-Zanjani menggunakannya sebagai judul bukunya, yang kemudian diikuti oleh Al-Isnawi.  Berdasarkan hal ini, maka menyatakan takhrij al-furu’ ‘ala al-usul sebagai sebuah aliran atau mazhab dalam usul al-fiqh, seperti yang dikatakan Al-Khin, tentunya memerlukan kajian ulang.

Daftar Pustaka
Ahmad, Ahmad Atif, Structural Interrelations of Theory and Practice in Islamic Law: A Study of Six Works of Medieval Islamic Jurisprudence, Leiden: Brill, 2006.
Bahsin, Ya’qub b.’Abd al-Wahhab al-, al-Takhrij ‘inda al-Fuqaha’ wa al-Usuliyyin: Dirasah Nazariyyah Tatbiqiyyah Ta’siliyyah, Riyad; Maktabah al-Rushd, 1414 H.
Dabbusi, Abu Zayd al-, Ta’sis al-Nazar, ta’liq wa tashih: Mustafa Muhammad al-Qabbani, Beirut: Dar Ibn Zaydun, tt.
Isma‘il , Sha‘ban Muhammad, Usul al-Fiqh: Tarikhuhu wa Rijaluhu, Cet. ke-2, Makkah al-Mukarramah: Dar al-Salam, 1998.
Isnawi, Jamal al-Din Abu Muhammad ‘Abd al-Rahim b. al-Hasan al-, al-Tamhid fi Takhrij al-Furu’ ‘ala al-Usul, Tahqiq: Muhammad Hasan Hitu, Cet. ke-1, Beirut: Mu’assasah al-Risalah, 1982.
Jibril b. Mahdi b. ‘Ali Migha, Dirasah Tahliliyyah Muassalah li Takhrij al-Furu’ ‘ala al-Usul ‘inda al-Usuliyyin wa al-Fuqaha (Ph.D Dissertation, Jami’ah Umm al-Qura bi Makkah al-Mukarramah, 1412 H)
Khin, Mustafa Sa’id al-, Dirasah Tarikhiyyah li al-Fiqh wa Usulihi wa al-Ittijahat allati Zahara fiha, Damaskus: al-Shirkah al-Muttahidah li al-Tawzi’, 1984.
Kuhn, Thomas S., The Structure of Scientific Revolution, Edisi ke-2, Chicago: The University of Chicago Press, 1970.
Lahham, ‘Ali b. ‘Abbas al-Ba’li Ibn al-, al-Qawa’id wa al-Fawa’id al-Usuliyyah, ta’liq: Muhammad Hamid al-Faqi, Mesir: Matba’ah al-Sunnah al-Muhammadiyyah, 1956.
Mustafa Sa‘id al-Khin, al-Kafi al-Wafi fi Usul al-Fiqh, Beirut: Mu’assasah al-Risalah, 2000.
Qarni, Musa b. Muhammad b. Yahya al-, Murtaqa al-Usul ila Tarikh ‘Ilm al-Usul, Madinah: Jami‘ah Islamiyyah, 1414 H
Shawshan, Uthman b. Muhammad al-Akhdar, Takhrij al-Furu’ ‘ala al-Usul: Dirasah Tarikhiyyah wa Manhajiyyah wa Tatbiqiyyah, Jilid 1, al-Mamlakah al-‘Arabiyyah al-Su’udiyyah: Dar Tayyibah li al-Nashr wa al-Tawzi’, 1998.
Tilimsani, Abu ‘Abd Allah Muhammad b. Ahmad al-Maliki al-Sharif al-, Miftah al-Wusul ila Bina’ al-Furu’ ‘ala al-Usul, Maktabah al-Rashad, tt.
Zanjani, Shihab al-Din Ahmad b. Muhammad al-, Takhrij al-Furu’ ‘ala al-Usul, tahqiq: Muhammad Adib Salih, Damaskus: Matba’ah Jami’ah Dimashq, 1962.

Catatan Kaki
[1] Ada perbedaan di kalangan ulama usul tentang penulis materi-materi usul al-fiqh yang pertama dalam suatu kitab. Keyakinan umum di kalangan ulama adalah bahwa Muhammad b. Idris al-Shafi’i merupakan tokoh pertama yang melakukan hal itu. Sebagian ulama Hanafiyyah, seperti di antaranya al-Sarakhsi, menyatakan Abu Hanifah, sedangkan al-Muwaffiq al-Makki mengatakan Abu Yusuf. Di kalangan Shi’ah Imamiyyah terdapat keyakinan bahwa Muhammad al-Baqir adalah tokoh pertama yang menyusun materi usul al-fiqh dalam suatu kitab, seperti dikatakan Ayatullah al-Sayyid Hasan al-Sadr. (Lihat Mustafa Sa’id al-Khin, Dirasah Tarikhiyyah li al-Fiqh wa Usulihi wa al-Ittijahat allati Zahara fiha [Damaskus: al-Shirkah al-Muttahidah li al-Tawzi’, 1984], 161-62).
[2] Mustafa Sa‘id al-Khin, Dirasah Tarikhiyyah li al-Fiqh wa Usulih wa al-Ittijahat allati Zahara fihima, (Damaskus: Shirkah Muttahidah, 1984); Mustafa Sa‘id al-Khin, al-Kafi al-Wafi fi Usul al-Fiqh, (Beirut: Mu’assasah al-Risalah, 2000).
[3] Musa b. Muhammad b. Yahya al-Qarni, Murtaqa al-Usul ila Tarikh ‘Ilm al-Usul, (Madinah: Jami‘ah Islamiyyah, 1414 H).
[4] Sha‘ban Muhammad Isma‘il, Usul al-Fiqh: Tarikhuhu wa Rijaluhu, Cet. ke-2, (Makkah al-Mukarramah: Dar al-Salam, 1998).
[5] Lihat Thomas S. Kuhn, The Structure of Scientific Revolution, Edisi ke-2 (Chicago: The University of Chicago Press, 1970).
[6] Jibril b. Mahdi b. ‘Ali Migha, Dirasah Tahliliyyah Mu’assalah li Takhrij al-Furu’ ‘ala al-Usul ‘inda al-Usuliyyin wa al-Fuqaha’ (Ph.D Dissertation, Jami’ah Umm al-Qura bi Makkah al-Mukarramah, 1412 H), 63.
[7] Ya’qub b.’Abd al-Wahhab al-Bahsin, al-Takhrij ‘inda al-Fuqaha’ wa al-Usuliyyin: Dirasah Nazariyyah Tatbiqiyyah Ta’siliyyah, (Riyad; Maktabah al-Rushd, 1414 H), 11-13.  
[8] Al-Bahsin, Takhrij …, 55.
[9] Ibid., 65-66.
[10] Migha, Dirasah, 432-3.
[11] Ibid., 68.
[12] Ibid., 70.
[13] Ahmad Atif Ahmad, Structural Interrelations of Theory and Practice in Islamic Law: A Study of Six Works of Medieval Islamic Jurisprudence (Leiden: Brill, 2006), 49-50.
[14] Abu Zayd al-Dabbusi, Ta’sis al-Nazar, ta’liq wa tashih: Mustafa Muhammad al-Qabbani (Beirut: Dar Ibn Zaydun, tt).
[15] Ibid., 51.
[16] Shihab al-Din Ahmad b. Muhammad al-Zanjani, Takhrij al-Furu’ ‘ala al-Usul, tahqiq: Muhammad Adib Salih (Damaskus: Matba’ah Jami’ah Dimashq, 1962).
[17] Abu ‘Abd Allah Muhammad b. Ahmad al-Maliki al-Sharif al-Tilimsani, Miftah al-Wusul ila Bina’ al-Furu’ ‘ala al-Usul (Maktabah al-Rashad, tt).
[18] Jamal al-Din Abu Muhammad ‘Abd al-Rahim b. al-Hasan al-Isnawi, al-Tamhid fi Takhrij al-Furu’ ‘ala al-Usul, Tahqiq: Muhammad Hasan Hitu, cet. ke-1 (Beirut: Mu’assasah al-Risalah, 1982).
[19] ‘Ali b. ‘Abbas al-Ba’li Ibn al-Lahham, al-Qawa’id wa al-Fawa’id al-Usuliyyah, ta’liq: Muhammad Hamid al-Faqi (Mesir: Matba’ah al-Sunnah al-Muhammadiyyah, 1956), 3.
[20] Uthman b. Muhammad al-Akhdar Shawshan, Takhrij al-Furu’ ‘ala al-Usul: Dirasah Tarikhiyyah wa Manhajiyyah wa Tatbiqiyyah, Jilid 1 (al-Mamlakah al-‘Arabiyyah al-Su’udiyyah: Dar Tayyibah li al-Nashr wa al-Tawzi’, 1998),  320-22.

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button