Keteladanan Nabi dalam Memimpin

“Dalam diri Rasulullah ada keteladanan yang baik yang dapat dicontoh.” Firman Allah yang singkat ini memerintahkan kita untuk mencontoh Nabi dalam segala aspek kehidupan, jika kita ingin mendapatkan kesuksesan dan kebahagiaan hidup. Mengapa kita perlu meneladani Nabi? Karena Nabi selalu dibimbing wahyu dan dididik secara langsung oleh Allah Swt. Apa yang dilakukan oleh Nabi adalan penerjemahan pesan-pesan Allah dalam Alquran. Pesan-pesan Allah membawa kebaikan buat manusia, karena ia diturunkan oleh Dzat yang maha mengetahui apa yang baik buat manusia, karena Ia lah yang menciptakannya. Maka, kita perlu meneladani Nabi dalam semua aspek kehidupan.

Sebagai seorang yang dijadikan teladan, Nabi telah mengajarkan berbagai prinsip kehidupan. Salah satunya adalah ajaran tentang kepemimpinan dan berbagai prinsip-prinsip dasar yang memperkuatnya.

Apa ajaran Nabi tentang kepemimpinan?

Kepemimpinan itu amanah, dan ia tentunya akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah Swt. Karena ia amanah, maka ia harus dijalankan oleh seorang yang mempunyai kualifikasi, yaitu keimanan, kemampuan, dan integritas moral yang kuat. Karena jika diserahkan kepada seorang yang bukan ahlinya, maka tujuan dari kepemimpinan, yaitu mewujudkan kemaslahatan, tidak akan terwujud. Malah sebaliknya, ketidakharmonisan dan ketidakadilan akan terjadi dimana-mana.

Dalam sebuah riwayat pernah diceritakan, bahwa Abu Dzar al-Ghifari pernah berkata kepada Nabi, “Wahai Rasul, tidakkan engkau mengangkat aku sebagai pejabat?” Rasul kemudian memegang bahuku dan berkata, “Wahai Abu Dzar, engkau adalah seorang yang lemah. Jabatan itu amanah, dan di hari kiamat, ia akan menjadi penghinaan dan penyesalan kecuali orang yang memegang menunaikannya dengan benar.” (hadis diriwayatkan oleh Muslim).  

Mengapa kepemimpinan ini penting?

Jawabannya sederhana, karena tanpa kepemimpinan, kehidupan dalam sebuah masyarakat akan menjadi kacau. Masing-masing individu dalam masyarakat mempunyai kepentingan dan perilaku yang tidak sama dengan yang lainnya. Dan ini, tentu saja, akan menimbulkan ketegangan dan konflik. Jika konflik terus menerus terjadi dalam masyarakat, maka akan sulit mewujudkan masyarakat yang damai dan harmonis, yang menjadi tujuan diturunkannya manusia ke bumi. Untuk itu, perlu adanya seorang pemimpin yang mengatur kehidupan ini, agar keharmonisan dapat dicapai dan keadilan dapat ditegakkan. Saking pentingnya pemimpin ini, ia harus diadakan meskipun dalam komunitas yang kecil. Nabi bersabda,

إِذَا خَرَجَ ثَلاَثَةٌ فِى سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوا عَلَيْهِمْ أَحَدَهُمْ

“Jika tiga orang melakukan perjalanan, maka hendaklah mereka mengangkat salah seorang dari mereka sebagai pemimpin” (Hadis riwayat Abu Daud)

Dalam hadis lain, Nabi mengatakan,

لاَ يَحِلُّ لِثَلاَثَةٍ بِفَلاَةٍ مِنَ اْلأَرْضِ إِلاَّ أَمَّرُوْا عَلَيْهِمْ أَحَدَهُمْ

“Tidak halal bagi tiga orang yang berada di suatu tempat di bumi kecuali mereka mengangkat salah seorang dari mereka sebagai pemimpin” (Hadis riwayat Ahmad)

Bagaimana menegakkan kepemimpinan menurut sunnah Nabi?

Pertama, Nabi diperintahkan oleh Allah untuk selalu melakukan musyawarah. Pesan Nabi bahwa seorang pemimpin harus bermusyawarah dalam segala hal yang belum diatur dalam Alquran dan Hadis Nabi. Mengapa musyawarah penting? Karena realitas sosial membuktikan bahwa solusi terbaik untuk kepentingan bersama dapat dicapai melalui musyawarah.

Ketika Nabi mendapatkan 70 tawanan, beliau tidak langsung memutuskan perihal apa yang akan dilakukan terhadap tawanan tersebut. Itu tidak berarti bahwa Nabi tidak tahu apa yang terbaik karena beliau adalah Rasulullah. Tetapi, Nabi malah berinisiatif mengadakan pertemuan dengan para sahabat untuk membicarakan masalah tersebut. Dalam forum musyawarah, Umar mengajukan usul agar seluruh tawanan dibunuh, agar musuh jera terhadap kesalahannya. Abu Bakar menyarankan agar para tawanan dibebaskan sebagai strategi agar mush menduga umat Islam telah kuat sehingga tidak perlu menahan tawanan. Namun, pembebasan tersebut dengan syarat, yaitu: yang kaya membayar denda sebanyak 4 dinar. Namun, bagi tawanan yang miskin. ditugaskan mengajarkan anak-anak membaca. Jika mereka sudah pintar, baru tawanan tersebut dibebaskan. Nabi mengatakan, “Yang pertama mirip dengan Nabi Nuh, dan yang kedua mirip dengan Nabi Ibrahim. Hanya saja saya lebih memilih yang kedua ini.”

Kedua, konsisten dalam membela kebenaran. Dalam menjalankan kepemimpinannya, Nabi adalah seorang yang kuat, tidak kompromistis dan tidak mudah kendur dengan berbagai godaan dan rintangan yang menghadang. Ketika orang-orang kafir membujuk Nabi untuk menghentikan misinya menyebarkan kebenaran dengan kompensasi diberikan kedudukan yang tinggi, harta berlimpah, dan wanita yang mempesona, ternyata beliau tidak menyurutkan langkahnya untuk menyebarkan kebenaran. Ada ungkapan Nabi yang menarik:

وَ اللهِ لَوْ وَضَعُوْا الشَّمْسَ فِي يَمِيْنِيْ وَالْقَمَرَ فِي يَسَارِيْ مَا تَرَكْتُ هَذَا الْأَمْرَ حَتَّى يُظْهِرَهُ اللهُ أًوْ أَهْلِكَ دُوْنَهُ

“Demi Allah, seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku, dan bulan di tangan kiriku, agar aku menghentikan dakwah ini, niscaya aku tidak akan menghentikannya hingga Allah memenangkannya atau aku binasa.”

Ketiga, rendah hati dan sederhana. Meskipun Nabi seorang pemimpin yang besar dan mempunyai kekuasaan yang luas, beliau tidak menunjukkan dirinya sebagai pemimpin yang arogan dan anti kritik. Beliau adalah seorang pemimpin yang rendah hati, tidak pernah menggunakan posisinya untuk menakut-nakuti, menindas orang lain agar mengikuti kehendaknya. Beliau juga merupakan seorang yang sederhana, tidak bertahta di singgasana yang megah dan mewah, namun lebih bertahta dalam jiwa dan hati rakyatnya. Sebagai seorang kepala negara, kehidupan Rasulullah sangat jauh dari kemewahan, bahkan pakaiannya pun sering ditambal dengan tangannya sendiri sehingga pribadi dan keluarganya menyatu dalam kebersamaan hidup rakyatnya. Kenyataan ini berbeda dengan mayoritas pemimpin saat ini. Perbedaannya bagaikan bumi dengan langit. Pemimpin sekarang hidup sangat mewah dan bergelimang harta, sementara rakyatnya hidup miskin dan menderita. Mereka anti kritik dan seringkali menggunakan kekuasaannya untuk membungkam bahkan menindas mereka yang tidak setuju dengannya. Praktik kepemimpinan Nabi ini adalah teladan kepemimpinan sepanjang masa. Ia selalu kontekstual, membumi dan ideal diterapkan dalam spirit dan watak kepemimpinan saat ini agar selamat dunia dan akhirat.**

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button