Meneladani Bunda Hajar

Setiap datang bulan Zulhijjah, kita selalu diingatkan oleh fenomena besar dalam sejarah umat manusia, yaitu haji dan qurban. Haji dan qurban pada dasarnya merupakan pewujudan dari perjuangan hamba-hamba Allah yang saleh: Ibrahim, Ismail dan Bunda Hajar—‘alayhimus salam. Mereka inilah tokoh-tokoh penting di balik drama haji dan qurban. Dari tangan merekalah muncul peradaban besar yang bisa kita saksikan jejaknya hingga saat ini: Ka’bah, pagelaran akbar ritual haji, dan qurban.

Kita biasa mendengar kisah Ibrahim dan Ismail. Namun, dalam kesempatan ini, mari kita coba merenungi dan mengambil hikmah dari perjuangan seorang yang dianggap “lemah”, karena berkumpul dalam dirinya tiga keadaan yang menjadi sumber ketertindasan dan pembedaan: Ia berkelamin perempuan, berkulit hitam dan berstatus budak. Namun, pada manusia yang justru dianggap lemah oleh kebanyakan manusia inilah, Allah menitahkan keagungan-Nya, bukan pada seorang ningrat, bukan pada manusia suci, bukan pula seorang lelaki perkasa. Pilihan Allah justru jatuh kepada seorang budak perempuan miskin berkulit hitam. Bahkan Allah menghubungkan lambang Hajar dengan lambang-Nya sendiri yaitu Ka’bah.

Salah seorang pemikir Iran, Ali Syari’ati, pernah menulis “Betapa anehnya, jika tak seorang manusia pun, sekalipun ia Nabi, boleh dikuburkan di dalam masjid, maka mengapakah rumah seorang budak perempuan hitam sampai berada di sebelah rumah Allah? Dan di situ Hajar, ibunda Ismail dikuburkan. Bangunan Ka’bah memanjang ke arah kuburannya. Dengan kata lain, rumah Allah menghadap ke pangkuan Hajar. Orang-orang yang beriman dan menunaikan ibadah haji, menyambut undangan Allah ini, harus berthawaf mengelilingi Ka’bah, sedangkan makam seorang sahaya hitam dari Afrika dan ibunda yang baik ini merupakan sebagian dari Ka’bah. Hingga kiamat nanti, manusia akan senantiasa berthawaf mengelilinginya. Demikianlah cara Allah mengangkat sosok yang disisihkan dalam sejarah ini.”

Konon, ketika Ismail masih dalam susuannya, Ibrahim—‘alayhis salam—mengajak Hajar dan Ismail berpindah dari Palestina ke Mekah yang saat itu tandus dan tidak ada tanda-tanda kehidupan. Kemudian keduanya ditempatkan di suatu tempat, yang sekarang dekat dengan Ka’bah, dan saat itu tidak ada seorang pun yang menetap di tempat tersebut. Siti Hajar dan Ismail hanya berdua, dibekali satu kantong berisi kurma dan sekantong air. Sementara Ibrahim bergegas kembali ke Palestina. “Wahai Ibrahim, mengapa engkau meninggalkan kami berdua di negeri yang tandus dan tak ada teman seorang pun?” tanya Siti Hajar. Nabi Ibrahim tidak menoleh dan tidak pula menjawab. Siti Hajar terus membuntuti langkah Ibrahim dan mengulangi pertanyaannya sampai tiga kali. Ibrahim tetap membungkam. “Apakah Allah menyuruhmu berbuat demikian?” tanya Siti Hajar. “Ya”, jawab Nabi Ibrahim singkat. “Kalau begitu, kami yakin bahwa Allah tidak akan menelantarkan kami berdua” kata Siti Hajar. Ibrahim pun bergegas meninggalkan isteri dan anak tercintanya, tanpa memberi bekal yang lebih untuk hidup barang sehari atau dua hari saja. Atas dasar cinta dan keyakinannya terhadap pertolongan Allah, Siti Hajar membesarkan dan mendidik Ismail yang kelak menjadi anak yang saleh, bijaksana dan penyabar.

Ketika Ismail meronta-ronta kehausan, Bunda Hajar berlari-lari dengan segenap tenaga mencari air untuk melepaskan dahaga puteranya. Lelah bermandikan keringat, ia mondar-mandir selama tujuh kali dari Bukit Shafa ke Bukit Marwa mencari air untuk puteranya terkasih, belahan jiwa pelipur lara.  Inilah yang kemudian dalam ritual haji disebut sai. Akhirnya, dengan takdir Allah ia menemukan air tersebut. Air itu kemudian disebut Zamzam. Air segar nan-berkah yang tidak akan habis sumbernya hingga akhir zaman.

Apa yang bisa kita petik dari perjuangan Bunda Hajar ini? Tidak lain dan tidak bukan adalah keimanan yang kuat, cinta kasih dan kerja keras. Tiga prinsip inilah yang sebenarnya menjadi kunci untuk kita mengubah hidup dan menciptakan takdir bagus kita.

Pelajaran pertama yang kita petik dari Bunda Hajar adalah keimanan yang kuat kepada Allah Swt. Memang, iman merupakan dasar untuk bertindak. Tanpa adanya iman dan keyakinan, sulit bagi seorang untuk berbuat. Iman ibarat fondasi sebuah bangunan. Semakin kuat fondasi itu, maka akan semakit kuat bangunannya. Sehingga badai apa pun yang menghempas, tidak akan dapat meruntuhkannya.

Rasulullah Saw pernah menceritakan sebuah kisah. Dahulu kala, ada seorang raja yang memiliki penyihir. Ketika penyihir itu mulai beranjak tua, ia berkata kepada raja, “Wahai baginda, Saya ini telah berusia lanjut, kirimlah kepadaku seorang anak yang bisa kuajari sihir.” Raja itu kemudian mengirim seorang anak kepada penyihir itu. Dalam perjalanan menuju rumah penyihir, anak itu menjumpai seorang rahib. Selanjutnya, ia duduk dekat rahib, dan mendengarkan perkataannya. Ia kagum terhadap apa yang dikatakan rahib tentang agama.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya ia sampai di rumah penyihir. Di sana ia diajari sihir. Anak itu pun menjadi bingung karena mempelajari dua hal yang berbeda, yaitu agama dan sihir. Saat itulah, tiba-tiba datang seekor unta besar yang menghalangi orang-orang yang sedang lewat. Ia berkata, “Sekarang, saya bisa membedakan ajaran yang lebih benar?” Kemudian, ia mengambil sebuah batu dan berkata, “Jika ajaran rahib itu lebih engkau cintai, ya Tuhan, daripada ajaran penyihir, maka bunuhlah unta tersebut dengan batu ini. Sehingga, ia tidak bisa menghalangi orang-orang yang sedang lewat.” Ia pun melempar batu itu ke arah unta itu. Akhirnya unta itu mati, dan orang-orang bisa lewat.

Anak tersebut gembira seraya berkata, “Kini, aku tahu bahwa ajaran rahib lebih dicintai Allah ketimbang ajaran penyihir.” Selanjutnya ia menceritakan peristiwa itu kepada rahib. Rahib berkata kepadanya: “Wahai anakku, kamu lebih mulia daripadaku. Kamu telah mencapai tingkatan tinggi karena keteguhanmu pada kebenaran. Suatu saat nanti, kamu akan diuji. Jika kamu menghadapi ujian, jangan katakan kepadaku.”

Tidak lama setelah itu, berkat keimanan yang besar kepada Allah, anak itu bisa menyembuhkan penyakit buta dan lepra. Bahkan, ia bisa mengobati semua penyakit.

Suatu ketika, seorang sahabat raja yang buta mendengar berita itu. Kemudian, ia menemui anak itu dengan membawa banyak hadiah. Ia berkata, “Inilah yang aku berikan kepadamu, jika kamu bisa menyembuhkanku.” Anak tersebut berkata, “Sebenarnya Aku tidak bisa menyembuhkan siapa pun. Yang menyembuhkan hanyalah Allah. Jika engkau beriman kepada Allah, maka aku akan berdoa kepada Allah agar Ia menyembuhkanmu.” Mendengar perkataan itu, sahabat raja itu segera menyatakan keimanan kepada Allah Swt. Akhirnya ia bisa melihat.

Setelah sembuh, ia menemui raja. Raja bertanya, “Siapakah yang mengembalikan penglihatanmu?” Ia berkata, “Tuhanku.” Raja berkata, “Apakah engkau memiliki tuhan selainku?” Ia berkata, “Tuhanku dan tuhan baginda adalah Allah.” Karena tidak mengakui raja sebagai tuhannya, ia ditangkap dan disiksa. Lalu kemudian raja meminta anak itu dihadirkan di hadapannya. Ia disuruh menyembuhkan sahabat raja yang telah disiksa. Anak tersebut berkata, “Sesungguhnya, aku tidak bisa menyembuhkan. Pemberi kesembuhan hanyalah Allah.”

Raja menangkap anak itu, namun tidak menyiksanya. Kemudian, raja meminta rahib dihadirkan di kerajaan. Setelah rahib tiba, raja berkata kepadanya, “Keluarlah dari agamamu!” Rahib menolak perintah raja. Penolakan tersebut membuat raja murka. Akhirnya, raja memotong tubuh rahib dengan gergaji hingga tubuhnya terbelah menjadi dua.

Raja segera menemui anak itu, lalu memintanya keluar dari agama yang dianutnya. Ternyata, ia pun menolak perintah raja. Selanjutnya, raja memerintahkan beberapa orang untuk membawa anak tersebut ke puncak gunung. Raja berkata, “Antarkan ia ke puncak gunung! Jika ia bersedia keluar dari agamanya ketika sampai di sana, maka lepaskanlah ia. Bila ia tidak berkenan, lemparlah ia dari puncak gunung.” Sesampainya di sana, anak itu berdoa, “Ya Allah, lindungilah aku dari kejahatan mereka dengan cara yang Engkau kehendaki. Sesungguhnya Engkau maha kuasa atas segala sesuatu!

Doa yang dipanjatkan anak itu membuat gunung berguncang, sehingga mereka pun berjatuhan. Anak itu selamat. Kemudian ia menemui raja. Sesampainya di sana, raja bertanya, “Apa yang telah kamu lakukan terhadap orang-orangku?” Ia menjawab, “Allah telah melindungiku dari kejahatan mereka.” Selanjutnya, raja memerintahkan kepada beberapa orang untuk membawanya ke laut. Raja berkata, “Masukkan anak ini ke dalam perahu! Ketika berlayar di laut nanti, berhentilah di tengah-tengah lautan. Apabila ia bersedia keluar dari agamanya, lepaskanlah ia. Jika ia menolak, lemparkanlah ia ke laut!” Mereka pun membawa anak itu. Di tengah lautan anak itu berdoa, “Ya Allah, lindungilah aku dari kejahatan mereka dengan cara yang Engkau kehendaki. Sesungguhnya Engkau maha kuasa atas segala sesuatu!” Akhirnya, perahu tersebut pun oleng. Semua orang yang ada di perahu tenggelam, kecuali anak itu.

Setelah itu ia menemui raja. Raja bertanya, “Apa yang telah kamu lakukan terhadap orang-orangku?” Anak itu berkata, “Allah telah melindungiku dari kejahatan mereka.” Ia berkata kepada raja, “Sesungguhnya kamu bisa membunuhku jika kamu menuruti perintahku. Kumpulkan semua orang di sebuah tempat yang luas. Saliblah diriku pada kayu. Ambillah anak panah, lalu letakkan di busur dan katakanlah: Dengan nama Allah, Tuhan anak ini. Selanjutnya, tariklah anak panah dari busur hingga mengenai tubuhku. Jika kamu melakukan hal ini, niscaya aku akan mati.”

Raja mempercayai ucapan anak itu. Ia bergegas mengumpulkan orang-orang di suatu tempat yang luas. Anak itu disalib pada kayu, kemudian dibunuh dengan anak panah. Ketika hendak melepaskan anak panah dari busurnya, raja berucap, Dengan nama Tuhan anak ini. Ternyata, anak panah itu mengenai pelipisnya. Akhirnya, ia meninggal. Setelah melihat peristiwa itu, semua orang pun berseru, “Kami beriman kepada Allah, Tuhan anak itu.”

Lihatlah, bagaimana keimanan bisa mengubah segalanya! Iman memang melahirkan motivasi dan harapan. Dan keduanya ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Motivasi adalah dorongan atau harapan untuk melakukan suatu perbuatan. Dalam diri seseorang, motivasi berfungsi sebagai pendorong kemampuan, usaha dan keinginan. Motivasi juga menjadi pengarah dan pembimbing tujuan hidup seseorang, sehingga ia mampu mengatasi berbagai persoalan hidup yang menghadang. Adalah sebuah fakta yang tidak bisa ditolak bahwa kesuksesan orang-orang besar dalam sejarah dan munculnya suatu peradaban besar pada dasarnya terkait dengan motivasi.

 Motivasi dan keteguhan Bunda Hajar terbukti telah melahirkan sumur zamzam dan ritual sai. Motivasi Nabi Ibrahim dan Ismail melahirkan bangunan Ka’bah. Motivasi Nabi Muhammad Saw melahirkan peradaban Islam yang tinggi dan bermoral hingga saat ini. Motivasi orang-orang besar dan sukses dalam sejarah melahirkan berbagai ilmu pengetahuan, sains dan teknologi. Dan masih banyak contoh lain yang membuktikan adanya hubungan yang kuat antara kesuksesan dan motivasi. Oleh karena itu, sekarang ini banyak diselenggarakan berbagai pelatihan tentang motivasi (motivation training) karena fakta adanya keterkaitan antara motivasi dan kesuksesan hidup. Dan memang, motivasi adalah kunci kesuksesan dalam hidup.

Motivasi melahirkan kerja keras. Dan kerja keras adalah kunci pengubah takdir. Betapa tidak? Dengan kerja keras, tanah yang tandus bisa menjadi subur. Air asin bisa disuling menjadi tawar dan bisa diminum. Gunung kokoh bisa dibuat terowongan. Karenanya, jangan berpangku tangan, dan hanya berharap emas akan turun dari langit. Tidak ada sesuatu yang muncul tanpa usaha dan kerja keras. Jangan menyerah ketika gagal, karena kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Perlu dicatat dan direnungi bahwa keberhasilan percobaan kloning terhadap domba yang dilakukan oleh Ian Wilmut dari Edinburgh (Skotlandia) adalah setelah ia mengalami kegagalan sebanyak 276 kali. Bukankah Allah Swt menegaskan dalam firman-Nya:

وَقُلِ ٱعْمَلُوا۟ فَسَيَرَى ٱللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُۥ وَٱلْمُؤْمِنُونَ

Katakanlah: Bekerjalah kalian. Allah dan rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaan kalian itu.” (QS. al-Tawbah [9]: 105)

Hikmah lain yang bisa kita petik dari kisah perjuangan Bunda Hajar adalah cinta dan kasih sayang yang tulus. Keduanya merupakan buah sekaligus pupuk bagi tanaman iman. Tanpa cinta, dunia ini terasa hampa. Tanpa cinta kekerasan dan kejahatan merajalela. Tanpa cinta, seorang ibu tidak akan menyusui anaknya. Tanpa cinta, kehidupan tidak akan pernah ada. Cinta merupakan seperseratus rahmat Allah yang dijatuhkan ke bumi. 99 rahmat yang lainnya disimpan Allah untuk diberikan kepada orang-orang beriman di akhirat nanti, yang pada saat itu tidak akan berguna sama sekali harta dan anak-anak yang kita banggakan, kecuali mereka yang datang dengan hati yang suci nan bersih.

Karena pentingnya cinta dan kasih sayang ini, maka Allah menyifati diri-Nya dengan sebutan rahman dan rahim, yang senantiasa kita sebut setiap hari ketika mengucapkan basmalah dan membaca surat Al-Fatihah. Mengapa meneladani sifat ini penting? Jawabannya sederhana, karena Allah tidak akan menurunkan kasih sayang-Nya kepada mereka yang tidak menebarkan kasih sayangnya yang tulus kepada umat manusia dan juga alam sekitarnya. Kasih sayang yang tulus menumbuhkan sikap selalu memberi dan mengulurkan tangan kepada yang membutuhkan.

Kasih sayang itu tidak hanya dikhususkan untuk sesama manusia saja, tetapi juga untuk seluruh ciptaan Tuhan: hewan, tumbuh-tumbuhan dan juga lingkungan secara keseluruhan. Rasulullah Saw pernah bercerita, konon dahulu ada seorang kriminal dari Bani Israil yang sering melakukan kejahatan. Suatu ketika, ia berjalan melewati sebuah sumur, sedangkan ia merasa sangat haus sekali. Lalu ia turun ke dalam sumur itu dan meminum airnya. Ketika ia naik ke atas, ia melihat anjing yang menggonggong karena kehausan. Orang itu berkata dalam hatinya, “Wah, anjing ini juga sangat kehausan seperti yang ku alami.” Lalu, ia kembali ke sumur tadi dan memenuhi terompah sepatunya dengan air dan memberikannya kepada anjing yang kehausan tadi. Kemudian anjing itu pun meminumnya. Allah ridha dengan apa yang dilakukan orang ini dengan tulus, sehingga Allah memasukkannya ke dalam surga lantaran rasa kasih sayang yang tulus dalam hati orang ini, meskipun banyak kejahatan yang pernah dilakukannya.

Sebaliknya, Rasulullah Saw juga menceritakan kisah lain yang merupakan kebalikan dari kisah sebelumnya. Ada seorang perempuan jahat dan keras hati menahan seekor kucing di rumahnya dalam jangka waktu yang lama. Ia tidak memberinya makan dan minum. Ia tidak pula membiarkan kucing itu mencari makan di bumi Allah. Karena kezaliman perempuan ini, maka Allah masukkan ia ke dalam nerakanya karena menelantarkan kucing itu.

Dalam sebuah kisah yang lain diceritakan pula bahwa bertahun-tahun yang lalu, seorang ibu dari salah seorang sultan di Khilafah Utsmaniyah membaktikan hidupnya untuk kegiatan amal saleh. Ia membangun masjid, rumah sakit besar, dan sumur-sumur umum untuk daerah pemukiman yang tidak punya air di Istanbul, Turki.

Pada suatu hari, ia mengawasi pembangunan rumah sakit yang dibiayai sepenuhnya dari kekayaannya. Ia melihat ada semut kecil jatuh pada adukan beton yang masih basah. Ia memungut semut itu dan menempatkannya pada tanah yang kering.

Tidak lama setelah itu, ia meninggal dunia. Kepada banyak kawannya ia muncul dalam mimpi mereka. Ia tampak bersinar bahagia dan cantik. Kawan-kawannya bertanya, apakah ia masuk surga karena sedekah-sedekah yang dilakukannya ketika masih hidup? Ia menjawab, “Saya tidak masuk surga karena semua sumbangan yang aku berikan. Saya masuk surga karena menolong seekor semut.”Subhanallah. Jika terhadap binatang saja, Allah memerintahkan kita untuk menebarkan kasih sayang, apalagi terhadap manusia. Cinta dan kasih sayang yang tulus menumbuhkan simpati dan empati. Empati mengundang rahmat Allah Swt. Jika Allah menganugerahkan kasih sayang-Nya kepada kita, maka pintu surga yang penuh kenikmatan akan terbuka luas untuk kita.

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button