Keajaiban Hati

Ada satu bulan dalam kalender Islam yang disebut Sya’ban. Bulan ini disebut sebagai bulan Nabi. Mengapa dinamakan Sya’ban? Li’annahu  yatasha‘ab fīhi khayr kathīr (karena di dalamnya bercabang banyak kebaikan). Untuk itu, pada bulan ini, kita harus tekadkan menjadikan setiap aktivitas sebagai kebaikan. Jangan biarkan hati kita diselimuti oleh kecintaan terhadap dunia yang berlebihan karena kecintaan yang berlebihan terhadap dunia, kata Nabi, “puncak segala kesalahan”. Dalam Alquran, Allah mengingatkan kita. “Kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan yang menipu” (QS. Ali Imran: 185) “Janganlah kehidupan dunia membuat kalian tertipu…” (QS. Luqman: 33)

Yang membuat kita dijerumuskan ke dalam kehidupan dunia adalah segala penyakit hati. Untuk itu, yang seharusnya menjadi target perbaikan dan pembinaan adalah hati. Mengapa? Empat belas abad silam, Nabi pernah berkata kepada kita, “Bahwa di dalam jasad kita ada segumpal daging, yang jika baik, maka seluruh tubuh akan baik. Sebaliknya, jika daging itu busuk, maka seluruh tubuh akan menjadi busuk. Ketahuilah, itulah hati.”

Hadis ini bisa dimaknai dari dua sudut pandang yang berbeda, yaitu dari sudut pandang medis dan sudut pandang mental spiritual.

Jika kita melihat dari sudut pandang medis, hadis ini mengungkapkan fakta ilmiah luar biasa. Banyak orang mungkin tercengang melihat betapa Rasulullah Saw menggambarkan fenomena ini dengan sangat jeli. Dalam masyarakat Arab yang tidak seorang pun dapat membayangkan proses sirkulasi darah manusia dan perang jantung di dalamnya, Nabi Saw menegaskan posisi penting qalb (jantung) sebagai panglima yang mengatur metabolisme tubuh. Karena, jantung bertugas memompa darah kotor yang mengandung karbondioksida. Fenomena ini tidak pernah terungkap sampai kemudian datang Ibn Nafis yanf berbicara tentang peredaran darah pada abad ke-7 H (abad ke-13 M). Temuan ini terlupakan selama tiga abad  kemudian hingga ditemukan kembali oleh orang Barat yang akhirnya mengklaim sebagai penemuan mereka. Pemikiran Ibn Nafis ini kemudian mereka kembangkan dan tambahi dengan beberapa catatan.

Pentingnya jantung dalam tubuh dibuktikan pula oleh riset kedokteran yang membuktikan bahwa jika jantung sehat maka seluruh tubuh akan sehat.

Dari kajian mental spiritual, hadis di atas tidak berbicara tentang fungsi jantung (qalb). Qalb yang dimaksud dalam Alquran, hadis dan pemahaman mayoritas ulama adalah suatu fungsi yang berhubungan dengan emosi, konsep, gagasan, keyakinan, etika dan aturan interaksi sosial. Al-Ghazali, misalnya, mengatakan bahwa qalb (hati) adalah materi halus yang bersifat ruhani (laṭīfah rūāniyyah rabbāniyyah). Ia memiliki keterkaitan dengan jantung, meskipun bentuk keterkaitan itu masih belum dapat dipecahkan. Dari sudut pandang ini, Nabi mengatakan, “jika hati baik, maka semua aspek (emosi, konsep, gagasan, keyakinan, etika dan interaksi sosial) akan menjadi baik. Jika semua aspek ini baik, maka baik pula seluruh perilaku dan tingkah lakunya.

Apa yang membuat hati menjadi tidak baik, yang berakibat kepada perilaku yang buruk? Kata Ibn Taimiyah dalam kitab ibb al-Qulūb, syahwat dan hawa nafsu (al-hawā wa al-shahwah amrā tu‘mī al-qalb). Dalam sebuah hadis Nabi disebutkan, “Musuhmu yang paling bengis itu adalah nafsu yang bersemayam dalam hatimu.”

Kata Imam al-Ghazali, syahwat yang paling besar yang dapat menghancurkan anak cucu Adam adalah syahwat perut (shahwat al-baṭn). Karena syahwat perut Nabi Adam dan Hawa dikeluarkan dari Surga ke dunia. Karena ketika mereka berdua dilarang untuk mendekati sebuah pohon, syahwat keduanya lebih mendominasi mereka, sehingga mereka berdua memakan buah dari pohon tersebut, maka tersingkaplah aurat keduanya. Perut merupakan sumber syahwat dan munculnya penyakit hati. Karena syahwat perut, orang kemudian dapat mencuri, memanipulasi, melakukan korupsi dan kecurangan, atau menzalimi orang lain. Karena syahwat perut, orang jadi gila jabatan dan kedudukan, sehingga menghinakan dirinya.  Kemudian muncul rasa sombong, sikap suka pamer, suka membanggakan diri, dan bermewah-mewahan.

Bagaimana caranya menyucikan hati (tazkiyyat al-qalb)?

Para ulama Sufi mengajarkan kepada kita:
Pertama, al-takhallī min al-akhlāq al-madhmūmah. Maksudnya, mengosongkan hati dari sifat-sifat buruk dan tercela, seperti hasad, dusta, dendam, ghibah, dll. Karena sifat-sifat ini lah yang membuat manusia tergelincir, tersesat, dan kehilangan arah dalam kehidupan, sehingga sering melakukan kerusakan dalam berbagai bentuk. Hati itu ibarat cermin bersih, sementara sifat-sifat buruk ibarat asap atau debu, yang membuat cermin itu menjadi gelap dan kotor, sehingga tidak dapat menyerap cahaya dan kebaikan Allah Swt. Hati itu juga ibarat kebun. Jika kita ingin menanam bunga, maka kita harus membersihkan dulu kebun dari rumput-rumput yang dapat menghilangkan keindahan bunga. Jika rumput sudah hilang baru kemudian kita dapat menanam pohon bunga. Sehingga ketika  pohon itu berbunga, maka akan menjadi indah, karena tidak ada rumput yang menghilangkan keindahan pemandangan bunga.

Kedua, al-taallī bi al-akhlāq al-mamūdah. Maksudnya, mengisi hati yang sudah dibersihkan dengan berbagai aktivitas yang baik. Hati kita hiasi dengan. Lisan kita hiasi dengan zikir kepada Allah dan sering membaca Alquran. Tangan kita hiasi dengan selalu membantu orang lain dan bersedekah. Telinga kita hiasi dengan mendengar kalimat-kalimat Allah dan nasihat para ulama yang saleh. Mata kita hiasi dengan melihat yang baik-baik, bukan sesuatu yang mengandung maksiat. Banyak melakukan salat malam untuk mendekatkan diri kepada Allah. Jika hati yang sudah dibersih dihiasi dengan sifat-sifat yang baik ini, maka kita akan masuk ke tahapan berikutnya, yaitu tajallī.

Apa itu tajallī? Yaitu, Allah membuka tabir-Nya sehingga hal-hal yang ghaib dan tidak terlihat dapat tersingkap kepadanya. Inilah maksud dari hadis qudsi, “Jika seorang hamba mendekatkan diri dengan amalan-amalan sunnah sampai Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya, maka Aku akan menjadi pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar; menjadi mata yang ia gunakan untuk melihat; menjadi tangan yang ia gunakan untuk memukul; dan menjadi kaki yang ia gunakan untuk berjalan.

Ketika seorang telah dicintai oleh Allah, maka ia akan menjadi salah seorang dari wali-Nya. Ketika seorang telah menjadi wali Allah, maka ia akan mendapatkan karamah dari Allah Swt, seperti karamah yang diberikan kepada Sayyidah Maryam, seperti diceritakan dalam Surat Āli ‘Imrān.**

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca juga
Close
Back to top button