Bom Bunuh Diri: Menelusuri Justifikasi Fikih dalam Literatur Jihad Kontemporer

Maraknya bom bunuh diri (suicide bombing) yang dikaitkan dengan terorisme menjadi satu isu yang menarik perhatian masyarakat dunia saat ini lantaran pengaruh yang ditimbulkannya begitu besar. Selama tahun 2000-2004, dikabarkan telah terjadi 472 serangan bom bunuh diri di 22 negara, yang membunuh lebih dari 7000 orang dan puluhan ribu orang-orang yang terluka. Kebanyakan dilakukan oleh kelompok salafi-jihadis yang mengklaim melakukan aksi tersebut berdasarkan motivasi keagamaan.[1]

Pertanyaannya adalah apakah bom bunuh diri dengan dalih pembelaan terhadap Islam mendapatkan justifikasi dari literatur-literatur jihad, baik klasik maupun kontemporer? Tulisan ini mencoba menjawab pokok persoalan dengan menelusuri literatur-literatur jihad yang digunakan para pelaku dan membandingkannya dengan literatur-literatur fikih yang lain.

Bom bunuh diri: kemunculan dan perkembangan
Secara historis, serangan bunuh diri pertama yang terorganisir dalam Islam dilakukan oleh sebuah komunitas Syiah, Isma‘iliyyah Nizariyyah. Adalah Hasan al-Sabbah yang memprakarsai sebuah revolusi terbuka terhadap para amir Saljuq dan membangun fondasi bagi sebuah negara Isma‘ili-Nizari yang merdeka yang berbasis di benteng Almut. Wazir Saljuq, Nizam al-Mulk, yang dibunuh pada 12 Ramadan 485 (16 Oktober 1092) dianggap sebagai korban pertama dari serangan-serangan ini.[2]

Di era modern, kecenderungan bom bunuh diri pertama kali muncul di Lebanon pada awal tahun 1980-an, terutama ketika kaum teroris Hizbullah muda berada dalam kontrol Shaykh Muhammad Husayn Fadl Allah. Serangan martir yang dilakukan kelompok Hizbullah ini memang tidak dapat dilepaskan dari dakwah atau pidato-pidato Shaykh Fadlallah yang menghipnotis. Ia dan para pengikutnya percaya bahwa musuh-musuh Islam dapat dihancurkan melalui misi-misi sahid atau serangan bunuh diri. Pada tahun 1983, misalnya, kelompok ini mulai menggunakan serangan bunuh diri pertama kali sebagai alat atau media untuk mengusir tentara Amerika dan tentara asing lainnya. Pelaku serangan bunuh diri pertama membawa bom di sebuah mobil menuju kedutaan AS di Beirut, yang membunuh dan melukai banyak orang. Enam bulan kemudian, salah seorang pelaku menyerang kedutaan AS dan barak Angkatan Laut AS di Beirut, yang menyebabkan hilangnya nyawa secara besar-besaran. Selanjutnya, pada tahun-tahun berikutnya taktik ini dijadikan sebagai senjata melawan tentara Israel hingga penarikan diri mereka pada tahun 2000. Namun demikian, aktivitas martir tersebut masih dilihat sebagai senjata marjinal yang dominan digunakan Syiah, dan tidak dibenarkan di kalangan Sunni. Sebagian besar serangan bunuh diri tersebut lebih diarahkan kepada target-target militer, bukan warga sipil.[3]

Praktik bom bunuh diri kemudian menyebar ke konflik-konflik sipil di Sri Lanka, wilayah orang-orang Kurdi di Turki, dan Chechnya. Serangan orang-orang Palestina terhadap penduduk sipil Israel pada tahun 1990-an dan selama intifadah Al-Aqsa selanjutnya mewarnai ancaman tersebut. Dimulai pada tahun 1994, Jihad Islami dan kemudian Hamas di West Bank dan Gaza mulai menggunakan “operasi martir” sebagai senjata melawan Israel, dan dengan mencontoh serta mengikuti mereka, kelompok-kelompok Muslim militan Algeria mulai melakukan itu juga. Dari kelompok-kelompok inilah praktik tersebut kemudian mulai menyebar ke dalam dunia Sunni radikal—seperti di Kashmir, India dan Chechnya—dengan sedikit oposisi hukum dan keagamaan, mungkin karena “operasi-operasi sahid” tersebut berhubungan erat dengan tema yang sangat populer seperti menyerang Israel, dan terakhir menyerang Rusia seperti di Chechnya.[4]

Pengadopsian Al-Qaeda terhadap taktik tersebut menghadirkan dimensi lintas bangsa. Ketertarikan terhadap fenomena ini kemudian menggelora setelah peristiwa yang mengejutkan pada serangan 11 September 2001, yang melibatkan sejumlah pelaku dan korban yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Dengan menggunakan taktik ini, Al-Qaeda mengubah lanskap dan budaya perang di dalam dunia Muslim. Secara praktis, Al-Qaeda telah banyak melakukan serangan bom bunuh diri. Pada tahun pemboman bunuh diri 11 September di Amerika, misalnya, dikatakan adanya keterlibatan jaringan organisasi ini. Begitu pula, Al-Qaeda memiliki keterlibatan langsung dalam pemboman di Istanbul, yang sasarannya adalah Konsulat Inggris dan HSBC Bank pada tahun 2003.

Pada perjalanan berikutnya, bom bunuh diri meluas di sejumlah wilayah, mencapai tingkatan yang luar biasa pada Perang Irak dan menyebar ke seluruh dunia hingga negara-negara seperti Saudi Arabia, Maroko, Tunisia, Kenya, Indonesia, Turki, Pakistan, India, Afghanistan, Mesir, Jordania, Bangladesh dan Inggris.[5] Saat ini, sekitar tahun 2000-an hingga saat ini, fenomena serangan bunuh diri begitu menjamur di wilayah Pakistan.

Di Indonesia, serangan bom bunuh diri pernah terjadi di Paddy’s bar, Bali (12 Oktober 2002) yang membunuh sekitar 202 orang dan melukai lebih dari 300 orang. Serangan ini terkait dengan jaringan Jama‘ah Islamiyyah di Asia Tenggara yang mempunyai hubungan dengan Al-Qaeda. Kemudian, Jama‘ah Islamiyyah meluncurkan dua serangan bom bunuh diri di Hotel Marriott (5 Agustus 2003), yang membunuh setidaknya 12 orang, dan di Kedutaan Australia (9 September 2004) yang membunuh sekurangnya 9 orang.[6] Pada tahun 2005, terjadi serangkaian bom bunuh diri di Bali dan serangan bom mobil yang terjadi pada tanggal 1 Oktober 2005. Bom meledak di dua tempat di Jimbaran dan Kuta, yang berada di wilayah selatan Bali.  20 orang terbunuh dan banyak orang yang terluka oleh tiga pelaku bom bunuh diri pada serangan tersebut. Pada 17 Juli 2009, terjadi serangan bom bunuh diri di hotel JW Marriott dan dekat hotel Ritz-Carlton, yang membunuh delapan orang dan melukai 53 orang. Pada 15 April 2011, hari Jumat, terjadi aksi bom bunuh diri di masjid Mapolres Cirebon Kota. Dan baru-baru ini, terjadi serangan bom bunuh diri di Gereja Bethel Injil Sepenuh Kepunton Solo, Jawa Tengah, pada hari Minggu tanggal 24 September 2011.

Jumlah serangan bom bunuh diri diperkirakan akan semakin meningkat pada tahun-tahun berikutnya selama faktor-faktor penyebab tidak dihilangkan atau setidaknya diperkecil. Dalam upaya tersebut, kebijakan negara maju mesti memberikan perhatian terhadap dunia ketiga, yang berada dalam kondisi kehidupan yang jauh dari standar sejahtera, sehingga tidak tercipta kesenjangan yang memungkinkan munculnya serangan-serangan bunuh diri yang lebih serius. Persoalan Palestina juga harus ditangani secara adil, karena selama ini AS sebagai negara adidaya lebih menganakemaskan Israel dalam proses penyelesaian konflik yang terus berkepanjangan, dan pada faktanya malah semakin memperburuk keadaan selama beberapa dekade terakhir ini.

Bom bunuh diri dalam literatur jihad kontemporer
Secara teologis, operasi martir atau serangan bunuh diri tidak berada dalam kevakuman intelektual. Ia dipercaya mempunyai dasar dalam doktrin Islam tentang jihad. Namun demikian, terdapat perbedaan yang cukup mendasar di kalangan ulama dan fuqaha’ tentang kebolehannya. Sebagian ulama memandang bunuh diri sebagai taktik yang sah dan mendukungnya dalam kondisi-kondisi tertentu, serta menganggap pelakunya sebagai mati sahid dalam peperangan (shahid al-ma‘rikah). Pandangan ini dianut oleh Nasir al-Din al-Albani, Yusuf al-Qaradawi, Hamid al-‘Ali dari kalangan Sunni, dan Muhammad Husayn Fadl Allah dan Muhammad Mahdi Shams al-Din dari kalangan Shi‘ah. Sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa aksi tersebut merupakan tindakan yang tidak mendapatkan justifikasi teologis karena alasan Nabi sendiri tidak pernah menggunakannya, dan menganggapnya sebagai tidak berdasar baik secara moral maupun hukum.[7] Oleh karena itu, serangan bunuh diri diharamkan, bahkan merupakan salah satu dosa besar dalam Islam yang membatalkan keimanan seseorang.[8]

Lebi rinci lagi, perdebatan ulama adalah di seputar persoalan tentang sejauh mana operasi martir atau serangan bunuh diri sesuai dengan kondisi-kondisi jihad defensif: (1) membunuh warga sipil yang tidak berada di medan perang atau yang tidak bertempur, seperti perempuan, anak-anak, orang tua, dan orang cacat; (2) kematian karena bunuh diri, yang bertentangan dengan Alquran, “Belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah menjatuhkan diri kalian dalam kebinasaan, serta berbuat baiklah, karena Allah sungguh menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan” (QS. al-Baqarah [2]: 195); (3) manfaat versus bahaya yang ditimbulkan oleh operasi-operasi martir. Menurut hukum Islam, seorang mesti mempertimbangkan konsekuensi-konsekuensi dari setiap tindakannya. Jika bahayanya lebih besar daripada manfaatnya, maka tindakan tersebut menjadi ilegal berdasarkan prinsip “mencegah kerusakan lebih didahulukan ketimbang meraih manfaat” (dar’ al-mafasid yataqaddam ‘ala jalb al-masalih).[9]

Berbeda dengan pendapat yang mengecam serangan bunuh diri, al-Albani menyatakan bahwa taktik meledakkan diri di kalangan musuh yang mempunyai kekuatan besar tak tertandingi yang menindas kaum muslim tidak dapat dianggap sebagai bunuh diri (intihar, suicide), namun sebaliknya, ia merupakan jihad di jalan Allah (jihad fi sabil Allah), yang pelakunya, jika meninggal, akan mencapai derajat sahid. Bunuh diri (suicide) lebih didasari pada keputusasaan dalam hidup dan tidak rida dengan ketetapan Allah, sementara seorang yang mengorbankan dirinya di jalan Allah untuk melakukan perlawanan terhadap kekuatan-kekuatan yang menghancurkan umat Islam pada dasarnya dimotivasi oleh hasrat untuk mencari keridaan Allah dalam membela dan menjaga Islam dan melindungi kaum muslimin. Menurut al-Albani, praktik seperti ini telah dilakukan oleh seorang Sahabat Nabi ketika ia menyerang dan menghunuskan padang kepada sekelompok orang kafir hingga kematian menjemputnya, sedangkan ia tahu bahwa pasti ia akan mati dengan aksi tersebut dan ia yakin bahwa tempat kembalinya adalah surga. Menurut Ibn Taymiyyah,[10]

فإنه إذا فعل ما أمر الله به فأفضى ذلك إلى قتل نفسه فهذا محسن فى ذلك كالذى يحمل على الصف وحده حملا فيه منفعة للمسلمين وقد اعتقد أنه يقتل فهذا حسن وفى مثله أنزل الله قوله: “ومن الناس من يشرى نفسه ابتغاء مرضات الله والله رؤوف بالعباد” (البقرة: 207) (مجموعة الفتاوى لابن تيمية: 279\25)

Jika ia melakukan apa yang diperintahkan Allah, lalu hal itu menyebabkan dirinya terbunuh, maka orang ini telah melakukan kebaikan. Keadaannya seperti seorang yang menyerang satu barisan musuh sendirian yang kemudian mendatangkan kemanfaatan bagi kaum muslim, sedangkan ia tahu dengan pasti bahwa ia akan terbunuh. Maka, hal ini dianggap sebagai sebuah kebaikan. Mengenai perumpamaan orang ini, Allah menurunkan firman-Nya: “Di antara sebagian manusia ada yang menjual dirinya untuk mencari keridaan Allah. Allah maha pengasih terhadap segenap hamba-Nya (QS. Al-Baqarah [2]: 207)

Secara historis, pada era klasik memang ditemukan contoh tentang kelompok-kelompok yang konon bersumpah sampai mati (bay‘ah ‘ala al-mawt) baik kepada Nabi maupun kepada salah seorang khalifah. Proses “sumpah mati” digambarkan berlangsung ketika Nabi melakukan haji di Mekkah pada tahun 627 yang memuncak pada Perjanjian Hudaybiyyah. Latar belakang sumpah mati ini adalah bahwa haji yang dilakukan tersebut berada dalam kondisi-kondisi yang sulit; terkadang ada kemungkinan jika Nabi dan para pengikutnya diserang atau diberangus. Oleh karena itu, muncul komitmen untuk saling menjaga dan melindungi sampai titik darah penghabisan.[11] Dalam perkembangannya, “sumpah mati” ini kemudian diperkenalkan ke dalam Islam radikal kontemporer oleh Muhammad ‘Abd al-Salam Faraj (dieksekusi pada tahun 1982). 

Sebagian ulama melihat serangan bunuh diri dengan melihat pada kasus-kasus tertentu, tidak membuat generalisasi terhadap semua kasus. Dalam arti bahwa serangan bom bunuh diri, dalam sebagian hal, dapat diharamkan, namun dalam kasus-kasus tertentu, ia dapat dibenarkan dan dibolehkan, bahkan malah diwajibkan. Sebagai contoh, serangan bunuh diri terhadap gedung WTC pada 11 September 2001 dianggap tidak sejalan dengan jihad defensif. Fakta bahwa serangan tersebut dilakukan di wilayah non-muslim bertentangan dengan konsep dasar jihad defensif. Mufti Agung Kerajaan Saudi, ‘Abd al-‘Aziz Al al-Shaykh, mengeluarkan pernyataan yang mengecam serangan tersebut, lantaran aksi ini bertentangan dengan ajaran Islam, karena dilakukan terhadap warga sipil yang tidak berperang, yang dalam aturan hukum jihad, tidak boleh diperangi.[12] Hal yang sama juga dikatakan oleh Yusuf al-Qaradawi dan Faysal Mawlawi, yang masing-masing adalah ketua dan deputi ketua European Council for Fatwa and Research.

Sebaliknya, dalam kasus Palestina, mayoritas fukaha menganggap perjuangan bersenjata bangsa Palestina sebagai perjuangan yang logis dan absah dan sejalan dengan konsep jihad defensif. Misalnya, Majma‘ al-Fiqh al-Islami (Dewan Fikih Islam) mendukung serangan bunuh diri sebagai hak yang legal dan logis bagi orang-orang Palestina sebagai bentuk pembelaan diri. Menurut lembaga fikih tersebut, serangan bunuh diri merupakan satu bentuk jihad. Karena bom bunuh diri merupakan satu-satunya cara yang efektif bagi orang-orang Palestina untuk menghentikan agresi musuh dan melindungi tanah air, kebebasan dan hak-hak mereka, maka bom bunuh diri merupakan perjuangan bersenjata yang sah dan tidak berhubungan dengan terorisme. Ini dinyatakan dengan jelas dalam sebuah konferensi yang diselenggarakan pada 11-16 Januari 2003 di Qatar. Lembaga mengeluarkan sebuah resolusi dalam hal ini. Butir 4 dari resolusi ini berbunyi:

Majma‘ al-Fiqh al-Islami menegaskan bahwa operasi martir merupakan bentuk jihad. Oleh karena itu, melaksanakan operasi tersebut merupakan hak yang sah yang tidak berhubungan dengan terorisme atau bunuh diri. Operasi tersebut menjadi wajib sebagai satu-satunya cara untuk menghentikan agresi musuh, mengalahkannya, dan juga menghancurkan kekuasaannya.

Mereka menopang argumen tersebut dengan mengutip berbagai hadis dan kaidah fikih. Di antara kaidah fikih yang dikutip adalah kaidah al-darurat tubih al-mahzurat (hal-hal yang darurat dapat membolehkan hal-hal yang dilarang).

Pandangan Majma‘ ini didukung oleh sejumlah besar fukaha terkenal. Menurut Halevi, seperti dikutip Munir,[13] ada enambelas ulama dari Timur Tengah yang mendukung serangan bunuh diri dalam satu cara atau lainnya. Di antara ulama yang berpengaruh tersebut adalah Yusuf al-Qaradawi (Qatar), Faysal Mawlawi (Syiria), Hamid al-‘Ali (Kuwait), dan Sa’id Ramadan al-Buti (Syria), Sulayman ibn Nasir ‘Ulwan (Saudi), Salman ibn Fahd al-‘Awdah (Saudi), Nasir ibn Hamd al-Fahd (Saudi), ‘Ajil al-Nashami. Al-Qaradawi, misalnya, mengatakan bahwa perjuangan militer Palestina adalah logis dan absah, dan merupakan jihad defensif lantaran mereka melindungi dan membela keluarga, harta dan tanah air mereka. Bahkan, menurut al-Qaradawi, aksi-aksi ini tidak hanya dibolehkan, namun bahkan diwajibkan, lantaran aksi-aksi tersebut merupakan satu-satunya media militer yang paling efektif bagi perjuangan Palestina.

Operasi-operasi ini (serangan bom bunuh diri) merupakan jihad yang paling tinggi di jalan Allah karena ia termasuk ke dalam bentuk penolakan “legal” yang disebutkan di dalam QS. Al-Anfal [8]: 60, “Persiapkan kekuatan apa saja yang kalian sanggupi untuk menghadapi mereka dan kuda-kuda yang digunakan untuk berperang, (yang dengan persiapan itu) kalian dapat menggentarkan musuh Allah, musuh kalian serta orang-orang selain mereka yang tidak kalian ketahui, sedangkan Allah mengetahuinya. Apa pun yang kalian nafkahkan di jalan Allah, pasti akan dibalas dengan cukup dan kalian tidak akan dirugikan.[14]

Al-Qaradawi juga menambahkan bahwa menyebut misi ini sebagai operasi bunuh diri adalah sebuah kekeliruan yang besar, karena seorang yang mati sahid (shahid) mengorbankan dirinya untuk satu tujuan mulia demi membela agama dan komunitasnya, sedangkan bunuh diri didasari pada keputusasaan dan demi tujuan-tujuan yang egois. Menurut al-Qaradawi,[15]

Anak-anak muda yang membela tanah airnya—yang merupakan wilayah muslim—bukan melakukan tindakan bunuh diri. Lebih tepatnya, mereka adalah para sahid yang mengorbankan dirinya di jalan Allah, selama terkandung niat yang tulus dan tidak ada pilihan lain untuk menghalangi musuh-musuh mereka.

Tidak hanya itu, al-Qaradawi juga memberikan justifikasi meskipun target serangan tersebut adalah orang-orang sipil, dengan alasan bahwa masyarakat Israel pada dasarnya bersifat militeristik. Baik kaum laki-laki maupun wanitanya mempunyai peran dalam peperangan dan dapat dipanggil setiap saat untuk wajib militer. Di sisi lain, menurutnya, jika anak kecil atau orang tua terbunuh, itu pun karena kesengajaan, namun kesalahan, dan sebagai konsekuensi dari darurat militer. Kondisi darurat dapat menjustifikasi gal-hal yang dilarang Selanjutnya, ia juga menyatakan bahwa “jika setiap orang yang membela tanah airnya, dan meninggal karena membela simbol-simbol sucinya dianggap sebagai teroris, maka saya berharap menjadi yang terdepan di antara teroris tersebut”.[16]

Dalam kalangan Syiah, legitimasi terhadap bom bunuh diri juga dapat ditemukan dalam beberapa tulisan yang disusun oleh Muhammad Husayn Fadlallah, dalam kitabnya Iradah al-Quwwah: Jihad al-Muqawamah fi Khitab Ayah Allah al-‘Uzma al-Sayyid Muhammad Husayn Fadl Allah dan Kitab al-Jihad, dan Muhammad Mahdi Shams al-Din dalam kitab Al-Muqawamah fi al-Khitab al-Fiqhi al-Siyasi li Samahah al-Imam Muhammad Mahdi Shams al-Din dan Fiqh al-Unf al-Musallah. Tulisan-tulisan mereka ini mempengaruhi gerakan Hizbullah di Lebanon dan Hamas di Palestina.[17] Kedua tokoh ini adalah ulama-ulama Syiah yang sangat dipengaruhi oleh spirit dari peristiwa Karbala, yaitu kematian Imam Husayn.

Dalam Fiqh al-‘Unf al-Musallah, Shams al-Din[18] menegaskan bahwa kekerasan politik bersenjata dan desakan untuk membuat aksi dan respons yang keras terhadap penjajah asing merupakan jihad defensif, baik itu melalui perang atau resistansi publik atau rahasia. Resistansi merupakan satu bentuk jihad defensif, terhadap kekuatan menindas, dalam hal ini Israel. Konteks pembicaraan Shams al-Din adalah ambisi Israel untuk menguasai Lebanon Selatan. Untuk itu, Shams al-Din memberikan satu pilihan, yaitu melakukan perlawanan terhadap Israel dalam berbagai bentuk: politik, ideologi dan militer.[19] Ia menganggap resistansi ini sebagai bentuk “pembelaan diri”, dan yang terakhir ini mendapatkan justifikasi dalam hukum Islam. Definisi “diri” mencakup kehormatan dan kepemilikan.

Dalam konteks yang sama, Fadlallah bahkan menegaskan resistansi sebagai perlindungan terhadap kehormatan dan kemuliaan.[20] Dalam Kitab al-Jihad, Fadlallah mendefinisikan jihad sebagai “pengorbanan jiwa dan aset keuangan seseorang demi memerangi kaum musyrik dan kafir, atau menegakkan kemulian Islam dan melaksanakan ritual-ritual keimanan.”[21] Oleh karena itu, tujuan jihad adalah: (1) berusaha membangun sebuah kehidupan yang didasari pada iman kepada Tuhan, Nabi-nabi-Nya serta aturan-aturan hukum-Nya; (2) melindungi ajaran Islam dari penganiayaan; (3) memberikan kemenangan kepada orang-orang tertindas dalam perjuangan mereka melawan tirani penjajah dan pemeras; (4) melindungi seseorang dengan memerangi para penyerang dan menghentikan agresi mereka terhadap orang-orang beriman, negeri mereka dan tempat-tempat suci.[22] Jihad, dalam konteks Palestina, harus diimbangi dengan sikap sabar dan tabah dalam menghadapi penindasan Israel; dalam arti, harus terus mempertahankan tanah airnya sampai titik darah terakhir, dan jangan meninggalkan tanah air mereka sampai datang pertolongan Allah yang mengembalikan tanah air mereka. Salah satu taktik dan strategi penghentian agresi dan penindasan terhadap bangsa Palestina, yang dari segi persenjataan dan kekuatan tidak berimbang jika dibandingkan dengan Israel, adalah dapat berbentuk ‘amaliyyah istishhadiyyah, yaitu serangan bom bunuh diri.

Sebelumnya, Fadlallah menolak bahwa ia mendukung serangan-serangan bunuh diri ini, namun kemudian ia memberikan dukungan yang besar dalam konteks perjuangan pembebasan Palestina melawan agresi Israel. Ia menyatakan:

Terkadang kamu mendapati sebuah situasi yang kamu harus mengambil resiko di dalamnya. Ketika realitas mengharuskan sebuah kejutan, yang disampaikan dengan kekerasan, maka kamu dapat memilih semua hal yang terpendam di dalamnya, dan memperluas semua jangkauannya yang ada di sekitar kamu—seperti, misalnya, dalam operasi sahid, yang sebagian orang menyebutnya operasi bunuh diri.[23]

Fadlallah menyebut serangan-serangan ini sebagai “jawaban orang-orang yang lemah dan tertindas terhadap para penindas yang berkuasa”.  Ia menyatakan bahwa di tengah-tengah ketiadaan metode alternatif, maka metode yang tidak konvensional dapat diterima, dan mungkin diharuskan. Menurutnya,

Jika orang-orang tertindas tidak mempunyai media atau alat untuk menghadap Amerika Serikat dan Israel yang mempunyai persenjataan yang lebih tinggi, maka mereka dapat menggunakan senjata-senjata yang tidak familiar … Penindasan membuat orang-orang yang tertindas menemukan senjata-senjata dan kekuatan baru setiap hari … Mereka mesti berjuang dengan alat-alat khusus yang dimilikinya. [Kami] mengakui hak setiap bangsa untuk menggunakan metode yang tidak konvensional untuk berjuang melawan negara-negara agresor ini, dan tidak menganggap apa yang lakukan oleh umat Islam yang tertindas di dunia dengan menggunakan media-media yang primitif dan tidak konvensional untuk menghadapi kekuatan agresor sebagai terorisme. Kami memandang ini sebagai perang yang absah menurut agama terhadap kekuatan-kekuatan imperialis dan tirani.[24]

Singkatnya, dari uraian kedua ulama Shi‘ah ini, dapat dikatakan bahwa resistansi dapat mengambil dua bentuk: pertama, melawan penjajah, sebagai sebuah jihad defensif yang menggunakan semua media yang mungkin untuk membela dan mempertahankan tanah airnya, termasuk operasi martir atau serangan bunuh diri. Kedua, ketabahan (sumud), sebagai bentuk perlawanan pasif  yang mewujud dalam bentuk penolakan untuk meninggalkan tanah air.

Dari semua pandangan yang membolehkan serangan bunuh diri ini dalam cara apa pun, baik dari kalangan Sunni maupun Shi‘ah, dapat dikatakan bahwa pandangan tersebut dapat diringkas ke dalam beberapa poin penting: (1) pemberian kebolehan serangan bunuh diri dalam konteks-konteks khusus, khususnya oleh orang-orang Palestina di wilayah-wilayah yang dirampas (al-Qaradawi, Fadlallah, Shams al-Din, dan lainnya); (2) kebolehan membunuh warga sipil, dan bahkan wanita, anak-anak dan orang tua, dalam masyarakat militeristik seperti Israel (al-Qaradawi); (3) menyamakan serangan bunuh diri sebagai heroisme dalam peperangan.

Salafi-Jihadis dan Bom Bunuh Diri Sebagai Taktik Jihad
Salafi-jihadi adalah sebuah model salafisme yang menggabungkan antara dakwah tauhid secara menyeluruh dan jihad untuk menegakkan tauhid sekaligus; atau, sebuah aliran yang berusaha mewujudkan tauhid dengan melakukan jihad terhadap para penguasa zalim (taghut). Sumber rujukan kelompok ini adalah Ahmad Ibn Taymiyyah, Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhab, al-Ikhwan al-Muslimun, dan Sayyid Qutb. Ibn Taymiyyah dianggap sebagai rujukan salafiyyah jihadiyyah yang terpenting, terutama yang terkait dengan fatwa dan penafsiran. Namun, di antara tokoh-tokoh tersebut, Sayyid Qutb (1906-1966) digambarkan sebagai intelektual yang bertanggung jawab terhadap “jihad global”, yang ditabuh genderangnya oleh gerakan Salafi jihadis saat ini. Doktrin jahiliyyah, yang dikembangkan Qutb, menjadi landasan bagi pemikiran radikalnya. Karakteristik jahiliyyah di sini adalah menolak otoritas Tuhan demi otoritas manusia, melayani atau menyembah manusia sebagai pengganti Tuhan, dan mendewakan manusia.[25] Menurut Qutb, salah satu karakteristik uluhiyyah adalah kedaulatan (hakimiyyah). Sehingga melekatkan kedaulatan kepada manusia atau lembaga adalah sama dengan melekatkan uluhiyyah kepadanya atau lembaga. Atau, menurut Qutb, jahiliyyah kontemporer

… تقوم على أساس الإعتداء على سلطان الله فى الأرض وعلى أخص خصائص الألوهية … وهي الحاكمية … إنها تسند الحاكمية إلى البشر فتجعل بعضهم لبعض أربابا

[… didasari pada sebuah serangan terhadap otoritas Tuhan di atas bumi dan karakteristik pembeda dari keilahian (uluhiyyah), kedaulatan (hakimiyyah), melekatkan kedaulatan kepada manusia dan membuat manusia sebagai dewa terhadap lainnya].[26] 

Di sini terlihat bahwa kata kunci Qutb lainnya yang berhubungan dengan jahiliyyah adalah kedaulatan (hakimiyyah). Jahiliyyah adalah kedaulatan (hakimiyyah) manusia, sedangkan Islam adalah kedaulatan (hakimiyyah) Tuhan.

Jahiliyyah tidak mengarah kepada periode atau lokasi geografis tertentu, namun kepada kondisi sosial dan spiritual masyarakat. Menurut Qutb, periode dan kondisi sekarang ini adalah masa jahiliyyah. Selain itu, Qutb membuat perbedaan yang sangat ekstrem antara Islam dan jahiliyyah. Sebuah masyarakat hanya dapat dikatakan Muslim atau jahiliyyah, tidak dapat keduanya. Ia mendefinisikan masyarakat jahiliyyah sebagai “setiap masyarakat selain masyarakat Muslim.”[27] Masyarakat jahiliyyah dapat anti agama atau religius dalam berbagai cara, namun satu-satunya hal yang penting di sini adalah bahwa mereka mempunyai kesamaan, yaitu sama-sama jahili. “Tidak ada Islam di wilayah yang di dalamnya Islam tidak mengaturnya … Selain Islam hanya ada kekafiran; selain Islam hanya ada jahiliyyah; selain kebenaran hanya ada kesalahan.”[28]

Menurut Qutb, seluruh dunia, termasuk dunia Muslim, berada dalam keadaan jahiliyyah, yang cara manusia menggantikan cara Tuhan. Karena jahiliyyah dan Islam tidak dapat hidup bersama-sama, maka jihad ofensif sangat penting untuk menghancurkan masyarakat jahiliyyah dan membawa seluruh dunia ke dalam Islam. Hingga jahiliyyah dikalahkan, semua Muslim sejati mempunyai kewajiban pribadi untuk melakukan jihad ofensif. Oleh karena itu, jihad ofensif terhadap non-Muslim demi menyebarkan Islam dan aturan Tuhan tidak hanya dibenarkan, namun juga mulia.

Selain jihad ofensif, Sayyid Qutb juga menggunakan konsep takfir  (pengkafiran) atau pengucilan kaum murtad. Takfir terhadap seseorang membuka jalan keluar dari larangan untuk membunuh Muslim lainnya dan malah menjadikannya sebagai kewajiban agama untuk mengeksekusi seorang murtad. Penggunaan yang jelas terhadap konsep ini adalah menyatakan bahwa penguasa, pejabat dan organisasi sekuler, atau Muslim yang menentang agenda kelompok Islamis dianggap kafir, dan karenanya, pembunuhan dan penyerangan terhadap mereka menjadi dibenarkan. Serangan bom bunuh diri (suicide bombing) adalah bagian dari taktik jihad ofensif untuk tujuan ini.

Bom Bunuh Diri: Sebuah Kritik
Kritik terhadap pendapat yang membenarkan tindakan serangan bunuh diri diarahkan kepada dalil pembenaran baik teologis maupun sejarah terhadap serangan bunuh diri, target dan metode serangan. Dari berbagai pendapat yang dikemukakan oleh sebagian ulama yang anti tersebut, secara umum dapat diringkas kepada beberapa poin berikut ini:

Pertama, bunuh diri dengan alasan apa pun merupakan suatu perbuatan yang dilarang oleh agama. Dan ini diperkuat dengan bukti-bukti kuat melalui Alquran dan Sunnah. Misalnya, dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Muslim disebutkan, “Tidak seharusnya seorang dari kalian mengharapkan kematian, dan tidak boleh meminta sebelum ia datang kepadamu …”[29] Dalam hadis yang lain, Nabi juga memberikan peringatan yang keras kepada orang yang melakukan bunuh diri, dengan menyatakan bahwa para pelakunya akan mengulang-ulang bunuh diri tanpa putus di neraka dan akan mendiami neraka selamanya.[30] Atas dasar ini, seorang yang melakukan serangan bom bunuh diri seharusnya menyadari bahwa Allah mempercayakan kehidupan kepadanya, bukan merupakan kepemilikan pribadi yang dapat dimainkan sesuka hatinya. Untuk itu, Shaykh Muhammad ‘Afifi al-Akiti, seorang ahli hukum Malaysia yang mengajar teologi di Oxford University, menyatakan bahwa serangan bunuh diri adalah sebuah perbuatan dosa lantaran Alquran menyatakan bahwa “Jangan bunuh diri kalian!” al-Akiti mengecam klaim yang menegaskan bahwa serangan bunuh diri adalah tindakan pengorbanan diri (self-sacrifice) ketimbang bunuh diri (self-killing), dan menuduh pernyataan itu sebagai pelanggaran terhadap konsensus karena membahayakan jiwa seseorang adalah satu hal, sedangkan melakukan bunuh diri dalam serangan tersebut adalah hal lain.[31]

Kedua, terkait dengan dalil pembenaran, menurut al-Akiti, tidak ada preseden hukum dalam sejarah Islam yang membenarkan taktik menyerang orang-orang sipil (perempuan, anak-anak dan orang tua) dan target non-militer.[32] Menurut Munir,[33] imunitas mereka mendapatkan pijakan yang jelas dalam Alquran (al-Baqarah [2]: 190) dan Sunnah Nabi. Menurut Muhammad ibn al-Hasan al-Shaybani, seperti dikutip al-Sarakhsi,[34] dilarang membunuh warga sipil karena Alquran menegaskan, “Perangilah mereka yang memerangi kalian!” sedangkan “mereka tidak berperang”.  Namun demikian, ada dua pengecualian terhadap larangan tersebut, yaitu jika mereka berpartisipasi dalam permusuhan, dan jika pembunuhan tersebut tidak disengaja.[35]  Demikian pula, barang-barang dan benda-benda yang dimiliki oleh warga sipil dilarang untuk dirusak dan dihancurkan dalam peperangan karena ini sama dengan kategori fasad fi al-ard (membuat kerusakan di muka bumi). Allah membenci fasad dan menisbatkannya kepada orang munafik.

Yang tidak kalah pentingnya juga terkait dengan persoalan otoritas yang menentukan jihad dengan taktik serangan bom bunuh diri. Menurut al-Akiti, otoritas dibalik serangan. Bom bunuh diri seringkali dinyatakan keputusannya dan diperintahkan oleh tokoh-tokoh yang tidak jelas dalam lokasi-lokasi jauh yang tersembunyi. Menurut al-Akiti, hak untuk menyatakan perang atau jihad buat orang-orang Muslim terletak hanya pada otoritas kepala negara (presiden) di negara Muslim, bukan individu atau kelompok, sekalipun ia seorang ulama. Orang-orang seperti Osama bin Laden dan Abu Musab al-Zarqawi, yang merupakan tokoh-tokoh penting dari gerakan salafiyyah jihadiyyah tidak mempunyai otoritas politik dan teologis untuk menyatakan perang atau serangan-serangan bunuh diri lainnya.

Tiga argumentasi ini pada umumnya dijadikan alasan oleh kelompok anti suicide attack untuk menolak berbagai argumentasi yang membolehkan bom bunuh diri dalam bentuk dan dengan alasan apa pun. Namun demikian, alasan-alasan ini tidak berangkat dari realitas sosiologis dan psikologis yang sebenarnya dialami oleh bangsa Palestina, yang menurut kalkulasi politik perang tidak mungkin dapat melawan kekuatan Israel yang didukung oleh negara adidaya seperti Amerika Serikat. Untuk itu, tindakan serangan bom bunuh diri pada dasarnya merupakan satu-satunya alternatif yang masuk akal untuk dapat menghancurkan kekuatan-kekuatan mereka yang menindas.

Kesimpulan

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa persoalan serangan bunuh diri dalam literatur jihad kontemporer memang berada dalam dua pandangan ekstrem yang berbeda. Kebolehan yang diberikan oleh para ulama terhadapnya dapat dibedakan dalam dua bagian: pertama, yang membolehkan secara mutlak dan menganggapnya sebagai sebuah taktik jihad yang sah. Pandangan ini dominan beredar di kalangan gerakan-gerakan keagaman radikal atau kelompok salafi-jihadis (salafiyyah jihadiyyah). Sedangkan yang lain memberikan persyaratan-persyarata tertentu, dan biasanya pandangan ini dianut oleh kelompok salafi-intelektual (salafiyyah ‘ilmiyyah) dan salafi-reformis (salafiyyah islahiyyah). Di sisi lain, yang mengharamkan secara mutlak pada dasarnya berpijak pada alasan tidak adanya preseden hukum dalam sejarah hukum Islam yang membolehkannya selain larangan Alquran tentang bunuh diri dalam bentuk dan alasan apa pun.[]

[1] Scott Atran, “The Moral Logic and Growth of Suicide Terrorism,” The Washington Quarterly, vol. 29, no. 2 (Spring 2006), 127.
[2] Muhammad Munir, “Suicide Attacks and Islamic Law” International Review of Road Cross, Vol. 90, No. 869 (March 2008), 71-72. Lihat Marshal G. S. Hodgson, The Order of Assassins: The Struggle of the Early Nizari Isma‘ilis Against the Islamic World (USA: Mouton & Co. Publisher, 1955), 82.
[3] David Cook, “Suicide Attacks or ‘Martyrdom Operations’ in Contemporary Jihad Literature” Nova Religio: The Journal of Alternative and Emergent Religions, Vol. 6, Issue 1 (2002), 8.
[4] Ibid., 8-9.
[5] Martha Crenshaw, “Explaining Suicide Terrorism: A Review Essay,” Security Studies, Vol. 16, No. 1 (January–March 2007), 134.
[6] Shweta Moorthy, “Suicide Attack in Pakistan: A Chronology,” I-Post, Vol.2, No.1 (January 2005), 6-7.
[7] Muhammad Al-Atawneh, “Shahada versus Terror in Contemporary Islamic Legal Thought: The Problem of Suicice Bombers,” Journal of Islamic Law and Culture, Vol. 10, No. 1 (April 2008), 23.
[8] Farhana Ali dan Jerrold Post, “The History and Evolution of Martyrdom in the Service of Defensive Jihad: An Analysis of Suicide Bombers in Current Conflicts,” Social Research, Vol. 75, No. 2 (Summer 2008), 625-26.
[9] Al-Atawneh, “Shahada versus Terror,” 23.
[10] Taqi al-Din Ahmad ibn Taymiyyah, Majmu‘ah al-Fatawa, Jilid 25, Cet. ke-3 (al-Mansurah: Dar al-Wafa’, 2005), 149-150.
[11] Cook, “Suicide Attacks,” 16-17.
[12] Dikutip dalam Al-Atawneh, “Shahada versus Terror,” 26.
[13] Munir, “Suicide Attacks,” 77.
[14] Yusuf al-Qaradawi, Fatawa Mu‘asirah (Kuwait: Dar al-Qalam li al-Nashr wa al-Tawzi‘, 2001), 503-510.
[15] Ibid.
[16] Dikutip dalam Munir, “Suicide Attacks,” 75.
[17] Rola El-Husseini, “Resistance, Jihad, and Martyrdom in Contemporary Lebanese Shi‘a Discourse,” Middle East Journal, Vol. 62, No. 3 (Summer 2008), 400.
[18] Muhammad Mahdi Shams al-Din, Fiqh al-Unf al-Musallah (Beirut: al-Mu’assasah al-Dawliyyah, 2001), 47.
[19] El-Husseini, “Resistance,” 403.
[20] Muhammad Husayn Fadlallah, Iradah al-Quwwah: Jihad al-Muqawamah fi Khitab Ayah Allah al-‘Uzma al-Sayyid Muhammad Husayn Fadl Allah (Beirut: Dar al-Malak, 2000), 34-35.
[21] Muhammad Husayn Fadlallah, Kitab al-Jihad (Beirut: Dar al-Malak, 1998).
[22] Dikutip dalam El-Husseini, “Resistance,” 401.
[23] Dikutip dalam Munir, “Suicide Attacks,” 73.
[24] Dikutip dalam ibid., 73.
[25] William E. Shepard, “Sayyid Qutb’s Doctrine of Jahiliyya,” Intenational Journal of Middle East Studies, no. 35 (2003), 524.
[26] Sayyid Qutb, Ma‘alim fi al-Tariq (Cairo: Maktabah Wahdah, 1964), 8.
[27] Ibid., 88.
[28] Ibid., 147.
[29] Muslim ibn al-Hajjaj, Sahih Muslim, Vol. 4, hadis no. 2682 (Beirut: Dar Ihya’ al-Turath al-‘Arabi, 1955), 2065.
[30] Isma‘il al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, Vol. 3 (Istanbul: Dar Sahnun, 1992), 212.
[31] Mehdi Hasan, “Suicide Attacks are Un-Islamic,” New Statesman (9 November 2009), 24.
[32] Ibid.
[33] Munir, “Suicide Attacks,” 84.
[34] Muhammad ibn Ahmad al-Sarakhsi, Sharh al-Sayr al-Kabir li Muhammad ibn al-Hasan al-Shaybani. Vol. 4 (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1997), 186.
[35] Munir, “Suicide Attacks,” 85.

Artikel ini pernah dipublikasikan dalam Jurnal Al-Tahrir: Jurnal Pemikiran Islam, STAIN Ponorogo, Vol. 13, No. 2 November 2013: 341-367 

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca juga
Close
Back to top button