Penyakit Hati: Hasad

Ketika sedang duduk-duduk bersama para Sahabat, tiba-tiba Rasul berkata, “Sebentar lagi akan datang seorang laki-laki penghuni Surga.” Kemudian seorang laki-laki dari Anshar lewat di hadapan mereka. Pada hari kedua dan ketiga Nabi juga mengatakan hal yang sama, dan muncul orang yang sama.

‘Abdullah bin Amr bin ‘Ash ingin tahu apa amalan orang tersebut. Lalu, beliau meminta izin untuk menginap di rumahnya. Dia pun mempersilahkan. Selama tiga hari tiga malam beliau menginap, namun tidak pernah mendapati orang itu melakukan sesuatu yang istimewa. Akhirnya ia pun berkata, “Wahai hamba Allah, aku mendengar Rasulullah selama tiga hari berturut-turut di dalam satu majelis beliau bersabda, ‘Akan lewat di hadapan kalian seorang lelaki penghuni Surga.’ Selesai beliau bersabda, ternyata yang muncul tiga kali berturut-turut adalah engkau. Sebenarnya amalan apakah yang engkau kerjakan sehingga Rasulullah berkata demikian?”

Lelaki Anshar itu menjawab, “Sebagaimana yang kamu lihat, aku tidak mengerjakan amalan apa-apa, hanya saja aku tidak pernah mempunyai rasa iri kepada sesama muslim atau hasad terhadap kenikmatan yang diberikan Allah kepadanya.” Abdullah bin Amr pun berkata, “Rupanya itulah yang menyebabkan kamu mencapai derajat itu, sebuah amalan yang kami tidak mampu melakukannya’.”

Kisah ini menjelaskan kepada kita bahwa satu amalan yang dapat memasukkan seorang ke dalam surga adalah jika ia tidak mempunyai sifat hasad. Sebaliknya, jika seorang terkena virus hasad, maka dapat mengantarkannya ke dalam neraka. Apa itu hasad? Yaitu, senang jika orang lain susah, dan tidak senang jika orang lain mendapatkan nikmat, bahkan berusaha untuk menghilangkan nikmat tersebut. Jika virus hasad ini bersemayam dalam diri kita, maka akan merusak hati kita. Jika hati rusak, maka yang muncul adalah ketidakbaikan, kezaliman, dan kemaksiatan.

Oleh karena itu, virus hasad ini harus dihilangkan dari diri kita. Mengapa? Karena ada hubungan yang erat antara kehancuran seseorang dengan sifat hasad. Dalam Alquran, Allah menceritakan bagaimana hasad membuat Iblis terusir dari surga dan terhina karena kesombongan dan hasadnya kepada Adam? (QS: al-A’raf 11-12). Alquran menceritakan bagaimana pembunuhan terhadap Habil oleh Qabil karena sifat hasad dalam diri Qabil (QS. Al-Maidah: 27). Yang menghalangi Yahudi untuk beriman kepada kenabian Muhammad adalah sifat hasad padahal mereka jelas mengetahui kebenaran kedatangan nabi ini. (Bukankah “Mereka mengenalnya (Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anak mereka sendiri” (QS. Al-Baqarah: 146). Yang menyebabkan kafir Quraisy menolak risalah Muhammad Saw dan mendustakannya, setelah nyata bagi mereka kejujuran dan keluhuran akhlak beliau, adalah sifat hasad. Dalam surat al-Zukhruf: 31, “Dan mereka berkata: “Mengapa Alquran ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Mekah dan Taif) ini?”

Kedua, orang yang memelihara hasad pasti akan menderita,  karena, bagaimana pun juga, ia tetap tidak bisa merebut atau menghilangkan nikmat yang ada pada orang yang ia dengki. Nabi mengatakan bahwa:

الحسد يأكل الحسنات كما تأكل النار الحطب 
“Hasad (dengki) itu memakan kebaikan, seperti api memakan kayu bakar.”

Dalam sejarah diceritakan, seorang khalifah Abbasiyah, yang bernama Mutawakkil, terkena bisul yang ganas. Para tabib dinasti Abbasiyah tak mampu menyembuhkan bisul tersebut. Maka, ibunya Mutawakkil mengirim surat kepada Imam al-Hadi untuk mengobati anaknya. Sang Imam lantas memberi resep, “Campur minyak dan sari mawar kemudian oleskan pada bisul tersebut”. Para tabib menertawakan resep Imam, sebuah resep yang tak pernah mereka pelajari. Karena para tabib tak ada yang mau menjalankan resep imam, maka ibunya Mutawakkil sendiri yang menjalankan resep tersebut. Dan ternyata, hasilnya sangat mengagumkan. Bisul itu segera sembuh. Tentu saja, Mutawakkil senang sekali. Sebagai rasa terima kasihnya, Mutawakkil menghadiahkan 10.000 dinar kepada imam al-Hadi. Hal ini membuat orang-orang dekat Mutawakkil menjadi hasad dengan Imam. Mereka menyebar rumor yang berkata bahwa uang pemberian khalifah itu dipakai Imam untuk membeli senjata demi revolusi penggulingan kekuasaan khalifah. Mendengar rumor ini, khalifah lantas mengutus salah satu menterinya yang bernama Said. Dia ditugaskan untuk menggeledah rumah Imam pada malam hari dan tanpa diketahui orang-orang. Sesampainya di rumah Imam, Said yang berada di atap rumah imam kebingungan, dari mana ia harus memulai penggeladahan. Ditengah kebingungannya, Imam menghampirinya dan berkata, Wahai Said, turunlah dan selidikilah rumahku semaumu.” Said tentu heran, bagaimana Imam bisa tahu, sedangkan ia melakukan ini secara diam-diam. Said pun segera turun dari atap rumah Imam. Imam kemudian memberikan obor kepadanya. Setelah menggeledah seluruh rumah Imam, Said tak menemukan senjata apapun, seperti yang dirumorkan. Ketika menemui imam, dia melihat sebilah pedang dan pundi-pundi uang yang diberikan khalifah berada di samping Imam. Imam lantas menjelaskan bahwa pedang dan pundi-pundi uang itu adalah barang-barang kerajaan. Dan imam tak pernah menyentuhnya sedikitpun. Said pun pulang dan segera melaporkan hasil penggeledahannya kepada Mutawakkil. Mutawakkil pun menyuruh membunuh orang-orang yang hasad. Sedangkan, sebagai permohonan maaf, Mutawakkil kembali memberikan sejumlah uang kepada imam.***

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button