Penyakit Hati: Tamak

Ketika Ali bin Abi Talib masuk ke Masjid Jami di Basrah, beliau mendapatkan banyak orang yang memberikan ceramah. Lalu beliau menguji mereka dengan beberapa pertanyaan dan ternyata tidak dapat menjawab dengan tepat. Mereka pun diusir dan tidak diizinkan memberi ceramah di mesjid itu. Sampailah beliau ke majelis Hasan Al-Basri. Beliau bertanya, “Hai pemuda, saya akan bertanya kepadamu sesuatu jika engkau dapat menjawab, maka aku izinkan engkau terus mengajar di sini, tetapi jika tidak, maka engkau akan aku usir sebagaimana temanmu yang lain.” Hasan menjawab, “Silakah bertanya!” Ali bertanya, “Apakah yang dapat mengukuhkan agama?” Jawab Hasan, “Wara (yakni menjauhkan diri dari segala syubhat dan haram).” Lalu Ali bertanya lagi, “Apakah yang dapat merusak agama?” Jawaban Hasan, “Tamak (rakus)”. Lalu Imam Ali berkata kepadanya, “Engkau boleh tetap mengajar di sini, orang yang seperti engkau inilah yang dapat memberi ceramah kepada orang.”

Tamak terhadap harta dunia merupakan salah satu penyakit hati yang sangat membahayakan kehidupan manusia. Tamak adalah sikap rakus terhadap harta dunia tanpa melihat halal dan haramnya.

Apa indikator orang yang tamak. Pertama, orang yang tamak atau rakus tidak pernah mengenal kata puas. Kata Nabi,

لَوْ أَنَّ ابْنَ آدَمَ أُعْطِيَ وَادِيًا مَلأً مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ إِلَيْهِ ثَانِيًا وَلَوْ أُعْطِيَ ثَانِيًا أَحَبَّ إِلَيْهِ ثَالِثًا ، وَلاَ يَسُدُّ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ التُّرَابُ وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ

“Seandainya anak keturunan Adam diberi satu lembah penuh dengan emas niscaya dia masih akan menginginkan yang kedua. Jika diberi lembah emas yang kedua maka dia menginginkan lembah emas ketiga. Tidak akan pernah menyumbat rongga anak Adam selain tanah, dan Allah menerima taubat bagi siapa pun yang mau bertaubat.” (HR. Al-Bukhari No.6438)

Kedua, orang tamak adalah orang yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Mereka ini, kata Nabi, lebih berbahaya daripada serigala lapar yang dilepas untuk mengejar hewan ternak. Mengapa? Karena tamak melahirkan banyak dosa lainnya. Tamak terhadap harta memunculkan tindakan menipu, mencuri, merampok, korupsi, dan kikir. Tamak kepada kekuasaan menumbuhkan kezaliman, praktik oligarki, kolusi, berkuasa dengan tangan besi, sikut kanan sikut kiri, menjilat yang di atas, menyikut yang di samping, dan menginjak yang di bawah, saling menjegal dan membunuh, bahkan saling membunuh.

Dahulu ada seorang lelaki yang datang kepada nabi Isa a.s., ia ingin sekali bersahabat dengan beliau, karena itu ia berkata, “Aku ingin sekali bersahabat denganmu kemana saja engkau pergi.” Jawab Nabi Isa, “Baiklah kalau demikian” Pada suatu hari berjalanlah keduanya di tepi sungai dan makan tiga potong roti, Nabi Isa a.s. satu potong dan satu potong untuk orang itu, sisa satu potong. Ketika Nabi Isa pergi minum ke sungai, dan kembali, roti yang sepotong itu tidak ada, lalu beliau bertanya kepada sahabatnya, “Siapakah yang telah mengabil sepotong roti?” Jawab sahabat itu, “Aku tidak tahu.”

Kemudian berjalanlah keduanya ketika berada di hutan dan keduanya sedang duduk-duduk, Nabi Isa mengambil tanah dan kerikil, lalu diperintahkan, “Jadilah emas dengan izin Allah.” Tiba-tiba, tanah dan kerikil itu berubah menjadi emas, lalu dibagi menjadi tiga bagian, kemudian beliau berkata, “Untukku sepertiga, kamu sepertiga, sedang sepertiga ini untuk orang yang mengambil roti.” Serentak sahabat itu menjawab, “Akulah yang mengambil roti itu.” Akhirnya, Nabi Isa berkata, “Ambillah semua bagian ini untukmu.” Lalu keduanya berpisah. Kemudian orang itu didatangi oleh dua orang perampok. Sahabat Isa berkata, Bagaimana jika kita bagi tiga.” Kedua perampok setuju, lalu menyuruh salah seorang pergi ke pasar untuk membeli makanan. Dalam hati orang yang berbelanja itu muncul perasaan, “Untuk apa aku bagi harta itu, lebih baik makanan ini aku beri racun supaya mereka mati” Lalu makanan itu diberi racun. Sementara dua orang yang tinggal itu berkata, “Untuk apa kita bagi tiga harta ini, jika ia datang, kita bunuh saja dia, lalu harta itu kita bagi dua.” Maka, ketika datang, orang itu segera dibunuh oleh keduanya, lalu hartanya dibagi menjadi dua. Kemudian, keduanya makan makanan yang telah diberi racun itu, sehingga keduanya mati. Tinggallah harta itu di hutan, sedang mereka mati di sekitar harta itu. Suatu hari, ketika Nabi Isa berjalan di hutan itu lagi dan menemukan hal itu, beliau pun berkata kepada para sahabatnya, “Inilah contohnya dunia, maka berhati-hatilah kalian kepadanya.”

Bagaimana caranya menghilangkan sifat tamak? Dengan menanamkan sifat zuhud dalam diri kita. Pernah Dulu ada seorang syaikh yang hidup sangat sederhana. Ia makan sekedar yang dibutuhkannya saja, hanya untuk menghilangkan lapar. Sebagai nelayan, setiap pagi ia mencari ikan. Setiap hari, setelah mendapat banyak ikan, ia belah ikan-ikan itu menjadi dua; batang tubuh ikan itu dibagi-bagikan kepada tetangganya, sementara kepalanya ia kumpulkan untuk dimasak sendiri. Karena terbiasa makan kepala ikan ia diberi julukan Syaikh Kepala Ikan. Ia seorang sufi yang memiliki banyak murid.

Suatu ketika, salah seorang muridnya hendak pergi ke Mursia, sebuah daerah di Spanyol. Kebetulan Syaikh Kepala Ikan ini mempunyai seorang guru sufi besar (al-syaikh al-akbar) di sana. “Tolong kamu mampir ke kediaman guruku di Mursia, dan mintakan nasehat untukku,” pesan Syaikh kepada muridnya. Si murid pun pergi untuk berdagang. Setibanya di Mursia, ia mencari-cari rumah Syaikhul Akbar tersebut. Ia membayangkan akan ketemu seseorang yang tua, sederhana, dan sangat miskin. Tapi ternyata orang menunjukkannya pada sebuah rumah yang sangat besar dan luas. Ia tidak percaya, mana mungkin ada seorang sufi besar tinggal di sebuah bangunan yang mewah dan mentereng, penuh dengan pelayan dan sajian buah-buahan yang lezat. Ia terheran-heran: “Guru saya hidup dengan begitu sederhana, sementara orang ini sangat mewah. Padahal kania guru dari guru saya?” Demikian yang ada dalam pikirannya. Ia pun masuk dan menyatakan maksud kedatangannya. Ia menyampaikan salam gurunya dan memintakan nasehat untuknya. Syaikh itu pun bertutur, “Bilang sama dia, jangan terlalu memikirkan dunia.” Si murid tambah heran, tidak mengerti. Syaikh ini hidup sedemikian kaya, diminta nasehat oleh orang miskin malah menyuruh jangan memikirkan dunia. Akhirnya dengan kesal, ia pulang. Saat gurunya mendengar nasihat yang diperoleh melalui muridnya, hanya tersenyum dan sedikit sedih. Si murid pun mengernyitkan kening tambah tidak paham. Apa maksud nasihat itu? Guru itu menjawab, “Guruku itu benar. Menjalani hidup tasawuf itu bukan berarti hidup miskin. Yang terpenting hati kita tidak terikat oleh harta kekayaan yang kita miliki dan tetap terpaut dengan Allah SWT. Bisa jadi orang miskin harta, tapi hatinya memikirkan dunia. Saya sendiri ketika makan kepala ikan, masih sering membayangkan bagaimana enaknya makan ikan yang sebenarnya?”

Marilah jaga hati kita dari sifat merusak ini. Semoga dihilangkan dari hati kita kecintaan yang berlebihan terhadap dunia dan segala kenikmatannya. Wallahu al-musta’an.**

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button