Ukhuwwah Islāmiyyah Pilar Peradaban Umat

Salah satu nilai yang diajarkan dalam Madrasah Ramadhan adalah persaudaraan. Melalui buka puasa bersama, tarawih berjamaah, tadarus Alquran bersama, mengeluarkan sedekah dan zakat, terbangunlah sikap empati dan simpati, yang kemudian memunculkan kasih sayang dan persaudaraan. Sikap ini harus selalu kita pertahankan di bulan-bulan berikutnya hingga akhir zaman. Jangan sampai benang persaudaraan yang telah kita tenun di bulan Ramadhan ini menjadi tercerai berai kembali. Allah Swt mengingatkan kita dalam firman-Nya:

وَلَا تَكُونُوا۟ كَٱلَّتِى نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنۢ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنكَٰثًا تَتَّخِذُونَ أَيْمَٰنَكُمْ دَخَلًۢا بَيْنَكُمْ أَن تَكُونَ أُمَّةٌ هِىَ أَرْبَىٰ مِنْ أُمَّةٍ ۚ إِنَّمَا يَبْلُوكُمُ ٱللَّهُ بِهِۦ ۚ وَلَيُبَيِّنَنَّ لَكُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ مَا كُنتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

“Janganlah kalian menjadi seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat menjadi tercerai berai kembali” (Al-Naḥl [16]: 92)

Mengapa nilai ini perlu diperkuat, dipertahankan dan ditegakkan lagi? Karena kita lihat, umat Islam saat ini terpuruk dalam kecenderungan sikap acuh tak acuh dan tidak peduli dengan saudara-saudaranya seiman. Tidak peduli dengan penderitaan mereka. Tak acuh dengan kemiskinan dan kepapaan mereka. Jika ini melekat pada seseorang, betapa pun baik dan saleh dirinya, maka neraka akan terbuka lebar buatnya. Kasus ini pernah diceritakan oleh Anas Ismail Abu Daud dalam kitabnya Dalīl al-Sā’ilīn.

Ada seorang lelaki kaya yang melaksanakan ibadah haji. Ketika sampai di Mekkah, ia menitipkan uangnya sebanyak seribu dinar kepada seorang lelaki yang dikenal amanah dan saleh hingga ia wukuf di Arafah. Selesai wukuf, ia kembali namun mendapati orang tersebut sudah meninggal. Ia bertanya kepada keluarganya tentang hartanya yang ia titipkan, tetapi mereka tidak mengetahuinya. Maka, datanglah ia kepada ulama di Mekkah dan menceritakan tentang keadaan dan hartanya.  Mereka berkata, “Ketika tengah malam, datanglah kamu ke sumur Zamzam dan lihatlah dan panggillah namanya. Jika ia termasuk penghuni surga, niscaya ia akan menjawab pertama kali engkau memanggilnya. Lalu orang itu pergi dan memanggilnya di sumur Zamzam, tetapi ia tidak menjawabnya. Kemudian orang itu datang kembali kepada ulama dan menceritakan hal tersebut. Mereka menjawab, “Innā lillāhi wa innā ilayhi rāji’ūn. Kami khawatir ia termāasuk penghuni neraka. Jika begitu, pergilah engkau ke Yaman. Di sana ada sumur yang dikenal dengan nama Barhut. Konon ia merupakan mulut neraka Jahanam. Lihatlah ke dalamnya pada malam hari dan panggillah namanya. Jika ia penghuni neraka, maka ia akan menjawab pertama kali engkau memanggilnya.” Lalu pergilah orang tersebut, dan melakukan apa yang direkomendasikan ulama Mekkah tadi. Ketika orang itu dipanggil, ia pun menyahut. Lalu orang itu bertanya, “Wahai fulan, dimana hartaku?” Ia menjawab, “Saya simpan di bagian tertentu di rumahku. Dan saya tidak mempercayakannya kepada anakku. Datangilah mereka, dan galilah tempat itu, niscaya kamu akan mendapatkannya.” Orang itu bertanya kembali, “Apa yang menyebabkan kamu masuk di sini, padahal setahu kami engkau adalah orang baik.” Dia menjawab, “Saya mempunyai saudara perempuan miskin yang saya sia-siakan dan saya tidak berbelas kasihan kepadanya. Maka, Allah menghukumku dan memasukkan aku ke dalam tempat ini.”

Selain itu, kita melihat umat Islam tercabik-cabik, terpecah-pecah dalam pertikaian dan perseteruan yang hanya menguras energi karena perbedaan. Karena perbedaan pemahaman terhadap Islam, umat Islam seringkali saling memusuhi. Karena perbedaan politik, umat Islam kerapkali saling menjauhi. Karena perbedaan partai dan organisasi, umat Islam cenderung saling mencurigai.

Umat Islam itu bersaudara bagaikan satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh sakit, maka yang lainnya juga akan merasakan sakit. Umat Islam itu saling mengayomi, ibarat kedua tangan. Anggota tubuh mana saja yang gatal, tangan pasti mau menggaruk.

إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara. Maka, damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan bertakwalah kepada Allah, agar kamu mendapatkan limpahan rahmat.” (QS. Al-Hujurat: 10)

Dalam sejarah perjuangan Nabi, kita melihat bahwa kerukunan dan kedamaian antara sesama manusia atau komunitas merupakan syarat mutlak membangun kehidupan dan peradaban. Tanpa pilar-pilar seperti itu, tidak mungkin membangun peradaban yang maju.

Itulah sebabnya, ketika Nabi membangun kota Madinah, yang semula bernama Yatsrib, hal pertama yang beliau lakukan adalah menyatukan kaum Muhajirun dan kaum Anshar; kemudian mendamaikan berbagai kelompok Arab, Yahudi dan Nasrani yang dulunya bertikai. Untuk menjamin perdamaian di antara berbagai kelompok yang majemuk tersebut, Rasulullah membuat perjanjian dengan mereka, yang dikenal sebagai Piagam Madinah.

Teks Piagam Madinah tersebut berdasarkan ajaran Alquran, yang menekankan pentingnya kemanusiaan dan ikatan sosial di antara umat manusia yang berbeda; pentingnya mewujudkan persaudaraan, persatuan, dan kerjasama dalam kehidupan sosial guna mencapai tujuan bersama. Untuk mewujudkan persatuan, Piagam Madinah mencantumkan hak dan kewajiban masing-masing komunitas, kesetaraan kemanusiaan, yang mencakup kesetaraan hak hidup, hak keamanan, hak membela diri, tanggung jawab dalam mewujudkan perdamaian, serta hak dalam memilih agama dan keyakinan masing-masing. Karena materinya yang demikian lengkap, maka seorang sosiolog agama yang bernama Robert N. Bellah, menyebut Piagam Madinah sebagai konstitusi yang sangat moderen.

Sikap dan langkah Nabi ini juga disinggung oleh Alquran, yang menyebutkan kepribadian Rasulullah yang penuh perhatian, toleran, dan lapang dada menerima persamaan dan perbedaan. Allah berfirman:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لَٱنفَضُّوا۟ مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَٱعْفُ عَنْهُمْ وَٱسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى ٱلْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ

“Dan dengan adanya rahmat dari Allah, maka engkau (Muhammad) bersikap lunak (lemah lembut) kepada mereka. Seandainya engkau kasar dan keras hati, maka pastilah mereka akan menyingkir dari sekelilingmu. Karena itu, maafkanlah mereka, mohonkan ampunan bagi mereka, dan ajaklah mereka bermusyawarah dalam urusan (keduniaan). Dan, bila engkau telah berketetapan hati, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh Allah mencintai orang yang bertawakal.” (QS. Ali ‘Imrān/3: 159).

Itulah salah satu contoh dari Rasulullah dalam membangun ukhuwwah insāniyyah (persaudaraan sesama manusia), ukhuwwah waţāniyyah (persaudaraan sebangsa), dan ukhuwwah Islāmiyyah (persaudaraan se-Islam). Dalam ayat Alquran dan praktek Nabi tersebut, terlihat jelas prinsip-prinsip penting untuk menerima persamaan dan perbedaan, seperti lemah lembut, tidak kasar dan keras hati; memaafkan, memohon-kan ampunan, dan musyawarah. Jika kesepakatan sudah mantap dan bulat, selanjutnya bersikap tawakal. Dari sinilah perdamaian dan kedamaian baik sesama umat Islam maupun dengan umat-umat lain dapat tercipta dan terpelihara.

Prinsip pertama yang ditegakkan oleh Nabi adalah kelemahlembutan. Lemah lembut adalah salah satu nama Allah dan sifat para nabi dan rasul. Dan, kita diperintahkan untuk mempunyai karakter ini, yaitu penuh kelembutan dan anti kekerasan. Mengapa? Karena Allah mencintai kelemahlembutan dalam segala sesuatu.

Sifat lemah lembut ini diterjemahkan oleh Nabi Muhammad Saw hampir di semua aspek kehidupan, baik cara pikir, ucapan, sikap maupun perbuatan. Pernah diriwayatkan bahwa suatu ketika sekelompok orang Yahudi datang menemui Nabi, dan mengucapkan salam yang diplesetkan, “al-sāmu ‘alaykum (kecelakaan untuk kalian)”. Dengan marah, ‘Āishah, isteri beliau menjawab, “‘alaykum wa la‘anakum Allāh wa ghadiba Allāh ‘alaykum (kecelakaan untuk kalian. Semoga Allah melaknat dan memurkai kalian)”. Lalu Rasulullah mengingatkan ‘Āishah:

عليك بالرفق وإياك والعنف والفحش

“Wahai ‘Āishah, Kamu harus bersikap lemah lembut, jangan melakukan kekerasan dan kekejian” (Hadis riwayat al-Bukhārī).

Dari hadis ini jelas bahwa Islam adalah agama anti-kekerasan terhadap siapa pun, termasuk yang berlainan agama. Karena itu, segala bentuk paham radikal dan aksi teror yang berbasis pada kekerasan tidak dibenarkan dalam Islam.

Prinsip kedua adalah saling memaafkan. Ini yang dibangun oleh Nabi untuk menciptakan masyarakat yang harmonis. Jika masyarakat dapat saling memaafkan, maka ini menjadi mudah untuk membangun satu peradaban. Rasulullah mencontohkan. Meskipun beliau dihina, disakiti, bahkan hendak dibunuh, beliau tetap memaafkan orang yang menyakiti dan hendak membunuhnya.

Dalam kitab Mukhtaşar Ḥayāt al-Șaḥābah, diriwayatkan bahwa ada seorang musyrik dari kabilah al-Yamamah di Mekkah, bernama Thumāmah bin Ithāl. Karena kebenciannya kepada Nabi, ia pun ingin membunuhnya. Ia pun segera mengemasi perlengkapan dan senjatanya untuk pergi ke Madinah.

Tiba di Madinah, Thumāmah berteriak-teriak mencari Nabi. Teriakan tak sopan itu didengar oleh ‘Umar bin Khaţţāb. ‘Umar pun segera menemui Thumāmah lalu bertanya, “Apa tujuan kedatanganmu ke Madinah?” “Aku datang ke negeri ini hanya untuk membunuh Muhammad!”
Tanpa banyak cakap, ‘Umar segera membekuk orang musyrik itu, dan mengikat tubuhnya di salah satu tiang masjid. Setelah itu, Umar melapor kepada Rasulullah.

Rasulullah segera menemui Thumāmah, mengamati wajahnya, lalu berkata kepada para sahabat, “Apakah ada di antara kalian yang sudah memberinya makan?” Rasulullah mengucapkan kalimat itu dengan lemah lembut. Para sahabat tentu saja kaget, terutama ‘Umar. Padahal, sejak tadi, ia menunggu perintah Rasul untuk membunuh Thuma>mah. “Makanan apa yang anda maksud, wahai Rasulullah? Orang ini datang ke sini ingin membunuh anda, bukan ingin masuk Islam,” kata Umar. Namun, Rasulullah tak menghiraukan sanggahan Umar. Beliau berkata, “Tolong ambilkan segelas susu dari rumahku dan buka tali pengikat orang itu”. Sebagai sahabat yang patuh, ‘Umar pun menuruti perintah Rasulullah.

Setelah memberi minum Thumāmah, dengan sopan Rasulullah memintanya mengucapkan kalimat syahadat. Namun Thuma>mah menjawab dengan ketus, “Aku tidak akan mengucapkannya!” Rasulullah membujuk lagi, tetapi Tsumamah tetap pada pendiriaannya. Para sahabat yang turut menyaksikan tentu saja menjadi geram. Meskipun demikian, lagi-lagi, Rasulullah membuat keputusan janggal. Beliau malah membebaskan Thumāmah, lalu menyuruhnya pergi. Thumāmah bangkit dan segera berlalu. Akan tetapi, belumlah jauh melangkah, Thumāmah kembali menemui Rasulullah dengan wajah ramah berseri-seri. Ia berkata, “Ya Rasulullah, Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad Rasul Allah”. Ia masuk Islam karena akhlak Nabi yang begitu luhur.

Sebelum pulang, Thumāmah berkata, “Ketika memasuki Madinah, tiada yang lebih Aku benci selain Muhammad. Akan tetapi, setelah aku meninggalkan kota itu, tiada seorang pun di muka bumi yang paling kucintai kecuali Muhammad Rasulullah.”

Mengapa Nabi menjadi orang yang begitu pemaaf? Karena Rasul tahu apa makna, hakikat dan manfaat dari memaafkan. Menurut Alquran, obat terbaik untuk menyembuhkan sakit hati adalah tidak membalas sakit hati, menahan diri, dan kemudian memaafkan.

وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوا۟ بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُم بِهِۦ ۖ وَلَئِن صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِّلصَّٰبِرِينَ

“Balaslah perbuatan mereka setimpal dengan apa yang mereka perbuat kepadamu. Namun, jika kamu lebih memilih menahan diri, itu lebih baik.” (QS. al-Naḥl: 126)

Pertanyaannya adalah bagaimana caranya? Pertama, kita harus menyadari bahwa apa yang mereka lakukan kepada kita adalah sebuah kesalahan. Dan, jika mereka menyakiti kita, maka barangkali kita pun pernah menyakiti mereka. Kita tidak dapat membayangkan, apa yang akan terjadi jika kehidupan dunia ini penuh dengan aksi balas dendam.

Kedua, jangan membalas. Karena membalas tidak menghilangkan sakit hati. Jika demikian, kita akan terjerumus pada kesalahan yang sama, atau bahkan lebih buruk dari kesalahan orang yang menyakiti kita. Maka, agar tidak terjerumus pada kesalahan, lebih baik menahan diri, tak membalas, untuk kemudian memaafkan. Ketiga, setelah memahami dan melepaskan hak untuk membalas, dan ini yang paling berat, adalah mencintai orang yang menyakiti kita.**

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button