Penyakit Hati: Sombong

Seorang ulama besar mazhab Hanbali yang bernama Ibn al-Qayyim dalam kitab al-Fawā’id berkata:

أصول الخطايا كلها ثلاثة: الكبر و الحرْص و الحسد
“Penyebab segala kesalahan itu ada tiga: kesombongan, tamak, dan dengki”

Sombong menjadi salah satu penyebab berbagai kesalahan dan maksiat di muka bumi, demikian menurut Ibn al-Qayyim. Lalu pertanyaannya adalah, apa itu sombong? Dalam bahasa Arab, sombong disebut berbagai istilah, seperti kibr, takabbur, istikbār yang mempunyai akar kata ka-ba-ra, yang berarti “besar”. Ketiga kata ini digunakan dalam Alquran dan juga hadis Nabi. Ketiga istilah ini mengandung makna: الترفع واعتقاد الإنسان أنه كبير وأنه فوق الناس (Merasa dirinya tinggi dan menyakini bahwa ia besar dan berada di atas orang lain). Untuk mengetahui siapa orang yang terkena virus sombong ini, ada beberapa indikator yang dapat digunakan.

Pertama, merasa dirinya paling mulia, paling suci, paling besar, paling mampu untuk bebuat sesuatu, sedangkan orang lain dianggap kecil, remeh, dan hina. Jenis kesombongan ini pernah menghinggapi Iblis, yang membuat Iblis dilaknat oleh Allah, menjadi hina dan diusir dari surga. Dalam surat Al-Afraf ayat 12 diceritakan, ketika Allah bertanya kepada Iblis:

قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ
Apa yang membuat engkau tidak mau sujud saat ku perintahkan? Iblis berkata, “Saya lebih baik dari Adam. Engkau ciptakan aku dari api, sementara Adam dari tanah.

Jadi satu tanda orang yang sombong adalah merasa lebih hebar dan lebih benar dari yang lain. Salah satu bentuk kesombongan ini adalah kesombongan ideologis. Cirinya adalah suka memfitnah Muslim lain yang tidak sejalan dengan pemikiran ideologi mereka, dengan memberikan label atau stempel musyrik, pembuat bidah, tersesat, dan lain sebagainya. Membicarakan sesuatu yang tidak disukai oleh orang lain padahal ada pada dirinya adalah ghibah, yang dosanya digambarkan oleh Allah dalam Alquran seperti memakan mayat saudaranya sendiri. Lalu, bagaimana dengan fitnah yang tidak benar?

Sikap merasa paling benar inilah yang sering dimiliki oleh kelompok-kelompok garis keras, radikal dan ekstrem. Kelompok seperti ini sebenarnya sudah ada pada masa awal Islam, yang dikenal suka mengkafirkan Muslim lain yang tidak sejalan dengan ideologi dan pemahaman mereka, yaitu Khawārij. Mereka adalah kelompok yang kecewa dengan ‘Alī ibn Abī Ṭālib, lalu keluar dari kelompoknya. Muncul pada pertengahan abad ke-7, di Irak Selatan. Mereka berpandangan bahwa setiap orang yang berdosa besar adalah kafir, dan kaifr halal darahnya. Maka, mereka mengkafirkan ‘Uthmān ibn ‘Affān, ‘Alī ibn Abī Ṭālib karena dianggap melakukan dosa besar. Mereka menumpahkan darah mereka dan bangga diri dengan pembunuhan itu karena mereka berkeyakinan bahwa pekerjaan mereka itu adalah perintah syariat. Mereka bangga dengan ideologi dan apa yang mereka lakukan. Perilaku dan sikap seperti ini kemudian diteruskan oleh ISIS, dan gerakan-gerakan radikal ekstrem lainnya. Nabi Saw pernah mengingatkan kepada kita:

ثلاث مهلكات شح مطاع، وهوى متبع، وإعجاب المرء برأيه
Tiga yang dapat membinasakan: kikir, hawa nafsu yang diikuti, dan merasa kagum dengan pendapat (ideologi)nya sendiri

‘Umar ibn al-Khattab pernah mengingatkan:

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ إِعْجَابُ الْمَرْءِ بِرَأْيِهِ، وَمَنْ قَالَ: أَنَا عَالِمٌ، فَهُوَ جَاهِلٌ، وَمَنْ قَالَ: أَنَا فِي الْجَنَّةِ، فَهُوَ فِي النَّارِ
“Sesuatu yang paling aku khawatirkan terhadap kalian adalah seorang merasa kagum terhadap pendapatnya sendiri. Barangsiapa yang mengatakan bahwa “Saya adalah orang berilmu,” maka ia adalah orang bodoh. Barangsiapa yang mengatakan bahwa saya masuk surga, maka ia berada di neraka.”

Kedua, orang sombong memiliki ciri tidak tahan mendengar kritik dan saran.  Orang sombong jika dikritik akan emosi, sakit hati, dendam dan sibuk balas mengkritik. Mereka akan lebih sibuk membela diri ketimbang intropeksi diri. Orang sombong juga biasanya mudah tersinggung. Inilah yang dilakukan oleh Firaun ketika Nabi Musa datang membawa risalah Allah Swt, dan dilakukan oleh kaum Nabi Nuh ketika diajak kepada pengesaan Allah.

Kisahnya adalah sebagai berikut: sebelum lahirnya kaum Nabi Nuh, telah hidup lima orang saleh dari datuk-datuk kaum Nabi Nuh. Mereka hidup selama beberapa zaman kemudian mereka mati. Nama-nama mereka adalah Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr.

وَقَالُوا۟ لَا تَذَرُنَّ ءَالِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا

“Mereka berkata: ‘Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula meninggalkan (penyembahan) Wadd, Suwa’, Yaghuth, Ya’uq dan Nasr’ (QS. Nuh (71): 23).

Setelah kematian mereka, orang-orang membuat patung-patung dari mereka, dalam rangka menghormati mereka dan sebagai peringatan terhadap mereka. Kemudian berlalulah waktu, lalu orang-orang yang memahat patung itu mati. Lalu datanglah anak-anak mereka, kemudian anak-anak itu mati, dan datanglah cucu- cucu mereka. Kemudian timbullah berbagai dongeng dan khurafat yang membelenggu akal manusia di mana disebutkan bahawa patung-patung itu memiliki kekuatan khusus.

Dalam situasi seperti ini, Allah SWT mengutus Nuh a.s untuk membawa ajaran ilahi kepada kaumnya. Nabi Nuh adalah seorang hamba yang akalnya tidak terpengaruh oleh keadaan sekeliling, yang menyembah selain Allah SWT. Allah SWT memilih hamba-Nya Nuh dan mengutusnya di tengah-tengah kaumnya. Selama sembilan ratus lima puluh tahun, Nabi Nuh berdakwah, namun mereka mengingkarinya. Dalam Alquran, Allah menceritakan:

وَإِنِّى كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ جَعَلُوٓا۟ أَصَٰبِعَهُمْ فِىٓ ءَاذَانِهِمْ وَٱسْتَغْشَوْا۟ ثِيَابَهُمْ وَأَصَرُّوا۟ وَٱسْتَكْبَرُوا۟ ٱسْتِكْبَارًا

“Sungguh, setiap kali aku menyeru mereka (untuk beriman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka malah memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya, menutupkan baju (kemuka mereka), dan mereka tetap (mengingkari) dan sangat menyombongkan diri.” (QS. Nuh (71): 7) Jika sikap sombong seperti ini—merasa paling benar dan tidak tahan menerima kritik—bersemayam dalam diri kita, maka kita akan mendapatkan kebinasaan dan kehancuran, sebagaimana yang dikatakan Alquran dan diperkuat oleh sejarah. Ya Allah jauhilah kami dari sifat sombong. Amin.***

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca juga
Close
Back to top button