Sayyid Idrus bin Salim Aljufri: Potret Ulama-Intelektual Organik

Sayyid Idrus bin Salim Aljufri atau biasa dikenal di Lembah Palu dengan sebutan “Guru Tua” adalah seorang tokoh ulama intelektual yang dapat dilihat dari berbagai kacamata yang berbeda. Banyak manaqib dan biografi yang ditulis dengan menggunakan berbagai pendekatan yang berwarna. Salah satu kacamata dan analisis yang digunakan untuk meneropong profil beliau adalah kacamata sosiologis.

Dalam disiplin ilmu sosiologi, ada satu teori yang dikembangkan oleh Anthonio Gramsci yang melihat peran intelektual dalam masyarakat. Gramsci ini membagi intelektual ke dalam dua kelompok; Intelektual tradisional dan intelektual organik.

Kelompok pertama, “intelektual tradisional” adalah intelektual yang cenderung mengedepankan sikap individualnya. Intelektual yang hanya peduli dengan pendekatan-pendekatan akademis, namun mengambil jarak dari realitas sosial dan masyarakatnya. Bahkan, tak jarang menjadi pengawal status quo yang paling setia. Menjadi budak dan bergantung kepada kekuasaan. Julien Benda menyebut kelompok ini sebagai betrayal of intellectuals atau “pengkhianatan intelektual”.

Kelompok kedua, “intelektual organik”, adalah intelektual yang tidak sekedar menjelaskan kehidupan sosial dari luar berdasarkan kaidah-kaidah ilmiah, tapi juga memakai bahasa kebudayaan untuk mengekspresikan perasaan dan pengalaman real yang tidak bisa diekspresikan oleh masyarakat. Intelektual organik adalah mereka yang mampu merasakan emosi, semangat, dan apa yang dirasakan kaum pinggiran, serta memihak kepada mereka dan mengungkapkan apa yang dialami oleh masyarakat.

Dengan kata lain, intelektual organik adalah enlightened intellectual (intelektual tercerahkan), yang dalam bahasa Ali Syariati:

“ ….Ia dengan tangan yang sama menuliskan ayat-ayat suci dari langit. Terbenam dalam genangan lumpur. Mengayuhkan kayu untuk menyuburkan tanah yang kering. Berdiri tegak memperjuangkan ayat-ayat Allah dan hak-hak masyarakat.”

Dimana letak Sayyid Idrus bin Salim Aljufri menurut analisis sosiologi intelektual ini?

Jika dilihat dari analisis teoritik ini, maka Sayyid Idrus bin Salim Aljufri dapat dimasukkan ke dalam kategori “intelektual organik”. Beberapa fakta berikut nanti akan memperkuat analisis ini. Namun, sebelumnya, perlu juga kita melihat bagaimana perjalanan hidup dan jaringan translokal Sayyid Idrus dalam jejaring ulama Hadrami di Indonesia.

Jaringan Translokal Guru Tua

Menurut penelitian Huub de Jonge yang berjudul Dutch Colonial Policy Pertaining to Hadhrami Immigrants, hingga tahun 1894, sebagian besar orang Arab Hadramaut menetap di pelabuhan kecil Donggala, yang menjadi kota dagang utama. Mereka kemudian pindah ke wilayah dekat Palu dalam jumlah besar pada era kolonial dan setelah kemerdekaan Indonesia. Palu menjadi terkenal pada tahun 1964 ketika ia dijadikan ibukota provinsi Sulawesi Tengah. Komunitas Arab sudah ada pada saat ketika Sayyid Idrus tiba dan memutuskan untuk tinggal di Palu.

Sayyid Idrus bin Salim Aljufri dilahirkan pada tanggal 15 Sya’ban 1309 H, bertepatan dengan 15 Maret 1892 M. Tempat kelahirannya adalah Taris, Hadramaut. Kota Taris berada tidak jauh dari kota Tarim, yang disebut sebagai kota sejuta wali karena banyaknya wali yang dimakamkan di situ. Bahkan kota Tarim sering diibaratkan sebagai sebuah madrasah yang besar (kota pendidikan dan ilmu) hingga penduduknya setiap hari dapat mempelajari berbagai bidang ilmu sesuai tingkatannya. Di kota tersebut dapat ditemui berbagai lembaga pendidikan yang telah berumur ratusan tahun bahkan lebih dari seribu tahun. Selain itu, kota Tarim juga memiliki banyak masjid yaitu tak kurang dari 365 masjid yang berdiri di kota Tarim.

Boleh jadi, kota Tarim menjadi kota sejuta wali karena doa yang pernah diucapkan oleh Abu Bakar al-Siddiq—radhiyallahu ‘anhu. Beliau mendoakan tiga hal untuk kota Tarim: (1) selalu banyak penduduknya; (2) para ulama saleh akan tumbuh subur; (3) Allah akan memberkati orang-orang yang ada di dalamnya.

Seperti halnya para ulama lain yang tumbuh di kota Tarim ini, keulamaan beliau sudah terlihat semenjak kecil. Di usia 12 tahun, ia sudah menghapal Alquran. Ia juga menguasai ilmu pengetahuan umum seperti ilmu Falak dan Aljabar. Menjelang usia 19 tahun, ia menjadi seorang mufti, yang dalam sejarah masyarakat Hadrami, beliau termasuk seorang mufti termuda. Namun demikian, beliau bukanlah seorang yang silau terhadap dunia. Ia kritis terhadap lingkungan sosial di negaranya. Bahkan, beliau rela melepas jabatan mufti ketika memilih jalan menentang penjajahan Inggris. Sikap ini juga membawa beliau datang ke Indonesia untuk kedua kalinya.

Pada tahun 1925, pada saat berusia 36 tahun, Sayyid Idrus akhirnya memutuskan untuk hijrah ke Indonesia dimana ia tiba di Batavia. Dari Batavia ia pindah ke Pekalongan, kemudian ke Jombang, dan Solo. Ketika menetap beberapa bulan atau tahun di masing-masing wilayah tersebut, beliau seringkali dipercaya menjadi guru di sekolah-sekolah yang didirikan oleh orang-orang Arab Hadrami. Di Solo, ia bahkan diangkat sebagai kepala Madrasah al-Rabitah al-Alawiyyah, sekolah yang dijalankan oleh komunitas Hadrami Ba ‘Alawi. Dari Jawa, beliau pindah ke Maluku dan kemudian ke Sulawesi Utara, seraya berbaur dengan komunitas Hadrami di sana. Lima tahun setelah perjalanannya di Indonesia dimulai, pada awal tahun 1930, Sayyid Idrus akhirnya menetap di Palu dan wafat di sana. Di sana dan di tahun yang sama, ia mendirikan Madrasah Alkhairaat.

Meskipun Sayyid Idrus merasa betah tinggal di Palu, kehidupannya masih dicirikan dengan tingkat mobilitas yang tinggi. Beliau membangun jaringan lintas wilayah di utara-timur Indonesia. Beliau dikenal di penjuru yang terjauh; banyak berpergian; mungkin dalam satu tahun ia berpergian sekitar 6 bulan. Bahkan, beliau membiayai perjalanannya sendiri dengan berniaga, meskipun tugas utamanya adalah mengajar dan berdakwah. Yang paling penting lagi, ia mengajak anak-anak muda, baik dari keturunan Hadrami maupun keturunan lokal, untuk menemaninya kembali ke Palu, dengan memberikan kesempatan untuk mendaftar di madrasah Alkhairaat. Para alumni Alkhairaat ini nantinya memberikan kontribusi yang sangat besar bagi penyebaran dan popularitas organisasi dengan membuka sekolah-sekolah di kampung mereka yang mengikuti model Alkhairaat Palu.

Salah seorang putri beliau, Syarifah Sa’diyah Aljufri, mendeskripsikan bagaimana Sayyid Idrus memperluas jaringannya.

“Ketika Guru Tua memerintahkan murid-muridnya yang telah mampu mengajar dan menempatkan mereka di desa-desa. Ia meminta kepala desa dan bertanya siapa yang dapat memberikan makanan kepada sang guru dan memberikan honor kepadanya, siapa yang dapat membangun sekolah, meskipun hanya di kolong rumah panggung untuk permulaannya. Kala itu, banyak orang masih bodoh, apalagi terkait dengan agama, mereka tidak dapat membaca Alquran. Maka, ketika beliau berpergian dengan 20 muridnya, ia berhenti di 20 desa dan membuka sekolah.”

Inilah salah satu strategi Sayyid Idrus membangun jaringannya. Dalam perjalanannya, Sayyid Idrus tidak hanya bergantung pada jaringan keluarga Aljufri atau jaringan komunitas Ba Álawi Hadrami, tetapi juga jaringan Hadrami yang lebih luas. Di antara Arab Hadrami, yang tidak berada dalam komunitas Ba ‘Alawi, di Sulawesi Tengah dan Utara, ada satu klan yang besar, yaitu Al-Amri. Keluarga Hadrami ini, menyebar di seluruh Teluk Tomini, dan mampu membangun relasi dengan Sayyid Idrus yang sering berpergian membawa agenda pendidikan Islam, Guru Tua memuji klan ini dalam perkataannya:

“Anda mungkin dapat membangun Alkhairaat; dan jika di tempat engkau membangun Alkhairaat, ada Al-Amri, maka Anda tidak perlu ragu. Alkhairaat tentunya akan bertahan di sana.”

Kolaborasi antara Hadrami Ba ‘Alawi direpresentasikan oleh Sayyid Idrus dengan komunitas Arab Hadrami lainnya, seperti klan Al-Amri. Kata Martin Slama, seorang pemerhati masalah Hadrami, di Jawa, ketika Sayyid Idrus hidup, ada ketegangan dan kompetisi antara dua kelompok tersebut, perseteruan yang dapat dirasakan hingga saat ini. Sebaliknya, di Palu saat ini, representasi dari dua kelompok, Ba ‘Alawi dan non-Ba ‘Alawi menjalankan Alkhairaat secara bersama-sama.

Sayyid Idrus: Figur Ulama-Intelektual Organik

Untuk mengetahui persoalan ini, dapat menggunakan beberapa indikator berikut ini:

Pertama, epistemologi dan kerangka pikir ilmu pengetahuan
Beliau mempunyai konsep pengetahuan yang cerdas, yang menekankan pada kombinasi antara “ilmu” dan “akhlak”. Satu kombinasi yang cemerlang. Berilmu tanpa bermoral hanya membuat seorang menjadi terombang-ambing dalam arus besar kehidupan yang materialistik ini. Tetapi, jika ilmu disandingkan dengan akhlak, seorang akan mempunyai kompas menuju satu tujuan yang diinginkan. Dalam salah satu syairnya, Sayyid Idrus berkata:

بالعلم والأخلاق إدراك المنى * إن رمت علما لا تكن متكبرا

“Cita-cita diraih dengan ilmu dan akhlak
Jika kamu mencari ilmu, maka janganlah angkuh”

Penekanan pada “akhlak” dalam mencapai satu tujuan adalah strategi dakwah Sayyid Idrus, yang secara historis-sosiologis, terbukti kesuksesannya. Penguatan akhlak atau karakter menjadi sangat penting, karena ada korelasi yang kuat antara kehancuran seorang individu dan kelompok umat dengan kerapuhan moral. Begitupula, ada hubungan yang erat antara kesuksesan dan karakter yang baik. Akhlak adalah jantung peradaban. Keduanya ibarat jasad dan ruh. Jika ruh sirna, sirna pula jasad yang fana. Penyair Arab Mesir mendukung pernyataan ini dalam kalimat bijaknya:

إنما الأمم الأخلاق ما بقيت * فإن هم ذهبت أخلاقهم ذهبوا

Umat itu tegak karena moralitasnya
Jika moralitas ini hilang, maka raiblah mereka bersamanya

Sejarah membuktikan, akhlak dan budi pekerti selalu beriringan dengan jatuh bangunnya sebuah bangsa. Ambisi pribadi, kemaksiatan, korupsi, dan pengkhianatan adalah bentuk pencemaran akhlak yang berimplikasi langsung terhadap hancurnya peradaban. Peradaban Mesir Kuno yang paling awal dihuni manusia 40.000 tahun yang lalu hancur karena terjadi peperangan perebutan kekuasaan. Sementara itu, di Tiongkok juga berdiri peradaban kuno pada tahun 2100 SM dan runtuh pada abad ke-19 karena mengalami beragam konflik dan intrik, perebutan kekuasaan, pemberontakan kepada kaisar yang lalim, dan perjanjian yang tidak adil.

Yang paling tragis, Dinasti Abbasiyah yang bertahan dari tahun 750-1258 M dan mencapai puncak keemasan Islam hancur karena rusaknya moralitas. Menurut Nurkholis Madjid, pada saat kejayaan Islam era Abbasiyah, umat Islam menjadi pusat peradaban dunia, dengan Baghdad sebagai sentralnya. Baghdad dipenuhi gedung-gedung besar dan mewah. Bahkan dikatakan dalam sebuah literatur, pajak yang dikumpulkan pemerintahan Baghdad banyaknya sama dengan kekayaan negara Philadelphia. Akan tetapi, ketika mereka kemudian menjadi orang-orang fasik, yang sudah tidak mampu mengendalikan hawa nafsu, serta hati mereka sudah gelap, tertutup karena hidup mewah bergelimang harta, akhirnya mereka dibinasakan sehancur-hancurnya oleh oleh bangsa Mongol.

Kedua, pemikiran-pemikiran yang  progresif

Sayyid Idrus bin Salim Aljufri adalah seorang intelektual-ulama yang mempunyai pemikiran, yang jika dibuat tipologi, masuk dalam kategori “progresif”. Letak progresivitasnya dapat dilihat pada beberapa fakta berikut:

Pertama, pikiran-pikiran beliau tidaklah sektarian. Beliau termasuk seorang yang nasionalis-religius. Seorang yang cinta tanah air. Ketika berada di Hadramaut, dan ketika dominasi imperialis Inggris mencengkeram negaranya, Sayyid Idrus tampil ke medan perjuangan dan politik untuk mengusir imperialis. Bersama sahabatnya, Abdurrahman bin ‘Ubaydillah Assegaf, ia melakukan perjalanan untuk menggalang opini dunia internasional atas pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang dilakukan pihak Inggris di Yaman Selatan. Sayang, rencana itu kandas. Ia tertangkap di Pelabuhan Aden dengan barang bukti sejumlah dokumen yang hendak dibawanya ke luar negeri. Saat itu, pihak penguasa memberinya dua pilihan, kembali ke Hadramaut atau mengubah rute perjalanan ke Asia Tenggara. Pilihan kedualah yang dipilih Habib Idrus.

Ketika berada di Indonesia, semangat nasionalisme “sebagai seorang Indonesia” tetap tumbuh. Kita bisa lihat dalam perilaku beliau dan syair-syair yang disusunnya. Dalam syair-syairnya, Guru Tua meneriakkan sikap mendukung NKRI, menghormati merah-putih sebagai simbol negara, mengutuk segala bentuk tirani, menolak segala bentuk pelanggaran Hak Asasi Manusia, menentang pemberontakan dan sejumlah isu sosial yang menindas kala itu. Salah satu syair yang memperlihatkan sikap nasionalis dan pro NKRI adalah sebagai berikut:

راية العز رفرفي في سمآء * أرضها وجبالها خضرآء
إن يوم طلوعها يوم فخر * عظمته الأبآء والأبنآء
كل عام يكون لليوم ذكرى * يظهر الشكر فيها والثنآء
كل أمة لها رمز عز * ورمز عزنا الحمراء والبيضآء

Berkibarlah bendera kemuliaan di angkasa
hijau daratan dan gunung-gunungnya
Hari kebangkitannya adalah hari kebanggaan
Orangtua dan anak-anak memuliakannya
Tiap tahun hari itu menjadi peringatan
Muncul rasa syukur kepadanya dan pujian-pujian
Tiap bangsa memiliki simbol kemuliaan
Simbol kemuliaan kami adalah merah dan putih


Kedua, beliau tidak mempunyai pikiran-pikiran yang radikal dan penuh kekerasan, namun pikiran-pikiran beliau mencerminkan satu sikap yang toleran terhadap perbedaan. Salah satu contoh yang memperkuat fakta ini adalah sifat terbukanya menerima guru non-Muslim untuk mengajar di sekolah-sekolah Alkhairaat. Begitu pula, dalam mengajak orang kepada keindahan Islam, beliau menggunakan metode yang tidak radikal. Sebagai contoh metode dakwah beliau yang di satu sisi memperlihatkan karamahnya adalah sebagai berikut:

Guru Tua mendapatkan laporan bahwa masyarakat banyak yang bermain Judi undian berhadiah. Ketikasalat Jumat, Guru Tua bertindak menjadi Khatib. Namun sebelumnya Guru Tua mengumumkan agar Jamaah jangan ada yang pulang setelah salat Jumat. Setelah salat Jumat usai, GuruTua pun berdiri dan mengumumkan maksudnya. “Jamaah sekalian akan saya umumkan nomor undian yang akan keluar Minggu ini. Cepat kalian catat.”

Nampak Jamaah yang suka bermain undian senang dan sebagian Jamaah terheran-heran. Akhirnya Jamaah pulang dan apa yang dikatakan oleh Guru Tua terbukti kebenarannya. Nomor undian yang diumumkannya keluar minggu ini. Mengetahui hal tersebut, murid-muridnya bertanya, “Guru, kenapa malah memberitahukan nomor yang akan keluar pada masyarakat?” Lalu Jawab Guru Tua pada murid muridnya, “Sudah kalian lihat saja nanti.”

Lalu tibalah hari Jumat dan masyarakat bertanya tentang jadwal khutbah Guru Tua. Setelah masyarakat mengetahui di mana masjid yang Guru Tua menjadi khatib, masyarakat berbondong-bondong membanjiri masjid tersebut. Setelah selesai salat Jumat, masyarakat tidak ada yang beranjak, menunggu pengumuman dari Guru Tua. Lalu Guru Tua berdiri dan mengumumkan nomor yang akan keluar minggu ini dan ternyata nomor yang di umumkannya keluar dan begitu terus-menerus hingga seluruh bandar Judi undian bangkrut.

Setelah itu, tidak ada lagi bandar Judi undian yang berani buka karena banyak yang rugi besar, barulah Guru Tua memberikan nasehat kepada masyarakat tentang dosa dan siksa yang Allah sediakan bagi orang berjudi.

Ketiga, tindakan untuk perubahan dan perbaikan sosial-masyarakat

Dengan prinsip “membangun akhirat melalui wahana Alkhairaat” dengan semboyan fastabiqū al-khayrāt (berkompetisi dalam melakukan kebaikan dan perbaikan), Sayyid Idrus terjun langsung ke dalam masyarakat. Beliau menunjukkan tanggung jawab moral terhadap masyarakat bangsanya. Mengajarkan dan memberi teladan. Membela kebenaran yang telah menjadi keyakinannya terhadap siapa pun juga. Ia kukuh mempertahankan pendapatnya yang benar meskipun bertentangan dengan pendapat umum. Modalitas inilah yang membuatnya menjadi seorang pemimpin di kemudian hari.

Sejarah membuktikan perjalanan beliau ke beberapa wilayah di Sulawesi Tengah dan bahkan ke wilayah timur Indonesia, seperti Maluku Utara (Tidore, Makian, Mafakiaha, Bacan, Gane Dalam, Gane Luar, Weda, Patani), dan Papua, adalah untuk melakukan perubahan karakter menjadi muslim yang baik. Sebagai pecinta ilmu, dalam perjalanannya, beliau selalu membawa kitab-kitab, yang dibaca dan diajarkannya kepada murid-muridnya. Kita bisa membayangkan betapa sulitnya perjalanan dakwah beliau, hanya dengan menggunakan gerobak untuk perjalanan darat atau perahu layar untuk perjalanan laut. Transportasi masih sangat sederhana. Menurut cerita, untuk perjalanan dari Palu ke Parigi, yang sekarang membutuhkan satu jam setengah, kala itu ditempuh dalam waktu satu hari.

Sebagai bagian untuk memperluas dan memperkuat jaringannya, beliau menempatkan murid-muridnya yang mampu mengajar di desa-desa, yang kala itu masyarakatnya belum dapat membaca Alquran. Menurut cerita, ketika beliau berpergian dengan 20 muridnya, beliau mampir di 20 desa dan kemudian membuka sekolah. Setelah itu, murid-muridnya ditempatkan untuk mengajar dan menyebarkan agama Islamdi sana.

Ada cerita menarik dari perjalanan tersebut. Seperti diceritakan oleh Prof M. Noor Sulaiman Pettalongi (الله يرحمه رحمة الأبرار) dalam bukunya Modernisasi Pendidikan dan Dakwah di Tanah Kaili, suatu ketika Guru Tua mengantarkan seorang murid yang akan ditempatkan menjadi guru di suatu desa, kemudian singgah di sebuah rumah milik penduduk desa. Namun karena beliau tidak memberitahukan terlebih dahulu kedatangannya, maka pemilik tidak sempat mempersiapkan sesuatu untuk dihidangkan. Kata pemilik rumah, “Habib, mengapa tidak memberitahukan terlebih dahulu agar saya dapat mempersiapkan sesuatu ala kadarnya. Sekarang musim kemarau, angin dan ombak begitu keras, sehingga tidak ada nelayan yang keluar melaut mencari ikan. Untuk itu, tidak ada ikan dan makanan yang dapat dihidangkan.” Guru Tua berkata, “Sabar, insya Allah, akan ada yang dapat dimakan.” Tiba-tiba, dari arah yang tidak disangka, muncul seekor rusa seolah-olah menyerahkan dirinya kepada Guru Tua untuk disembelih. Pada saat itu, beliau perintahkan murid-murid dan orang yang hadir untuk menangkap dan menyembelih rusa tersebut.

Sebagai kesimpulan atas dedikasi Habib Idrus terhadap pendidikan dan dakwah Islam di Tanah Kaili, mungkin kita dapat mengibaratkan beliau bagaikan matahari yang selalu memancarkan cahaya. Ia memerankan tugasnya dengan memberi anugerah kepada semua. Ia mengubah batu menjadi akik dan permata. Mengubah gunung menjadi emas dan tembaga. Mengubah tanah gersang menjadi tanah subur hingga ditumbuhi beraneka pohon yang berbuah. Tugasnya adalah memberi, bukan meminta. Tentu kita sebagai abna’al-khairaat dan para simpatisan pendukung perjuangan Guru Tua, sudah seharusnya meneruskan perjungan beliau. Mengedepankan ilmu dan akhlak, bukan otot dan kekerasan. Menebarkan Islam yang indah, bukan Islam yang salah kafrah. Membalas keburukan dengan kebaikan, bukan membalas kejahatan dengan permusuhan.**

*Disampaikan pada peringatan Haul Habib Idrus bin Salim Al-Jufri ke-49
Sabtu, tanggal 8 Juli 2017

Artikel terkait

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button