Reaktualisasi Tradisi Ilmiah dalam Islam

Dalam bulan Mei, ada dua peringatan yang kita rayakan di Indonesia, pendidikan pada tanggal 2 Mei, dan kebangkitan nasional pada tanggal 20 Mei. Kedua hal ini mempunyai hubungan yang erat. Kebangkitan suatu bangsa sangat bergantung pada pendidikannya, atau tradisi ilmiah yang dibangun. Semakin bagus tradisi ilmiah yang dibangun, maka akan semakin bangkit suatu masyarakat atau bangsa.

Umat Islam pernah mencapai satu masa cemerlang pada masa Dinasti Abbasiyah, yang dikenal sebagai the golden age of Islam selama 250 tahun. Pada masa ini, tidak dikenal adanya dikotomi atau pemilahan antara ilmu agama dan ilmu-ilmu umum. Pada masa ini, seorang ulama sekaligus seorang saintis. Seorang saintis juga merupakan ulama. Salah satu contoh yang representatif adalah Ibn Sina, seorang ulama sekaligus saintis. Pertanyaannya adalah mengapa terjadi kebangkitan tradisi ilmiah yang begitu dahsyat?

Pertama, faktor agama Islam sendiri yang menghargai ilmu dan para ulama. Indikatornya, Allah dalam Alquran memberikan kepada orang yang berilmu pengetahuan beberapa gelar yang bermartabat, seperti ūlū al-albāb, ūlū al-abṣār, ūlū al-nuhā, dan istilah wa man yu’tā al-ikmah (orang yang diberi hikmah). Yang semuanya menunjuk kepada makna orang yang mempunyai akal yang jernih. Indikator kedua, Allah memerintahkan kita untuk melakukan perenungan. Bahkan ayat pertama yang turun terkait dengan perintah membaca, tanpa disebutkan apa objeknya. Ini berarti objeknya bersifat umum, baik membaca diri kita, lingkungan alam dan sosial di sekitar kita, yang kemudian memunculkan ilmu pengetahuan. Dari kata iqra muncul kata istiqrāyang berarti penelitian.

Kedua, yang menyebabkan tradisi ilmiah mengakar begitu kuat pada masa itu adalah apresiasi masyarakat yang sangat tinggi terhadap ulama dan karya-karyanya. Dalam sebuah buku diceritakan, seorang ulama yang bernama Fakhr al-Dīn al-Rāzī (w. 1207), seorang teolog dan filosof terbesar kedua setelah al-Ghazālī, pernah diundang oleh Sultan Ghaznāwī, diberikan gelar Syaikhul Islam, dan ditempatkan di kota Herat. Pada saat kedatangannya di Herat, seluruh penduduk kota menyambutnya dengan semarak, seperti layaknya hari raya. Para pejabat mengaraknya sampai ke istana. Pada hari yang sama, ketika al-Rāzī memberikan ceramahnya di sebuah masjid agung, masjid tersebut penuh sesak dengan orang-orang yang ingin mendengar ceramahnya.

Selain itu, masyarakat sangat gemar menyaksikan debat-debat terbuka antara para teolog dan filosof yang dilakukan di tempat-tempat umum, seperti toko buku. Lebih dari itu, karya-karya mereka dihargai dengan harga yang sangat tinggi. Sebagai contoh, buku Tārīkh Ṭabarī yang ditulis oleh Ibn Jarīr al-Ṭabarī dihargai 100 dinar. Karya Ibn Sinā, al-Shifā‘ dibeli oleh Sultan Delhi, Muhammad Tughluq, dengan 200.000 mitsqal emas.

Faktor yang ketiga adalah patronase atau perhatian penguasa kepada ilmu pengetahuan dan ulama. Patronase tersebut dalam bentuk mengundang para ulama dan ilmuan untuk datang ke istana. Hampir semua filosof Muslim dari Al-Kindī sampai Ibn Rushd dan Nāsir al-Dīn al-Ṭūsī tinggal di istana. Bahkan al-Kindī, setelah al-Ma’mūn mendengar kemasyhurannya, diundang untuk tinggal di istana bergabung dengan cendekiawan yang sedang mengumpulkan karya-karya ilmiah Yunani dan menerjemahkannya. Al-Kindī diberikan satu perpustakaan yang lengkap atas nama dirinya, yang diberikan nama al-Kindiyah. Maka, tidak heran kalau dalam hidupnya ia menghasilkan 270 karya buku Bukti lain adalah pembangunan sarana ilmiah yang ditanggung oleh negara, seperti perpustakaan Baytul Hikmah yang didirikan oleh Khalifah al-Ma’mūn. Baytul Hikmah berfungsi tidak hanya menyimpan berbagai koleksi buku yang mencapai ratusan ribu judul, namun juga sebagai tempat kegiatan ilmiah untuk menerjemahkan karya-karya asing ke dalam bahasa Arab, memberi komentar, atau meringkas, dan menyelenggarakan diskusi-diskusi yang dilakukan secara rutin di sana.

Kesimpulannya, jika kita ingin meraih kembali peradaban yang cemerlang dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, maka  prasyarat ini harus kita penuhi terdahulu, yaitu meningkatkan apresiasi yang tinggi terhadap ilmu, ulama, dan karya-karyanya, serta yang terpenting adalah patronase dan kepedulian negara yang tinggi terhadap pengembangan ilmu dan penelitian.***

Artikel terkait

2 Comments

  1. Sangat menarik, informasi terkait apresiasi negara dan masyarakat terhadap seorang yg memiliki ilmu, wajar saja karya mereka berjilid2 dikarenakan mudahnya akses pencarian referensi karena adanya fasilitas dari negara dan masyarakat. Masya Allah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button