Syawal dan Pengembangan Diri

Seminggu sudah kita meninggalkan ramadhan. Bulan yang biasa disebut sebagai madrasah ruhaniyyah dimana kita belajar nilai-nilai kebajikan untuk menjadi seorang yang bertakwa, yang menjadi tujuan hakiki dari puasa. Sekarang, kita sudah berada di hari ke-9 bulan Syawal, bertepatan dengan tanggal 16 Agustus, yang sehari sesudahnya kita merayakan hari kemerdekaan bangsa kita. Kemerdekaan tidak hanya dipahami sebagai kemerdekaan fisik dari penjajahan, tetapi juga kemerdekaan spiritual dari hawa nafsu yang selalu mengantarkan kepada kejahatan dan dosa. Dan di bulan ramadan kita tetah melakukan itu, bulan Syawal ini adalah bulan untuk meningkatkan apa yang sudah kita pelajari di bulan Ramadan.

Apa yang harus kita tingkatkan? Seorang motivator terkenal yang bernama Stephen Covey, dalam bukunya Seven Habits of Highly Effective People, mengajarkan kepada kita bahwa untuk menjadi orang yang sukses dan efektif, ada tujuh kebiasaan yang harus dikembangkan. Tiga kebiasaan pertama terkait dengan pengembangan pribadi, dan tiga kebiasaan kedua terkait dengan pengembangan sosial.

Dalam kesempatan ini, hanya tiga kebiasaan pertama yang akan menjadi pembicaraan kita.

Pertama, untuk menjadi orang yang efektif kita harus proaktif (be proactive). Proaktif adalah satu sikap merespons positif terhadap apa yang terjadi. Kebanyakan orang beranggapan bahwa ketidakbahagiaan yang menimpa mereka adalah karena apa yang terjadi pada mereka. Padahal, adalah karena cara mereka memberi makna kepada apa yang terjadi, bukan meratapi atau mengeluh. Setiap persoalan yang dihadapi pasti ada solusi, jika kita sungguh-sungguh mau mengubahnya dengan usaha. Tidak ada satu keberhasilan yang diraih tanpa usaha yang maksimal. Prinsip ini sejalan dengan firman Allah Swt.

إن الله لا يغير ما بقوم حتى يغير ما بأنفسهم

 “Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. (Al-Ra’d [13]: 11)

Kita bisa meniru Jepang. Dalam setahun, Jepang dapat menghasilkan empat kali lipat dari hasil yang diperoleh negara-negara Islam. Meskipun 80 persen wilayahnya terdiri dari gunung dan rentan terhadap gempa, Jepang dapat mampu mengelola kekayaan alamnya secara maksimal. Mengapa? Karena orang-orang Jepang lebih senang menghabiskan waktunya untuk bekerja keras daripada bersantai.

Dalam Islam, bekerja itu hukumnya wajib, sehingga orang yang tidak mau bekerja padahal kondisinya sehat dan tidak ada uzur, sangat dibenci oleh Allah. Dan itu bisa dilihat dari ayat Alquran dan juga Sunah Nabi. Kata Nabi,

من أمسى كالا (متعبا) من عمل يده أمسى مغفورا له

“Barangsiapa yang tidur dalam keadaan lelah karena bekerja, maka ia tidur di bawah naungan ampunan Allah Swt.”

Nabi pernah melihat seorang Ansar bekerja sehingga bengkak-bengkak tangannya. Nabi lalu bertanya tentang sebab tangannya sampai bengkak-bengkak tersebut, orang itu menjawab akibat menggali untuk menafkahi anak-anaknya. Nabi berkata, “Ini adalah tangan yang tidak akan disentuh api neraka.” (هذه يد لا تمسه النار)

Dahulu pada masa Ibrahim bin Adham, ada sebuah kisah yang menceritakan tentang seorang pedagang yang berniat meninggalkan pekerjaannya hanya untuk beribadah. Suatu hari ia berjalan menyusuri padang pasir. Di sana ia melihat seekor burung yang lumpuh dan buta. Tiba-tiba datanglah burung lain yang memberikan makanan kepadanya. Fenomena ini membuatnya semakin yakin bahwa Allah telah menentukan rezeki bagi semua makhluk-Nya. Ia pun  bergegas menemui Ibrahim bin Adham, lalu menceritakan peristiwa tersebut. Setelah menyimak cerita, Ibrahim ibn Adham pun berkata, “Apakah kamu ingin menjadi burung yang lumpuh itu? Bukankah tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.” Sesunggunya Allah lebih menyukai seorang hamba yang rajin bekerja untuk mendapatkan rezeki daripada hamba yang bersantai menunggu rezeki tiba.

Kedua, begin with the end in mind (mulailah dengan tujuan dalam pikiran). Kita harus membiasakan membuat tujuan dalam setiap perbuatan kita dengan memprogramkan hal-hal yang penting dan bermanfaat dalam kehidupan kita. Goal setting ini mendapatkan landasannya dalam hadis Nabi tentang pentingnya niat. Nabi pernah bersabda:

إنما الأعمال بالنيات وإنما لكل امرء ما نوى

Dalam Islam, segala perbuatan dan perbuatan harus ditujukan untuk mencari keridaan Allah. Karena segala sesuatu yang tidak didasari pada niat karena Allah dan tujuan untuk Allah, maka akan sia-sia, dan tidak akan diterima. Dalam sebuah matan Zubad karya Ibn Ruslan disebutkan:

وسائر الأعمال لا تخلص إلا مع النية حيث تخلص

فصحح النية قبل العمل وأت بها مقرونة بالأول

Jika ini yang kita lakukan, maka tidak akan pernah kecewa terhadap apa pun perbuatan kebaikan yang kita lakukan.

Sikap ini dipegang oleh para nabi. Nabi Ibrahim adalah contoh seorang yang mempunyai kepastian tujuan dalam hidup sehingga ia berani mengambil segala risiko dalam melakukan reformasi sosial dan moral. Ketika berhadapan dengan masyarakat yang rusak moral dan tauhidnya, ia pun turun menyeru mereka ke jalan yang benar. Bahkan, dengan berani beliau menghancurkan berhala-berhala yang telah menyesatkan mereka, meskipun nyawa taruhannya. Akibatnya, ia pun diciduk dan ditahan di dalam sebuah rumah, yang disekelilingnya dibangun sebuah tembok besar di area tertutup. Tinggi temboknya sekitar 45 m di kaki gunung yang tinggi. Raja Namrud memerintahkan rakyatnya untuk mencari kayu bakar demi membakar Nabi Ibrahim. Selama 40 hari, mereka mencari kayu bakar, siang dan malam, hingga kayu tersebut hampir menyamai puncak gunung. Lalu, mereka menutup pintu-pintu tembok tersebut dan menyalakan api yang menjulang tinggi sehingga seandainya burung melewatinya, ia pun akan terbakar karena sangat panasnya. Di atas bangunan yang tinggi itu, Nabi Ibrahim diletakkan di puncaknya. Nabi Ibrahim melihat ke atas seraya berkata: “حسبنا الله ونعم الوكيل”. 

Datang Malaikat Jibril menemuinya dan berkata, “Apa yang kamu butuhkan?” Ibrahim, yang kala itu berusia 26 tahun, menjawab, “Saya tidak membutuhkanmu…” Malaikat Jibril kemudian berkata lagi, “Mintalah kepada Tuhan-mu!” Jawab Nabi Ibrahim, “Permintaanku cukuplah Allah mengetahui keadaanku.” Akhirnya Allah mengeluarkan titahnya kepada api ,  “يا نار كوني بردا وسلاما على إبراهيم” (Wahai api dinginlah, dan selamatkan Ibrahim). Selamatlah Ibrahim dari jilatan api besar tersebut dengan izin Allah Swt

Ketiga, put first things first. Buatlah skala prioritas terhadap perbuatan-perbuatan yang paling penting yang mendatangkan kemaslahatan kepada orang lain. Salah satu indicator prioritas perbuatan yang digarisbawahi oleh Islam adalah “perbuatan yang memberikan manfaat, baik manfaat intelektual, jasmani, maupun spiritual. Kareka kata Nabi,

خير الناس أنفعهم للناس

“Manusia yang terbaik adalah yang paling memberikan manfaat kepada manusia yang lain”

Dalam hadis yang lain, Nabi mengatakan:

من حسن إسلام المرء تركه ما لا يعنيه “Di antara tanda bagusnya Islam seseorang adalah jika ia meninggalkan perbuatan yang tidak bermanfaat.”

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca juga
Close
Back to top button