Murāqabah dan Manusia Pembelajar

Sikap murāqabah, selalu merasa diawasi oleh Allah Swt, memunculkan dua sikap: menjauhi perbuatan yang dibenci oleh Allah dan melakukan perbuatan yang disenangi oleh Allah. Untuk melakukan hal ini, kita tentu harus mengetahui mana yang dibenci dan mana yang disukai oleh Allah. Disinilah perlunya kita belajar. Untuk mewujudkan ini, Allah memberikan kepada manusia potensi untuk melakukan pembelajaran, yaitu akal, indera, dan intuisi (kalbu). Jika tidak ada ketiga potensi ini, maka sulit bagi manusia untuk melakukan pembelajaran.

Mengapa perlu belajar?
Pertama, manusia mempunyai rasa ingin tahu (curiosity) yang tinggi, yang merupakan sesuatu pemberian Allah yang bersifat alami. Manusia mempunyai kodrat untuk mengetahui apa itu realitas, mengapa, dan bagaimana realitas itu terbentuk. Kita bisa melihat kepada anak kecil yang sering bertanya kepada orang tuanya tentang realitas di sekitarnya karena rasa ingin tahunya yang tinggi. Dalam Alquran, Allah menceritakan Nabi Ibrahim yang mencari Tuhan karena rasa ingin tahunya yang tinggi. 

“Ketika malam telah gelap, ia melihat sebuah bintang (lalu) berkata: “Inilah Tuhanku,” tetapi tatkala bintang itu tenggelam ia berkata, “Saya tidak suka yang tenggelam.” Ketika ia melihat bulan terbit, ia berkata, “Inilah Tuhanku,” tetapi setelah bulan itu terbenam, ia berkata, “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaKu, pastilah aku termasuk orang yang sesat.” Ketika ia melihat matahari terbit, ia berkata, “Inilah Tuhanku, ini lebih besar.” Ketika matahari itu terbenam, ia berkata, “Hai kaumku, sesungguhnya aku melepaskan diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan tuhan.” (QS. al-An’am: 75-79)

Begitupula, saat Ibrahim muncul rasa ingin tahunya tentang bagaimana Allah menghidupkan orang mati, ia pun mengajukan pertanyaan, yang dialognya diceritakan Allah dalam Alquran.

Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati.” Allah berfirman, “Belum yakinkah kamu?” Ibrahim menjawab, “Aku telah yakin, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku).” Allah berfirman, “(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu. (Allah berfirman), “Lalu letakkan diatas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera.” Ketahuilah bahwa Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. (QS Al-Baqarah: 260)

Karena manusia diberikan akal, indera, dan intuisi oleh Allah, maka mereka kemudian melakukan berbagai perenungan, penelitian, dan percobaan ilmiah, yang pada gilirannya memunculkan berbagai ilmu pengetahuan (sains) dan teknologi. Perenungan terhadap diri manusia, seperti yang diperintahkan Allah, memunculkan berbagai sains. Manusia itu, seperti kita ketahui, adalah makhluk tiga dimensi: akal, spiritual, dan fisik. Perenungan dan pengamatan terhadap tiga dimensi ini memunculkan ilmu-ilmu seperti neorosains, biologi, anatomi, psikologi, antropologi, dan ilmu-ilmu lainnya. Begitupula terhadap cakrawala semesta dan realitas sosial memunculkan berbagai ilmu seperti astronomi, fisika, kimiawi, sosiologi, dan lain-lain. Sehingga tidak heran jika pada masa-masa keemasan Islam, para ulama juga merupakan para saintis atau ilmuwan.

Kedua, manusia belajar karena tuntutan kehidupan. Kehidupan kita selalu berkembang dan berubah, dan manusia dituntut untuk menyesuaikan diri kepada perubahan tersebut. Jika manusia tidak dapat menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut, ia akan tergeser dan termarjinalkan. Mengapa perubahan itu terjadi? Tentu jawabannya adalah tingkat dan kualitas berpikir manusia semakin meningkat, sehingga memunculkan berbagai penemuan, yang mengubah kehidupan. Salah satu bentuk perubahan itu adalah sistem pengetahuan saat ini berubah, karena penemuan Teknologi Informasi. Dunia semakin tidak berjarak dan berbatas. Seorang dapat berkomunikasi dengan mudah, murah, dan cepat melalui teknologi ini. Konsekuensinya adalah cara pandang, cara sikap, dan perilaku, bahkan cara keberagamaan kita pun mengalami perubahan.  

Apa yang dipelajari?
Ayat pertama yang turun memerintahkan kita membaca apa saja. Tetapi, menurut Islam, yang perlu kita pelajari adalah pengetahuan tentang cara-cara yang dapat mengantarkan kepada kedekatan dan ketaatan kepada Allah Swt atau muamalah antara manusia dan Sang Penciptanya (ḥabl min Allāh). Ini disebut dengan ibadah, seperti salat, puasa, zakat, haji, dan lain-lain. Kedua, yang harus kita pelajari adalah tentang cara-cara bermuamalah dengan sesama manusia lainnya (ḥabl min al-nās). Karena, seperti ditegaskan dengan jelas, kedua ilmu ini lah yang dapatmengantarkan kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. Tanpanya, manusia akan terjebak dalam kehinaan dan kesengsaraan (Lihat QS. Ali ‘Imran (3): 112).***


Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button