Sayyid Idrus bin Ali Al-Habsyi, Raudhatul Mustafa, dan Penguatan Mazhab Syafi’i

Sekilas tentang pesantren Raudhotul Mustafa lil Khairaat

Meskipun ada kata “Khairaat” di belakang nama pesantren ini, namun ia tidak berafiliasi dengan Alkhairaat, meskipun sang pendiri adalah keturunan dari pendiri Alkhairaat, Sayid Idrus Al-Jufri. Penggunaan kata “Alkhairaat” ini bertujuan mencari “berkah” (tabarruk) kepada pendiri Yayasan Pendidikan Alkhairaat, Sayid Idrus bin Salim Aljufri. Nama “Musthofa” diambil dari salah satu kata dari nama pesantren yang ada di Tarim, Yaman, Dar al-Mustafa yang diasuh oleh Sayid Umar bin Hafiz bin Syekh Abu Bakar, guru langsung dari pendiri pesantren Raudhatul Mustafa lil Khairaat ini. Pesantren terletak di wilayah Kabonena, Kota Palu. Sementara itu, kata Raudhoh, yang berarti “taman”, menyampaikan pesan bahwa pesantren ini adalah tempat pembelajaran awal ilmu-ilmu keislaman klasik.

Pesantren Raudhotul Musthofa lil Khairaat ini didirikan pada tahun 2006 oleh Sayid Idrus bin Ali Al-Habsyi, cucu Sayid Idrus dari perkawinannya dengan Intje Aminah binti Daeng Sute. Sayid Idrus Al-Habsyi dilahirkan di Palu pada tanggal 2 Nopember 1970, dan beliau adalah putera ke-9 dari pasangan Sayid Ali Al-Habsyi dan Syarifah Sidah binti Idrus bin Salim Al-Jufri.

Pesantren terletak di bukit desa Kabonena, Kecamatan Marawola, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Saat ini, pesantren menyelenggarakan pembelajaran untuk putera dan puteri. Untuk putera, pesantren dipimpin langsung oleh Sayid Idrus Al-Habsyi, sementara untuk puteri dipimpin oleh Syarifah Banin Al-Hamid. Menariknya, untuk putera mereka memakai sarung dan baju kokoh, sementara puteri memakai baju kurung (jalabiyah) berwarna hitam.  

Pendidikan dasar dan menengah yang ditempuh oleh Sayid Idrus Al-Habsyi adalah di Madrasah Alkhairaat. Kemudian melanjutkan strata satu di Universitas Al-Azhar di Mesir dalam bidang ilmu Syariah. Kemudian, dari Mesir beliau pergi ke Yaman untuk menuntut ilmu terutama di pesantren Dar al-Mustafa, yang terletak di kota Tarim, Hadramaut. Beliau adalah angkatan ke-3 yang menyelesaikan pendidikannya pada tahun 2003. Dār al-Mustafa merupakan benteng Islam Ahlus Sunnah wal Jama’ah dengan mazhab Syafi’i. Pesantren ini didirikan oleh Sayid ‘Umar ibn Muḥammad bin Sālim bin Ḥāfiẓ pada akhir tahun 1414 H (1993) di belakang kediaman Sayid ‘Umar di kota Tarim. Sayid ‘Umar menyewa sebuah rumah di bagian belang rumah miliknya untuk menampung sekitar 35 murid.

Pada mulanya, murid itu terdiri dari lima murid dari Yaman dan selebihnya berasal dari Indonesia, di antaranya adalah Habib Jindan bin Novel bin Jindan, Habib Munzir bin Fuad al-Musawa, dan masih banyak lagi angkatan pertama yang berasal dari Indonesia. Para murid yang berasal dari Indonesia tersebut belajar di Dar al-Mustafa atas kehendak dari Habib ‘Umar sendiri ketika beliau berkunjung ke Indonesia pada kali pertama atas undangan Habib Anis bin Alawi bin Ali al-Habsyi di Solo. Setelah beberapa persyaratan dipenuhi, para santri awal dari tersebut berangkat ke Tarim pada awal tahun 1994.

Setelah jumlah murid bertambah, ruangan yang digunakan untuk belajar pun tidak mencukupi. Sehingga para santri dipindahkan ke Masjid Al-Taqwa yang letaknya tidak jauh dari rumah Sayid ‘Umar bin Hafiz. Dengan bertambahnya santri yang ingin belajar kepada Sayid ‘Umar, maka pembelajaran dipindahkan ke Masjid Maula ‘Aidid, hingga dibangunlah pesantren dan selesai pada bulan Mei 1997 (1417 H).[1]

Pesantren Raudhotul Musthofa lil Khairaat, yang banyak dipengaruhi oleh pesantren Dar al-Mustafa, didirikan oleh Sayid Idrus Alhabsyi dengan alasan dan pertimbangan berikut ini:

Pertama, banyak pesantren yang ada di wilayah Sulawesi Tengah kurang banyak mencetak para guru agama yang berkualitas yang menguasai bahasa Arab dan kitab kuning dengan baik. Kedua, masyarakat di sekitar wilayah pondok didirikan banyak yang kurang mempunyai pemahaman Islam yang baik. Ketiga, untuk tujuan kaderisasi atau mencetak guru-guru agama dan dai-dai berkualitas yang akan dikirim ke wilayah-wilayah di sekitar Sulawesi Tengah.[2]

Oleh karena itu, Sayid Idrus kemudian membuka beberapa pesantren lain di wilayah-wilayah lain seperti Kanyunyole, Ampana di Kabupaten Tojo Una-Una dengan nama Raudhatul Mustafa lil Khairaat pada tahun 2011, dan d wilayah Dataran Bulan, Ampana, Kabupaten Tojo Una-Una dengan nama Anwarul Khairaat pada tahun 2012. Program pendidikan di wilayah untuk sementara adalah satu tahun sebagai persiapan untuk masuk ke Pesantren Raudhatul Mustafa lil Khairaat pusat yang terletak di wilayah Marawola, Kabupaten Sigi. Atau dapat dikatakan bahwa kedua pesantren ini merupakan transit untuk mempersiapkan santri-santri yang akan belajar di pesantren pusat. Pembukaan pesantren oleh Sayid Idrus Al-Habsyi di tempat-tempat lain di Sulawesi Tengah secara tidak langsung merupakan bagian dari penguatan jaringan Hadrami, karena dengan pembukaan dan ekspansi pesantren di wilayah-wilayah tersebut memperlihatkan eksistensi mereka dan sekaligus menyampaikan pesan-pesan yang menjadi tujuan pendirian pesantren ini.

Selain itu, dalam pesantren ini, terutama setiap malam Jumat selalu dibacakan maulid Nabi atau sejarah kelahiran dan perjuangan Nabi melalui syair-syair. Kitab maulid yang digunakan adalah kitab-kitab yang ditulis oleh ulama Hadrami. Pertama, Simṭ al-Durar yang disusun oleh Sayid ‘Ali ibn Muhammad ibn Husayn al-Habsyi, yang lahir pada tanggap 24 Syawal 1259 H (1839 M) di kota Qasam, Hadramaut. Kitab Simṭ al-Durar ini biasa disebut juga dengan Maulid Habsyi. Dalam kitab ini, digambarkan secara rinci sosok Nabi Muhammad Saw, seperti beliau seorang yang jujur (siddīq), terpercaya dan bertanggung jawab (amānah), menyampaikan(tablīg), bijaksana, dan cerdas (faṭānah). Sebaliknya, digambarkan bahwa Nabi tidak pernah berdusta, tidak khianat, tidak pernah menyembunnyikan informasi kebenaran (kitmān), dan bukan seorang yang bodoh. Beliau digambarkan baik budi pekertinya, tampan rupanya. Tubuhnya atletis dan selalu terawat bersih. Lemah lembut, namun ksatria, ramah tapi serius, dan otaknya cerdas. Tangannya sangat senang memberi, hatinya sangat berani, dan lidahnya sangat dapat dipercaya. Pada malam hari, beliau hanya tidur sebentar, dan sebagian waktunya dihabiskan untuk ibadah. Beliau sangat menyayangi orang miskin, mencintai anak-anak dan menghormati perempuan. Beliau bagaikan ayah bagi sahabat-sahabatnya, sangat pemaaf bahkan terhadap musuh-musuhnya. Akhlaknya Alquran, lemah lembut, kasih sayang, dan beliau adalah teladan bagi umat manusia.

Kedua, al-Ḍiyā’ al-Lāmi‘ yang disusun oleh Sayid ‘Umar ibn Hafiz. Kitab ini ditulis pada tahun 1994 di kota Shihr, dekat Mukhalla, Hadramaut. Menurut Habib Munzir Al-Musawa,[3] banyak rahasia terpendam dalam maulid ini. Pertama, pembukanya adalah 12 bait, melambangkan kelahiran Rasul pada tanggal 12. Kedua, pasal pertama terdiri dan diambil dari tiga surat, yaitu al-Fath, al-Tawbah, dan al-Ahzab, yang melambangkan lahirnya Rasul pada bulan tiga (Rabiul Awal). Ketiga, bait-baitnya berjumlah 63, yang melambangkan usia Nabi 63 tahun. Dalam kitab maulid ini, digambarkan dan diuraikan tentang sejarah Rasulullah Saw dari semenjak lahir hingga wafat, usia Rasullullah Saw, jumlah peperangan yang dijalani oleh Rasulullah Saw, perjuangan di Mekkah dan Madinah, Fathu Makkah, jumlah pejuang Badar yang wafat, tahun perang Badar, dan ratusan sejarah lain yang terjadi di masa Rasulullah Saw.

Metode Pembelajaran di Pesantren Raudhatul Mustafa

Dalam pesantren tradisional, biasanya ada dua metode yang digunakan, yaitu sorogan dan bandongan. Kedua istilah ini sangat populer di kalangan pesantren, terutama yang masih menggunakan kitab kuning sebagai sarana pembelajaran utama. Kedua metode ini sering digunakan oleh santri untuk menggali ajaran-ajaran Islam melalui kitab kuning (kutub al-turāth). Secara bahasa, sorogan berasal dari bahasa Jawa sorog, yang berarti “menyodorkan”. Dengan metode ini, santri dapat menyodorkan materi yang ingin dipelajarinya sehingga mendapatkan bimbingan secara individual atau secara khusus. Dengan menggunakan metode sorogan, setiap santri akan mendapatkan kesempatan untuk belajar secara langsung dengan ustadz atau kiai tertentu yang ahli dalam mengkaji kitab kuning, khususnya santri baru dan santi yang benar-benar ingin mendalami kitab klasik. Dengan metode ini, kiai dapat membimbing, mengawasi, dan menilai kemampuan santri secara langsung. Metode ini sangat efektif untuk mendorong peningkatan kualitas santri. Untuk itu, santri diwajibkan menguasai cara pembacaan dan terjemahan secara tepat dan hanya boleh menerima tambahan pelajaran jika telah berulang-ulang mendalami pelajaran sebelumnya. Hal ini tentunya menuntut kesabaran, kerajinan, ketekunan, dan disiplin pribadi santri.

Metode kedua yang digunakan oleh pesantren tradisional dalam pembelajaran adalah bandongan atau bandungan. Istilah ini berasal dari bahasa Sunda ngabandungan, yang artinya “memperhatikan secara seksama atau menyimak”. Dengan metode ini, para santri akan menyimak secara kolektif. Dalam metode bandongan ini, sekelompok murid yang terdiri dari 5 sampai 500 orang mendengarkan seorang guru yang membaca, menerjemahkan, menerangkan, dan seringkali mengulas kitab-kitab Islam yang tertulis dalam bahasa Arab. Setiap santri memperhatikan kitabnya sendiri dan membuat catatan-catatan baik arti atau keterangan tentang kata-kata atau buah pikiran yang sulit. Metode ini juga disebut wetonan, yang berasal dari kata wektu yang berarti “waktu”. Hal ini karena pengajian-pengajian tersebut hanya diberikan pada waktu-waktu tertentu, yaitu sebelum atau sesudah salat fardu di masjid atau pesantren.

Dalam mempraktikan metode ini, seorang kiai akan membacakan kitab kuning dan menerjemahkannya ke dalam bahasa ibu. Kemudian santri menuliskan atau menerjemahkan kata demi kata seperti yang disampaikan oleh kiai tersebut. Sistem penerjemahan disampaikan sedemikian rupa sehingga para santi mudah mengetahui baik arti maupun fungsi kata dalam suatu rangkaian kalimat dalam kitab kuning tersebut.

Di Pesantren Raudhotul Mustafa lil Khairaat, sistem pengajian adalah halaqah dengan menggunakan metode bandongan. Dalam sistem ini, seorang ustadz membacakan satu kitab tertentu, menjelaskan makna kata per kata, dan menjelaskan maksudnya. Ada beberapa ustadz yang khusus mengajarkan ilmu-ilmu keislaman dengan sistem halaqah ini.

Pertama, Ustadz Sholahudin mengajarkan kitab fikih al-Yāqut al-Nafis yang ditulis oleh untuk santri menengah atas (‘āliyah), dan juga kitab al-Kawākib al-Durriyyah dalam bidang ilmu nahwu. Kitab al-Yāqut al-Nafis sudah dijelaskan profilnya pada pembahasan sebelumnya. Sementara itu, al-Kawākib al-Durriyyah adalah kitab nahwu yang ditulis oleh Muhammad ibn Ahmad ibn ‘Abd al-Bāri, dan merupakan syarah atau penjelasan terhadap kitab Mutammimah al-Ajrumiyyah karya Muhammad al-Ra‘ini yang terkenal dengan sebutan al-Haṭṭāb. Kitab ini ditulis dengan gaya bahasa yang mudah dipahami, dan kitab ini diajarkan setelah santri mempelajari dasar-dasar ilmu nahwu.

Kedua, ustadz Zaini mengajarkan pula kitab al-Yāqut al-Nafis dalam bidang fikih, Riyād al-Sālihin karya al-Nawawi dalam bidang hadis, (kedua kitab ini sudah dijelaskan profilnya pada pembahasan sebelumnya), ‘Aqidat al-‘Awwām dalam ilmu tauhid, Sharh al-Qatr al-Nadā wa Ball al-Sadā dalam bidang ilmu nahwu, al-Qawā‘id al-Asāsiyyah fi Usul al-Fiqh.  

Kitab ‘Aqidat al-‘Awwām ditulis oleh Sayid Ahmad al-Marzuqi (1205-1261 H). Kitab ini berisi dasar-dasar keyakinan ajaran Islam yang dijadikan pijakan oleh kaum Muslim. Dalam kitab ini dijelaskan tentang keesaan Allah dan dalilnya, sifat-sifat Allah atau yang disebut ‘aqā’id lima puluh (20 sifat wajib bagi Allah, 20 sifat mustahil bagi Allah, 1 sifat jā’iz (boleh)bagi Allah, 4 sifat wajib bagi Rasul, 4 sifat mustahil bagi Rasul, dan 1 sifat jā’iz (boleh) bagi Rasul). Kitab ini populer dan banyak diajarkan di pesantren dan majelis taklim.

Kitab al-Qatr al-Nadāadalah kitab nahwu tingkat lanjut yang ditulis oleh Jamal al-Din Ibn Hisham. Dalam berbagai pesantren di Indonesia, kitab ini biasanya diajarkan sebagai kelanjutan dari pengajaran kitab al-Ajrumiyyah dan Mutammimah al-Ajrumiyyah. Kitab ini membahas sebagian besar ilmu dan kaidah nahwu.

Sementara itu, Kitab al-Qawā‘id al-Asāsiyyah fi Usul al-Fiqh ditulis oleh Sayid Muhammad ‘Alawi al-Māliki. Kitab ini adalah kitab ringkas yang membahas tentang persoalan usul fikih dasar, seperti bahasan tentang perintah dan larangan (al-amr wa al-nahy), bahasan tentang al-‘āmm wa al-khass, al-mujmal wa al-mubayyan, pertentangan dalil (ta‘ārud} bayn al-adillah) dan tarjih, ijma, hadis/khabar, qiyas, mufti dan mustafti (peminta fatwa), ijtihad, dan lain-lain. Kitab-kitab ini diajarkan oleh para ustadz dan guru di Pesantren Raudhatul Mushtofa lil Khairaat dengan menggunakan sistem halaqah, berpedoman pada metode bandongan atau wetonan. Dalam metode ini, para ustadz ini membacakan sebuah kitab kata demi kata, kemudian menguraikan arti kata (mufradāt), dan menjelaskan maksud dari kandungan teks tersebut. Para santri mendengarkan dengan saksama dan mencatat makna-maka kata yang sulit dipahami dalam kitab mereka masing-masing, dan juga mencatat penjelasan terhadap maksud kalimat tersebut.

Dalam berbagai pernyataannya, Sayid Idrus Al-Habsyi menyebut dirinya sebagai penganut mazhab Syafi’i. Dalam menyebarkan dan memperkuat mazhab Syafi’i di Tanah Kaili, langkah-langkah yang beliau ambil secara tidak langsung mencakup hal-hal berikut ini:

Pertama, membentuk pesantren tradisional (salafiyyah) yang khusus mengajarkan ilmu-ilmu agama, dari bahasa Arab yang mencakup naḥwu-ṣarf, Alquran, Hadis, akidah Asy’ari, sirah Nabi, dan fikih Syafi’i. Untuk kitab naḥwu yang digunakan adalah kitab al-Ajrūmiyyah yang ditulis oleh Abū ‘Abd Allāh Muḥammad ibn Muḥammad ibn Dāwūd al-Ṣanhājī, yang terkenal denan sebutan Ibn Ajrūm (w. 723 H), dan kitab ṣarf menggunakan kitab kecil al-Amthilah al-Taṣrīfiyyah yang disusun oleh KH. Ma’shum bin Ali asal Pesantren Seblak Diwek Jombang. Kitab yang terdiri dari 60 halaman ini mempunyai susunan bait-bait yang sangat sistematis, sehingga mudah dipahami dan dihapal bagi para pelajar dan santri. Hampir di seluruh lembaha pendidikan madrasah yang ada di Indonesia bahkan negara Islam, kitab ini menjadi salah satu bidang yang wajib dipelajari. Saking masyhurnya, kitab ini mempunyai julukan Tasrifan Jombang. Untuk bidang tauhid, tidak begitu menjadi fokus pembelajaran, namun tetap diajarkan dengan menggunakan kitab Jawharat al-Tawḥīd yang ditulis oleh seorang ulama Mesir, Ibrāhīm al-Laqqānī (w. 1041 H) dalam satu malam pada abad ke-17 M.

Kitab-kitab berbahasa Arab (kutub al-turāth) ini diajarkan dengan menggunakan metode ḥalaqah dengan sebagian ustadz yang merupakan alumni dari pesantren dan perguruan tinggi di Hadramaut. Ilmu-ilmu umum (secular sciences) tidak diajarkan di pesantren ini, meskipun para santri tetap harus mengikuti ujian yang melibatkan ilmu-ilmu umum untuk mendapatkan ijazah.

Kedua, mengajarkan kitab-kitab yang ditulis oleh ulama-ulama bermazhab Syafi’i kepada para santri. Beberapa kitab Syafi’iyah yang digunakan dan diajarkan kepada santri mencakup beberapa kitab berikut ini:

  1. Al-Dhakhīrah al-Musharrafah. Kitab ini ditulis oleh Sayid ‘Umar bin Ḥāfiẓ. Kitab yang ringkas dan berukuran kecil ini mencakup bahasan tentang prinsip-prinsip agama, dasar-dasar ibadah (wudhu’, salat, salat jenazah, dan lain-lain), etika dan doa-doa.
  2. Safīnat al-Najā. Kitab ini ditulis oleh al-Shaykh Sālim bin ‘Abd Allāh bin Sumayr al-Ḥaḍramī, seorang ulama terkemuka dalam bidang ilmu keagamaan, terutama fikih dan tasawuf. Kitab ini adalah kitab kecil yang disajikan dengan bahasa yang mudah, susunan yang ringan dan redaksi yang mudah untuk dipahami dan dihapal. yang besar manfaatnya. Kitab ini mencakup pokok-pokok agama secara terpadu, lengkap dan utuh. Dimulai dari bahasan tentang dasar-dasar syariat, kemudian bahasan tentang bersuci, salat, zakat, puasa, dan haji.
  3. Nayl al-Rajā. Kitab ini ditulis oleh Sayid Aḥmad ibn ‘Umar al-Shāṭirī, yang merupakan komentar atau sharḥ terhadap kitab Safīnat al-Najā. Beliau ini adalah ulama Hadramaut yang dilahirkan pada tahun 1312 H (1895 M).
  4. Bushrā al-Karīm bi Sharḥ Masā’il al-Ta‘līm. Kitab ini ditulis oleh Sa‘īd ibn Muḥammad Bā ‘Alī Bā ‘Ashin (w. 1270 H) seorang ulama Hadrami yang bermazhab Syafi’i. Kitab ini adalah syarah terhadap kitab al-Muqaddimah al-Ḥaḍramiyyah yang ditulis oleh ‘Abd Allāh ibn ‘Abd al-Raḥmān Bā Faḍl al-Ḥaḍramī (w. 918 H).
  5. Ḥāshiyat al-Bājūrī. Kitab ini merupakan kitab fikih mazhab Syafii yang ditulis oleh Shaykh Burhān al-Dīn Ibrāhīm al-BāJūrī (1198 H/1783 M-28 Zulkaidah 1276 H/19 Juli 1860 M). Beliau dilahirkan di Desa Ba>ju>r Mesir. Karena ketinggian dan kedalaman ilmunya, beliau diangkat menjadi Syaikh al-Azhar, posisi paling tinggi dan prestisius di Universitas Al-Azhar. Ḥāshiyah ini merupakan kitab penjelasan terhadap kitab Fatḥ al-Qarīb yang ditulis oleh Ibn Qāsim al-Ghazī, yang merupakan kitab syarah dari matan al-Taqri>b, yang merupakan kitab yang wajib dipelajari di hampir seluruh pesantren di Indonesia. Dengan mempelajari ḥāshiyah ini, maka akan mudah dipahami kitab Fatḥ al-Qarīb. Lebih dari itu, ḥāshiyah ini banyak menjadi rujukan para ulama dalam menetapkan hukum Islam kontemporer yang terjadi saat ini.
  6. Al-Yāqūt al-Nafīs. Kitab fikih dalam mazhab Syafi’i ini disusun oleh Sayid ‘Aḥmad ibn ‘Umar al-Shāṭirī (1312-1360 H). Kandungan kitab ini membicarakan hampir bahasan tentang fikih dalam mazhab Syafi’i secara ringkas, dan mudah dipahami. Untuk memudahkan para pembacanya, Sayid Aḥmad ibn ‘Umar al-Shāṭirī menyediakan beberapa penjelasan ringkas yang berbentuk ḥawāshī dan ta‘līq bagi beberapa perkataan dan permasalahan yang diperbincangkan dalam kitabnya.

Ketiga, perluasan pondok pesantren sampai ke wilayah-wilayah lain di Sulawesi Tengah. Saat ini sudah ada dua pondok pesantren perluasan di kota Ampana Kabupaten Tojo Una-Una, lebih tepatnya di desa Kanyunyolu dan Dataran Bulan. Pesantren yang terletak di desa Kanyunyole dipimpin oleh Habib Ahmad bin Thoha Al-Habsyi, dan mempunyai santri sebanyak 36 orang. Sementara itu, pesantren yang terdapat di Dataran Bulan dipimpin oleh Ustadz Fakhri dan mempunyai santri sebanyak 20 orang. Kedua pimpinan ini adalah alumni dari pondok pesantren Roudhotul Mushtofa yang terletak di Palu.***


[1] Syamsul Hari, Hadhramaut Bumi Sejuta Wali (Surabaya: Data Mustafa Press, tt), 179.

[2] Wawancara dengan Sayid Idrus bin Ali Al-Habsyi, pendiri Pondok Pesantren Raudhatul Mustafa lil Khairaat (Sabtu, 29 Oktober 2016).

[3] http://www.majelisrasulullah.org

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button