Filosofi Zakat Fitrah

Dalam Alquran disebutkan bahwa dalam diri manusia tertanam naluri kecintaan terhadap harta benda, bahkan kecintaan mereka terhadap harta ini sangatlah besar (innahu lihubbil khayri la-shadid). Sehingga, karena kecintaannya yang berlebihan tersebut seseorang bisa menjadi bakhil, dan merasa bahwa hartanya akan berkurang jika disedekahkan. Sikap bakhil atau kikir inilah—dalam sejarah umat manusia—banyak menghancurkan dan membinasakan umat-umat terdahulu. Dalam sebuah hadis Nabi diceritakan:

واتقوا الشح فإن الشح أهلك من كان قبلكم

“Jauhilah sifat kikir karena kikir telah membinasakan orang-orang sebelum kalian.”

Sebaliknya, jika seorang terjaga dari sifat kikir, maka ia adalah orang yang mendapatkan keberuntungan. Dalam surat al-Hasyr (59): 9 dan al-Taghabun (64): 16.

وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِۦ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ

“Siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung”

Oleh karena itu, Allah mewajibkan zakat kepada manusia dari zaman Nabi Adam hingga zaman Nabi Muhammad Saw. Dalam Islam, zakat terbagi ke dalam dua bagian: zakat fitrah dan zakat mal, yang masing-masing mempunyai ketentuan hukum tersendiri. Zakat fitrah adalah zakat diri yang diwajibkan atas diri setiap Muslim yang berkemampuan dengan syarat-syarat yang ditetapkan.

Mengapa Allah mewajibkan zakat fitrah? Dalam sebuah hadis disebutkan:

فرض رسول الله صلي الله عليه وسلم زكاة الفطر طهرة للصائم من اللهو والرفث وطعمة للمساكين

Berdasarkan hadis ini, ada dua tujuan disyariatkannya zakat fitrah: Pertama, menyucikan orang yang berpuasa dari perkataan-perkataan kotor dan tidak pantas. Dalam berpuasa, memang tidak hanya memuasakan perut dan kemaluannya, tetapi juga memuasakan anggota badan dan lisannya. Namun demikian, mungkin saja, karena sifat lemah manusia, dalam realitas kita tidak dapat terhindar dari mengucapkan kata-kata yang tidak pantas ini, maka zakat fitrah di akhir bulan puasa bisa menjadi media untuk menyucikan hal tersebut. Ia ibarat kamar mandi, tempat membersihkan diri bagi orang-orang yang kotor. Surga—yang dijanjikan buat orang-orang yang puasa—itu adalah suci, dan hanya diperuntukkan buat orang-orang yang suci dan bersih.

Kedua, memberikan makanan kepada orang-orang miskin. Mengapa? Karena memberikan makan kepada orang miskin merupakan prasyarat iman. Dalam surat al-Mudatsir diceritakan bahwa para penghuni surga saling bertanya kepada penghuni neraka, apa yang membuat mereka dimasukkan ke dalam neraka. Mereka menjawab salah satunya adalah, “Kami tidak memberikan makan kepada orang-orang miskin.” (ولم نك نطعم المسكين). Sebaliknya, menahan hak orang miskin merupakan jalan menuju kehancuran. Dalam surat al-Qalam [68]: 17-33, Allah menceritakan kisah pemilik kebun yang berencana memanen hasil kebunnya, namun mereka berbisik agar orang-orang miskin jangan sampai masuk ke dalam kebun mereka. Kemudian, Allah pun membakar kebun tersebut, sehingga tidak satu pun buah yang bisa dipanen, dan mereka pun menyesalinya.

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca juga
Close
Back to top button