Memahami Makna “Hijrah”

Sekarang kita sudah berada di tahun baru hijrah, tepatnya di di bulan Muharam ini. Itu berarti usia kita semakin bertambah dan pada saat yang sama jatah umur yang Allah berikan kepada kita semakin berkurang. Oleh karena itu, di sisa umur ini, mari kita melakukan perbaikan diri, memperbanyak amal saleh, sekecil apa pun itu. Karena kita tidak tahu kapan usia kita berakhir, dan kehidupan kita terhenti. Seorang penyair Mesir pernah perkata:

تزود بالتقوى فإنك لا تدري إذا حان الليل هل تعيش إلى الفجر. كم من صحيح مات من غير علة وكم من عليل عاش من الدهر

Carilah bekal takwa. Karena engkau tidak tahun apabila malam datang, apakah engkau akan hidup sampai waktu pagi. Berapa banyak orang sehat mati tanpa didahului penyakit, dan berapa banyak orang yang sakit masih dapat hidup bertahun-tahun lamanya

Nabi pernah bersabda:

من كان يومه خيرا من أمسه فهو رابح و من كان يومه كأمسه فهو خاسر ومن كان يومه شرا من أمسه فهو هالك

Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka ia adalah orang yang beruntung. Dan barangsiapa yang hari ini seperti kemarin, berarti ia orang yang merugi. Dan barangsiapa yang hari ini lebih buruk dari kemarin, berarti ia orang yang binasa

Bulan Muharam adalah salah satu bulan yang dimuliakan Allah. Ia adalah salah satu bulan yang dalam Islam dilarang untuk berperang di dalamnya. Sehingga Rasul pernah menamakannya “bulan Allah,” sebagaimana sabdanya: “Sebaik-baik puasa selain dari puasa Ramadhan adalah puasa di Bulan Allah, yaitu bulan Muharram”. (Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahihya).

Dalam sejarah, banyak peristiwa penting yang terjadi di bulan ini. Pertama, di bulan ini, khususnya tanggal 10, yang disebut sebagai Asyura, Nabi Adam diterima taubatnya oleh Allah. Pada hari itu, Allah menyelamatkan Nabi Musa dan para pengikutnya, pada saat menenggelamkan Firaun. Pada hari itu, Nabi Nuh dan para pengikutnya diselamatkan Allah. Pada saat mereka turun dari bahtera, mereka merasa lapar dan dahaga, sementara masing-masing perbelakan mereka sudah habis. Maka Nabi Nuh meminta masing-masing membawa satu genggam biji-bijian dari jenis apa saja yang ada pada mereka. Terkumpullah tujuh jenis biji-bijian, semuanya dicampurkan menjadi satu, lalu dimasak oleh beliau untuk dijadikan bubur. Berkat ide Nabi Nuh, kenyanglah para pengikutnya pada hari itu. Dari cerita inilah, dikatakan sunat membuat bubur Asyura dari tujuh jenis biji-bijian untuk dihidangkan kepada fakir miskin pada hari itu.

Bulan Muharram juga dijadikan sebagai awal tahun hijrah oleh Umar ibn Khattab. Meskipun Nabi hijrah bulan Rabiul Awal, namun Nabi berazam dan bertekad pada bulan Muharram. Hijrah ini merupakan mark of the beginning of Islamic calendar and the founding of Islamic Community, seperti kata Fazlul Rahman dan profesor Universitas Harvard, Annemarie Schimmael.

Jelas bahwa salah satu pelajaran yang dapat diambil di bulan ini adalah peristiwa hijrah. Memang Nabi pernah berkata, la hijrah ba’d al-fath, “tidak ada hijrah setelah penaklukan Mekkah”. Tapi hijrah dalam pengertian luas berlaku sepanjang masa, yaitu “pindah dari kondisi buruk kepada kondisi yang baik secara fisik maupun non-fisik.” Hijrah secara non-fisik adalah “pindah dari apa yang dilarang oleh Allah Swt” kepada “yang diperintahkannya.” Pindah dari keburukan, dosa, dan kesalahan, baik dalam paradigma, pikiran, perilaku, perkataan, maupun yang lainnya. Nabi pernah bersabda:

المهاجر من هجر ما نهى الله عنه
المهاجر من هجر السوء
المهاجر من هجر الخطايا والذنوب
الهجرة أن تهجر الفواحش ما ظهر منها وما بطن …

Pehijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarangnya
Pehijrah adalah seorang yang meninggalkan keburukan
Pehijrah adalah orang yang meninggalkan kesalahan dan dosa
Hijrah adalah engkau meninggalkan kejahatan baik yang terlihat maupun tersembunyi

Inilah hijrah yang sebenarnya, kata Ibn Qayyim, yaitu hijrah dengan hati (al-hijrah bil qalb), sementara badan hanya mengikuti saja.

Hijrah dengan hati ini secara lebih luas dapat dipahami sebagai hijrah dari paradigma, cara pandang, pikiran, konsep, gagasan, pengetahuan yang dikemas oleh syetan kepada paradigma Alquran. Jika kita dapat melakukan perubahan paradigma ini, maka kita akan mendapatkan perubahan yang besar. Salah seorang tokoh motivasi pernah berkata: “Jika Anda ingin perubahan kecil, ubahlah perilaku Anda. Jika Anda ingin perubahan yang besar, ubahlah paradigma Anda”. Untuk itu, kita harus melakukan perubahan terutama dalam paradigma dan cara pandang kita terhadap sesuatu. Ada banyak hal yang harus kita ubah, namun dalam kesempatan ini, ada dua hal yang patut kita renungkan.

Pertama, kita harus hijrah dari cara pandang yang keliru tentang dunia dan kehidupan. Jika di tahun-tahun lalu kita dikuasai paradigma materialistik, dimana ukuran kehidupan diukur oleh pertimbangan materi, dan seluruh kehidupan kita diwarnai dan dimasuki oleh kepentingan dan kesenangan duniawi. Maka, sekarang ini, kita harus mengisi kehidupan kita untuk keridaan Allah. Semua kita lakukan karena dan untuk Allah. Kalau dulu niat kita melakukan sesuatu bukan karena Allah, maka sekarang harus tekadkan untuk Allah Swt.

Ibn Ruslan, dalam matan Zubad, mengatakan:

فصحح النية قبل العمل وأت بها مقرونة بالاول*سائر الأعمال لا تخلص إلا مع النية حيث تخلص

Perbaiki niat sebelum berbuat, dan pasanglah niat pada permulaan amal ** Semuat perbuatan tak diterima, kecuali jika disertai niat yang tulus

Kedua, kita harus hijrah dari paradigma dan cara pandang  yang keliru tentang kemiskinan. Misalnya, pandangan bahwa kemiskinan adalah sarana penyucian diri atau takdir Tuhan, pandangan ini bahkan masih dianut oleh sebagian masyarakat hingga kini. Persepsi yang keliru itu harus dibuang.

Pernah ada satu cerita tentang seorang yang bernama Syaqiq al-Balkhi. Beliau ini seorang pengusaha yang kaya. Suatu ketika ia melakukan perjalanan dagang, namun sebelumnya ia pergi untuk pamit kepada Ibrahim bin Adham, seorang sufi kaya yang sangat zuhud terhadap dunia. Di tengah perjalanan yang sangat panas tersebut, ia berteduh di suatu tempat yang tidak ada orang di sana. Ia menyaksikan seekor burung yang lumpuh yang patah sayapnya. Dalam hatinya, dalam kondisi tersebut, bagaimana burung tersebut akan bertahan hidup, sementara ia tidak mampu mencari makan. Tiba-tiba, Balkhi melihat seekor burung terbang menghampiri burung lumpuh tersebut, seraya membawa makanan di paruhnya, yang kemudian menyuapi burung yang lumpuh tersebut. Hati Balkhi tersentak,  jika Allah mampu memberikan rezeki kepada burung yang tidak berdaya tersebut, bagaimana dengan dirinya? Lalu ia pun kemudian menjalani kehidupan zuhud, dan menghabiskan untuk beribadah saja.

Sampai kemudian Ibrahim bin Adham mendatanginya. Ibrahim ibn Adham ini juga merupakan orang yang kaya raya, dan seorang yang memilih menjalani hidup zuhud. “Kenapa engkau memilih hidup seperti ini?” tanya Ibrahim.

Syaqiq lalu menceritakan perihal burung itu, burung yang ditunjukkan kepadanya seolah untuk memberikan ilham. “Burung itu tak lagi punya sayap yang sempurna, namun ia tetap bisa mendapatkan makanan,” kata Syaqiq. “Dia yang memberi rezeki untuk burung yang memiliki sayap tak sempurna itu dan Dia pula yang akan memberikan rezeki untukku. Burung itu telah mengajariku bertawakal. Maka, waktuku akan kuhabiskan untuk beribdah kepada Allah SWT,” lanjut Syaqiq. Ibrahim berkata, “Syaqiq, kenapa engkau memilih burung dengan sayap tak sempurna, yang hanya bisa menengadahkan paruhnya untuk mendapatkan makanan? Kenapa engkau tidak memilih menjadi burung dengan sayap yang sempurna agar engkau mampu mencari rezeki sendiri bahkan membantu yang lain untuk mendapatkan rezekinya?” kata Ibrahim. Hati Syaqiq terhujam untuk kedua kalinya. Syaqiq segera saja meraih tangah Ibrahim seraya berkata, “Engkaulah guruku,” kata Syaqiq seraya menciumi tangan Ibrahim berkali-kali.

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button