Maqāṣid al-Qurbān

Salah satu peradaban besar yang diwariskan oleh Nabi Ibrahim adalah ritual Qurban. Dalam sejarah agama Ibrahimi, ada kontroversi terkait tentang siapa yang anak Ibrahim yang dikurbankan. Dalam tradisi agama Yahudi, yang dikurbankan adalah Ishak, sementara dalam tradisi Islam, yang dikurbankan adalah Ismail. Tradisi kurban pada masa Ibrahim merupakan respons dan sekaligus koreksi terhadap ritual kurban umat terdahulu yang mengorbankan manusia untuk dipersembahkan kepada dewa-dewa mereka. Allah mengajarkan bahwa manusia begitu berharga untuk dikurbankan, maka sebagai pelajaran dihadirkan kisah tentang

Memahami qurban, kita dapat menggunakan dua pendekatan, yaitu ta’abbudī dan ta’aqqulī. Pendekatan ta’abbudī (irrational approach) mengandung arti memahami sesuatu sesuai dengan apa yang disyariatkan, tanpa melibatkan intervensi akal. Ketika Allah mensyariatkan kurban dengan binatang, itu berarti tidak boleh diganti oleh yang lainnya. Karena ada sebagian dari masyarakat kita yang mencoba menggantinya dengan uang.

Pentingnya berkurban dengan binatang, bahkan sampai-sampai Nabi memberikan warning bahwa orang yang mempunyai keluasan harta, tapi tidak mau berkurban, janganlah mendekati mushala kami.

من كان له ساعة ولم يضح فلا يقربن مصلانا

Dari hadis ini, para imam mazhab berbeda dalam memahami hukum berkurban. Imam Malik, Syafi’i, Ahmad ibn Hanbal cenderung kepada hukum sunnah muakkadah, sementara imam Abu Hanifah mengatakan wajib.

Kedua, pendekatan ta’aqqulī (rational approach) mengandung pengertian bahwa ritual kurban dapat dipahami dari maksud dan tujuannya. Maksudnya pesan-pesan moral dibalik ritual tersebut. Jika melihat Alquran, surat al-Ḥajj, ayat 37, terlihat jelas bahwa pesan moralnya adalah takwa. Artinya, menurut ayat ini, bahwa takwa yang menentukan diterima tidaknya kurban yang kita lakukan.

Apa itu takwa? Takwa adalah karakter unggul yang merupakan gabungan dari kecerdasan spiritual, emosional dan sosial. Secara spiritual, seorang yang bertakwa adalah seorang yang selalu menghadirkan Allah dalam dirinya, atau selalu merasa diawasi oleh Allah Swt. Ketika kondisi ini terbentuk, maka semua perkataan dan perbuatan yang keluar dari dirinya adalah kebaikan. Secara emosional, seorang yang bertakwa adalah seorang selalu menjaga keseimbangan hati. Sehingga dalam Alquran disebutkan bahwa salah satu indikator orang yang bertakwa adalah al-kāẓimīn al-ghayz}

Secara sosial, seorang yang bertakwa selalu mengutamakan kepentingan orang lain, mengorbankan sesuatu untuk kemaslahatan umat yang lebih besar. Tandanya, ia sering mengeluarkan sedekah.

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button