Sayyid Saggaf Al-Jufri: Potret Ulama-Tradisional Progresif

Sayid Sagaf Al-Jufri adalah cucu dari Sayid Idrus Al-Jufri, yang dilahirkan di Pekalongan pada tanggal 17 Agustus 1937 M/ 11 Jumadil Akhir 1356 H, dari pasangan Sayid Muhammad bin Idrus Al-Jufri dan Syarifah Raguan binti Thalib Al-Jufri. Ayahnya, Sayid Muhammad Al-Jufri dulu berdagang di Pekalongan dan pernah menetap sebentar di Solo untuk mengajar dan berdagang. Lalu, keluarga Sayid Muhammad pindah ke Palu sekitar tahun 1951 untuk membantu sang ayah, Sayid Idrus Al-Jufri.

Ketika menetap di Pekalongan, Sayid Sagaf pernah belajar di Madrasah Arab Islamiyyah. Kemudian, ketika berada di Palu, beliau melanjutkan di Perguruan Islam Al-Khairat dari tingkatan Ibtidaiyah, Tsanawiyah, dan kemudian melanjutkan ke Madrasah Muallimin A dan B. Selain mendapatkan pendidikan formal, beliau juga mendapatkan pelajaran khusus dari sang kakek Sayid Idrus bin Salim Al-Jufri. Pada tahun 1955, Sayid Sagaf lulus Madrasah Muallimin, dan diikutsertakan dalam perjalanan dakwah ke berbagai wilayah di Sulawesi Tengah dan Sulawesi Barat. Pada tahun 1959, Sayid Sagaf mendapatkan beasiswa untuk belajar di Universitas Al-Azhar Mesir, dan mengambil jurusan Sharī’ah wa al-Qānūn. Setelah menyelesaikan pendidikan strata 1, beliau melanjutkan ke program magister, sehingga selesai pada tahun 1967.

Beliau diangkat menjadi Ketua Utama PB Alkhairaat pada tahun 1975 dan masih menjabat hingga sekarang. Kiprahnya dalam organisasi Islam terbesar di wilayah timur Indonesia ini semakin memperkuat dirinya sebagai seorang ulama Hadrami dan jaringannya di Indonesia. Sebagai seorang ketua utama, banyak aktivitas yang dilakukan oleh Sayid Sagaf, di antaranya yang terpenting adalah, pertama, dakwah Islam ke berbagai wilayah lain di Sulawesi Tengah dan sekitarnya. Dapat dikatakan bahwa peran Sayid Sagaf dalam menyebarkan Islam ahlus sunnah wal jama’ah cukup signifikan. Hampir semua wilayah di Sulawesi Tengah pernah beliau singgahi untuk menyampaikan ceramah-ceramah agama, dan hampir di wilayah-wilayah tersebut terdapat pula madrasah-madrasah yang berafiliasi dengan Alkhairaat. Aktivitas kedua beliau yang terpenting adalah memberikan pengajaran berbagai ilmu keislaman di masjid-masjid, terutama di Pesantren Madinatul Ilmi yang didirikannya. Di pesantren ini beliau setiap minggu biasanya mengajarkan kitab Riyāḍ al-Ṣāliḥīn dan al-Adhkār yang keduanya ditulis oleh Imam al-Nawawī, seorang ulama mazhab Syafi’i yang terkenal dan fenomenal dalam masyarakat Islam.

Sekilas tentang Pondok Pesantren Madinatul Ilmi

Secara genealogis, Pesantren Alkhairaat Madinatul Ilmi merupakan bagian dari Pesantren Alkhairaat yang didirikan oleh Sayid Idrus bin Salim Al-Jufri pada 30 Juni 1930 di Kota Palu, Sulawesi Tengah. Gagasan menghadirkan Pesantren Madinatul Ilmi ini bertitik tolak dari pemikiran Sayid Saggaf bin Muhammad Al-Jufri , cucu Guru Tua, yang disampaikan pada Muktamar Besar Alkhairaat VI tahun 1991 (1412 H). Pemikiran ini didasarkan pada fakta sulitnya mencari tenaga pengajar yang mempunyai tingkat pengetahuan yang memadai pada tingkatan dasar terutama Madrasah Ibtidaiyah sehingga sebagian besar Madrasah Ibtidaiyah yang berada dalam pengelolaan Perguruan Islam Alkhairaat tidak dapat menjalankan fungsinya secara optimal dan maksimal sesuai dengan amanat pendiri utama, Habib Idrus bin Salim Aljufrie. Berangkat dari gagasan tersebut dan dengan bantuan dari berbagai pihak, pada tahun 1992 (1413 H) Pondok Pesantren Alkhairaat Madinatul Ilmi Dolo secara resmi dibuka dan mulai menjalankan aktivitas pembelajaran sebagaimana layaknya sebuah pondok pesantren.

Pondok Pesantren Alkhairaat Madinatul Ilmi terletak di poros Jalan Palu menuju Kulawi sekitar 11 Km sebelah selatan Kota Palu. Pondok ini berada di wilayah Kabupaten Sigi Biromaru, dan berdiri di tanah seluas sekitar 40 hektar di atas hamparan tanah datar bekas persawahan dengan tingkat kesuburan tanah yang memadai, sumber mata air yang mengalir, dan lingkungan alam yang ramah, serta dikelilingi oleh penduduk yang sudah mengenal baik Pesantren Alkhairaat.

Tujuan umum didirikannya Pondok Pesantren Alkhairaat Madinatul Ilmi Dolo ini adalah untuk mengantisipasi kesenjangan dan kelangkaan ulama dengan melakukan pendidikan kepada masyarakat agar siap menjadi kader pada tingkatan kabupaten, kecamatan dan pedesaan. Tujuan ini didasari pada asumsi dasar bahwa ulama mempunyai posisi yang sangat sentral dan strategis dalam melakukan pembinaan moral terhadap umat, karena kerusakan moral menjadi faktor penyebab hancurnya sebuah tatanan masyarakat secara keseluruhan.

Sementara itu, tujuan khusus dari pendirian Pondok Pesantren Alkhairaat Madinatul Ilmi adalah menyiapkan tenaga pengajar yang profesional baik untuk kebutuhan madrasah yang berada dalam pembinaan Yayasan Pendidikan Islam Alkhairaat maupun madrasah-madrasah lain yang ada di sekitar wilayah Sulawesi Tengah. Karena, hanya dengan guru-guru profesional yang menguasai ilmu-ilmu keislaman yang memadailah pendidikan Islam akan mudah ditransmisikan dengan baik kepada peserta didik (santri).

Visi dari Pondok Pesantren Madinatul Ilmi ini adalah “terciptanya santri yang berpendidikan dan berakhlak yang mulia.” Dari visi tersebut dapat terlihat dengan jelas bahwa ada tiga aspek yang ingin dikembangkan oleh pendidikan di pesantren ini, yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik. Yaitu, pengajaran difokuskan pada tiga sasaran: otak, hati dan tangan; mengisi otak santri dengan ilmu pengetahuan agama dan umum, mengisi hati mereka dengan moral keagamaan, dan melincahkan tangan mereka dengan praktik kerja lapangan, seperti di bidang pertanian, peternakan, petukangan, dan lain-lain, sehingga mereka kelak dapat menjadi figur panutan dalam masyarakat yang berwawasan keagamaan, kemasyarakatan dan mandiri tanpa menjadi beban bagi orang lain.

Sementara itu, misi dari pondok pesantren diorientasikan kepada beberapa kegiatan, seperti meningkatkan kualitas para guru, menyiapkan sarana dan prasarana pendidikan, melaksanakan kegiatan belajar mengajar, baik intra maupun ekstra kurikuler, membangun semangat kerjasama dengan komponen madrasah, mengembangkan kinerja guru dan para pembina melalui penataran/pelatihan, dan mengupayakan terwujudnya prestasi akademik yang sangat memuaskan.

Materi pengajaran kitab kuning di Pondok Pesantren Alkhairaat Madinatul Ilmi yang kerap diajarkan oleh para guru hingga saat ini mencakup beberapa bidang keislaman. Dalam bidang bahasa Arab, kitab-kitab yang diajarkan mencakup Matn al-Ajrūmiyyah dan Sharḥ Ibn ‘Aqīl. Matn al-Ajrūmiyyah atau yang biasa disebut Jurmiyyah adalah salah satu kitab dasar dalam bidang ilmu nahwu yang dikarang oleh al-Ṣanḥajī, dan sangat populer digunakan oleh masyarakat pesantren di Indonesia. Kitab ini berisi kumpulan materi nahwu yang mencakup hampir keseluruhan inti ilmu nahwu. Kitab ini berisi 26 bab yang mencakup materi seputar istilah penting ilmu nahwu, seperti ism (kata benda), fi’l (kata kerja) dan ḥarf (huruf). Sementara itu, Sharḥ Ibn ‘Aqīl yang ditulis oleh adalah satu komentar dan penjelasan terhadap Matn Alfiyyah, kitab kecil yang berisi 1000 syair tentang kaidah bahasa Arab. Kitab Sharḥ Ibn ‘Aqīl ini adalah sangat sederhana dan mudah dicerna oleh orang-orang yang ingin mempelajari matan Alfiyyah Ibn Mālik, dan kitab ini adalah kitab nahwu tingkatan lanjutan yang paling banyak beredar di pondok-pondok pesantren di Indonesia. Ibn ‘Aqīl (w. 796 H) mampu menguraikan bait-bait Alfiyyah secara metodologis, sehingga terungkap apa yang dimaksud oleh Ibn Mālik pada umumnya.

Dalam bidang hadis, kitab yang diajarkan adalah Riyāḍ al-Ṣāliḥīn karya Abū Zakariyā Yaḥyā ibn Sharaf al-Nawawī. Kitab yang berarti “taman orang-orang saleh” ini adalah kitab berisi koleksi hadis yang populer dalam masyarakat Islam di dunia, termasuk Indonesia. Dalam perjalanan sejarah, kitab ini terbukti telah berhasil membantu para ulama untuk membentuk para santri mereka di pesantren-pesantren dan madrasah-madrasah, atau di majelis-majelis taklim di masjid-masjid yang ada di Indonesia.

 Pembahasannya dibagi menjadi 19 kitab yang terbagi menjadi 372 bab dan menyertakan sebanyak 1900 hadis. Dalam metode penulisannya, al-Nawawī mengemukakan ayat-ayat Alquran sebagai dalil utama untuk menguatkan dalil penyokong terhadap kitab yang dibahasnya, kemudian baru menyertakan dalil-dalil hadis sebagai penjabaran atas bab-bab yang dibahas tersebut. Dalam mukadimah, al-Nawawī menegaskan bahwa kitabnya tersebut mengandung hadis-hadis yang dikutip dari al-Kutub al-Sittah (enam kitab utama), yaitu kitab hadis paling utama dalam Islam. Dan secara tegas dikatakan bahwa ia hanya mengutip hadis-hadis yang sahih dari kitab-kitab yang populer tersebut.

Sebagaimana dikatakan oleh al-Nawawī dalam mukadimah kitabnya bahwa kitab ini dimaksudkan untuk mengumpulkan hadis-hadis yang sahih, yang dapat menjadi perintis menuju akhirat, tuntunan adab lahir dan batin, menghimpun anjuran dan ancaman, latihan jiwa, didikan akhlak, obat hati, pemeliharaan badan, dan lain-lain. Kitab ini terdiri dari hadis-hadis yang dikelompokkan ke dalam beberapa bab berdasarkan tema-tema utama seperti akhlak (ikhlas, sabar, takwa, tawakal, hubungan sosial, dan lain-lain), adab sopan santun (malu, menjaga rahasia, menepati janji, menghormati tamu, tata tertib makan, adab berpakaian, mengucapkan salam), adab terkait orang sakit dan orang yang meninggal, keutaman membaca Alquran, keutamaan terkait dengan berbagai macam salat dan puasa, jihad, zikir dan doa, serta larangan-larangan terkait dengan ibadah, muamalah, dan kebiasaan-kebiasaan hidup tertentu.

Dalam bidang fikih, yang diajarkan adalah kitab Fatḥ al-Qarīb dan al-Yāqūt al-Nafīs fī Madhhab Ibn Idrīs fī Fiqh al-Sādāt al-Shāfi‘iyyah. Kitab Fatḥ al-Qarīb ditulis oleh Abū Shujā‘ (433-539 H) seorang ahli fikih abad ke-4 H yang bermazhab Syafi’i. Ia menjelaskan bahwa penulisan kitab ini adalah respons terhadap permintaan para sahabat dan muridnya untuk menulis kitab fikih Syafii dalam rangka mempermudah para pengkaji pemula seperti harapan beliau yang dapat terlihat dalam nama kitab tersebut. Kitab Fatḥ al-Qarīb disebut Ghāyat al-Mukhtaṣar dan Nihāyat al-Mukhtaṣar karena muatan kajiannya sangat sederhana, yang membahas tidak hanya persoalan ibadah, namun juga masalah-masalah fikih lainnya. Inilah yang membedakan dari kitab-kitab fikih kecil lainnya, meskipun sistematika pembahasannya tidak berbeda dari yang lain. Sementara itu, kitab al-Yāqūt al-Nafīs ditulis oleh ‘Aḥmad ibn ‘Umar al-Shāṭirī (1312-1360 H). Kandungan kitab ini membicarakan hampir bahasan tentang fikih Syafi’i secara ringkas dan mudah dipahami. Untuk memudahkan para pembacanya, al-Shāṭirī menyediakan beberapa penjelasan ringkas dalam bentuk ḥawāshī dan ta‘līq bagi beberapa perkataan dan permasalahan yang diperbincangkan dalam kitabnya.

Dalam bidang akhlak dan tasawuf, yang diajarkan adalah Talīm al-Mutaallim, al-Adhkār dan al-Naṣā’iḥ al-Dīniyyah wa al-Waṣāyā al-Īmāniyyah. Kitab Talīm al-Mutaallim ini ditulis oleh Burhān al-Dīn al-Zarnūjī. ini adalah kitab yang sangat populer dan bahkan wajib dipelajari oleh para santri di pesantren-pesantren di Indonesia. Kitab ini berisi tentang etika dan metode bagi pelajar untuk mendapatkan keberkahan dari ilmunya. Kitab ini disusun oleh al-Zarnūjī karena keperihatinannya melihat fenomena pelajar akhir zaman yang berilmu namun tidak memperoleh kesuksesan dan keberkahan. Kitab ini terdiri dari 13 pasal, yang secara garis besar dapat disimpulkan menekankan pada lima hal penting dalam menuntu ilmu, yaitu (1) niat lurus, (2) memilih guru, mengagungkan ilmu dan pemiliknya, (3) belajar tekun dan musyawarah, (4) belajar di perantauan dan menanggung kesusahan yang dialami, dan (5) bekerja dan berdoa agar berkecukupan. 

Kitab al-Adhkār ditulis oleh Imam al-Nawawī (631-676 H), yang menghimpun hadis-hadis yang menyebutkan doa-doa dan zikir-zikir yang berasal dari Nabi Muhammad Saw. Oleh karena itu, kitab ini sangat bermanfaat bagi siapa pun yang ingin mengetahui dan mengamalkan doa-doa dan zikir-zikir harian yang terdapat dalam hadis-hadis Nabi dan rincian tentang etika-etikanya. Kitab al-Adhkār ini sangat populer dalam masyarakat Islam Indonesia, dan doa-doa serta zikirnya banyak diamalkan oleh masyarakat Islam Indonesia. Sementara itu, kitab al-Naṣā’iḥ al-Dīniyyah ditulis oleh ‘Abd Allāh bin ‘Alawī al-Ḥaddād, yang dilahirkan di Hadramaut pada tanggal 5 Safar 1044 H/30 Juli 1634 M dan wafat pada tanggal 7 Zulkaidah 1132 H/10 September 1720 M. Kitab al-Naṣā’iḥ al-Dīniyyah ini merupakan kitab populer yang banyak dibaca dan dikaji oleh masyarakat Islam di seluruh dunia, dan juga di Indonesia. Bahkan, kitab ini sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa seperti Inggris, Perancis, Indonesia dan Malaysia. Kitab yang ditulis oleh ‘Abd Allāh bin ‘Alawī al-Ḥaddād pada saat ketika beliau berusia 45 tahun ini membahas tentang persoalan tauhid, fikih dan tasawuf. Gaya pembahasan dan metode penulisannya mengikuti kitab Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn karya al-Ghazzālī. Bahkan, kitab ini dapat dikatakan intisari dari kitab Iḥyā’ yang oleh pengarangnya dijadikan lebih ringkas, dan bahasanya mudah dipahami.

Penguatan Tradisi Asy’ari dan Syafi’i

Sayid Saggaf adalah seorang penganut Asy’ari dalam persoalan teologi dan Syafi’i dalam persoalan fikih. Sebagai seorang penganut Asy’ari, beliau begitu antipati dengan pemahaman yang dapat menggembosi dan membahayakan paham ini, seperti paham Wahabi. Oleh karena itu, beliau sangat waspada dengan paham Wahabi dan mengingatkan para pengikut Alkhairaat (abnā’ al-khairāt)untuk mewaspadai paham ini karena paham ini mudah membidahkan mencap syirik kepada ritual-ritual teologi Asy’ari, dan anti terhadap praktik tarekat sufi. Pesan ini disampaikan oleh beliau ketika menjadi keynote speaker pada workshop “Membangun Kesadaran Hukum untuk Budaya Damai dan Keserasian Sosial” di Palu. Sayid Saggaf mengatakan bahwa “Meskipun mengklaim sebagai penganut mazhab Hanbali, namun tidak semua mazhab Hanbali mereka terima. Ini salah satu aliran yang keras, ekstrim dan radikal.”[1] Menurutnya,

Meski mengklaim sebagai ahlus sunnah wal jama’ah, namun sesungguhnya paham ini berbeda, dimana ada masalah yang sesungguhnya tidak prinsipil, tapi bagi aliran ini sangat prinsipil, seperti ziarah kubur. Mereka anti ziarah kubur. Orang yang ziarah kubur langsung dicap kafir. Kalau kafir bagi mereka, halal darahnya dibunuh.”[2]

Sebagai seorang penganut mazhab Syafi’i, ada beberapa langkah yang diambil oleh Sayid Saggaf Al-Jufri yang secara tidak langsung dapat dikatakan berperan memperkuat dan menyebarkan paham Syafi’i dalam masyarakat Islam di Tanah Kaili. Pertama, membentuk pondok pesantren Madinatul Ilmi dan mengajarkan berbagai kitab kuning di pesantren ini. Di antaranya yang rutin beliau ajarkan kepada para santri setiap minggu adalah kitab al-Adhkār dan Riyāḍ al-Ṣāliḥīn yang ditulis oleh al-Nawawī. Dalam pesantren ini, beberapa kitab lain juga diajarkan kepada para santri, dan ini tentu saja secara langsung menyebarkan dan memperkuat paham-paham Syafi’iyah. Kitab-kitab tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Riyāḍ al-Ṣāliḥīn karya Imam al-Nawawī, yang memuat koleksi 1900 hadis-hadis sahih yang diambil dari enam kitab hadis utama (al-kutub al-sittah). Kitab ini adalah kitab populer dan dikaji dalam berbagai pondok pesantren dan majelis-majelis taklim di berbagai masjid di Indonesia.
  2. Fatḥ al-Qarīb. Kitab ini dikenal pula dengan sebutan al-Qawl al-Mukhtār fī Shar Ghāyat al-Ikhtiṣār dan Shar Ibn Qāsim al-Ghazzī. Kitab ini ditulis oleh Abū ‘Abd Allāh Shams al-Dīn Muḥammad ibn Qāsim ibn Muḥammad al-Ghazzī (918 H). Ia merupakan kitab penjelasan kandungan matan al-Taqrīb karya Abū Shujā‘ al-Aṣbahānī (500 H). Uraian kitab Fat al-Qarīb adalah agak ringkas dan termasuk di antara kitab syarah fikih Syafi’i yang paling mudah dipahami.
  3. Al-Yāqūt al-Nafīs. Kitab fikih dalam mazhab Syafi’i ini disusun oleh Sayyid ‘Aḥmad ibn ‘Umar al-Shāṭirī (1312-1360 H). Kandungan kitab ini membicarakan hampir bahasan tentang fikih dalam mazhab Syafi’i secara ringkas, dan mudah dipahami. Untuk memudahkan para pembacanya, Sayid ‘Ahmad al-Shāṭirī menyediakan beberapa penjelasan ringkas yang berbentuk ḥawāshī dan ta‘līq bagi beberapa perkataan dan permasalahan yang diperbincangkan dalam kitabnya

Kedua, menjadi pengasuh rubrik tanya jawab tentang persoalan umat di kota Palu dan sekitarnya. Rubrik tersebut dikelola oleh sebuah Tabloid Mingguan Alchairaat (MAL) yang dimulai sekitar tahun 1990-an. Jawaban-jawaban terhadap pertanyaan umat tersebut kemudian dikumpulkan dalam satu buku dengan judul Menjawab Masalah Umat (2 Jilid). Literatur-literatur fikih yang digunakan sebagai pedoman untuk menjawab pertanyaan sebagian besar adalah kitab-kitab Syafi’iyah yang populer digunakan oleh masyarakat Islam Indonesia, seperti al-Majmū‛ Sharḥ al-Muhadhdhab karya al-Nawawī, I‛ānat al-Ṭālibīn karya Sayid Bakrī dan juga Kifāyat al-Akhyār karya Taqī al-Dīn Abī Bakr ibn Muammad al-Ḥusaynī al-Dimashqī al-Shāfi‘ī.***


[1] Dikutip dalam http://www.salafynews.com/habib-saggaf-al-jufri-ketua-utama-al-khairat-waspada-aliran-wahabi.html#forward (Akses: 1 Nopember 2016).

[2] Ibid.

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button