Metode Kasih Sayang Nabi dalam Mendidik

Dalam Alquran, Surat al-Anbiya’: 107, Allah Swt berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

“Kami tidak mengutus engkau kecuali sebagai rahmat buat semesta alam.”

Ayat ini menegaskan bahwa misi kehadiran Nabi di muka bumi adalah menebarkan kasih sayang dalam setiap syariat yang dibawanya. Karena misi kenabiannya adalah menebarkan kasih sayang, maka dalam segala perilakunya, dalam diri nabi selalu tercermin sikap kasih sayang beliau. Oleh karena itu, pantas jika Allah memberikan julukan kepada beliau ra’ūf raḥīm, sebagaimana disebutkan dalam surat al-Tawbah: 128.

لَقَدْ جَآءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِٱلْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

Prinsip “kasih sayang” ini beliau terapkan dalam mendidik para sahabat. Sehingga dari madrasah nabi, muncul lulusan-lulusan terbaik yang cemerlang tidak hanya dalam wawasan keilmuan namun juga akhlak dan perilakunya. Nabi tidak pernah menggunakan metode kekerasan. Dalam Alquran, surat Ali Imran (3): 159, Allah berfirman:

وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لَٱنفَضُّوا۟ مِنْ حَوْلِكَ

“Jika kalian berlaku kasar dan keras terhadap mereka, maka niscaya mereka akan meninggalkanmu.”

Sikap kasih sayang nabi dalam mendidik dapat terlihat dari beberapa hal:

Cara mengajar. Beliau selalu menggunakan kata-kata yang “lembut, menyentuh, mudah dipahami, benar,” sebagaimana diperintahkan oleh Allah:

  1. Qawl layyin. فقولا له قولا لينا … [Maka katakanlah kepadanya perkataan yang lemah-lembut].
  2. Qawl maysūr: فقل لهم قولا ميسورا [Maka katakanlah kepada mereka perkataan yang mudah dipahami].
  3. Qawl sadīd, dalam firman Allah: … فليتقوا الله وليقولوا قولا سديدا […dan berkatalah dengan perkataan yang benar].
  4. Qawl karīm (Perkataan yang mulia) QS. al-Isrā’: 23:
  5. Qawl balīgh (QS al-Nisa’: 63). وقل لهم فى أنفسهم قولا بليغا (Katakan kepada diri mereka perkataan yang efektif).  
  6. Qawl marūf (QS al-Nisa’: 5, 8; al-Aḥzāb: 32).

Sikap dan perbuatan
Kasih sayang nabi tidak hanya kepada umat Islam saja, tetapi juga kepada non-muslim. Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa Nabi SAW selalu menyu­api seorang pengemis Yahudi yang buta di sudut pasar Madinah. Padahal, pengemis Yahudi itu selalu berkata kepada setiap orang yang mendekatinya: “Jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir. Apabila kalian mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya.”

Ketika Nabi wafat, Abu Bakar sebagai khalifah per­tama bertanya pada putrinya Aisyah tentang kebiasaan Nabi SAW yang belum dilaku­kannya. Aisyah menceritakan pengemis Yahudi itu. Abu Bakar pun membawa maka­nan dan menyuapi pengemis yang disebut Aisyah.

Si pengemis marah sambil menghardik, “Siapakah ka­mu?” Abubakar menjawab, “Aku orang yang biasa.” “Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku. Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu me­nyu­apiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan terse­but setelah itu ia berikan padaku.”

Abu Bakar tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, “Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya. Orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah saw, orang yang selalu engkau caci-maki.” Pengemis itu pun kaget dan seketika menangis teri­sak-isak mendengar berita itu. “Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun. Ia mendatangiku dengan mem­bawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia…. “ Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat di hadapan Abu­bakar saat itu juga dan kebenciannya terhadap Mu­ham­mad berubah mejadi cinta dan rindu yang mendalam.***

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button