Kunci Sukses Ibrahim dalam Membangun Peradaban

Renungan Idul Adha (1)

Di pagi yang cerah ini, memori sejarah kita membuka dirinya kembali, membawa kita pada kenangan ribuan tahun lalu. Kita kenang lagi manusia-manusia agung yang telah menciptakan arus besar dalam sejarah umat manusia, membentuk arah kehidupan kita, dan membuat kita semua berkumpul di tempat yang mulia ini untuk salat dan berdoa buat mereka, yaitu Nabi Ibrahim dan isterinya Hajar, Nabi Ismail, dan Nabi Muhammad Saw. Kita belajar untuk meneladani dan mengambil nilai-nilai dari mereka yang terbukti telah sukses menciptakan sebuah peradaban besar bagi dunia.

Belajar dari sejarah adalah kunci untuk meraih kesuksesan hidup. Dalam diri orang-orang besar dan sukses dalam kehidupan ini terdapat pelajaran yang bisa dipetik, terdapat hikmah yang dapat diambil, dan tersedia contoh yang perlu diteladani. Bukankah Allah Swt telah menginformasikan kepada kita:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ
Dalam diri Nabi Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya terdapat contoh yang baik buat kalian … (QS. al-Mumtahinah (60): 4).

Berangkat dari ayat di atas, dalam kesempatan yang berbahagia ini, kita akan belajar menapaktilasi perjuangan dan meneladani nilai-nilai agung yang mendasari figur yang besar ini, yaitu Nabi Ibrahim—‘alayhis salām.

Seorang tokoh motivasi berpengaruh, yang bernama Napoleon Hils, dalam bukunya Keys to Success 17 Principles of Personal Achievements, menyatakan bahwa salah satu kunci sukses dalam kehidupan adalah adanya “kejelasan tujuan” (definiteness of purpose). Pernyataan Hills di atas tentu saja menemukan kebenarannya. Karena kehilangan arah tujuan yang pasti hanya akan membuat seorang terombang-ambing dalam samudera kehidupan ini dan dalam meraih apa yang diinginkan. Dalam hidup ini, kita harus mempunyai tujuan. Sebagai seorang muslim, tujuan kita harus dibangun menurut ketentuan Allah Swt, yaitu beribadah secara ikhlas dan lapang hati untuk mencari keridaan-Nya. Bukankah dalam Alquran, Allah Swt menegaskan:

وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ
“Mereka tidak diperintahkan kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus …” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Dalam mengarungi hidup, Ibrahim memiliki arah dan tujuan yang jelas, yaitu mencari keridaan Allah Swt dalam segala keinginan, perkataan dan perilakunya. Karenanya, ia berani mengambil keputusan, bertindak berdasarkan keputusan tersebut, dan kukuh (istiqâmah) dalam keputusannya. Keyakinan yang kuat dan sikap yang tegas inilah yang kemudian membuat Nabi Ibrahim berani mengambil segala risiko dalam melakukan reformasi sosial dan moral. Ketika berhadapan dengan masyarakat yang rusak moral dan tauhidnya, ia pun turun menyeru mereka ke jalan yang benar. Bahkan, dengan berani beliau menghancurkan berhala-berhala yang telah menyesatkan mereka, meskipun nyawa taruhannya. Akibatnya, ia pun diciduk dan ditahan di dalam sebuah rumah, yang disekelilingnya dibangun sebuah tembok besar di area tertutup. Tinggi temboknya sekitar 45 m di kaki gunung yang tinggi. Raja Namrud memerintahkan rakyatnya untuk mencari kayu bakar demi membakar Nabi Ibrahim. Selama 40 hari, mereka mencari kayu bakar, siang dan malam, hingga kayu tersebut hampir menyamai puncak gunung. Lalu, mereka menutup pintu-pintu tembok tersebut dan menyalakan api yang menjulang tinggi sehingga seandainya burung melewatinya, ia pun akan terbakar karena sangat panasnya. Di atas bangunan yang tinggi itu, Nabi Ibrahim diletakkan di puncaknya. Nabi Ibrahim melihat ke atas seraya berkata: “حسبنا الله ونعم الوكيل”.  

Datang Malaikat Jibril menemuinya dan berkata, “Apa yang kamu butuhkan?” Ibrahim, yang kala itu berusia 26 tahun, menjawab, “Saya tidak membutuhkanmu…” Malaikat Jibril kemudian berkata lagi, “Mintalah kepada Tuhan-mu!” Jawab Nabi Ibrahim, “Permintaanku cukuplah Allah mengetahui keadaanku.” Akhirnya Allah mengeluarkan titahnya kepada api, “Wahai api, dinginlah! dan selamatkan Ibrahim” (يا نار كوني بردا وسلاما على إبراهيم). (QS. Al-Anbiya: 64). Selamatlah Ibrahim dari jilatan api besar tersebut dengan izin Allah Swt. 

Kepastian tujuan hidup dan tauhid Nabi Ibrahim yang begitu kuat dan keberaniannya dalam mengambil tindakan karena Allah, ternyata mengundang pertolongan Allah Swt. Sehingga sesuatu yang tidak masuk akal dalam pandangan manusia, menjadi sebuah fakta yang tidak terbantahkan. Apa yang dapat kita petik dari kisah ini adalah ketika kita menyandarkan tujuan hidup kepada Allah dan berjuang untuk melakukan kebaikan demi Allah, maka pasti Allah akan mengulurkan tangan dan pertolongan-Nya.

Kunci sukses yang kedua, menurut Hills, adalah tergabung dalam diri kita berbagai kepribadian menarik dan menyenangkan (attractive personality). Kepribadian adalah hasil penambahan dari mental, spiritual, fisik dan kebiasaan seseorang yang membedakannya dari orang lain. Kepribadian juga faktor penentu apakah seseorang disukai atau tidak oleh orang lain.

Nabi Ibrahim adalah makhluk Allah yang melekat dalam dirinya akhlak dan perilaku terpuji dan menyenangkan. Oleh karena itu, tidak heran jika beliau banyak mendapatkan julukan dan gelar dari Allah Swt. Pertama, beliau mendapatkan predikat syakur, seperti disebutkan dalam Alquran: ﴿ شاكرا لأنعمه ﴾ yang berarti “orang yang selalu bersyukur terhadap nikmat-nikmat Allah”. Mengapa ia mendapatkan julukan ini? Menurut sebagian mufasir Alquran, beliau selalu mengajak tetamunya untuk makan siang bersamanya. Suatu ketika, ia tidak mendapatkan seorang tamu pun, lalu ia tunda makan siangnya. Tiba-tiba, ia kedatangan sekelompok malaikat yang menyerupai bentuk manusia. Mereka pun diajak untuk makan, namun mereka enggan dan berpura-pura terkena penyakit. Nabi Ibrahim berkata, “Nah, jika begitu saya malah wajib memberi makan kalian, sebagai rasa syukur karena Allah memberikan kesehatan kepadaku, dan memberikan ujian kepada kalian.” Para malaikat berkata, “Kami tidak makan kecuali jika membayar.” Jawab Ibrahim, “Kalau begitu makanlah, dan bayarlah harganya.” Mereka bertanya, “Berapa harganya?” Ibrahim menjawab, “Ucapkan bismillah jika makan, dan Alhamdulillah setelah selesai makan.” Mereka pun saling memandang, dan berkata, “Pantas saja Allah memberikan kepadamu julukan khalîlullâh.”

Itulah julukan kedua yang diberikan kepada Nabi Ibrahim, “khalîlullâh” (kekasih Allah), yang merupakan tingkatan mahabbah yang paling tinggi, sebagaimana diungkapkan dalam Alquran: “ اتخذ الله إبراهيم خليلا .” Mengapa? Dalam banyak kitab tafsir disebutkan karena Nabi Ibrahim suka memberi dan tidak mengharap kembali dari pemberiannya. Suka memberikan makan kepada orang lain. Tingkat empatinya sangat tinggi sehingga beliau lebih mengutamakan orang lain ketimbang dirinya sendiri. Selain itu, gelar khalîlullâh ia peroleh juga karena kecintaannya yang sangat tulus dan tinggi kepada Allah melebihi kecintaannya kepada dirinya, anak dan keluarganya. Ketika Allah memerintahkan untuk menyembelih anaknya Ismail, tanpa ragu beliau pun melakukannya, meskipun harus kehilangan putera yang dikasihinya, yang diidam-idamkannya begitu lama. Di sini terlihat tingkat ketakwaan yang tinggi dari Nabi Ibrahim. Dan memang, bagi Allah bukan daging kurban yang kita sedekahkan yang penting, namun tingkat ketakwaan kita kepada Allah. Bukanlah dalam Alquran Allah berfirman:

لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِن يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنكُمْ
Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.
(QS. al-Hajj [22]: 37)

Selain dua julukan di atas, Nabi Ibrahim juga mendapatkan gelar shâlih, yang oleh banyak mufassir diartikan sebagaiahli surga”, seperti disebutkan dalam Alquran: ﴾ وإنه فى الأخرة لمن الصالحين ﴿; Beliau juga mendapatkan gelar ummah (pemimpin yang dapat dijadikan teladan), qânit (seorang yang taat kepada Allah) dan hanîf (orang yang selalu berpegang pada kebenaran) seperti disebutkan dalam Alquran:

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan).
(QS. al-Nahl: 120)

Beliau juga mendapatkan gelar halîm (penyantun, sabar dalam penderitaan dan tidak pernah marah),  awwâh (sangat rendah hati, lembut hati, dan selalu berdoa kepada Allah) dan munîb (senantiasa mengembalikan segala sesuatu kepada Allah) seperti disebutkan dalam Alquran:

إِنَّ إِبْرَٰهِيمَ لَحَلِيمٌ أَوَّٰهٌ مُّنِيبٌ
“Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun, penghiba dan suka kembali kepada Allah” (QS. Hud [11]: 75).

Dan beliau pun mendapatkan predikat shiddîq, yaitu seorang yang sungguh-sungguh membenarkan apa yang datang dari Allah dan tidak pernah berbuat dusta sama sekali, sebagaimana disebutkan dalam Alquran:

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقًا نَبِيًّا
“Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Alquran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan dan seorang nabi.”(QS. Maryam: 41)

Semua julukan ini menggambarkan betapa Nabi Ibrahim adalah seorang yang mempunyai tingkat kecerdasan yang sangat tinggi, baik secara intelektual, emosional, sosial, maupun spiritual. Dalam teori motivasi, seorang yang mempunyai karakter-karakter seperti ini dipastikan akan mendapatkan kesuksesan hidup di dunia, dan juga di akhirat kelak. Jika kita mempunyai sifat-sifat pandai berterima kasih, lembut, sabar, kukuh pendirian, jujur, dan sifa-sifat baik seperti yang dimiliki Nabi Ibrahim, maka kesuksesan akan terbuka luas di hadapan kita.

Kunci sukses yang ketiga dan terakhir adalah membangun sikap mental yang positif (building positive mental attitude). Kata Hills, “Jika Anda ajak pikiran Anda untuk bekerja dengan sikap mental yang positif dan percaya bahwa kesuksesan itu adalah hak Anda, maka keyakinan Anda akan membimbing Anda menuju apa pun definisi Anda tentang kesuksesan. Jika Anda mengambil sikap mental yang negatif dan mengisi otak Anda dengan pikiran-pikiran takut dan frustrasi, maka pikiran Anda hanya akan mengantarkan hal-hal yang sama tersebut kepada Anda.”

Harus kita sadari bahwa siklus kesuksesan selalu diawali oleh sikap mental positif. Sikap mental positif diawali oleh pikiran yang positif. Hal ini akan membawa pada kekuatan otak dan akan membawa kita untuk melakukan tindakan yang benar. Sehingga akan melahirkan sebuah kesuksesan kecil. Kesuksesan inilah yang kemudian mempengaruhi rasa percaya diri kita. Pede kita akan muncul, lalu akan mempengaruhi sikap mental dan tindakan hingga kita mendapatkan sukses yang lebih besar dan akan membawa pada kepercayaan diri yang lebih besar pula, begitu seterusnya.

Sikap mental positif ini jelas dimiliki oleh orang-orang besar seperti Nabi Ibrahim. Tidak mungkin Ka’bah, yang tingginya sekitar 13, 10 meter dengan sisi 11.03 x 12.62, akan berdiri kokoh hingga saat ini jika Nabi Ibrahim tidak mempunyai sikap mental yang positif. Tidak mungkin ritual haji dan kurban bisa eksis sampai saat ini tanpa didasari oleh sikap mental yang positif dari tokoh yang agung ini. Begitu pula, tidak mungkin Nabi Ibrahim akan mendapatkan banyak gelar dan julukan jika ia kehilangan nilai ini.

Dalam tradisi keberagamaan kita, sikap mental positif ini sebenarnya telah digambarkan oleh Rasulullah dengan sangat indah dalam sabdanya beberapa abad yang lalu:

عجبا لأمر المؤمن إن أمره كله خير، وليس ذاك لأحد إلا للمؤمن؛ إن أصابته سرّاء شكر؛ فكان خيراً له، وإن أصابته ضرّاء صبر؛ فكان خيراً له (رواه مسلم)

“Sungguh ajaib kondisi seorang mukmin, seluruh kondisinya pasti menjadi baik. Dan itu hanya dimilki oleh seorang mukmin saja. Jika ia memperoleh kenikmatan, ia akan bersyukur. Maka, kesenangan itu akan menjadi kebaikan buat dirinya. Jika ia tertimpa musibah, ia akan bersabar, dan musibah itu pun akan menjadi kebaikan buat dirinya” (HR. Muslim)

Dalam hadis ini, Rasulullah Saw memberitakan bahwa seorang mukmin, baik dalam kondisi senang maupun ketika terkena musibah, akan selalu menanggapi setiap keadaan yang ada dengan selalu bersikap mental positif. Sehingga ini akan membuahkan sebuah keajaiban. Keadaan tersebut akan berubah menjadi sebuah keadaan yang sangat baik bagi perkembangan dirinya di masa kini dan masa yang akan datang.

Jika kita mampu menerapkan minimal tiga prinsip ini saja dalam kehidupan kita, maka insya Allah kita akan mendapatkan kesuksesan dalam hidup ini. Semoga***

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button