Metode Nabi dalam Mendidik Anak

Alquran menggambarkan anak dengan beberapa istilah. Pertama, Alquran menggambarkan anak sebagai zīnat al-ḥayāt al-dunyā (perhiasan kehidupan dunia), seperti disebutkan dalam Surat al-Kahfi (18): 46:

ٱلْمَالُ وَٱلْبَنُونَ زِينَةُ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ وَٱلْبَٰقِيَٰتُ ٱلصَّٰلِحَٰتُ خَيْرٌ عِندَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا

Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan

Perhiasan adalah sesuatu yang kita sukai dan senangi. Anak digambarkan sebagai “perhiasan”, maka banyak orang yang mengeluarkan biaya dan energi yang besar untuk mendapatkannya. Ada yang melakukan terapi yang mahal. Bahkan, ada yang mencoba mendapatkan anak melalui bayi tabung dengan biaya yang sangat tinggi, jika memang secara normal mereka tidak dapat memperoleh anak.

Karena anak merupakan perhiasan, sebagaimana fungsi perhiasan sebagai “pengindah”, maka banyak orang yang membangga-banggakan anaknya. Di sinilah orang-orang kafir sering tertipu oleh perhiasan ini. Mereka berbangga diri dengan banyaknya anak, dan beranggapan bahwa anak-anak inilah yang akan menjaganya. Mereka mengira Allah ridha kepada mereka karena menganugerahi bayak anak kepada mereka. Mereka menyombongkan hal ini di hadapan orang-orang beriman, sehingga Allah mengkritik mereka dalam Alquran (Ali ‘Imran: 116)

إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ لَن تُغْنِىَ عَنْهُمْ أَمْوَٰلُهُمْ وَلَآ أَوْلَٰدُهُم مِّنَ ٱللَّهِ شَيْـًٔا ۖ وَأُو۟لَٰٓئِكَ أَصْحَٰبُ ٱلنَّارِ ۚ هُمْ فِيهَا خَٰلِدُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang kafir baik harta mereka maupun anak-anak mereka sekali-kali tidak dapat menolak azab Allah dari mereka sedikitpun. Mereka adalah penghuni neraka, dan kekal di dalamnya.

Kedua, Alquran menggambarkan anak sebagai fitnah. Kata fitnah ini bermakna “ujian atau cobaan”. Maksudnya, karena kecintaan kepada anaknya, orang banyak lupa dan terlena karena sehinga menjadi lalai dari mengingat Allah dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak dibenarkan untuk menyenangkan anak-anaknya. Atau karena kecintaannya tersebut, mereka memanjakan anak terlalu berlebihan sehingga membuat anak menjadi tidak baik akhlak dan perangainya.

Anak, dalam Islam, bukanlah harta milik. Kita pada hakikatnya tidak mempunyai sesuatu pun di dunia secara mutlak, termasuk anak. Tapi Allahlah sang pemilik. Karena kita tidak memiliki anak secara mutlak, maka anak adalah amanah, yang harus kita jaga dengan baik. Menjaga anak dengan baik adalah dengan mengajarkan nilai-nilai kepada mereka untuk menjadi lebih baik dalam perkembangan moralnya.

Seorang pakar psikologi Barat, yang bernama Lawrence Kholberg, mengatakan bahwa “menanamkan nilai-nilai moral tersebut adalah pada saat ketika masih anak-anak,” yaitu sekitar usia bayi sampai usia 12 tahun. Karena pada usia kanak-kanak, memori mereka belum penuh, sehingga mudah diisi. Ibarat gelas kosong, mudah diisi dengan air. Tapi jika gelas itu sudah penuh, maka sulit untuk diisinya. Ibarat lembaran kertas putih, belum banyak coretan atau tulisan, sehingga mudah untuk menulisnya. Tapi jika lembaran kertas itu sudah penuh dengan coretan, maka sulit untuk menulisnya.

Mengapa anak perlu diisi dengan nilai-nilai karakter? Karena ada hubungan yang kuat antara kesuksesan dengan karakter. Ada sebuah lembaga penelitian, Carnegie Institute, menganalisis laporan dari 10.000 orang. Penelitian ini menyimpulkan bahwa 15% kesuksesan mereka terkait dengan technical trainings (pelatihan teknis), sedangkan sisanya 85%  terkait dengan kepribadian. Dan unsur yang paling dominan dari kepribadian adalah karakter.

Penelitian ini ingin mengatakan kepada kita bahwa jika karakter bagus, maka kesuksesan akan berada dekat di hadapan kita. Oleh karena itu, yang perlu dididik dan dibina dari anak itu adalah karakter. Karena berbagai persoalan kemanusiaan yang terjadi di dunia itu berangkat dari karakter, dari zaman Nabi Adam sampai saat ini.

Kita bisa melihat contoh tentang kisah anak Nabi Adam yang bernama Qabil dan Habil. Pembunuhan yang dilakukan oleh Qabil terhadap saudaranya, Habil, adalah karena kedengkian yang bersemayam di hati Qabil. Kedengkian adalah penyakit karakter. Begitu pula berbagai tawuran yang terjadi dalam masyarakat kita, terjangkitnya para pemuda kita ke dalam narkoba, adalah karena persoalan karakter yang bermasalah. Bahkan, dalam dunia bisnis, kehancuran banyak perusahaan adalah karana persoalan buruknya karakter.

Sebagai contoh adalah World.com yang merupakan perusahaan telekomunikasi yang besar. Karyawannya mencapai 80.000orang. WorldCom menyediakan layanan telepon jarak jauh dan memiliki backbone jaringan Internet terbesar. Perusahaan ini hancur karena tidak adanya kejujuran atau transparansi dalam laporan keuangan. Ada persoalan kerusakan moral disini. Contoh lain adalah Lehman Brothers, bank investasi raksasa di Amerika. Bank raksasa ini pun hancur karena direkturnya yang temperamental dan tidak jujur. Padahal bank ini sudah berjalan selama 158 tahun.

Oleh karena itu, orang tua mempunyai tugas yang berat untuk mendidik karakter anak-anak mereka semenjak dini. Bagaimana caranya?

Pertama, orang tua harus menjadi contoh teladan buat anaknya. Jika orang tua ingin mengajarkan kepada anaknya sikap jujur. Orang tua sudah harus jujur sebelumnya. Mengapa? Karena anak selalu meniru orang tuanya. Mengapa nilai kejujuran ini penting? Karena sifat bohong itu membahayakan dan membinasakan. Orang tua juga harus menjelaskan secara jelas kepada anak-anak, jangan menciptakan kesalahpahaman kepada anak. Jangan terlalu larut dengan omongan orang lain ketika melakukan kebaikan. 

Ada kisah menarik dari Luqman al-Hakim beserta anaknya, ketika Lukman mengajak anaknya untuk menunggangi seekor keledai mengelilingi suatu kota. Luqman bermaksud memberi nasihat kepada anaknya. Ia pun membawa anaknya menuju suatu kota dengan menggiring seekor keledai ikut berjalan bersamanya. Ketika Lukman dan anaknya lewat di hadapan seorang lelaki, ia berkata kepada keduanya, “Aku sungguh heran kepada kalian, mengapa keledai yang kalian bawa tidak kalian tunggangi?”

Setelah mendengar perkataan lelaki tersebut Luqman lantas menunggangi keledainya dan anaknya mengikutinya sambil berjalan. Belum berselang lama, dua perempuan menatap heran kepada Luqman seraya berkata,“Wahai orang tua yang sombong! Engkau seenaknya menunggangi keledai, sementara engkau biarkan anakmu berlari di belakangmu bagai seorang hamba sahaya yang hina!”

Maka, Luqman pun membonceng anaknya menunggangi keledai. Kemudian Luqman beserta anaknya yang ia bonceng melewati sekelompok orang yang sedang berkumpul di pinggir jalan. Ketika mereka melihat Luqman dan anaknya seorang dari mereka berkata,“Lihatlah! Lihatlah! Dua orang yang kuat ini sungguh tega menunggangi seekor keledai yang begitu lemah, seolah keduanya menginginkan keledainya mati dengan perlahan.”

Mendengar ucapan itu Luqman pun turun dari keledainya dan membiarkan anaknya tetap di atas keledai. Mereka berdua pun melanjutkan perjalanan hingga bertemu dengan seorang lelaki tua. Lelaki tua itu kemudian berkata kepada anak Luqman, “Engkau sungguh lancang! Engkau tidak malu menunggangi keledai itu, sementara orangtuamu engkau biarkan merangkak di belakangmu seolah ia adalah pelayanmu!”

Ucapan lelaki tua itu begitu membekas dalam benak anak Luqman. Ia pun bertanya kepada ayahnya, “Apakah yang seharusnya kita perbuat hingga semua orang dapat rida dengan apa yang kita lakukan dan kita bisa selamat dari cacian mereka?” Luqman pun menjawab, “Wahai anakku, sesungguhnya aku mengajakmu melakukan perjalanan ini adalah bermaksud untuk menasihatimu. Ketahuilah bahwa kita tidak mungkin menjadikan seluruh manusia rida kepada perbuatan kita. Kita juga tidak akan selamat sepenuhnya dari cacian karena manusia memiliki akal yang berbeda-beda dan sudut pandang yang tidak sama. Maka, orang yang berakal akan berbuat untuk menyempurnakan kewajibannya dengan tanpa menghiraukan perkataan orang lain.”

Kedua, orang tua jangan suka marah dan mencela ketika mendidik anaknya. Jangan pula mendoakan keburukan kepada mereka. Karena ketika kita marah terlalu berlebihan, maka itu akan menghilangkan motivasi anak. Apalagi jika kita selalu mengucapkan kalimat-kalimat yang buruk kepada anak, dengan menyamakan dengan binatang. Jangan pula mendoakan keburukan kepada anak. Nabi pernah mengatakan, “Jangan mendoakan keburukan buat dirimu. Jangan mendoakan keburukan buat anak-anakmu … ketika bertepatan dengan waktu Allah mengabulkan doa kalian.” Yang kita lakukan ketika anak kita melakukan kesalahan atau kekeliruan, atau anak kita nakal, adalah mendoakan kebaikan kepadanya agar menjadi lebih baik lagi. Ketiga, selalu memberikan motivasi kepada anak dan mendukung potensinya, melalui pujian, sanjungan, dan hadiah. Nabi pernah membariskan anak-anak dan memperlombakan mereka. “Siapa yang bisa sampai kepadaku terlebih dahulu, maka dia akan mendapat hadiah ini dan itu.” Ini adalah dalil bahwa Rasul pun memberikan hadiah untuk memberikan motivasi.***

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button