Makna Kebahagiaan

Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam laporan bertajuk World Happiness Report melaporkan ada 10 negara yang paling bahagia. Dengan menggunakan indikator-indikator seperti kemapanan ekonomi dan dukungan sosial, disimpulkan bahwa negara yang paling bahagia yang menempati peringkat pertama adalah Denmark. Jika kita melihat indikator yang digunakan tampak bahwa tolak ukur ini adalah lebih bersifat materialistik.

Dalam masyarakat kita, kebahagiaan dan kebaikan sering dipersepsikan dengan banyaknya harta, tingginya jabatan, luasnya tanah, mewahnya kendaraan, banyaknya simpanan emas, uang dan lain sebagainya.Tapi itu semua sifatnya tidak mutlak, karena bagi orang lain punya persepsi tentang kebaikan yang berbeda.

Namun, Islam mempunyai konsep tersendiri tentang kebahagiaan. Jika hanya salah satu yang dikejar, maka akan menderita, yaitu kebahagiaan dunia dan kebahagiaan akhirat. Diriwayatkan bahwa dahulu ada seorang sahabat yang badannya semula gemuk menjadi kurus dan sakit-sakitan. Kemudian ia datang menemui Rasulullah Saw. Rasul Saw bertanya, “Kenapa badanmu jadi kurus begini?” Dia menjawab, “Aku selalu berdoa agar Allah memberikan kebaikan untukku di akhirat, “Rabbanā ātinā fī al-ākhirah ḥasanah” Kemudian kata Rasul Saw, “Jangan hanya mengharap kebaikan di akhirat saja, tapi berdoalah juga untuk kebaikan duniamu dengan doa “Rabbanā ātinā fī al-dunyā ḥasanah wa fī al-ākhirah ḥasanah wa-qinā ‘adhāb al-nār”.

Doa ini dalam masyarakat Muslim disebut doa sapu jagat. Doa ini terdapat dalam Alquran, surat al-Baqarah ayat 201. Dalam ayat ini, ada dua kebaikan yaitu dunia dan akhirat. Para mufasir mengatakan bahwa yang dimaksud ḥasanah wa fī al-ākhirah adalah surga. Namun, ada perbedaan pendapat di kalangan mufasir tentang makna ḥasanah wa fī dunyā. Hasan al-Basri menafsirkan dengan “ilmu dan ibadah”, seperti juga pandangan ‘Alī ibn Abī Ṭālib, ketika mengatakan: “Kebaikan bukanlah memiliki harta yang melimpah dan anak banyak. Tapi, kebaikan adalah jika amalmu banyak, ilmumu luas dan engkau tidak menyombongkan diri kepada orang lain dengan ibadahmu kepada Allah swt”.

Dari tafsiran ini, kita diperintahkan oleh Allah untuk selalu meminta diberikan ilmu pengetahuan dan ibadah. Pertanyaannya adalah ilmu yang mana? Imam al-Shāfi‘ī pernah mengatakan:

كل العلوم سوى القرآن مشغلة إلا الحديث وعلم الفقه فى الدين

“Setiap ilmu selain Alquran hanya membuat kita sibut, kecuali hadis dan ilmu fikih”

Mengapa ilmu agama menjadi penting? Karena dengan ilmu agama kita dapat beribadah kepada Allah dengan baik dan benar. Dan ini merupakan tujuan mendasar dari penciptaan manusia. Dengan mengetahui ilmu ini kita dapat memperbaki kehidupan kita menjadi lebih barakah dan bermanfaat. Ada beberapa indikator suatu perbuatan itu mengandung barakah: memberikan manfaat kepada dirinya, orang lain, dan lingkungannya.

Suatu ketika, setelah bertemu dengan Rasul, ‘Alī ibn Abī Ṭālib pulang. Beliau bertanya kepada istrinya, “Hai wanita mulia, apa yang engkau miliki untuk kau hidangkan kepada suamimu?” Fatimah menjawab, “Demi Allah, aku tidak memiliki sesuatu, kecuali uang enam dirham dari Salman, sebagai upah tenunanku. Uang ini akan aku belikan makanan untuk Hasan dan Husein.” Ali lalu berkata, “Hai wanita mulia, bawalah uang itu kemari. Biar aku yang belikan makanan untuk Hasan dan Husein.”

Ali kemudian pergi ke pasar. Ditengah jalan, Ali bertemu dengan seorang laki-laki yang miskin. Laki-laki itu berkata, “Siapakah yang bersedia memberikan pinjaman kepada Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Menepati janji?” Ali begitu kasihan melihat keadaan lelaki tersebut, kemudian memberikan uang yang sedianya akan digunakan untuk membeli makanan. Lalu Ali kembali ke rumah dengan tangan hampa. Melihat suaminya yang tercinta pulang tanpa membawa apa-apa, Fatimah meneteskan airmata. Ali kemudian bertanya, “Mengapa engkau menangis, wahai wanita yang sangat mulia?” Fatimah menjawab sambil tersedu, “Hai putra paman Rasulullah, aku melihat engkau pulang tanpa membawa apa-apa. Bukankah kepergianmu tadi untuk membeli makanan buat anak-anak kita?” Ali menjawab, “Hai putri Rasulullah yang sangat aku cintai, Apakah engkau ridha, uangmu enam dirham tadi telah aku berika sebagai pinjaman kepada Allah?” Lalu Fatimah berkata, “Kalau begitu, sungguh aku sangat rela, wahai suamiku.”

Sesaat kemudian Ali keluar rumah, ingin menemui Rasulullah SAW. Di tengah jalan, Ali bertemu dengan seorang Arabi yang sedang menuntun seekor unta. Tiba-tiba Arabi itu menawarkan untanya kepada Ali, “Ya Abal Hasan, belilah untaku ini.” Ali menjawab, “Aku tidak memiliki uang untuk membelinya. Unta ini hendak kau jual dengan harga berapa?” Arabi itu menjawab, “Unta ini hendak aku jual dengan harga seratus dirham, uangnya boleh belakangan.” Ali lalu berkata, “Baiklah, unta ini aku beli dengan harga yang kau kehendaki.” Ali kemudian membawa unta itu.

Tak lama kemudian, Ali bertemu dengan seorang Arabi yang lain. Arabi itu bertanya, “Ya Abal Hasan, apakah untamu ini akan kau jual?” Ali lalu menjawab, “Ya, aku akan menjualnya.” “Akan kau jual dengan harga berapa?” tanya Arabi itu lagi. Ali menjawab, “Aku jual dengan harga tiga ratus dirham.” Tanpa menawar lagi, Arabi itu lalu membeli unta milik Ali tersebut. Ali lalu membeli makanan di pasar dan membawa sisa uangnya pulang, tidak jadi menghadap Rasulullah. Dengan wajah ceria, Ali kemudian menceritakan kepada Fatimah kejadian yang baru dialaminya di jalan. Setelah itu Ali pamit kepada istri tercintanya, untuk menemui Rasulullah SAW. Baru saja Ali masuk ke dalam masjid, Rasulullah SAW memandangnya dengan senyum bahagia. Setelah menjawab salam Ali, Rasulullah SAW kemudian bertanya, “wahai Ali, adakah engkau hendak menyampaikan suatu berita kepadaku, ataukah aku yang harus menyampaikan suatu berita kepadamu?” Ali menjawab dengan takzim, “Engkaulah yang sebaiknya menyampaikan berita, ya Rasulullah.” Lalu Rasulullah bertanya lagi, “Hai Abal Hasan, tahukah engkau siapa sebenarnya Arabi yang menjual unta kepadamu, dan siapa Arabi yang membelinya?” Ali menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui apa yang terjadi pada diriku,” Rasulullah SAW lalu berkata, “Wahai Ali, engkau sangat beruntung dan bahagia. Engkau telah memberi pinjaman enam dirham kepada orang miskin untuk mencari keridhoan Allah. Padahal engkau pun sangat membutuhkan uang itu untuk anak-anakmu. Kemudian Allah memberimu balasan tiga ratus dirham. Berarti setiap dirham diganti lima puluh kali lipat. Ketahuilah, Arabi yang menjual unta kepadamu adalah Malaikat Jibril. Sedangkan Arabi yang membeli unta darimu adalah Malaikat Mikail.”

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button