Adab Istinja

Seorang tokoh pendidikan Islam yang bernama Naquib al-Attas pernah ditanya oleh salah seorang anggota seminar tersebut, “Apa permasalahan terbesar yang sedang dihadapi oleh umat Islam saat ini?” Beliau menjawab, bahwa permasalahan yang dihadapi oleh umat Islam saat ini adalah dua; Pertama, masalah eksternal, yaitu serbuan pemikiran-pemikiran yang merusak, yang datang dari Barat. Kedua, masalah Internal, yaitu  hilangnya adab, sebagaimana pernyataannya,”the central crisis of Muslim today is loss of adab”. Lebih jauh, ia mengartikan loss of adab sebagai “loss of discipline of body, mind and soul” (kehilangan disiplin tubuh, pikiran dan jiwa). Ini terjadi akibat kebingungan dan kekeliruan persepsi mengenai ilmu pengetahuan. Yang pada ahkirnya, ditandai dengan lahirnya para pemimpin yang bukan saja tidak layak memimpin umat, melainkan juga tidak memiliki akhlak yang luhur dan kapasitas intelektual dan spiritual yang mencukupi.

Dalam Islam, adab itu adalah unsur yang sangat penting dalam kehidupan seorang. Bahkan, banyak ulama menekankan tentang pentingnya mempelajari adab sebelum mempelajari ilmu. Imam Malik, misalnya, pernah mengatakan:
يَا اِبْنَ أَحِيْ، تَعَلَّمْ الاَّدَبَ قَبْلَ أَنْ تَتَعَلَمَ الْعِلْمَ 
“ً Wahai anak saudaraku, pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu”.

Salah satu yang diajarkan adalah adab yang terkait dengan kebersihan. Nabi pernah mengatakan bahwa “Dasar agama adalah kebersihan” (بني الدين على النظافة) dan bahkan agama merupakan bagian dari iman. Taharah ini dapat didekati dengan dua pendekatan, ada pendekatan spiritual, yang melahirkan konsep tazkiyyat al-nafs (penyucian jiwa), dan ada pendekatan lahiriah, yang melahirkan fikih taharah, yang mecakup istinja, wudhu, mandi dan tayammum. Saking pentingnya pembahasan ini, dalam setiap kitab fikih selalu dimulai dengan pembahasan tentang “kebersihan” atau ṭahārah sebelum membahas persoalan lain, seperti salat, puasa, dan sebagainya.

Apa itu ṭahārah? Perbuatan yang menjadi wasilah dibolehkannya salat—atau yang berada dalam yurisdiksinya—seperti wudhu, mandi, dan menghilangkan najis dari pakaian, badan dan makan. (Muṣṭafā al-Khin, et.al, al-Fiqh al-Manhajī, I, 27). Secara umum, Islam memberikan perhatian yang sangat serius terhadap masalah kebersihan dan penyucian ini. Seperti, perintah berwudu setiap ingin salat (QS. 5: 6); dorongan untuk mandi dalam setiap kesempatan (wa in kuntum junuban faṭṭahharū, QS. 5: 6); perintah untuk memotong kuku, membersihkan gigi, pakaian, dll.

Mengapa kita perlu bersuci dan berbersih diri? Ada beberapa alasan yang dapat kita berikan. Pertama, kebersihan itu adalah fitrah manusia. Setiap orang mencintai kebersihan. Bahkan, jika mereka bersama dengan orang yang tidak bersih, maka akan muncul perasaan tidak nyaman bersamanya. Kedua, kebersihan adalah salah satu menjaga kemuliaan manusia. Ketiga,menjaga kesehatan manusia. Keempat, berada di hadapan Allah dalam keadaan suci dan bersih.

Dalam fikih, ṭahārah ada dua macam: bersuci dari najis dan bersuci dari hadas. Bersuci dari najis adalah membersihkan diri dari sesuatu yang najis. Sementara itu, bersuci dari hadas mencakup wudhu, mandi, dan tayammum, yang didahului sebelumnya oleh instinjā’. Sebelum membahas itu, kita akan membahas tentang adab dan sunnah instinjā’, karena ia merupakan sebab daripada wudhu.

Apa itu instinjā’? Menghilangkan najis dari tempat keluarnya kencing atau kotoran manusia. Bagaimana hukumnya? Wajib. Dengan apa menghilangkannya? Tentu saja dengan air mutlak. Yaitu, air yang suci dan menyucikan (ṭāhir muṭahhir). Jika tidak ditemukan air, maka dengan tiga buah batu.

Ada beberapa adab dan sunnah yang terkait dengan instinjā’.

Pertama, yang terkait dengan tempat. Yaitu, menjauhi buang air besar atau kecil di tempat lewatnya atau berkumpulnya orang banyak, karena dapat mengganggu mereka. Nabi pernah bersabda,

“اتَّقُوا اللَّعَّانَيْنِ” قَالُوا: وَمَا اللَّعَّانَانِ يَا رَسُولَ اللّهِ؟ قَالَ: “الَّذِي يَتَخَلَّى فِي طَرِيقِ النَّاسِ أَوْ فِي ظِلِّهِمْ”. رواه مسلم.

Atau di lubang yang ada di tanah atau dinding, karena mengganggu binatang yang ada di dalamnya.

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى أَنْ يُبَالَ فِي الْجُحْرِ

Atau, di bawah pohon yang sedang berbuah, demi menjaga pohon dari pencemaran. Atau di air yang menggenang.

Kedua, terkait dengan masuk ke tempat buang hajat. Disunnahkan menggunakan kaki kiri ketika masuk, dan kaki kanan ketika keluar; Tidak membawa sesuatu yang terdapat nama Allah; ketika masuk membaca doa: اللهم إني أعوذ بك من الخُبث والخبائث, dan ketika keluar, membaca: غفرانك الحمد لله الذي أذهب عني الأذى وعافاني 

Ketiga, terkait dengan arah. Yaitu, tidak membelakangi atau menghadap kiblat jika di bukan di gedung.

إِذَا أَتَيْتُمُ الْغَائِطَ فَلاَ تَسْتَقْبِلُوا الْقِبْلَةَ وَلاَ تَسْتَدْبِرُوهَا، بِبَوْلٍ وَلاَ غَائِطٍ، وَلكِنْ شَرِّقُوا أَوْ غَرِّبُوا

Keempat, terkait dengan keadaan orang yang membuang hajat. Yaitu, tidak melihat ke langit, kemaluan, atau kotorannya. Makruh berbicara, makan, minum, dll, pada saat buang hajat. 

Kelima, istinja dengan menggunakan tangan kiri, makruh menggunakan tangan kanan.**

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca juga
Close
Back to top button