Mengelola Amarah

Dalam surat Ali Imran: 134, disebutkan bahwa salah satu ciri dari orang yang bertakwa adalah “orang yang mampu mengendalikan amarah” (al-kāẓimīn al-ghay). Orang Arab menggunakan dua istilah untuk menggambarkan emosi marah, ghadhab dan ghayz. Dua kata ini meskipun artinya sama dalam bahasa Indonesia, tetapi berbeda muatan maknanya dalam bahasa Arab. Kata ghayz adalah emosi marah yang terpendam di lubuk hati dan tertanam di dalam relung jiwa, tetapi tidak muncul ke permukaan, sementara ghadab terlihat dan tampak pada perbuatan. Oleh karena itu, tidak heran jika Nabi mengatakan: لا تغضب (Jangan marah), dengan menggunakan kata ghadab.  Ada yang mengatakan bahwa ghadab itu menghendaki adanya bahaya oleh seseorang kepada yang orang yang menjadi target kemarahannya. Marah, kata Imam Al-Ghazālī dalam kitabnya Iyā ‘Ulūm al-Dīn, adalah nyala api yang diambil dari neraka. Karakter dari api adalah membakar. Marah adalah api, yang jika muncul, maka dapat membakar pelakunya dan juga orang lain. Untuk itu, Rasul memerintahkan kita untuk menahan marah. “Janganlah marah” kata Rasul sebanyak tiga kali. Karena marah dapat membakar dirinya dan juga orang lain, dan tentunya marah dapat memunculkan konflik dan bahaya yang lebih besar.

Mengapa mengendalikan amarah menjadi penting?

Pertama, karena janji Allah kepada orang yang menahan amarah adalah besar. Sebagai contoh, dalam sebuah hadis, Nabi Saw bersabda: “Saya melihat istana-istana yang sangat tinggi di surga.” Saya bertanya kepada Jibril, “Buat siapa ini yang Jibril?” “Buat orang yang mengendalikan amarahnya dan memaafkan orang lain.”

Kedua, ada hubungan antara marah dengan kehancuran seseorang. Karena marah, orang bisa kalap dan membunuh teman atau saudaranya sendiri. Karena marah, orang dapat menganiaya orang lain. Karena marah, orang dapat merusak hak milik orang lain. Karena marah, orang menjadi lupa diri, lupa posisi, dan tidak dapat mengontrol perilaku. Dengan kata lain, marah dapat memutuskan silaturahmi. Beberapa kasus kekerasan dan konflik sosial yang terjadi dalam masyarakat kita tidak lepas dari peran marah yang bersemayam pada perilakunya.

Oleh karena itu, Nabi, para Sahabat serta orang-orang saleh menjadikan pengelolaan marah sebagai bagian dari kebiasaannya, karena mereka paham bahwa seorang yang kuat bukanlah orang yang kuat secara fisik, namun orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah. Nabi bersabda:

ليس الشَّديد بالصُّرَعَة، إنَّما الشَّديد الذي يملك نفسه عند الغَضَب
“Orang yang kuat bukanlah orang yang pandai bergulat, tetapi orang yang mampu menguasai dirinya di kala marah.”

Sebagai contoh, salah seorang Sahabat Nabi pernah menceritakan, “Suatu ketika saya berjalan bersama Nabi, dan pada saat itu beliau memakai sorban. Kemudian datang seorang Arab Badui menarik dengan keras sorban Nabi tersebut, sehingga saya melihat bekas tarikan tersebut di leher Nabi. Orang itu berkata, “Ya Rasulullah berikan kepadaku dari harta Allah yang ada padamu.” Nabi tidak marah, malah tersenyum, kemudian memberikan sorban tersebut kepadanya.”

Dalam suatu kisah, ada seorang budak milik Imam Ja’far al-Șādiq, cicit Nabi Saw, menuangkan air ke tangan beliau. Tiba-tiba ceret yang ada di tangan budak tersebut jatuh ke baskom sehingga membasahi beliau. Imam Ja’far melihat dengan menahan amarah kepada orang tersebut. Lalu orang tersebut mengatakan dan membacakan sebuah ayat: “والكاظمين الغيظ والعافين عن الناس والله يحب المحسنين” (Orang-orang yang menahan marah dan memaafkan orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berlaku ihsan). Imam berkata, “Engkau telah meredam amarahku, aku memaafkanmu, dan pergilah engkau sekarang bebas karena Allah Swt”.

Bagaimana mengendalikan marah?

Menarik sekali dicermati, bahwa untuk mengendalikan marah, dalam tuntunan ajaran Islam, ada beberapa cara sederhana yang dianjurkan oleh Nabi. Pertama, , إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ. Menurut hadis ini, ketika marah muncul, maka penting untuk mengambil posisi diam atau tidak bicara. Mengapa?Karena watak orang yang marah biasanya suka bicara tidak menentu, dan pada gilirannya akan menimbulkan perbuatan-perbuatan dosa lainnya. Diam ini menjadi cara yang paling efektif untuk menghindari dosa akibat marah.

Kedua, Nabi memberikan arahan yang lain untuk mengambil posisi yang lebih rendah.

 إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ، فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ وَإِلَّا فَلْيَضْطَجِعْ

“Apabila salah seorang dari kalian marah, sementara dalam posisi berdiri, hendaknya ia duduk. Karena dengan itu marahnya dapat hilang. Jika belum juga hilang, hendaknya ia mengambil posisi berbaring.”

Mengapa duduk dan berbaring menjadi cara ampuh untuk menghindari munculnya amarah? Posisi berdiri memudahkan seorang untuk bergerak dan memukul, berbeda dengan posisi duduk, apalagi berbaring. Perintah Nabi untuk duduk dan berbaring adalah agar orang yang sedang dalam posisi berdiri atau duduk tidak segera melakukan tindakan pelampiasan marahnya, yang bisa jadi menyebabkan dia menyesali perbuatannya setelah itu.

Ada kisah menarik, satu ketika mengisi ember beliau dengan air. Tiba-tiba datang beberapa orang yang ingin mengerjai Abu Dzar. Salah seorang dari mereka mendekati Abu Dzar dan menjitak kepala Abu Dzar untuk mendapatkan rambutnya. Ketika itu Abu Dzar sedang berdiri. Beliaupun langsung duduk kemudian berbaring. Banyak orang keheranan melihat hal itu, dan bertanya, “Wahai Abu Dzar, mengapa kamu duduk, lalu berbaring?” Abu Dzar pun menyampaikan hadis di atas.

Jika kita ingin sukses dan bahagia dalam kehidupan dunia ini, dan terlebih lagi sukses akhirat, maka mempelajari teknik pengendalian marah dan mempraktikannya menjadi suatu keharusan. Semoga**

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button