Membangun Semangat Pengorbanan Menuju Insan Berkualitas

Semoga Allah memberikan kepada kita pikiran yang jernih, hati yang bersih, hingga kita bisa menangkap hikmah dalam berbagai kejadian yang kita rasakan dan saksikan. Karena kita hidup di dunia ini, tidak akan terlepas dari dua hal: mendapatkan nikmat atau menerima musibah. Semuanya akan menjadi positif jika kita bisa mensikapinya dengan penuh kearifan dan kebijakan. Jika kita mendapatkan nikmat, misalnya, kita bersyukur. Dan jika kita ditimpakan musibah, kita bersabar. Dan agama Islam itu, kata Rasulullah SAW, hanya terdiri dari dua bagian, yaitu sabar dan syukur. Karena itu, mari kita mensyukuri nikmat Allah baik dalam keadaan suka maupun duka, karena dengan bersyukur, pintu-pintu nikmat Allah yang lain akan terbuka buat kita. Tetapi, jika kita tidak mensyukurinya, akan tertutuplah pintu-pintu nikmat Allah, malah boleh jadi Allah akan mengirimkan penderitaan baik yang bersifat fisik maupun psikis, baik di dunia maupun di akhirat. Allah SWT berfirman:

… لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأََزِيْدَنَّكُمْ وَ لَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ  

“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku (Allah) akan tambahkan lagi nikmat-Ku kepadamu. Tetapi, jika kamu kufur nikmat, sesungguhnya siksa-Ku sangatlah pedih.” (QS. Ibrahim: 7)

Tidak ada seorang pun di muka bumi ini yang mulia, dan mencapai posisi yang tinggi baik dalam kehidupan masyarakat maupun dalam pandangan Allah SWT, tanpa melalui pengorbanan dan proses pengujian yang lama. Ibarat sebuah mutiara, ia akan semakin indah dan bernilai jika semakin terus digosok. Ibarat sebuah pisau, ia akan semakin tajam jika terus diasah. Demikian pula manusia, manusia akan tinggi derajatnya, jika terus menerus diberikan ujian baik dalam bentuk nikmat maupun musibah, tetapi ia bisa mensikapinya dengan arif dan bijaksana. Hal ini sudah menjadi ketentuan Allah yang Maha Kuasa, bahwa Allah tidak akan mengangkat derajat seseorang yang tidak berusaha untuk mengorbankan apa yang harus dikorbankan demi menjadi insan pilihan utama. Dan ini juga ditegaskan oleh Allah dalam Al-Quran yang mulia, dan dalam berbagai kisah perjalanan para Nabi dan orang-orang besar dalam sejarah. Dalam Al-Quran, Allah SWT berfirman:

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوْا أَنْ يَقُوْلُوْا ﺁمَنَّا وَهُمْ لاَ يُفْتَنُوْنَ  وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا وَ لَيَعْلَمَنَّ اْلكَاذِبِيْنَ

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan begitu saja ketika mereka berkata, ‘Kami telah beriman’ sedangkan mereka tidak diberikan ujian. Kami sungguh-sungguh telah menguji orang-orang sebelum mereka, agar benar-benar jelas siapa yang benar dan yang berdusta.” (QS. Al-Ankabut: 2-3)

Kita bisa melihat kisah-kisah pengorbanan para Rasul yang dapat di ambil sebagai contoh dan teladan. Perjalanan mereka untuk menjadi insan pilihan penuh dengan ranjau dan duri, hambatan dan tantangan. Dan tidak jarang mereka harus mengorbankan sesuatu yang dikasihi dan disayangi untuk dapat melaluinya. Nabi Nuh, misalnya, berani mengorbankan ikatan kasih sayangnya kepada anak dan isterinya, ketika keduanya tidak mau patuh terhadap ajaran Allah. Rasulullah SAW sendiri rela mengorbankan tanah kelahirannya untuk hijrah ke Madinah memenuhi perintah Allah.

Yang terpenting dari semua kisah tentang pengorbanan para Nabi yang relevan dengan momentum kita sekarang ini adalah kisah tentang perintah Allah kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih puteranya, Ismail, buah hati pelipur lara. Peristiwa ini kemudian menjadi dasar disyariatkannya ibadah Qurban pada hari raya haji. Karena itu hari raya haji, selain disebut dengan Idul Adha, juga disebut dengan hari raya Qurban.

Perintah Allah ini merupakan ujian berat bagi Nabi Ibrahim. Karena baginya Ismail bukanlah sekedar seorang putera, tetapi idaman hati dan pelipur lara di tengah perjuangan hidupnya yang berat melawan penindasan Namrud dan pengikutnya dalam menegakkan kalimat tawhid. Tetapi inilah ujian yang sebenarnya, dan inilah jihad akbar, jihad melawan kemauan dan egoisme diri, yang justru sering menguasai manusia baik secara individu maupun kelompok. Ketika egoisme diri dan kelompok menguasai manusia, ketika itulah manusia melupakan Tuhan, dan mengabaikan ajaran-ajarannya yang justru dimaksudkan untuk meninggikan harkat kemanusiaan itu sendiri. Kemunculan egoisme, ananiyah, seperti egoisme politik, egoisme agama, dan egoisme suku, yang sekarang semakin meningkat di dalam masyarakat kita, hanya akan mengantarkan kita kepada kekalahan dan kehancuran.

Siti Hajar, ketika beliau ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim di tempat yang gersang, tiada nampak ada tanda-tanda kehidupan di sana, selalu bersikap pasrah. Ia ikhlas mengorbankan egonya sebagai seorang istri untuk tidak menuntut Ibrahim menemaninya di sana. Semua ini dilakukan karena kepatuhan dan kecintaannya kepada Allah SWT. Di lembah seram tiada pepohonan maupun air apalagi rumah untuk berteduh, Bunda Hajar berupaya sekuat jiwa dan raga untuk tetap hidup bersama putranya. Melintasi kesulitan demi kesulitan di wilayah yang senyap dan miskin sumber daya kehidupan. Dalam ibadah haji, upacara sa’i (berlari-lari kecil antara bukit Shafa dan Marwa sebanyak tujuh kali) dan mata air zam zam adalah bagian dari kisah perjuangan Hajar yang sahih.

Di balik perintah yang keras terhadap Hajar dan putranya terungkap hikmah rencana besar Allah bahwa Hajarlah manusia pilihan Allah yang dinobatkan sebagai ibu perintis pembangunan Tanah Suci (the Founding Mother of the Holy Mecca). Pada manusia yang justru dianggap lemah oleh kebanyakan manusia inilah, Allah menitahkan keagungan-Nya, bukan pada seorang ningrat, manusia suci atau pun seorang lelaki perkasa. Pilihan Allah justru jatuh kepada seorang budak perempuan yang miskin dan berkulit hitam. Bahkan Allah menghubungkan lambang Hajar dengan lambang-Nya sendiri yaitu Ka’bah. Sebagaimana ditulis oleh Ali Syari’ati, seorang pemikir Iran, “Betapa anehnya, jika tak seorang manusia pun, sekalipun ia Nabi, boleh dikuburkan di dalam masjid, maka mengapakah rumah seorang budak perempuan hitam sampai berada di sebelah rumah Allah? Dan di situ Hajar, ibu Ismail dikuburkan. Bangunan Ka’bah memanjang ke arah kuburannya. Dengan kata lain, rumah Allah menghadap ke pangkuan Hajar. Orang-orang yang berkeyakinan tauhid serta menunaikan ibadah haji, menyambut undangan Allah harus berthawaf mengelilingi Ka’bah, sedangkan makam seorang sahaya hitam dari Afrika dan ibu yang baik ini merupakan sebagian dari Ka’bah. Dan … hingga kiamat nanti, manusia akan senantiasa berthawaf mengelilinginya. Demikian cara Allah mengangkat sosok yang disisihkan dalam sejarah ini.”

Kejadian yang dialami oleh Ibrahim, Ismail, dan Siti Hajar, menjadi pelajaran buat kita semua, bahwa untuk menjadi insan mulia perlu adanya pengorbanan. Ibrahim berani mengorbankan egonya, puteranya, dan kepentingannya, hanya untuk memenuhi panggilan Allah dan mengejar harapan agar menjadi insan bertakwa. Ismail rela mengorbankan dirinya sebagai bentuk ketaatan kepada Allah dan bakti kepada orang tua demi mendapatkan keridhaan dan kasih sayang Allah. Siti Hajar rela berpisah dengan suaminya demi memenuhi perintah Allah. Hasil dari pengorbanan tersebut, nama mereka mulia tidak hanya di muka bumi, tetapi juga di dunia langit. Nama mereka dikenang, tapak tilas mereka dijadikan sebagai ritual tahunan bagi umat Islam di seluruh dunia, yaitu ritual ibadah haji di kota suci Mekkah al-Mukarramah.

Dalam konteks sekarang ini, di mana kita dihadapkan pada berbagai fenomena dan tragedi kemanusiaan yang menuntut sejumlah besar pengorbanan, di mana kita sekarang ini sedang menapaki tahun baru yang tentunya perlu ada perubahan dalam pola pikir, cara pandang, dan orientasi hidup kita, apa yang sebenarnya dapat kita lakukan untuk menjadi insan yang berkualitas, insan yang memiliki kesadaran ketuhanan yang tinggi dan kepekaan sosial yang kuat?

Manusia adalah makhluk Allah yang mempunyai dua dimensi, dimensi fisik (jasmani) dan non-fisik (ruhani). Yang bersifat fisik adalah sesuatu yang nampak dan kasat mata. Sementara yang non-fisik adalah sesuatu yang tidak kasat mata. Untuk menjadi insan berkualitas, maka yang dijadikan target dan sasaran perubahan dan perbaikan adalah pada kedua dimensi ini.

Dalam diri kita yang lemah dan tidak berdaya, terdapat kecenderungan-kecenderungan psikologis yang jika tidak kita kendalikan dengan benar dan tepat akan bisa sangat berbahaya. Dalam diri kita terdapat ego-ego yang cenderung membawa kita kepada ketidakbenaran. Ego kita menuntun untuk selalu mencari kebahagiaan dan kenikmatan dengan jalan apa pun, menurut Sigmund Freud, seorang tokoh psikoanalisa. Ego kita mengajak kita untuk selalu menguasai dan mendominasi orang lain (the will to power, menurut perkataan seorang filosof Jerman, Nietzsche). Ego kita sering membimbing kita untuk menghina, merendahkan, memfitnah, senang atas penderitaan orang lain, dan semua perbuatan buruk lainnya. Allah SWT berfirman:

 … إِنَّ النَّفْسَ َلأَمَّارَةٌ بِالسُوْءِ

“Sesungguhnya nafsu selalu mengajak kepada kejahatan dan perbuatan buruk”.

Karena itu, yang harus kita lakukan adalah, kita harus menyembelih ego-ego kita agar ia tidak hidup bersemayam dalam diri, jiwa dan hati kita. Karena kalau itu semua bersemayam dalam diri dan hati kita, akibatnya akan sangat berbahaya sekali. Terjadinya korupsi, pembunuhan, pemerkosaan, ketegangan, kerusuhan dan konflik sosial, dan berbagai perbuatan yang merusak lainnya, yang sangat menyita perhatian, energi, biaya, dan lain-lain, semuanya bermuara pada besarnya ego mempengaruhi diri kita. Lalu, bagaimana caranya menghilangkan hal ini? Para ahli sufi mengajarkan kepada kita cara-cara untuk melakukan hal ini, yaitu melalui tingkatan-tingkatan yang disebut takhalli, tahalli, dan tajalli.

Takhalli, artinya “pengosongan”. Di sini yang dilakukan adalah menghilangkan segala bentuk penyakit hati seperti sombong, hasad, dengki, riya, kikir, bangga diri, yang kesemuanya melekat dalam ego kita. Hati juga harus dibersihkan dari keterikatan pada dunia, kecintaan terhadap dunia, dan segala keinginan duniawi. Ini tidaklah berarti bahwa kita harus menjauhi dan meninggalkan dunia, karena tidak mungkin bagi kita untuk melaksanakan ibadah-ibadah seperti zakat, sedekah, qurban, dan haji, jika kita tidak memiliki harta dunia. Yang terpenting adalah jangan sampai hati kita terikat dengan dunia, digelincirkan oleh dunia, karena dunia dan isinya bukanlah hakekat tujuan manusia. Tetapi, tidak lain adalah media untuk mendekatkan diri kepada Dzat Yang Maha Agung.

Dikisahkan dalam sebuah anekdot tasawuf, ada seorang Syaikh yang hidup sangat sederhana. Ia makan sekedar yang dibutuhkannya saja, hanya untuk menghilangkan lapar. Sebagai seorang nelayan, setiap pagi ia mencari ikan. Setiap hari setelah mendapat banyak ikan, ia membelah ikan-ikan itu menjadi dua; batang tubuh ikan itu dibagi-bagikan kepada tetangganya, sementara kepalanya ia kumpulkan untuk dimasak sendiri. Karena terbiasa makan kepala ikan itulah hingga ia diberi julukan Syaikh Kepala Ikan. Ia seorang sufi yang memiliki banyak murid.

Salah seorang muridnya hendak pergi ke Mursia, sebuah daerah di Spanyol. Kebetulan Syaikh Kepala Ikan ini mempunyai seorang guru sufi besar (Syaikh al-AKbar) di sana. “Tolong kamu mampir ke kediaman guruku di Mursia, dan mintakan nasehat untukku,” pesan Syaikh kepada muridnya. Si murid pun pergi untuk berdagang. Setibanya di Mursia, ia mencari-cari rumah Syaikh al-Akbar tersebut. Ia membayangkan akan ketemu seseorang yang tua, sederhana, dan miskin. Tapi ternyata orang menunjukkannya pada sebuah rumah yang besar dan luas. Ia tidak percaya, mana ada seorang sufi besar tinggal di sebuah bangunan yang mewah dan mentereng, penuh dengan pelayan-pelayan dan sajian buah-buahan yang lezat. Ia terheran-heran: “Guru saya hidup dengan begitu sederhana, sementara orang ini sangat mewah. Padahal kania guru dari guru saya?” Ia pun masuk dan menyatakan maksud kedatangannya. Ia menyampaikan salam gurunya dan memintakan nasehat untuknya. Syaikh pun bertutur, “Bilang sama dia, jangan terlalu memikirkan dunia.” Si murid tambah heran dan sedikit marah, tidak mengerti. Syaikh ini hidup sedemikian kaya, diminta nasehat oleh orang miskin malah menyuruh jangan memikirkan dunia. Akhirnya dengan kesal, ia pulang.

Saat gurunya mendengar nasihat yang diperoleh melalui muridnya, hanya tersenyum dan sedikit sedih. Si murid mengernyitkan kening tambah tidak paham. Apa maksud nasihat itu? Guru itu menjawab, “Guruku itu benar. Menjalani hidup tasawuf itu bukan berarti hidup miskin. Yang terpenting hati kita tidak terikat oleh harta kekayaan yang kita miliki dan tetap terpaut dengan Allah SWT. Bisa jadi orang miskin harta, tapi hatinya memikirkan dunia. Saya sendiri ketika makan kepala ikan, masih sering membayangkan bagaimana enaknya makan ikan yang sebenarnya?”

Kisah ini menunjukkan dua hal: menjadi orang kaya itu tidak mesti jauh dari kehidupan sufi dan menjadi orang miskin tidak otomatis mendekatkan orang kepada sufistik. Syaikh al-Akbar yang disebutkan di atas adalah Muhyiddin Ibn ‘Arabi, salah satu sufi terbesar dan paling cemerlang dalam sejarah perkembangan tasawuf.

Setelah kita kosongkan hati kita dari hasrat-hasrat dan nafsu syahwat dunia, kita isi hati dan diri kita dengan perbuatan-perbuatan dan perkataan-perkataan yang baik. Ini lah yang disebut denganTahalli [pengisian dan penghiasan hati]. Hati yang telah dikosongkan diisi yang lain, yaitu Allah (swt). Pada tahap ini, hati harus selalu disibukkan dengan dzikir dan mengingat Allah. Dengan mengingat Allah, melepaskan diri dari selain-Nya, akan mendatangkan kedamaian. Tidak ada yang ditakutkan selain lepasnya Allah dari lubuk hatinya. Hilangnya dunia, bagi hati yang telah tahalli, tidak akan mengecewakan. Waktunya sibuk hanya untuk Allah, bersenandung dalam dzikir. Pada saat tahalli, lantaran kesibukan dengan mengingat dan berdzikir kepada Allah dalam hatinya, anggota tubuh lainnya tergerak dengan sendirinya ikut bersenandung dzikir. Lidahnya basah dengan lafadz kebesaran Allah yang tidak henti-hentinya didengungkan setiap saat. Tangannya berdzikir untuk kebesaran Tuhannya dalam berbuat. Begitu pula, mata, kaki, dan anggota tubuh yang lain. Pada tahap ini, hati akan merasai ketenangan. Kegelisahannya bukan lagi pada dunia yang menipu. Kesedihannya bukan pada anak dan istri yang tidak akan menyertai kita saat maut menjemput. Kepedihannya bukan pada syahwat badani yang seringkali memperosokkan pada kebinatangan. Tapi hanya kepada Allah. Hatinya sedih jika tidak mengingat Allah dalam setiap detik. Hatinya sedih jika tidak melakukan perbuatan untuk mencari keridhaan dan kecintaan Allah.

Salah satu bagian dari tahalli juga adalah mengorbankan jiwa dan harta untuk berbakti kepada sesama manusia. Fenomena seperti sekarang ini mengharuskan kita mengorbankan harta demi menolong saudara-saudara kita yang membutuhkan. Kalau Nabi Ibrahim rela mengorbankan anaknya untuk disembelih demi mencari keridhaan Allah, mengapa kita tidak mau menyisihkan sebagian harta kita untuk membantu orang-orang yang membutuhkan, seperti yang dialami oleh saudara-saudara kita di Aceh, Sumatera Utara, dan wilayah-wilayah lain di Indonesia. Menolong orang dan berkhidmat kepada sesama manusia adalah salah satu cara untuk menutup kemurkaan Allah dan mengundang kasih-Nya. Bersedekah dan membantu orang lain akan membuka pintu-pintu nikmat dan anugerah yang tiada terhingga. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ الصَّدَقَةَ لَتُطْفِعُ غَضَبَ الرَّبِّ وَ تَدْفَعُ عَنْ مِيْتَةَ السُّوْءِ (رواه الترمذى)

“Sesungguhnya sedekah benar-benar dapat meredam kemarahan Tuhan dan menolak kematian yang buruk” (HR. Turmudzi)

Berbakti kepada sesama manusia bukanlah hanya kewajiban sekelompok orang. Setiap Muslim, apa pun jenis kelamin, usia dan status sosialnya berkewajiban memperlakukan setiap orang dengan baik. Dalam Al-Quran, Allah SWT berfirman:

وَاعْبُدُوْا اللهَ وَلاَ تُشْرِكُوْا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً وَبِذِى الْقُرْبىٰ وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰـكِيْنِ وَالْجَارِ ذِى الْقُرْبىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ والصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيْلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إَنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالاً فَخُوْرًا !  الَّذِيْنَ يَبْخَلُوْنَ وَيَأْمُرُوْنَ النَّاسَ بِالْبُخْلِ وَ يَكْتُمُوْنَ مَا أٰتٰهُمُ اللهُ مِنْ فَضْلِهِ. وَأَعْتَدْنَا لِلْكٰفِرِيْنَ عَذَاباً أَلِيْماً

“Sembahlah Allah dan jangan kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Berbaktilah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, orang-orang yang kehabisan bekal, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri, yaitu orang-orang yang kikir dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Kami telah menyediakan orang-orang kafir seperti itu, siksa yang menghinakan.” (QS An-Nisa: 36-37)

Tindakan membahagiakan orang lain disebut dengan shadaqah, yang berasal dari kata shadaqa yang berarti “benar” dan “tulus”. Orang yang bersedekah adalah orang yang imannya tulus. Sedekah tidak selalu berbentuk harta dan uang. “Termasuk sedekah adalah engkau tersenyum ketika berjumpa dengan saudaramu, atau engkau singkirkan duri dari jalanan,” kata Nabi Muhammad SAW. Untuk bisa menolong orang dengan tulus kita memerlukan kecintaan tanpa syarat kepada semua orang. Cinta inilah yang dimaksudkan sebagai fitrah dalam hati kita. Cinta ini adalah seperseratus persen dari rahmat Allah yang dijatuhkan Tuhan di bumi.

Alkisah, bertahun-tahun yang lalu, seorang ibu dari salah seorang sultan dari Khilafah Utsmaniyah membaktikan hidupnya untuk kegiatan amal saleh. Ia membangun masjid, rumah sakit besar, dan sumur-sumur umum untuk daerah pemukiman yang tidak punya air di Istambul, Turki. Pada suatu hari, ia mengawasi pembangunan rumah sakit yang dibiayai sepenuhnya dari kekayaannya. Ia melihat ada semut kecil jatuh pada adukan beton yang masih basah. Ia memungut semut itu dan menempatkannya pada tanah yang kering. Tak lama setelah itu, ia meninggal dunia. Kepada banyak kawannya, ia muncul dalam mimpi mereka. Ia tampak bersinar bahagia dan cantik. Kawan-kawannya bertanya, apakah ia masuk surga karena sedekah-sedekah yang dilakukannya ketika masih hidup? Ia menjawab, “Saya tidak masuk surga karena sumbangan yang sudah aku berikan. Saya masuk surga karena seekor semut.”

Jika kedua tahapan ini, yaitu takhalli dan tahalli, dapat dilaksanakan, maka insya Allah orang tersebut akan mewujud (tajalli) menjadi “insan yang berkualitas” yang memiliki kesadaran ilahi yang tinggi dan kepekaan sosial yang kuat.

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button