Tahun Baru Islam Momen Perbaikan Diri

Tidak terasa kita sekarang sudah berada di tahun baru hijriyah 1442 H. Itu berarti usia kita semakin bertambah, dan pada saat yang sama jatah umur yang Allah sediakan buat kita semakin berkurang. Maka, di sisa umur kita, mari kita sama-sama memperbaiki dan membenahi diri untuk menjadi insan yang bertakwa. Tidak ada bekal yang paling bermanfaat untuk kehidupan hari akhir nanti kecuali takwa kita kepada Allah Swt. Saya teringat perkataan seorang penyair Arab, Ahmad Syawqi Beik, terkemuka:

تزود بالتقوى فإنك لا تدري إذا حان الليل هل تعيش إلى الفجر
كم من صحيح مات من غير علة وكم من عليل عاش حينا من الدهر

“Berbekallah dengan takwa, karena kamu tidak tahu, apabila malam datang, apakah kamu dapat hidup hingga pagi hari. ** Berapa banyak orang yang sehat meninggal tanpa didahului sebuah penyaki, dan berapa banyak orang sakit masih dapat bertahan hidup hingga bertahun-tahun”

Kita mungkin bertanya-tanya, apa yang harus kita perbaiki dan benahi? 
Pertama, yang paling penting adalah kita melakukan pembenahan diri dalam keimanan dan tauhid kita kepada Allah. Karena inilah kunci untuk kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Kegelisahan hidup yang kita alami selama ini dan beberapa perilaku hidup kita yang menyimpang, seperti suka melakukan manipulasi, korupsi, curang, dan berbagai tindakan imoral lainnya tidak terlepas dari kualitas tauhid kita yang semakin mengalami penurunan. Kita mengaku beriman, namun keimanan kita tidak mengubah perilaku kita. Kita percaya kepada Allah, tapi kita banyak melakukan perbuatan-perbuatan yang seringkali menyalahi kepercayaan itu. Kita beriman, tapi tidak merasakan manisnya iman itu. Buat apa mempunyai radio bagus, jika telinga tuli. Buat apa mempunyai televisi indah, jika tidak bisa melihat. Buat apa beriman, jika tidak merasakannya. Oleh karena itu, untuk mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan hidup, kita harus merasakan manisnya iman. Lalu, bagaimana caranya agar kita dapat merasakan manisnya iman itu?

Beberapa abad yang lalu, Rasulullah Saw telah mengajarkan kepada kita. Kata Nabi:

ثلاث من كن فيه وجد حلاوة الإيمان: أن يكون الله ورسوله أحب إليه مما سواهما ، وأن يحب المرء لا يحبه إلا لله، وأن يكره أن يعود فى الكفر كما يكره أن يقذف في النار (رواه البخاري)

Berdasarkan hadis ini, ada tiga cara untuk dapat merasakan manisnya iman. Pertama, kita menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih kita cintai dari apa pun yang ada di alam semesta ini. Cinta kepada Allah membutuhkan pembuktian, yaitu ketaatan kepada-Nya dengan tulus dan ikhlas. Kata pepatah Arab: إن المحب لمن يحب مطيع (pecinta selalu mematuhi yang dicintainya). Mencintai Allah berarti mematuhi Allah dan mengikuti segala aturan-aturan-Nya. Para Nabi dan Rasul adalah contoh bagaimana cintanya kepada Allah begitu kuat, jika kita lihat besarnya pengorbanan dan kesabaran mereka. Begitu pula dengan para Sahabat Nabi.

Suatu ketika, pada saat Rasulullah mengumumkan agar kaum Muslim menyumbangkan harta mereka untuk dana perang Tabuk, Abu Bakar membawa seluruh hartanya kepada Rasulullah Saw. Saking banyaknya yang disumbangkan, Rasul pun kemudian bertanya kepadanya, “Apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?” “Allah dan Rasul-Nya,” jawab Abu Bakar tanpa keraguan dalam dirinya sedikit pun. Kata Al-Ghazali, “Orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya dengan sepenuh hati tak menyisakan apa pun melainkan apa yang ia cintai.”

Ketulusan hati itu membuat Abu Bakar menjadi orang yang paling ma’rifah kepada Allah di antara umat Nabi. Abu Bakar mengorbankan segalanya untuk Allah dan Rasulnya sehingga hidupnya begitu miskin, padahal sebelumnya ia adalah seorang saudagar kaya raya disegani oleh bangsa Quraisy.

Abdullah bin Umar bercerita: Suatu ketika Rasulullah Saw duduk, di samping beliau ada Abu Bakar memakai jubah kasar, di bagian dadanya ditutupi dengan tambalan. Malaikat Jibril turun menemui Rasulullah SAW dan menyampaikan salam Allah kepada Abu Bakar. “Hai Rasulullah, kenapa aku lihat Abu Bakar memakai jubah kasar dengan tambalan penutup di bagian dadanya?” tanya Malaikat Jibril. “Ia telah menginfakkan hartanya untukku (untuk kepentingan dakwah).” Kata Jibril, “Sampaikan kepadanya salam dari Allah dan sampaikan kepadanya: Tuhanmu bertanya: Apakah engkau rela dengan kefakiranmu ini ataukah tidak?”

Rasulullah SAW menoleh kearah Abu Bakar dan berkata, “Hai Abu Bakar, ini Jibril menyampaikan salam dari Allah kepadamu, dan Allah bertanya: ‘Apakah engkau rela dengan kemiskinanmu ini ataukah tidak?” Abu Bakar menangis dan menjawab: “Apakah aku akan murka kepada (takdir) Tuhanku!? (Tidak!) Aku ridha dengan (takdir) Tuhanku.”

Semua miliknya habis untuk Allah dan Rasulullah SAW. Inilah ketulusan cinta. Cinta yang mengorbankan segalanya untuk Sang Kekasih, tak menyisakan apa-apa lagi selain Dia di hatinya. “Orang yang merasakan kemurnian cinta kepada Allah, maka cinta itu akan membuatnya berpaling dari pencarian terhadap dunia,” Demikian untaian kalimat tentang tasawuf cinta yang pernah terucap dari mulut mulia Sayidina Abu Bakar al-Siddiq.

Kedua, mencintai dan membenci seseorang karena Allah. Nabi Saw pernah bersabda, أوثق عرى الإيمان الحب فى الله والبغض فى الله (ikatan iman yang paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci pun karena Allah). Suatu pertemanan yang dilandasi pada kecintaan karena Allah, maka seorang akan menasehati kebaikan buat saudaranya. Jika ia melihat temannya melakukan suatu perbuatan dosa dan maksiat, maka ia mengingatkannya, bukan membiarkannya tetap terjerumus dalam kemaksiatan dan dosa. Jika melakukan kebaikan, ia mendorongnya, memberikan motivasi dan fasilitas kepadanya. Namun jika sudah berkali-kali dinasehati, namun tidak menghiraukannya, maka tinggalkanlah ia karena Allah.

Suatu ketika Nabi Musa bertanya kepada Allah: “Ya Allah, siapa keluarga-Mu yang nanti akan mendapatkan naungan dari Arasy-Mu,” Allah berkata, “Mereka yang saling mencinta karena keagungan-Ku …”

Ibn ‘Abbas berkata,

من أحب فى الله وأبغض فى الله ووالى فى الله وعادى فى الله فإنما تنال ولاية الله بذلك. . ولن يجد عبد طعم الإيمان وإن كثرت صلاته وصومه حتى يكون كذلك …

“Barang siapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, membela seseorang karena Allah, dan memusuhi seseorang karena Allah, sesungguhnya kecintaaan dan pertolongan Allah (hanyalah diperoleh) dengan hal tersebut. Seorang hamba tidak akan merasakan kenikmatan iman, meskipun shalat dan puasanya banyak, kecuali setelah mengamalkan hal demikian.”

Ketiga, membenci segala bentuk perbuatan maksiat kepada Allah. Perbuatan maksiat memberikan pengaruh buruk terhadap perilaku seseorang. Jika kehidupannya selalu diisi dengan perbuatan-perbuatan buruk, maka ini akan menjadi darah daging, dan sulit untuk dihilangkan. Pada akhirnya, hatinya tertutup, dan terkadang ia tidak mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk. Jika mereka melakukan perbuatan dosa, itu dianggap sebagai suatu hal yang biasa, tidak ada rasa bersalah dalam dirinya. Dan ini banyak terjadi pada masa sekarang ini, di mana orang melakukan perbuatan dosa namun tidak menyadarinya dan mengganggapnya buruk. Dan inilah musibah terbesar yang dialami seorang muslim.

Menjaga diri dari terjerumus dalam kemaksiatan adalah salah satu akhlak yang harus dimiliki seorang muslim. Dan inilah perbaikan kedua yang harus kita lakukan; yaitu perbaikan moral. Rasul diutus oleh Allah tidak lain dan tidak bukan adalah untuk memperbaiki akhlak manusia. Baik akhlak kepada Sang Pencipta, makhluk maupun lingkungan. Pada saat Nabi diutus, masyarakat Arab-Jahiliyah adalah masyarakat yang bejat moralnya. Kebejatan moral tersebut bisa terlihat pada kebiasaan mereka untuk mengubur hidup-hidup bayi perempuan yang baru dilahirkan, khawatir itu dapat menjadi aib buat keluarganya. Mereka juga suka melakukan transaksi berbasis-riba yang seringkali memberatkan orang miskin.

Persoalan akhlak ini menjadi perhatian Rasul karena ini adalah fondasi sebuah masyarakat. Jika sebuah masyarakat rusak moralnya, maka masyarakat tersebut tinggal menunggu kehancurannya. Pernyataan ini dibuktikan dengan fakta-fakta sejarah seperti kehancuran kaum ‘Ad dan Tsamud, serta kaum Nabi Saleh. Bahkan Allah, sebagaimana disebutkan dalam QS al-Isra ayat 16, jika ingin menghancurkan sebuah masyarakat, Ia tinggal mengirim kelompok elit untuk melakukan kefasikan dan perbuatan-perbuatan tidak bermoral.

وَإِذَآ أَرَدْنَآ أَن نُّهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا۟ فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا ٱلْقَوْلُ فَدَمَّرْنَٰهَا تَدْمِيرًا

“Dan jika kami hendak membinasakan suatu negeri, maka kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu. Maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan kami), kemudian kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.”

Oleh karena itu, tidak heran ketika seorang penyair Arab, yang bernama Ahmad Syauqi pernah berkata:

إنما الأمم الأخلاق ما بقيت فإن هم ذهبت أخلاقهم ذهيوا

“Umat itu tegak karena akhlaknya * Jika akhlaknya hilang, raiblah mereka bersamanya”

Oleh karena itu, mari kita perbaiki akhlak kita untuk menjadi lebih baik lagi. Karena Nabi memuji orang yang imannya sempurna adalah yang paling bagus akhlaknya (أكمل المؤمنين إيمانا أحسنهم خلقا). Dan hadis lainnya, Nabi menghubungkan antara surga dan budi pekerti yang baik (والذي نفسي بيده لا يدخل الجنة أحد إلا بحسن الخلق).**

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca juga
Close
Back to top button