Karakter Sebagai Kunci Pembentukan Masyarakat Nabi

Salah satu kontribusi psikologi kontemporer yang kini banyak dirujuk oleh kalangan agamawan adalah temuan mengenai perbedaan cara kerja otak bagian kiri (the left brain) dan otak bagian kanan (the right brain). Cara kerja otak kiri cenderung linear, matematis, kuantitatif, repetitif dan melihat persoalan secara parsial. Sementara itu, otak kanan bekerja secara inovatif, kontemplatif, sintetis, dan melihat persoalan secara holistik dan komprehensif.

Para psikolog menunjukkan bukti historis bahwa tokoh-tokoh sejarah sepanjang masa adalah mereka yang mempunyai kemampuan dalam menyeimbangkan fungsi otak kiri dan otak kanannya. Para nabi, misalnya, adalah pekerja kemanusiaan yang sangat ulet dalam membangun masyarakat atau umatnya. Tidak ada ceritanya kalau nabi berkhutbah tentang kebenaran wahyu dan setelah itu pulang dan tidak mau tahu persoalan umatnya. Mereka selalu terlibat dalam proses sejarah. Karena itu, mereka dikenal sebagai figur historis.

Tetapi di sisi lain, mereka juga adalah manusia-manusia spiritualis yang sanggup mengambil jarak dengan kenyataan fisik yang mereka hadapi, serta sanggup melepaskan diri dari cengkeraman alam pikiran yang mengabdi kepada kesenangan duniawi. Nabi Muhammad Saw merupakan salah satu contoh figur manusia yang tumbuh dengan kemampuan otak kiri yang mengarahkannya menjadi manusia yang realistis, karena itu beliau bekerja seperti manusia yang lain: menikah, berperang, dan kegiatan-kegiatan lainnya. Pada saat yang sama, beliau juga punya kesanggupan untuk melawan kecenderungan gravitasi fisikal, dengan cara berkontemplasi dan senantiasa mendekatkan diri kepada Allah swt. Dalam sejarah tafsir dinyatakan bahwa gerakan revolusi sosial yang dilakukan nabi memperoleh energinya yang dahsyat setelah beliau berkhalwat (kontemplasi) di Gua Hira.

Dengan menggabungkan otak kanan dan otak kiri, Nabi Muhammad saw membangun masyarakat Madinah yang dalam sejarah terkenal sangat sukses. Dimana letak kesuksesannya? Terletak pada konstitusi dan praktik politik yang, menurut pengakuan Robert N Bellah dalam bukunya Beyond Belief, “remarkably modern…in the high degree of commitment, involvement, and participation expected from the rank-and-file members of the community””. Praktik yang dilakukan komunitas awal Islam tersebut, benar-benar maju dan belum ada presedennya dalam sejarah umat manusia. Sebab, suksesi tidak memakai sistem putra mahkota. Padahal, saat itu, di belahan mana pun di dunia, pergantian kekuasaan masih menggunakan sistem dinasti. Bapak wafat, digantikan anaknya, atau saudaranya, sepanjang ada pertalian darah.

Lalu, apa rahasia kesuksesan Nabi dalam membangun masyarakat Madinah?  Jika diteliti, dari sekian banyak kunci sukses Nabi, ada satu yang paling menonjol dan sama sekali tidak dapat diabaikan. yaitu nabi dalam membangun masyarakat selalu mengutamakan perbaikan pada budi pekerti yang luhur (akhlāq karīmah) kepada semua orang. Budi pekerti yang luhur pada hakikatnya adalah hikmah kemanusiaan dari ibadah puasa. Budi pekerti yang luhur adalah tujuan dari diutusnya Nabi Muhammad saw oleh Allah. Dalam sebuah hadisnya, Nabi pernah bersabda:

إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق
“Aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang baik”

Mengapa perbaikan akhlak menjadi begitu penting? Karena ada korelasi yang kuat antara suksesnya seorang individu dan kelompok atau masyarakat dengan budi pekerti yang luhur. Begitu pun sebaliknya, karakter yang buruk hanya mengantarkan seorang atau sekelompok umat kepada kerapuhan dan kehancuran. Pepatah yang disampaikan oleh Ahmad Syauqi, seorang penyair Mesir, dapat menggambarkan hubungan ini.

إنما الأمم الأخلاق ما بقيت * فإن هم ذهبت أخلاقهم ذهبوا
“Sesungguhnya tegaknya suatu umat adalah jika mereka menjunjung tinggi akhlak. Jika akhlak ditinggalkan, maka raiblah mereka bersamanya.”

Kasus ini dapat dilihat dari pengalaman umat Islam pada saat kejayaan Islam di Baghdad, Irak. Pada saat itu, umat Islam menjadi pusat peradaban dunia dengan kemegahan kota Baghdad sebagai pusatnya, yang dipenuhi gedung-gedung yang megah dan mewah. Bahwa menurut sebuah informasi dari literatur sejarah yang ada di Universitas Princeton, Amerika, pada saat Baghdad menjadi kota metropolis, pajak yang dikumpulkan pemerintah Baghdad banyaknya sama dengan kekayaan negara bagian Philadelphia. Akan tetapi, karena mereka kemudian menjadi orang-orang fasik, hawa nafsunya sudah tidak lagi dikendalikan dan hati mereka sudah gelap, tertutup, serta mereka hidup mewah bergelimangan harta. Akhirnya, mereka dibinasakan dan dihancurkan sehancur-hancurnya oleh bangsa Mongol, bahkan sisa-sisa batu merahnya pun tidak tersisa. Yang demikian itu sesuai dengan hukum alam atau sunnatullah bahwa setiap orang atau bangsa yang sudah tidak lagi menjunjung tinggi moral dan akhlak, ia akan mengalami kejatuhan dan kehancuran.

Sejarawan terkenal, Gibbon, pun menceritakan hal yang sama dalam bukunya The Decline and the Fall of Roman Empire. Diceritakan bahwa kerajaan Romawi yang berbentuk imperium yang begitu besar dan ditakuti bangsa-bangsa lain pada zamannya hancur dan binasa karena dipimpin oleh orang-orang yang tidak lagi mau memedulikan aturan dan akhlak. Para raja dan pejabatnya sudah tidak lagi mempunyai moral dan akhlak. Mereka hidup bermewah-mewahan dan hanya mementingkan kepentingan dirinya. Mereka pun akhirnya hancur dan binasa. Dalam surat al-Isra’: 16, Allah berfirman:

وَإِذَآ أَرَدْنَآ أَن نُّهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا۟ فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا ٱلْقَوْلُ فَدَمَّرْنَٰهَا تَدْمِيرًا

“Jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah), tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu. Maka, berlaku terhadapnya ketentuan kami, kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS al-Isra’ [17]: 16)

Moralitas adalah sesuatu yang sangat penting. Salah satu nilai moral yang diajarkan Nabi melalui ibadah puasa adalah berupa pengembangan rasa empati kepada orang lain, terutama yang berada dalam kesusahan. Anjuran mau peduli dan membantu fakir miskin, di antaranya dengan mengeluarkan zakat fitrah dan zakat mal, kemudian diwujudkan dalam bentuk anjuran untuk melakukan amalan-amalan sosial (social work) yang pahalanya akan dilipatgandakan.

Empati adalah merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain, kemudian memunculkan penghargaan dan kasih sayang. Nabi mencontohkan empati dalam kesehariannya. Salah satu contoh adalah empatinya kepada orang-orang miskin. Suatu ketika Rasulullah saw menjadi imam salat. Para sahabat yang menjadi makmum di belakangnya mendengar bunyi menggerutup seolah-olah sendi-sendi pada tubuh Rasulullah bergeser antara satu sama lain.

Umar yang tidak tahan melihat keadaan baginda itu langsung bertanya setelah selesai shalat, “Ya Rasulullah, kami melihat seolah-olah tuan menanggung penderitaan yang amat berat, apakah Anda sakit?” Namun Rasulullah menjawab, “Tidak. Alhamdulillah, aku sehat dan segar.”

Mendengar jawaban ini, Umar bertanya kembali, “Lalu mengapa setiap kali Anda menggerakkan tubuh, kami mendengar seolah-olah sendi bergesekan di tubuh tuan? Kami yakin anda sedang sakit.”

Melihat kecemasan di wajah para sahabatnya, Rasulullah pun mengangkat jubahnya. Para sahabat sangat terkejut. Ternyata perut Rasulullah yang kempis, kelihatan dililiti sehelai kain yang berisi batu kerikil untuk menahan rasa lapar. Batu-batu kecil itulah yang menimbulkan bunyi-bunyi halus setiap kali tubuh Rasulullah bergerak.

Umar memberanikan diri berkata, “Ya Rasulullah! Apakah jika Anda mengatakan lapar dan tidak punya makanan, lalu kami akan tinggal diam?”

Rasulullah menjawab dengan lembut, “Tidak para sahabatku. Aku tahu, apa pun akan engkau korbankan demi Rasulmu ini. Tetapi apakah yang akan aku jawab di hadapan Allah nanti, apabila aku sebagai pemimpin, menjadi beban bagi umatnya?”

Para sahabat hanya tertegun. Rasulullah melanjutkan, “Biarlah kelaparan ini sebagai hadiah Allah buatku, agar umatku kelak tidak ada yang kelaparan di dunia ini, lebih-lebih lagi, tidak ada yang kelaparan di Akhirat kelak.” Begitu indahnya akhlak Rasulullah Saw yang memperlihatkan empatinya yang mendalam kepada orang-orang miskin dengan mengalami kemiskinan dan kelaparan tersebut. Seorang bisa berempati jika mengalami.

Pengembangan empati di dalam hati dan kesadaran kita adalah sangat penting. Steven Covey, dalam bukunya Seven Habits of Highly Effective People, bahkan memasukkan empati sebagai salah satu kebiasaan dari orang-orang yang sukses di dunia. Untuk itu, kembangkan sikap empati kepada orang lain, maka akan muncul penghargaan dan kasih sayang. Yang paling penting dan utama adalah kepada orang tua kita yang telah berjuang, membanting tulang membesarkan dan menyekolahkan kita sampai kita mendapatkan kesuksesan seperti sekarang ini. Kesuksesan kita karena doanya, maka, janganlah sekali-kali menyakiti hatinya. Datangi pertama kali orang tua setelah salat Id, mintalah ridhanya. Jika orang tua sudah meninggal, ziarahilah kuburannya, dan doakanlah mereka. Jangan sampai penyesalan melanda kita, ketika orang tua masih ada kita tidak berbakti kepadanya. Kisah di bawah ini mungkin dapat menjadi renungan.

Seorang ibu yang berjualan di sekolah dengan susah payah membesarkan putri tunggalnya dari SD s/d SMA dan kemudian sang puteri mendapatkan beasiswa di Nanyang Technological University di Singapore. Pada waktu bayi, putri tungggal ini mengalami masalah mata, dan si ibu karena begitu besar cintanya kepada anaknya, mau berkorban dengan mencangkokkan satu matanya ke putri sebatang wayangnya supaya dia bisa hidup normal dan melihat.  Si ibu akhirnya terpaksa hidup dengan sebelah mata dan mata satunya  adalah mata palsu.

Pada waktu anaknya mulai masuk SD sampai SMA , teman-teman anaknya sering mengolok-olok sang putri tunggal karena ibunya hanya mempunyai sebelah mata, sehingga putrinya  malu terhadap ibunya.

Setelah lulus SMA dan mendapat beasiswa di Singapore, si putri mulai menghindari ibunya sampai lulus sarjana dan sukses dengan pekerjaan. Akhirnya si putri tersebut menikah dengan seorang pria warga negara Singapore serta mempunyai anak dan tinggal di suatu apartemen yang mewah.

Karena kondisi ibu yang terus menerus menurun, si ibu ingin sekali bertemu dengan putri tunggalnya sebelum menemukan ajalnya. Dia berusaha keras mencari tahu alamat putrinya. Setelah mengumpulkan uang yang cukup untuk mendapatkan tiket pesawat, berangkatlah si ibu dengan suka cita dan penuh pengharapan bahwa anaknya mau menerimanya. Dia membawa oleh-oleh untuk anak dan cucu yang tidak pernah dia lihat.

Setiba di lobby apartmen, security menelpon ke putri tersebut dan putri itu menjawab bahwa dia tidak mengenal ibu yang tua, jelek, loyo dan bermata satu. Oleh-oleh yang dibawa si Ibu untuk orang yang dikasihi  juga tidak diijinkan untuk dititipkan ke security.

Ibu tua tersebut akhirnya pulang dengan sedih dan putus asa, akhirnya jatuh sakit dan sebelum meninggal dia menitipkan sepucuk surat kepada kenalannya dan mohon kepadanya untuk mengantar surat tersebut ke putri tunggal yang dikasihinya dan juga meminta agar putri tunggalnya mau membaca di depan pengantar surat tersebut.

 “Putri anakku sayang, sampai kapanpun Ibu tetap sayang dan bersamamu, apakah putri tahu sebelah mata putri adalah mata ibu, diwaktu bayi sebelah mata putri bermasalah sehingga mata ibu yg cocok untukmu putri, supaya putri melihat normal, dan sebelah mata ibu tidak bisa lihat……..,”

Setelah membaca surat tersebut,  si putri baru sadar bahwa matanya yang normal adalah hasil pengorbanan dari ibu tercintanya. Meskipun ibunya sering diejek oleh teman-temanya karena satu mata, si ibu tidak pernah menceritakan pengorbanan tersebut. Setelah selesai membaca, si putri menangis sambil berteriak atas penyesalannya dan dia merasa sangat berdosa telah menelantarkan si Ibu yang begitu sayang dan penuh pengorbanan untuknya. Namun nasi sudah menjadi bubur. Dan penyesalan tiadalah berguna.

Artikel terkait

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button